
“Kang kalau malam ini kita nginap disini harus pulang dulu ke apartemen dong, untuk membawa baju ganti dan baju tidur ?” Tanya Sabrina.
“Iya kita tidak bawa perlengkapan untuk mandi juga nih.”
“Kalian ini kok mempersulit diri sendiri sih ? ngapain pulang dulu, kita ada di tengah kota, di sekeliling kita banyak terdapat pusat perbelanjaan, tinggal beli saja, sekalian untuk kalian tinggal disini lengkapi juga, apakah uang dariku sudah habis ?” tanya Nata.
“Hehehe. Iya juga yaa, ok Jess, kita shopping yuk, mumpung masih siang.” Ajak Sabrina.
“OK Sab, catat dulu yang akan kita beli, yang penting-penting dulu, seperti baju tidur, handuk, perlatanan mandi dan mencuci, lalu perabotan atau alat makan.”
“Sekalian kalian beli trolly juga, kita nanti memerlukannya disini, untuk memindah-mindahkan barang, jadi kalian tinggal mendorong barang belanjaan dari toserba kemari. Selamat berbelanja yaa, aku mau menulis konsep rencana program pekerjaan kita nanti ke depan.” Nata lalu mengeluarkan laptop dari ransel punggungnya.
“Siap kang boss, Ayo Jess, sudah selesai kamu catat apa saja barang yang akan kita beli ?”
“Sudah, aku tambahkan peralatan masak juga beserta kompor listrik, supaya praktis dan ringkas.”
“OK kalau begitu, kang kami pergi dulu berbelanja yaa.” ucap Sabrina sambil mencium pipi Nata.
“Iya GPL. Time is money. Hehehe.”
“Dont worries be happy, kang. hihihihi.” Jawab Jessy yang juga mencium pipinya Nata. Sabrina dan Jessy lalu meninggalkan Ruko itu, meninggalkan juga Nata yang sedang asik mengetik program kerja untuk satu tahun
kedepan.
Sebuah Toserba nampak terlihat saat mereka keluar dari ruko tersebut, sambil berjalan melangkah Jessy dan Sabrina bersenandung ria, entah menyanyikan lagu apa, hanya mereka berdua yang tahu. Hanya butuh waktu sekitar lima menit mereka sudah memasuki Toserba itu. Jessy lalu menghampiri dan bertanya kepada salah
seorang pramuniaga di Toserba itu.
“Maaf saya ijin bertanya, apakah disini juga menjual trolly besar.”
Sejenak sang pramuniaga itu tertegun, lalu menatap Jessy dan Sabrina. Seolah tidak percaya, namun kemudian pramuniaga itu lalu menjawab.
__ADS_1
“Ohhh kalau Nona-nona mau beli trolly mari saya bantu, untuk menghadap manager kami terlebih dahulu.” dengan suara merdu, sopan dan ramah sang pramuniaga itu.
“OK terima kasih.”
“Sama-sama, mari ikut saya Non.” Lalu dengan diantar sang pramuniaga, Jessy dan Sabrina mengikuti kemana arah sang pramuniaga itu berjalan melangkah, ternyata dia menghampiri kantor tempat manager berada. Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk sang pramuniaga itu juga mempersilahkan Sabrina dan Jessy untuk masuk.
“Iya ada yang bisa kami bantu Nona-nona ?” tanya sang manager dangan suara bariton yang berat dan sangat berwibawa.
”Kami bermaksud membeli trolly pak. Sebagai alat menyimpan barang belanjaan kami, sekarang kami tinggal di ruko yang tidak jauh dari sini, jadi karena banyaknya items barang yang kami beli, kami memerlukan trolly besar.” Ucap Sabrina mewakili Jessy.
“Ohhh baik, akan kami sediakan. Sebenarnya tidak menjual trolly, namun untuk tetangga boleh lah, ada yang ukuran dimensinya 40x60x80 cm, nanti akan kami tunjukkan barangnya silahkan nona-nona berbelanja dulu saja. Nanti barang belanjaanya tinggal dipindahkan ke trolly yang baru.”
“Terima kasih atas bantuannya pak.”
“Sama-sama Nona.”
Sabrina dan Jessy lalu meninggalkan kantor Manager Toserba itu, setelah itu terlihat sang Manager memerintahkan seorang pramuniaga untuk menyiapkan trolly yang dibutuhkan oleh Sabrina dan Jessy, sedangkan Jessy dan Sabrina lalu mulai ‘hunting’ berbelanja semua keperluan yang sudah dicatat oleh Jessy di layar ponselnya.
