Tangguh

Tangguh
Saling Mengenal


__ADS_3

Kami berkumpul di meja makan untuk makan malam. Makan malam pertamaku di rumah kakek setelah kembali dari Jerman.


Suasana begitu tenang dan hangat saat kami berbincang dan berbagi cerita. Kebanyakan pertanyaan yang terlempar padaku hanya seputar kehidupanku di negara orang. Aku berusaha menjawab seadanya. Aku tidak ingin terjadi perubahan suasana dengan memancing pertanyaan lain.


"Wah Jerman pasti sangatlah menyenangkan, Kara. Sampai-sampai keponakanku yang satu ini sangat jarang memegang ponselnya."


Aku tersenyum kaku. Aku bisa merasakan tatapan ibu untuk menguatkanku. Memang hanya ibu yang mengerti dan tidak menekanku.


"Kadang aku merindukan keponakanku, namun dia sangat sibuk dan aku berakhir menelpon Jessi. Syukurlah dia tidak sesibuk kakaknya walau sama-sama belajar di negara orang."


Orang-orang terdekatmu adalah orang yang beracun bagimu.


Itulah yang ibu katakan padaku. Keluargakulah sarang ular yang sesungguhnya. Merekalah bisanya. Selain anak dan pasangan, yang lain adalah musuh yang harus dijatuhkan. Begitu keluargaku, paman-paman dan bibi-bibiku. Mereka terlalu sibuk menyodorkan putra-putri mereka dengan segala macam cara.


Aku tersenyum kecut. Inilah salah satu alasan mengapa aku betah di negara orang. Mereka bertanya hanya untuk untuk sekedar menyombongkan diri. Menunjukan siapa yang lebih hebat.


"Maafkan aku Bibi. Aku terlalu sibuk mengutamakan pendidikanku hingga lupa dengan keluargaku. Aku harus berusaha keras agar aku dapat mempertahankan beasiswaku," ujarku sesopan mungkin.


"Ah ya, benar juga. Kara kuliah 'kan dengan beasiswa. Tak apa sayang, Ibu sangat bangga karena Kara sangat cerdas dan bisa kuliah dengan usaha Kara sendiri, bukan karena campur tangan orang lain."


Aku menahan senyum saat Ibuku dengan suara yang tenang mendului Bibi yang akan bicara lagi. Ibuku memang terlihat lemah dan lembut, tapi dia paling tidak senang melihat putrinya ditindas dan berusaha dipojokkan.


Bibi tidak menjawab lagi. Aku mengulum senyum karena ucapan ibu tepat menamparnya dan putrinya, Jessi.


"Jadi Kara, bagaimana dengan Juna?"


Oh, aku baru ingat kalau Kak Raja dipanggil dengan nama kecil Juna.


"Kami sedang mengenal satu sama lain Kek," jawabku. Kakek mengangguk puas. Aku mengulum senyum.


Apalagi yang harus aku jawab? Kalau kami bilang sudah saling kenal lama, bisa-bisa semuanya serba mendesak. Aku juga harus memastikan lagi dan meyakinkan diriku sendiri.


***


Saat bangun pagi, Ibu sudah berada di dalam kamarku. Aku sudah diseret menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri.


"Juna akan datang 15 menit lagi," kata Ibu.


Aku mengerut. "Tapi Bu, ini terlalu pagi."

__ADS_1


"Pagi kepalamu! Ini sudah hampir jam sepuluh."


Aku sontak melihat jam dinding dan terkejut karena hari sudah sangat siang menurut pandangan ibu. Sial, mungkin karena aku kelelahan hingga kebablasan seperti ini.


"Semua ada di bawah. Perhatikan sikapmu nanti." Ibu menangkup wajahku. "Bertahanlah sayang, hanya sebentar."


Ada banyak makna dalam kalimat Ibu. Dadaku bergejolak ingin menanyakan semuanya pada Ibu. Menumpahkan segala perasaanku. Namun Ibu terlihat lelah dan tidak baik-baik saja. Jadi semuanya aku telan lagi bulat-bulat dan mengangguk untuk menyenangi hatinya.


"Aku mengerti," jawabku dan Ibu mengecup dahiku.


Aku segera turun ke bawah setelah menyampirkan sling bag di bahu kananku. Aku melihat Bibi Risa dan Bibi Ana di ruang tamu sedang mengobrol. Aku menyapa sebagai sopan santun walau hanya sindiran halus yang aku terima.


Aku melihat Kak Raja sedang mengobrol bersama dengan kakek di kursi depan.


"Cucu kakek baru bangun setelah matahari diatas kepala," sindir Kakek dengan senyumnya.


"Sudah dari tadi Kek. Tapi Kara melanjutkan skripsi di kamar," jawabku bohong.


Kakek mendengus membuatku cemberut. Aku menoleh pada Kak Raja. Dia tersenyum kecil padaku dan berdiri. Kami pamit pada Kakek untuk segera berangkat.


