Tangguh

Tangguh
Bab 31 Karyawati baru dan Dua Bidadari.


__ADS_3

Nata, Sabribna dan Jessy baru saja selesai makan siang, Terdengar seseorang mengetuk pintu ruko, lalu Jessy melangkah menuju ke pintu depan ruko itu, dilihatnya Charlie datang bersama Mang Engkus dan anaknya.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


“ini Jess aku datang membawa sertifikat rumah, CV dan lamaran pekerjaan, kang Nata nya ada ?”


“Ada tuh, silahkan masuk, kok bisa bareng sama mang Engkus ?”


“Hehehe, saya kebetulan sedang beres-beres tempat jualan neng, terus bertemu dengan Den Charlie.” Jawab mang Engkus.


“Ohhh itu siapa anaknya ?”


“Betul neng ini anak saya, baru saja lulus dari SMK.”


“Ohhh,  mari silahkan duduk. Tunggu sebentar, saya panggilkan kang Natanya.”


Lima menit kemudian Nata bergabung duduk di ruang tamu ruko itu. Lalu Nata melayangkan senyum kepada Charlie, Mang Engkus dan anaknya.


“ini kang Sertifikat rumahnya, CV dan Surat lamaran saya.”


“Ke Sabrina atau saja diserahkannya.”


“Ohh iya maaf, kalau begitu saya akan menemui Sabrina atau Jessy.”


“Iya silahkan.”


“Nah Mang Engkus, tenang saja yaa, silahkan bersiap untuk beres-beres rumah di sebelah ruko itu, ini siapa ?”


“Kenalkan ini anak saya namanya Erna, baru saja lulus sekolah dia datang menemani saya selama berjualan di Bandung, dari dulu berencana datang ke Bandung, katanya katanya ingin  bekerja di Bandung.”


“Ohhh Erna jurusan apa dulu di SMK nya ?”


“Jurusan informatika dan desain grafis.”


“Bisa bikin desain banner dong ?”


“Bisa, saya sudah biasa menggunakan corel draw.”


“Mau bekerja disini ?”


“Mau.” Jawab Erna dengan mata berbinar binar karena senangnya.


“Pak Erna berkerja disini, boleh yaa ?” tanya Erna kepada Mang Engkus.


“Ehhh boleh saja, kok tiba-tiba jadi ngelamar kerjaan kemari, hehehe.”


“Tidak apa-apa mang Engkus, baiklah besok kamu mulai kerja, bawa foto copy ijasahmu  serahkan kepada Sabrina selaku HRD disini.”


“Siap pak.” Jawab Erna kembali.


“Tak lama kemudian Sabrina datang kembali keruangan tamu itu bersama Charlie.”


“Sab. tolong arahkan Erna, anaknya Mang Engkus ini, beri tempat di dekat ruanganmu, dia yang akan bantu aku untuk menjadi operator printing banner.”


“Oh siap kang Boss.”


“Sini Erna, aku tunjukkan ruangannya.” Ajak Sabrina kepada Erna, Erna lalu mengikuti langkahnya Sabrina itu.


“Bagaimana Charlie sudah selesai urusannya dengan Sabrina ?”


“Sudah kang, kata Sabrina mulai besok saya membantu mengawasi pembangunan interior gedung baru kita, sambil membereskan ruangan kerja saya nanti. Sertifikat rumah sudah saya serahkan, dan saya sudah mendapatkan uang muka sebesar 75% nanti sisanya setelah balik nama dihadapan notaris katanya kang.”


“Artinya Mang Engkus sudah boleh beres-beres di rumah itu dong ?”


“Ohhh boleh saja silahkan, rumahnya kosong kok, sudah tidak ada perabotan.”


“Nah Mang Engkus dengar sendiri barusan, silahkan mulai sekarang tidak usah bongkar pasang tenda lagi, pakai rumah itu, besok lusa dinding bentengnya robohkan saja, supaya lebih gampang parkir di Ruko ini.”


“Waduh terima kasih banyak den, saya jadi ada tempat yang permanen, anak saya juga bekerja disiini saya bingung harus mengucapkan apalagi selain berterima kasih kepada Aden.”


“Sudahlah Mang Engkus, mungkin itu rejeki Mang Engkus yang datangnya melalui tangan kami, sekarang lebih baik bebenah dulu.”