Pada saat yang sama di Ruko, Nata nampak masih mengetik dan menyusun semua program kerja dalam sebuah tabel perencanaan program kerja. Tabel yang mencantumkan uraian dan persentase target progres serta jangka waktu pelaksanaan. Nata yang sudah terbiasa menyusun program perencanan dengan mudahnya mencantumkan beberapa items yang sangat penting dan krusial. Sampai dengan sangat detail tabel itu dibuatnya hal-hal sekecil apapun ditulisnya, karena jika hal kecil saja tidak bisa ditangani, tentunya akan menghambat progres pekerjaan lainya. Agar tidak terjadi dampak-dampak atas kehilangan moment dalam menggarap pekerjaan yang sedang dikerjakan pada saat pelaksaan. Break event point atau BEP diperhitungkan juga oleh Nata, karena sebagai seorang pebisnis muda dia tidak mau gegabah untuk bertindak, harus mengedepankan juga profit yang nantinya akan diserap sebagai keuntungan bagi perusahaanya kelak.
Walaupun saat ini dia tidak menggunakan dana pinjaman dari lembaga finansial atau bank untuk memulai usahanya tersebut. Seratus persen modal secara finansial dari kantong pribadinya. Saat ini Nata hanya membutuhkan beberapa orang partner yang bisa dipercaya untuk membantunya. Naluri Nata sebagai seorang pengusaha muda itu mempercayakan kepada Sabrina dan Jessy yang untuk ke depan akan dia jadikan ujung tombak bidang usaha yang akan digelutinya itu, sesuai dengan kapasitas serta potesi yang ada dalam diri
Sabrina dan Jessy yang menurut penilaian pribadi Nata sangat gigih untuk bekerja dan berjuang dalam usahanya.
Setelah selesai menyusun tabel perencaan, lalu Nata pada halaman berikutnya mulai memuat perincian atas semua pekerjaan yang sudah ditulis secara garis besar dalam tabel perencanaan tersebut. Kemudian Nata membaca lagi serta menelaah apa saja yang tadi sudah ditulisnya. Beberapa kata yang penting, lalu dia
tambahkan. Cukup cepat juga Nata menyusun program rencana pekerjaan yang nantinya akan menjadi titik acuan baginya untuk memulai bisnis pada bidang properti di Indonesia, khususnya Kota Bandung yang merupakan kota yang dipilihnya, berdasarkan pengamatan dan analisa dia saat terbersit untuk meninggalkan Kota Tasikmalaya.
Setelah dibacanya berulang-ulang dan menurut perkiraannya sudah cukup, Program rencana kerja itu oleh Nata dijadikan format PDF, untuk nantinya akan dia sebar di dalam group whatsapp. Lalu Nata membuat logo perusahaan, sesuai dengan arahan program pencarian di internet, logo perusahaan yang belum pernah dipakai oleh siapapun, membuat desain menarik dan mudah diingat oleh para koleganya nanti. Setelah selesai membuat logo perusahaan, lalu Nata membuat group baru. Kemudian menambahkan Sabrina dan Jessy kedalam group whatsapp baru itu. Logo baru dalam grup itu pun mulai ditambahkan oleh Nata. Notifikasi group lalu mulai muncul.
Lalu dibacanya pesan pertama yang dilayangkan oleh Sabrina. Rencana Program Kerja yang dibuatnya dalam bentuk PDF itu pun dikirimkan oleh Nata ke dalam Group itu.
__ADS_1
“INSYA ALLAH, KAMI SIAP MEMBANTU AKANG.”
“Baiklah, terima kasih aku ucapkan, selamat bergabung didalam group ini.”
“Kami baru selesai berbelanja kang, sebentar lagi kami tiba di Ruko.” Ketik Jessy juga di dalam group itu.
“OK TTDJ. Bawa makanan ringan juga sebagai cemilan dan minuman.”
“Ohhh tentu dong, sudah kami beli, OTW yaa.”
”OK SIP.” Emoticon jempol pun dicantumkan oleh Nata.
Lima menit kemudian Nata lalu memutar kursi putarnya itu menghadap ke pintu kaca, terihat Sabrina dan Jessy sedang mendorong trolly mereka. Satu jam sudah mereka berbelanja, membawa barang bawaan yang di dorong oleh mereka dalam trolly. Nata pun segera bergegas mengampiri Jessy dan Sabrina. Membantu mendorong trolly itu kedalam ruko, kemudian dikeluarkan lah satu persatu dan disususun pada sebuah rak kosong yang awalnya sebuah rak display toko.
“Kalian tidak nombok saat membayar semua barang belanjaan ini ?”
“Tidak dong kang, angka yang dikeluarkan hanya sedikit kok.” Jawab Sabrina.
“iya kang, hanya se-upil ini mah, hihihi.” Tambah Jessy menimpali.
“Asin dong ? ternyata hobby kalian makan upil sebagai cemilan yaa ?”
“Ihhh joroknya. Hiiiyy.”
Hahahaha.
“Malah ketawa, Jijay tau !”
“Anggap saja seperti kismis di dalam roti coklat ini.” ucap Nata dengan tanpa ekspressi, kemudian dengan pelan menikmati sandwich roti coklat itu, yang tadi dibeli oleh Jessy dan Sabrina dari Toserba.
“Ihhh dasar tidak berperasaan, bikin nafsu makan hiang Nih akang.” Ucap Sabrina sambil bergidig.
__ADS_1
“Iyaa ihh.” Jessy juga protes.