"Maaf karena sudah menganggu waktu skripsimu," ujar Kak Raja saat kami sedang dalam perjalanan.


"Sudah aku duga," jawab Kak Raja tersenyum geli. "Aku paham kenapa kau melakukan itu."


Aku mengangguk dan tersenyum puas. "Lalu kita akan kemana?" tanyaku.


Sekilas Kak Raja terlihat kebingungan dengan pertanyaanku. "Aku sudah memikirkan hal ini tapi aku tidak tahu tempat yang cocok untukmu. Apa yang kau suka dan tidak. Tempat yang sering kau kunjungi. Hobi atau apapun."


Aku menyembunyikan senyum geli karena penuturannya. Aku meletakkan jari di dagu sembari berpikir. "Orang tua memang selalu buru-buru," ujarku mendapat anggukan setuju dari Kak Raja.


"Hm...baiklah. Tidak usah kemana-mana. Bagaimana kalau kita bermain Ask Me Anything? Tanyakan semua yang kakak ingin tahu dan aku akan jawab begitu pula sebaliknya. Untuk saling mengenal satu sama lain."


Aku melihat sudut bibir Kak Raja terangkat sebelah. "Apa kau yakin?"


Dia meremehkanku. Aku mendengus. Mobil tiba-tiba berhenti dan aku baru sadar saat kami tiba di pinggir sebuah danau. Aku mengedip.


"Ini kebetulan atau memang Kakak rencanakan?" tanyaku melihat keluar jendela.


"Kebetulan Rain. Apa kau mau turun dan bermain di sana?"

__ADS_1


Aku menatapnya yang memberikan pilihan. Tanpa menjawab, aku membuka pintu mobil dan merasakan udara segar. Kak Raja menyusulku dan kami duduk di atas rumput di pinggir danau.


"Kenapa kau memilih kuliah di Jerman?"


Aku terdiam. Itu adalah pertanyaan ke tujuh yang Kak Raja ajukan setelah enam pertanyaan sebelumnya hanya seputar tentang yang aku suka dan yang aku benci.


"Berada di sini hanya akan membuatku seperti Kak Sania," jawabku pelan sambil memandang beberapa belalang kecil yang melompat-lompat di rerumputan.


Terjadi keheningan selama beberapa detik sebelum Kak Raja berdehem dan mengganti ke pertanyaan berikutnya. "Rain, ini adalah pertanyaan yang ingin aku tanyakan sedari dulu," ujarnya membuatku fokus padanya.


"Kenapa saat itu kau pergi tanpa pamit?"


Aku tertegun. Kak Raja memaku tatapannya pada mataku. Aku mengalihkan pandanganku pada rumput yang aku mainkan.


"Maaf," ujarku pelan. Perasaanku tiba-tiba tidak terasa baik-baik saja. Pertanyaan Kak Raja cukup sensitif untuk aku jawab. Kenapa dari sekian banyak pertanyaan, harus ini yang Kak Raja tanyakan.


Aku menipiskan bibirku dan menghela napas. "Orang tuaku selalu mewanti-wanti agar aku tidak dekat dengan laki-laki manapun. Sepupu jauhku menyukai Kakak. Dan saat tahu aku akan menjadi teman duetmu, dia marah dan memintaku untuk membatalkannya. Tapi kita sudah berlatih terlalu banyak dan sudah dekat dengan hari perpisahanmu. Aku tidak ingin semuanya kacau jadi aku mengabaikannya."


Aku menatap Kak Raja. "Kau tahu Kak, aku bahkan sudah menyiapkan diri untuk datang ke sekolah. Namun, sepupuku itu memberitahukannya pada Kakek. Mengatakan bahwa kita bahkan sudah lebih dari teman. Kakek marah dan mengurungku di kamar tanpa ponsel."


Kak Raja tidak bergeming.


"Aku tidak tahu apa saja yang telah sepupuku itu katakan. Rasanya tidak wajar saja jika hanya karena menjalin hubungan, Kakek akan semarah itu. Pasti ada yang dilebih-lebihkan. Tapi aku tidak tahu."


Kak Raja berdehem. "Apa kakekmu tahu dengan kebohongan sepupumu itu?"


Aku menggeleng. "Aku tidak tahu."


"Itu berlebihan," ujar Kak Raja membuatku menatapnya. Tatapan matanya terlihat sangat serius. "Sepupumu. Orang-orang licik seperti itu adalah orang-orang yang harus aku hindari."


Aku menatap Kak Raja lamat-lamat.


"Aku tidak mengatakan ini agar Kakak menghindarinya," ujarku membuat Kak membalas tatapanku.


"Aku memberitahu Kakak agar Kakak tidak salah paham. Kalau aku bisa, aku juga sangat ingin tampil bersama Kakak waktu itu."


TBC


###

__ADS_1


like dan comment ya...


__ADS_2