
Tok Tok Tok.
“Amanda bangun, ayo kita sholat subuh berjamaah.” Ucap Sabrina yang sudah mengenakan mukena, pada saat mengetuk pintu kamar Amanda.
“Iya tunggu, aku sedang pakai mukena aku juga.” Jawab Amanda dari dalam kamar.
“Kami tunggu di Musholla yaa.”
“Iya Sabrina.” Jawab Amanda yang sudah mengenal suara dari Sabrina.
Sesaat kemudian Amanda sudah bergabung bersama didalam Musholla, mereka Sholat Subuh berjamaah didalam Mushola itu. Setelah selesai Sholat Nata lalu bertanya kepada mereka.
“Mau sarapan dulu atau nanti kita mampir di jalan sarapannya ?”
“Hmm masih kenyang kang, nanti saja deh di jalan, kita bekal makanan ringan dan minuman hangat saja untuk ganjal perut.” Jawab Sabrina.
“Iya benar kang.” Ucap Jessy juga.
“OK deh aku akan siapkan dulu kendaraan yang akan kita pakai. Juga mengecek bahan bakarnya.” Ucap Nata lalu bangkit dari tempat duduknya di Mushola itu.
“Kita siapkan dulu yuk makanan dan minuman yang akan dibawa.” Ajak Sabrina.
“OK aku bantu juga deh.” Ucap Amanda. Beberapa thumbler berisi air panas juga air kopi untuk Nata lalu disiapkan oleh Sabrina, Jessy dan Amanda. Mereka juga menyiapkan air mineral kemasan yang akan disimpan didalam cool case di mobil Rubicon merah itu. Tidak lupa mereka juga membawa makanan kecil.
“Kamu mau bawa baju ganti juga Amanda ?” tanya Jessy.
“Iya aku bawa, sudah aku siapkan di traveler bag kecilku, tinggal dimasukkan saja nanti kedalam bagasi mobil. Bawa pakaian renang juga ?” Jawab Amanda.
“Hehe ga perlu, kita ga akan berenang di pantai kok.” Tukas Sabrina.
“Tapi aku sudah menyiapkan juga tuh.”
“Sab, aku sudah kemas foto-foto yang akan dikembalikan untuk ditempel lagi di rumah sana.”
“OK bestie thanks. Sudah siap semua, ayo kita berangkat. Bissmillah.” Ucap Sabrina. Jessy dan Amanda lalu mengikuti langkah Sabrina menuju ke Basement.
“Kamu begitu saja perginya Nat ?” Tanya Amanda dengan wajah keheranan karena, Nata hanya mengenakan celana training dan T-shirt ala kadarnya.
“Aku kan hanya sopir, ga boleh dandan ganteng hehehe.” Jawab Nata seenaknya.
“Wiudih pede amat yaa kalau sudah menikah.” Ucap Amanda lalu mulai memasukkan semua barang dibantu oleh Nata, Jessy dan Sabrina kedalam bagasi mobil merah itu.
“Kang boleh yaa, aku duduk dibelakang yaa sama Amanda.” Ucap Jessy.
“OK sayang, sesukamu saja.” Jawab Nata lalu mempersilahkan Sabrina, Jessy dan Amanda untuk naik terlebih dahulu kedalam mobil, sesudah itu baru Nata berjalan menuju jok pengemudi. Sabrina lalu membuka pintu gerbang basement itu dengan menggunakan aplikasi di ponselnya.
“Bissmillah. Semoga perjalanan kita lancar, selamat sampai tujuan dan diberkati oleh Nya. Aaamiin.” Ucap Nata.
“Aamin yaa robbal alamiin.” Jawab semua yang berada di dalam mobil itu. Kemudian mereka dengan mengendarai Rubicon Merah itu langsung menuju ke arah pintu tol Pasteur.
“Kang kita ga akan ke rumah kang Andi dulu ?” tanya Sabrina.
__ADS_1
“Tidak sayang, tadi dia sudah bilang titik berkumpulnya nanti di Cileunyi.” Jawab Nata.
“Sama siapa lagi kita kesana ?” Tanya Amanda.
“Sama pihak kontraktor dan konsultan.” Jawab Jessy.
“Ohhh. Ceritanya perjalanan resmi nih.”
“Iya makanya juga kita tidak perlu bawa baju renang segala, tapi kalau kamu mau berenang silahkan saja. hehehe.” Kekeh Jessy lagi.
“Ogah aahh kalau hanya sendiri berenangnya.” Ucap Amanda.
Lalu disepanjang jalan di jalan tol itu Jessy dan Amanda terdengar berbisik-bisik sambil tertawa terbahak-bahak.
“Kalian dibelakang berdua lagi pada ngomong jorok yaa ?” Tanya Nata dengan penuh curiga, menggoda Jessy dan Amanda.
“Idih akang, sembarangan yaa kalau menuduh.” Elak Jessy.
“Abis kalian berdua bisik-bisik sih, bikin curiga tau.” Ucap Nata lagi.
“Hehe bukan Nat, kami hanya mencocokkan kemiripan kamu sama Artis.” Jawab Amanda.
