
Nata lalu berusaha untuk memaksa Jessy dan Sabrina minum, dan menghentikan mereka untuk menghabiskan rujak dalam toples itu. Sabrina dan Jessy akhirnya menurut, secara bergantian Nata membantu Sabrina dan Jessy untuk minum susu dari kemasan botol dengan masing-masing botol menggunakan sedotan plastik.
“Selesai ini kita mandi yuk.” Ajak Nata.
“Aku mau digendong sama akang.” Rengek Jessy.
“Kalau Jessy digendong, aku juga mau dong.” Ucap Sabrina tidak kalah manjanya dengan Jessy.
“Iya-iya, nanti kalian aku gendong bergantian. Kita mandi disini saja di kamar mandi lantai dua yang berada di kamar tidur itu.” Jawab Nata, lalu satu persatu tubuh tanpa busana yang hanya berbalut selimut itu digendongnya ke dalam kamar mandi.
“Huff untung saja Amanda sudah pulang.” Ucap Nata.
“Memangnya kalau ada Kak Amanda kenapa kang ?” Tanya Jessy.
“Nanti aku jadi bingung menangani kalian berdua. Hehehe.” Nata lalu menurunkan tubuh Jessy dan menyalakan shower. Setelah itu dia menuju ke arah Sabrina yang masih duduk termanggu di sofa menunggu giliran digendong oleh Nata.
“Ayo sekarang giliran kamu Sabrina sayang.”
“Cium dulu dong.” Rengek Sabrina.
“Dasar manja, iya sayang.” Ucap Nata lalu merangkul dan membopong tubuh Sabrina juga menuju ke kamar mandi sambil bibirnya mencium Sabrina.
“Terima kasih akang ku sayang.” ucap Sabrina saat Nata meletakkan tubuhnya dengan perlahan disamping Jessy yang sedang berada dalam guyuran air shower yang hangat itu.
“Akang mau kemana ?” Tanya Jessy.
“Mau ngambil handuk dan bath rope kalian dibawah.” Jawab Nata.
“Hihi kita sukses ngerjain akang kita Sab.” cicit Jessy.
“Iya tuh, Ehhh Jess awalnya memang rujak buatan Bi Neli itu terasa pedas, tapi lama-lama jadi bikin ketagihan.”
“Nanti aku mau pesan lagi deh, kalau kamu mau Sab.”
“Ehhh tapi lihat Jess, bibir kita jadi merah banget begini.” Ucap Sabrina pada saat bercermin di dalam kamar mandi itu.
“Tenang Sab, nanti juga sembuh kan ada susu murni, banyak-banyak saja minum Susu murninya, tadi akang kita juga kan sudah memberikan susu kepada kita.”
“Ohhh pantas saja tadi tidak terasa panas lagi bibirku.”
“Cepat mandinya, setelah selesai mandi kita Sholat Dzuhur.” Suara Nata mengejutkan Jessy dan Sabrina yang sedang mandi itu, mereka berdua tingkahnya seperti bocah saja, begitu manja terhadap suami mereka.
“Iya akang, akang ga akan bantu menyabuni kami ?” Tanya Sabrina.
“Terima kasih, nanti kalian malah minta tambah lagi.”
“Idih akang ge’er banget yaa Sab. hihihi.”
“Iya kami berdua sudah gempor begini, lihat saja.”
“Iya aku juga tidak mau ikutan gempor seperti kalian berdua. Hahaha.” Jawab Nata dengan tertawa terbahak-bahak. Setelah selesai mandi yang sekaligus mengambil air Wudhu. Jessy dan Sabrina mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan mengenakan bath rope.
__ADS_1
“Kami duluan turun yaa kang.”
“Iya sini aku cium lagi.” Ucap Nata.
“Ehh jangan, aku sudah punya Wudhu.” Jessy dan Sabrina berkelit meninggalkan Nata di lantai dua rumah itu.
