
“Seperti yang sudah aku tuturkan tadi, sejak kecil aku sebagai anak tunggal tidak diperbolehkan untuk keluar rumah, istilahnya dipingit. Mulai dari sekolah dasar sampai dengan tingkat SMA aku belajar di rumah, Ayah dan Ibuku memanggil beberapa guru ke rumahku.” Nata lalu menarik napas sejenak lalu melanjutkan lagi penuturannya.
“Sejak aku SD sampai dengan SMA aku melompati jenjang pendidikan, pada tingkat SD aku hanya belajar selama tiga tahun, pada tingkat SMP hanya setahun begitu juga dengan tingkat SMA hanya dua tahun. Sehingga pada umur sekitar empat belas tahun, karena prestasi akademi aku sangat menonjol, Ayah dan ibuku mengirimkan aku untuk berkuliah di luar negeri, UCLA adalah kampus pertamaku dilanjutkan dengan MIT untuk sekolah pasca sarjanaku. Sampai akhirnya aku memiliki gelar doktor saat aku masih berusia 24 tahun, jika di Indonesia tentu sangat menjadi sorotan masyarakat, namun di luar negeri hal itu sudah terbiasa.” Nata lalu menaik napas panjang lagi. Sabrina dan Jessy nampak sangat takjub dan kagum dengan apa yang dituturkan oleh Nata tersebut.
“Tahun lalu aku dipanggil dari luar negeri saat aku baru saja selesai di wisuda sebagai Doktor termuda di bidang fisika dan Civil Engginering, aku dipanggil pulang karena kedua orang tuaku terkena musibah, mereka mengalami kecelakaan lalu lintas, meninggal seketika di tempat kejadian setelah mobil Ayah dan ibuku dihantam oleh sebuah truk tronton bermuatan penuh yang remnya blong, aku harus siap menerima semua warisan yang diberikan oleh kedua orang tuaku itu, namun selama aku berada di luar negeri aku lebih senang berkecimpung di bidang property, bahkan aku sempat magang sebagai seorang broker property saat berada di luar negeri, semua penghasilan pribadiku aku tabung dalam rekening khusus, sebetulnya aku tidak menginginkan semua warisan yang diberikan oleh kedua orang tuaku itu, aku hanya ingin orang tuaku hidup lagi, itu saja.”
“Tapi itu kan tidak mungkin, sangat mustahil kang.”
“Iya benar, maka dari itu aku meninggalkan kota kelahiranku Tasikmalaya. Aku tidak mau didikte oleh para pengacara dan semua anak buah dari Ayahku itu. Mereka menuntuk aku untuk meneruskan perusahaan yang sudah dirintis oleh mendiang ayahku sejak lama. Aku juga dijodohkan oleh seseorang yang tidak pernah aku kenal sebelumnya.”
“Ohhh jadi karena itu kamu lari ke kota Bandung kang ?”
“Sangat kompleks permasalahannya Jess. Pengacaraku bilang, atas amanat dan wasiat dari Ayah dan ibuku, mereka hanya bisa membebaskan aku dari semua tuntutan, jika aku sudah menikah.”
“Wah gawat kalau begitu, akang selama ini dicari oleh para pengacara almarhum ayah dan ibunya dong.”
“Iya benar, maka dari itu aku memilih apartemen sebagai tempat tinggal sementara aku saat berada di Kota Bandung.”
“Pantas saja akang seperti sudah terbiasa mengendarai kendaraan keluaran Eropa, ternyata lama juga tinggal di negeri orang yaa.” Ucap Sabrina.
“Hehe, betul Sab. Disana aku sudah terbiasa mengurus diri sendiri, berusaha sendiri ditempa dengan berbagai permasalahan yang cukup rumit dan kompleks di negeri orang.”
“Sekarang ceritakan kepada kami, apa yang bisa kami bantu ?” Tanya Jessy.
“Iya kang, ternyata berat juga permasalahan akang itu.” tambah Sabrina.
“Pertama, aku ingin segera menikah, sejak awal perjumpaan dengan kalian, jujur aku sudah tertarik, kalian mandiri, strong, tahan banting, merupakan dasar terkuat pilihanku. Kedua bantu aku membeli beberapa property yang nantinya akan aku jadikan tempat usaha. Aku akan jadikan kalian berdua sebagai ujung tombak markettingku, karena aku yakin kalian sangat mampu. Kalau kalian ingin lebih yakin, aku tunjukkan rekening pribadi milikku.” Ucap Nata menutup penuturannya.
Sambil menggandeng kedua tubuh gadis cantik itu menuju meja kerjanya. Sesaat kemudian Nata menyalakan kembali laptop barunya itu. Kemudian dia menunjukkan sebuah rekening yang berisi angka yang sangat fantastis.
“Wow keren amat, ini sih bisa untuk beli pulau beserta pabrik dan perkebunan didalam pulau itu, hahaha. Pantas saja tidak ingin dibantu nginstall ternyata lebih dari pakarnya IT akang kita ini, Sab.” Jessy terpekik melihat nominal saldo rekening milik Nata yang memakai rekening bank dan kurs valuta asing itu.
“Iya, bikin aku jadi minder nih, untuk kedepan aku tidak akan berani sombong lagi deh, kapok. Ternyata bukan orang biasa akang kita ini Jess, sungguh luar biasa.”