__ADS_1


“Baik den, titip anak saya Erna disini yaa.” Ucap Mang Engkus lalu bersalaman dengan Nata dan Charlie, kemudian dengan langkah riang gembira menemui istrinya yang sedang beres-beres dagangan surabi di depan ruko tersebut.


“Saya juga mau pamit kang, saya mau ke kantor Pusat dulu kalau begitu.”


“Ohhh iya silahkan, sudah tahu alamatnya kan ?”


“Sudah tadi diberikan alamatnya oleh Jessy dan Sabrina. Mangga atuh kang, Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Charlie lalu beranjak pergi dari ruko itu menuju ke gedung Kantor Pusat, sedangkan Nata kini menghampiri Sabrina yang sedang memberikan pengarahan kepada Erna, Sabrina terdengar sedang memberikan pengarahan mengenai tugas dan tanggung jawabnya untuk sementara di Ruko itu saat Nata masuk ke ruangan kerjanya Sabrina. Nata lalu duduk sambil memperhatikan Sabrina yang nampak sangat serius saat memberikan arahan tersebut.Charlie lalu beranjak pergi dari ruko itu menuju ke gedung Kantor Pusat, sedangkan Nata kini menghampiri Sabrina yang sedang memberikan pengarahan kepada Erna, Sabrina terdengar sedang memberikan pengarahan mengenai tugas dan tanggung jawabnya untuk sementara di Ruko itu saat Nata masuk ke ruangan kerjanya Sabrina. Nata lalu duduk sambil memperhatikan Sabrina yang nampak sangat serius saat


memberikan arahan tersebut.Charlie lalu beranjak pergi dari ruko itu menuju ke gedung Kantor Pusat, sedangkan Nata kini menghampiri Sabrina yang sedang memberikan pengarahan kepada Erna, Sabrina terdengar sedang memberikan pengarahan mengenai tugas dan tanggung jawabnya untuk sementara di Ruko itu saat Nata masuk ke ruangan kerjanya Sabrina. Nata lalu duduk sambil memperhatikan Sabrina yang nampak sangat serius saat


memberikan arahan tersebut.  Kemudian Sabrina memberikan laptop kepada Erna, laptop yang biasa dipergunakannya lalu memberitahukan lagi bagaimana caranya berkomunikasi antara laptop dengan semua


peralatan komputer yang ada di ruko itu.


Kemudian Sabrina memberikan laptop kepada Erna, laptop yang biasa dipergunakannya lalu memberitahukan lagi bagaimana caranya berkomunikasi antara laptop dengan semua peralatan komputer yang ada di ruko itu.


Kemudian Sabrina memberikan laptop kepada Erna, laptop yang biasa dipergunakannya lalu memberitahukan lagi bagaimana caranya berkomunikasi antara laptop dengan semua peralatan komputer yang ada di ruko itu.


“Bagaimana sudah mengerti sekarang ?” Tanya Sabrina.


“Siap, mengerti bu.”


“OK besok akan kami siapkan laptop atau komputer untukmu bekerja, mulai besok kamu bekerja sambil memantau CCTV yang ada di ruangan ini yaa, karena printer banner ada di basement, jadi kita bisa mengoperasikan dengan melihat di layar monitor ini, atau kamu juga bisa sekali-kali mengerjakannya di basement.”


“Baik bu.”


“Sab, sini ikut saya.” Ucap Nata setelah Sabrina selesai memberikan arahan kepada Erna. Sabrina lalu mengikuti langkah Nata menuju ke ruang kerja Nata.


“Bagaimana dia sudah mengerti akan semua tugas dan tanggung jawabnya ?”


“Sudah kang, dia bahkan cepat mengerti dan keliatannya sangat menguasai perkerjaan dibidang desain grafis.”


“Baguslah kalau begitu, sekarang kamu sama Jessy ajak dia, cari pakaian yang sekiranya bisa dipakai oleh kalian bertiga, yang seirama dan senada, bukan berarti seragam juga.”


“OK kang kami langsung berangkat kalau begitu.” Lalu Sabrina masuk ke ruang kerja Jessy.


“Mau kemana kita ?“ Tanya Jessy dengan heran.