“Hmmm pasti tentang Keano Reave deh.” Tukas Sabrina.
“Hihihi, kamu tahu aja Sabrina.” Cicit Amanda, disusul suara cekikikan dari Jessy.
Suara musik, yang mengalun dengan merdu menemani perjalanan mereka menuju Tasikmalaya itu. Tidak berapa lama lalu Sabrina melihat kendaraan yang ditumpangi oleh Andi dan rombongan berada di tepi sebelah kiri. Disebuah rumah makan, disebelahnya juga terlihat pedagang tahu Sumedang yang menjual tahu Sumedang di dekat persimpangan jalan menuju ke Tasikmalaya itu.
“Amanda kenalkan ini Kang Andi dan istrinya Teh Ane, juga ini Bang Arwan dan Teh Maya.” Ucap Sabrina memperkenalkan Amanda kepada Andi beserta rombongannya.”
“Ohh Amanda dari Kanada juga seperti Sabrina ?” Tanya Andi.
“Bukan kang, Amanda teman sekampus aku waktu di UCLA dan MIT. Ayahnya dia memang orang Amrik.” Jawab Nata.
“Ohh begitu, mari silahkan duduk kita sarapan dulu disini.” Ajak Andi. Sabrina seperti dengan Jessy dan Amanda nampak cepat akrab saat berbincang bincang dengan Ane istrinya Andi dan Maya istri dari Arwan tersebut.
“Teh Mira dan Teh Putri ga ikut ?” Tanya Sabrina.
“Gantian giliran jaga anak-anak dirumah dong, malah repot nanti kalau sedang bertugas mendampingi suami seperti sekarang ini, yang ada malah ngasuh anak-anak, bukan mendampingi suami. Harusnya sekarang giliran Putri yang mendampingi akang, tapi si Kembar rewel sepertinya tidak mau ditinggal oleh Mamanya, hehehe.” Jawab Ane.
“Wahh Kang Andi istrinya ada tiga ?” Tanya Amanda dengan terkejut.”
“Iya Amanda, mau lihat foto-foto kami ?” Jawab Ane lalu menyerahkan ponsel yang berisi foto-foto kebersamaan mereka.
“Idih kalian bertiga seperti kembar, unik banget.” Pekik Amanda dengan mata berbinar binar.
“Untungnya hanya ada tiga orang yang identik dengan Ane, Mira dan Putri. Coba kalau banyak, hehehe.” Ucap Andi.
“Akang mau coba-coba ? mulai berani yaa sekarang, hehehe.” Kekeh Ane
“Oppps salah ngomong deh, mana berani dong sayang.” Ralat Andi lalu disusul oleh gelak tawa mereka.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan, mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju Tasikmalaya. Rubicon Hitam yang dikemudikan oleh Arwan itu lalu melaju kembali mengikuti perjalanan Rubicon Merah yang ada didepan mereka.
“Kok bisa yaa Kang Andi itu menikah dengan wanita yang ketiganya sangat mirip ?” Tanya Amanda dengan wajah penuh keheranan.
“Namanya juga jodoh, sulit diterka dan ditebak dong.” Jawab Jessy.
“Tinggal aku sendirian deh dalam rombongan ini yang Jomblo.”
“Eits ga boleh ngomong begitu lho Amanda, tenang saja. Jangan berkecil hati. Siapa tahu nanti sepulangnya dari Tasikmalaya itu, dipertemukan dengan Jodohmu.” Ucap Sabrina.
“Aamiin.” Jawab Nata dan Jessy bersamaan.
Kemudian sepanjang jalan kembali Jessy mengajak Amanda untuk ngobrol bareng lagi di jok penumpang belakang, sehingga perjalanan selama hampir tiga jam itu tanpa terasa sudah mereka lalui. Saat sudah tiba di pelataran parkir Kantor Bupati Tasikmalaya, Nata lalu menghubungi Jejen yang sudah standby di Komplek Perkantoran Bupati Tasikmalaya. Satu unit kendaraan roda dua berplat merah lalu merapat ke tempat parkir mobil. Nata dan semua yang ada disana keluar dari mobilnya, saat Jejen mulai merapat. Nata lalu memperkenalkan Jejen juga kepada rombongannya Andi.
“Kita sudah ditunggu sama Bapak Bupati, pesan Kang Nata pada hari Jumat tempo hari sudah saya sampaikan kepada Beliau.” Ucap Jejen.
“Ohhh begitu, baiklah.” Jawab Nata lalu meraih tas laptopnya dari dalam mobil.
Kedelapan orang itu dengan diantar oleh Jejen mulai duduk menunggu di ruang tunggu kantor Bupati. Setelah beberapa menit menunggu, Nata beserta tujuh orang lainnya dipesilahkan untuk memasuki ruang meeting Kantor Bupati itu.