__ADS_1
“Ahh kalian jangan terlalu memuji aku seperti itu, kalian juga harus lebih optimis dalam menjalani hidup. Sekarang aku tanya sekali lagi, maaf aku bukan orang yang romantis, atau apapun deh, aku hanya orang yang sangat cupu terhadap urusan asmara, tapi dari lubuk hati yang paling dalam, aku tanya sekali lagi maukah kalian berdua menjadi istriku ?” Nata lalu berlutut dihadapan Jessy dan Sabrina. Membuat hati kedua gadis itu menjadi sangat tersanjung.
“Akang, tidak pantas merendahkan diri dihadapan kami.”
“Iya kang kami mau kok, tidak perlu bersikap seperti itu, bangunlah.” Jessy dan Sabrina lalu membantu Nata untuk bangkit dari sikap berlututnya itu.
“Sungguh kalian menerimaku untuk menjadi suami kalian, juga menjadi imam kalian sampai akhir nanti ?”
“Iya akang bawel, kami bersedia, i will be with you until end.” Jawab Sabrina dengan kesal, bahasa bulenya mulai muncul.
“OK keep you both in my heart. Im promised.”
“Kalian ngomong apaan sih ? bikin roaming aja deh, aku ngomong Jepang baru kalian berdua nyaho deh.” Giliran Jessy yang sewot.
“Coba Jess.” Ucap Nata.
“JEPANG. Hahaha.”
“HAHAHA, gokil juga nih Gadis Jepang ini. Ehh kalian jadi tidak tidak bekerja dong hari ini, sorry yaa aku jadi mengganggu.”
“Kalau aku sih bebas, mau toko tutup atau buka juga ga masalah, kan sambil berjualan online juga, hehehe.” Kekeh Jessy.
“OK deh sekarang bantu aku, sebagai tugas pertama kalian, carikan ruko yang akan dijual, kriterianya letaknya dipusat kota, ada basement, tiga lantai.”
“Ahhh cetek itumah, aku ada nih, mau aku hubungkan langsung dengan ownernya ?”
“Jangan Sab.... kamu beli atas nama kamu, tanda tangan dan balik nama dihadapan notaris. Lakukan segera, sebelum ruko itu laku terjual.”
“Siap kang boss.” Ucap Sabrina. Lalu dia segera mencari ponselnya yang disimpan di meja toalet kamar tidur, berdekatan dengan ponsel milik Jessy. Lalu diketiknya pesan dengan aplikasi pesan yang berada di ponsel miliknya itu.
“Nah untukmu Jess tolong cari penyedia jasa untuk merehab interior Ruko yang kita beli, dengan atas nama kamu juga transaksinya, lengkapi dengan furniture serta tentu saja aku borong semua komputer di toko komputermu Jess.”
“Alhamdulllah, tuh kan benar juga, buka atau tutup toko ternyata rejeki tidak pernah tertukar hihihi. Ok aku segera
__ADS_1
menghubungi seorang designer interior dan toko furniture kenalanku deh. Jessy pun turut sibuk, karena ternyata mendapatkan order pengadaan sesuai dengan perintah dari Nata.
Sedangkan Nata sedang duduk di kursi kerjanya, mengetik di laptop barunya. Lalu bersiap untuk mentransfer sejumlah uang kepada Jessy dan Sabrina yang sudah diketahui nomor rekening milik Jessy dan Sabrina itu oleh Nata, saat membayar sewa apartemen dan membayar laptop yang baru dibeli dari Jessy itu.
“Kang ini harga ruko sesuai dengan spek yang akang inginkan.” Ucap Sabrina dengan menunjukkan nominal di ponselnya itu. Nata lalu segera mentransfer sejumlah dana sesuai dengan yang tertera ditambah juga fee untuk Sabrina yang oleh Nata diberikan jasa marketting, sungguh sangat profesional sikap Nata itu.
“OK Sab, sudah aku transfer ditambah fee untuk kamu juga tuh.”
“Wow cepat sekali, terima kasih yaa sayang, Muuuacchh.” Pekik Sabrina, lalu mengecup bibir Nata dengan riangnya.
“Ternyata enak yaa jadi karyawan baru dari akang. Serba secepat kilat. Hehehe.”
“Kang ini jasa untuk interiornya per meter, dan ini peralatan furniture dan peralatan kantor semuanya. Untuk sementara.”
“Hmm luas rukonya berapa meter persegi Sab. ?”
“Total untuk tiga lantai jadi sekitar 1250 meter persegi kang.”
“Nah coba kalikan dengan jasa interiornya Jess, jadi berapa nominalnya ?.”
“Jadi segini kang, tapi ini belum nego kang.” Jawab Jessy.
“Kamu urus semua sampai beres, nanti aku kirimkan rekomendasi thema desain interiornya.”
“OK siap kang Boss.”
“Sab. Kita bisa berangkat sekarang ke kantor notaris ? bikin janji dulu lalu survey ke lokasi ruko yang dijual itu.”
“Untuk Notaris, biar aku yang handle kang untuk mendapatkan jadwalnya, lebih baik survey dulu deh, kebetulan yang jual ruko sedang berada didekat ruko itu.”
“OK deh, boleh pinjam dulu mobilmu ? sewa juga ga apa, apa kok.”
“Ihhh akang, pakai saja, mau dicubit yaa? hehehe.”
__ADS_1
“Ayo kita berangkat kalau begitu, aku traktir makan siang deh sekalian nanti.”