“Kita shopping. Bareng Erna anak baru, anaknya Mang Engkus itu.”


“Ohh ok, aku beresin dulu semua file biar ga berantakan.”


“Aku tunggu di ruanganku yaa Jess.”


“Sip, nanti aku kesana.”


Sabrina lalu menghampiri Erna yang sedang membenahi folder folder di dalam laptop.


“Bu, ini semua foldernya sudah saya susun agar nanti mencarinya tidak sulit.” Ucap Erna.


“Ohh iya terima kasih yaa Erna, sekarang ikut kami dulu yaa.”


“Mau kemana memang kita bu ?”


“Nanti juga kamu tahu sendiri. Ayo siap-siap. Laptopnya tidak usah dimatikan, biar saja standby.”


“Baik bu.” Lalu Erna bangkit dari tempat duduknya bersamaan dengan Jessy yang datang ke ruangan itu.


“Aku sudah siap, mau berangkat sekarang Sab. ?”


“Iya, ayo Erna.” Kemudian Sabrina bersama Jessy turun ke basement, Sabrina lalu menunjukkan kepada Erna letak printer banner yang ada di basement itu. Kemudian mereka naik ke mobil sedan mercedes silver milik Sabrina itu. Erna yang duduk di jok penumpang belakang nampak begitu takjub saat menaiki mobil mewah itu, hal yang baru saja dialaminya semasa hidupnya. Begitu juga saat melihat pintu basement terbuka setelah dikendalikan dengan ponselnya Sabrina. Kini mereka bertiga berada di jalan raya menuju ke arah sebuah mall. Saat tiba di tempat parkir, Jessy, Erna dan Sabrina lalu turun dari mobil itu. Dengan berjalan bergandengan tangan lalu mereka memasuki sebuah toko pakaian. Jessy dan Sabrina kini sibuk memilih pakaian yang cocok dan warnanya seragam untuk nanti akan mereka pakai sehari-hari selama bekerja. Erna nampak malu-malu saat disuruh mencoba pakaian yang sudah dipilih oleh Jessy dan Sabrina.


“Wah kamu cantik kalau memakai pakaian itu Erna.” Ucap Jessy.


“Terima kasih bu.”


“Kamu jangan panggil aku ibu dong panggil aku kakak.” Protes Jessy.


“Baik bu, ehh Kakak. Hehe.”

__ADS_1


“Kalau Jessy dipanggil kakak, aku juga mau dipanggil Sis atau Miss saja dong, supaya adil.”


“Iya Sis Sabrina.”


“Nah begitu, sekarang kita ke tempat sepatu.” Ajak Sabrina.


Kini puluhan model sepatu mereka coba satu persatu. Erna yang belum terbiasa memakai high hill nampak sangat kaku saat memakai sepatu itu.


“Aduh aku takut keseleo memakainya Kak.”


“Nanti juga kalau sudah terbiasa ga akan kaku lagi deh, dulu juga aku begitu.” Jawab Jessy.


“OK sudah semua yaa ? ayo kita bayar.” Ucap Sabrina.


Mereka lalu membayar semua pakaian pilihan mereka, masing-masing empat stell dan tiga pasang sepatu, untuk Sabrina, Jessy dan Erna. Hari sudah gelap saat mereka keluar dari mall tersebut dengan mengendarai Sedan Mercedes warna Silver itu.


Saat mereka sudah sampai di Roko suasana sudah berubah, dinding benteng setinggi dua meter lebih itu kini sudah roboh, tinggal sisa puing puing benteng yang berada di sudut dekat ruko dan rumah yang baru dibeli oleh Nata tersebut. Spanduk yang bertuliskan Pondok Kopi Surabi kini membentang menggantikan benteng itu. Mang Engkus dengan dibantu oleh kawan-kawannya nampak sedang membersihkan sisa dari puing-puing benteng itu. Nata nampak tengah berdiri mengawasi mereka yang sedang bekerja dekat pintu kaca Ruko itu. Mobil sedan itu mulai memasuki basement. Sabrina yang didampingi oleh Jessy dan Erna lalu turun dengan membawa banyak belanjaan mereka, Erna membawa enam pasang sepatu didalam dus yang ditumpuk didepan dadanya, kepalanya seperti kewalahan saat mencari pijakan tangga menuju ke lantai satu dari basement itu. Sedangkan Jessy dan Sabrina membawa masing-masing beberapa stell baju dalam kantong plastik. Lalu mereka duduk di kursi meja makan. Jessy lalu membawakan beberapa botol minuman ringan dari show case cooler, yang langsung diraih dan dibuka kemasannya oleh Sabrina.