Ternyata disana, di ruang meeting itu sudah hadir orang lain yang sama-sama berseragam seperti Bupati Tasikmalaya tersebut. Nata lalu memperkenalkan diri dan rombongannya, diikuti oleh Bupati Tasikmalaya juga yang turut memperkenalkan jajaran kepala Dinas yang turut hadir disana. Jessy lalu membagikan dokumen proposal kepada semua yang hadir disana. Setelah itu kemudian Nata mulai memaparkan gagasannya yang tercantum didalam proposal tersebut, juga menayangkan video sebagai ilustrasi dari semua gagasannya. Setelah itu lalu disusul oleh Andi yang turut memaparkan secara teknis tentang bagaimana dengan secara cepat dapat membangun semua yang tercantum didalam proposal tersebut, tanpa merusak ekosistim yang sudah ada, juga tanpa merusak alam, bahkan akan turut melestarikan serta memelihara kondisi alam yang berada di sekitar lokasi pusat konservasi sekaligus sebagai tempat wisata dan tempat menimba ilmu bagi para siswa, maupun bagi masyarakat yang membutuhkannya.
Berapa saat kemudian Bupati dan semua jajarannya menjeda pertemuan itu sejenak. Beberapa saati kemudian Bupati dan semua Jajarannya kemudian memasuki kembali ruang meeting itu, kemudian menyatakan sepakat untuk menerima dan menyetujui semua gagasan dari Nata tersebut, terlebih lagi saat Nata dan Rombongan terdengar tidak sekalipun menggunakan dana dari pihak lain apalagi menggunakan dana APBD, murni dari kantong sendiri.
“Baiklah Pak Nata dan Pak Andi. Kami akan membantu semua perijinan, bahkan kami juga akan mengawal perijinan sampai ke tingkat pusat bila diperlukan.” Inti dari jawaban Bupati tersebut, yang langsung diberi tepuk tangan sangat riuh dari semua peserta rapat pada hari itu.
“Mohon ijin menambahkan pak, apakah perlu kami mengadakan MOU juga dengan pihak Pemda setempat disini, karena kami juga akan bekerja sama dengan beberapa desa terkait untuk melakukan hal yang sama pada tanah milik pemerintah di desa setempat.”
“Ohh silahkan saja Pak Nata, pintu kami selalu terbuka untuk mewujudkan gagasan yang sangat positif seperti itu. Nanti para Camat di jajaran kami akan membantu Pak Nata. Mereka memang sebagai PPAT atau Notaris dari Pihak Pemerintah yang legalitasnya sudah diakui secara prosedural, Bahkan apabila diperlukan, jika pak Nata membutuhkan Pejabat Notaris juga kami akan memberikan usulan untuk menunjuk beberapa Pejabat Notaris tersebut.”
Nata dan rombongan nampak sangat gembira dengan semua keputusan dari Bupati tersebut. Setelah itu rapat lalu dibubarkan, dilanjutkan dengan acara tukar pendapat dengan beberapa orang Kepala Dinas dan Camat yang berkaitan dengan rencana yang tertera dalam proposal tersebut. Acara tukar pendapat tersebut diadakan pada sebuah rumah makan, sambil mereka bersantap makan siang dan Sholat Dzuhur di rumah makan yang berdekatan dengan Masjid disebelahnya.
Pada kesempatan itu Nata juga memperkenalkan Amanda yang sangat menguasai management struktur Organisasi, dia meminta agar Amanda menyusun agar nanti birokrasi dalam membangun resort serta tempat wisata itu tidak tumpang tindih dan tidak terjadi duplikasi. Amanda lalu memamarkan seluruh ilmu yang dimilikinya itu untuk dituangkan dalam organigram pada konsep pembangunan tersebut. Andi juga menyetujui semua yang dipaparkan oleh Amanda itu.
“Ternyata team kita sudah lengkap kalau begini. Investor sudah ada, konseptor dan pelaksana juga sudah ada, tinggal gerakan nyatanya saja yang harus segera diwujudkan.” Ucap Andi, saat para pejabat sudah mengundurkan diri dari rumah makan, menuju kembali ke tempat tugasnya masing-masing.
“Benar kang, pintu sudah terbuka lebar, kita tinggal mendorong dengan do’a atas semua rencana kita, semoga segera terwujud.”
“Aamiin.” Jawab semua yang masih tersisa di rumah makan itu.
“Arwan bagaimana anak buahmu sudah bisa merapat kesini ?” Tanya Andi kepada Arwan.
“Siap Kang. Kami menunggu Komando dari akang saja.”
“Baiklah kalau begitu, sambil menunggu perijinan selesai, lakukan mobilisasi alat berat untuk langkah awal.”
“Siap kang, besok juga kami akan luncurkan kemari.” Jawab Arwan.
“Tunggu dulu Kang, kita belum memberikan SPK lho.” Tukas Nata.
“Berapa lama sih ngeprint SPK ? hehehe.” Jawab Andi dengan entengnya. Nata pun hanya garuk-garuk kepala mendengarnya.
__ADS_1
“Yah ini mah, judulnya Sangkuriang bertemu dengan Bandung Bondowoso nih, hihihi.” Ucap Ane dengan tertawa, diikuti oleh suara gelak tawa semua yang ada di rumah makan itu.