“Sudah selesai acara shoppingnya ?”


“Sudah kang, itu benteng pembatas rumah langsung dirobohkan ?“ Jawab Sabrina yang balas bertanya.


“Iya tadi Mang Engkus meminta ijin kepadaku, agar halaman untuk parkir untuk berdagang semakin luas katanya.”


“Coba aku lihat semua belanjaan kalian deh.”


“Hmmm harus ganti baju di kamar dong. Ehhh Erna kamu nanti tidur disini saja malam ini yaa, bilang dulu sama Mang Komar.”


“Siap Kak, nanti Erna bilang sama Bapak dan Emak.” Lalu Erna melanjutkan minumnya.


“Nanti kami kalau sudah selesai mandi dan Sholat akan kami tunjukkan pakaian kami kepada Akang deh semuanya.”


“Ohh OK deh.”


“Saya pamit dulu mau minta ijin ke Emak dan Bapak.”


“Iya silahkan, jangan lama-lama, kita sholat bareng nanti diatas.” Ucap Sabrina.


“Siap Sis.” Jawab Erna lalu berjalan menuju ke pintu depan ruko itu.


”hmmm panggilannya sekarang berbeda bukan manggil ibu lagi tuh Erna.”


“Iya dong, nanti kami keburu tua kalau dipanggil ibu. Hihihi.”


“Sab, ayo kita keatas sekarang, kita belum sholat Maghrib nih, kang nanti kalau ada Erna suruh naik keatas yaa, sambil bawa semua sisa baju yang ada disini.”


“OK, nanti aku sampaikan, aku sih sudah sholat duluan tadi di ruang kerjaku.”


Tidak lama kemudian Erna kembali memasuki ruko itu dengan membawa tas miliknya.


”Ayo kamu sudah ditunggu diatas tuh, sini aku bantu bawakan semua barang belanjaannya tadi.”


“Terima kasih pak.” Jawab Erna lalu membawa sisa belanjaan ke lantai tiga, dengan dibantu oleh Nata.


“Kamu sudah minta ijin kepada bapakmu untuk menginap disini ?”


“Sudah pak, Erna sudah bilang sama Emak dan Bapak, makanya Erna bawa baju tidur juga di dalam tas ini.”


“Tuh kamu ambil air wudhu dulu di kamar mandi itu, nanti masuk ke dalam Mushola yang sebelah sana, tunjuk Nata kepada Erna.”


“Baik pak, terima kasih.” Jawab Erna. Kemudian Nata memasuki kamarnya, dia juga lalu mandi dimalam itu.


Tiga puluh menit kemudian Ponsel Nata berdering. Lalu Nata menekan tombol warna hijau di layar ponselnya itu.


“Kang kemari deh ke Mushola, kami tunggu.” Ucap Sabrina dengan singkat lalu sambungan telepon itu pun diakhiri oleh Sabrina. Nata yang penasaran lalu keluar dari kamarnya menuju ke arah mushola.


“Wow kalian terlihat sangat cantik semuanya.” Nata nampak sangat takjub saat melihat Jessy dan Sabrina yang sangat cantik bagaikan bidadari turun dari Surga. Dilihatnya Sabrina dan Jessy mengenakan busana muslimah yang kini mereka semakin terlihat semakin cantik dan sangat anggun.


“Hehehe, barusan kami diajari cara memakai hijab yang benar oleh Erna.” Kekeh Sabrina.


“Sudah dong kang jangan bengong terus begitu. Nanti kami jadi meleleh, hehehe.” Ucap Jessy dengan terkekeh juga.


“Mulai  malam ini kami akan mengenakan hijab ini Kang.” ucap Sabrina dan Jessy kompak.

__ADS_1


“Alhamdulillah. Terima kasih yaa Erna.”


“Sama-sama Pak Boss.” Jawab Erna dengan tersipu malu.


__ADS_2