Nata lalu memunguti semua pakain mereka yang berserakan didalam kamar tidur. Setelah itu dia juga mandi, selesai mandi dan berwudhu Nata mulai turun dengan membawa semua pakain kotor dan memasukkannya kedalam mesin cuci yang berada di dekat dapur, disatukan dengan pakain Sabrina yang diambil dari kamar tidur utama. Nata memang sejak dari dulu sangat tidak suka jika melihat rumah berantakan, apalagi pada saat dia sedang sekolah di luar negeri, semua pekerjaan rumah dikerjakannya sendiri. Hingga kini kebiasaan Nata itu terus dilakukan tanpa beban, karena memang sudah terbiasa sejak dulu.
Nata kemudian masuk kedalam Mushola dalam keadaan sudah rapi dengan kain sarung dan baju kokonya, peci di kepalanya tidak pernah ketinggalan. Di Mushola itu sudah menunggu Sabrina dan Jessy yang sudah mengenakan mukena. Setelah selesai Sholat Dzuhur berjamaah, Nata bertanya kepada Jessy dan Sabrina.
”Kalian mau makan apa siang ini ?”
“Aku masih kenyang kang.” Jawab Jessy.
“Aku juga.” Jawab Sabrina.
“Bagaimana tidak kenyang, hampir satu toples besar rujak, sudah masuk kedalam perut kalian berdua.”
“Kami mau pesan lagi, untuk dibuatkan rujak seperti itu kepada Bi Neli.” Ucap Sabrina.
“Akang mau juga ?” tanya Jessy.
“Aku mau kalau tidak pedas, atau pedasnya sedikit saja. Yang aku tahu dari dulu, biasanya Bi Neli kalau bikin rujak pasti sangat pedas.”
“Hehehe, tapi kami suka kok pedasnya, iya kan Jess ?”
“Iya enak dan menyegarkan.” Jawab Jessy.
“Iya memang enak sih rujak bebek buatan Bi Neli, kalau aku sedang menginkannya aku suka pesan langsung sambil duduk nongkrong menunggu dan mengawasi pada saat Bi Neli membuatnya, agar cabe rawit yang dibubuhkan tidak terlalu banyak.”
“Iya tahu juga sih, tapi kadang ada orang yang tidak mau melihat cara membuatnya, karena katanya merasa jijik melihatnya. Hehehe.”
“Aku ingin tahu dan ingin belajar membuatnya, kamu mau juga Sab. ?”
“Kita harus menginap disana lagi dong ?”
“Hemm bagaimana kalau mereka sesekali diungan kemari kang, boleh kan ? supaya anak-anak Bi Neli dan Mang Undang itu berenang di kolam renang kita, pasti mereka senang deh.”
“Boleh, nanti kita ajak mereka kemari kalau mereka sedang liburan sekolah.”
“Asiiiik kita beli peralatan yang dibutuhkannya kalau begitu.” Pekik Sabrina lalu memeluk Nata.
“Terima kasih yaa kang.” Ucap Jessy juga yang menyusul memeluk Nata dengan mesranya.
“Iya sayang. Apapun akan aku lakukan untuk kalian berdua, agar kalian berdua merasa senang, bahagia dan nyaman bersamaku.”
“Ehh tadi aku mau cium akang ga boleh.” Ucap Jessy.
“Hahaha, karena tadi mulut kalian berdua sudah penuh dengan ranjau cabe rawit.”
“Kang aku mau bereskan dulu baju kotor yang tadi kita pakai.” Tukas Sabrina yang teringat bahwa beberapa pakaian tadi dilihatnya berserakan di kamar tidur lantai dua dan di dalam kamar tidur utama.
__ADS_1
“Sudah, tidak perlu, tadi sudah aku selesaikan. Sudah aku masukkan semuanya kedalam mesin cuci, termasuk yang berada didalam traverel bag kita.”
“Aiihh akang, terima kasih, cup cup cup.” Pekik Sabrina dan Jessy, kemudian mereka secara bertubi-tubi menciumi Nata.
“Ampun, sudah dong. Aku lapar nih.”
“Ohh ok, akang mau makan apa ? biar aku dan Jessy yang memasak untuk akang deh.”
“Aku mau omelet buatanmu, sudah lama aku tidak mencicipnya lagi.”
“OK siap Kang Boss. Ayo Jess.” Jawab Sabrina lalu mengajak Jessy untuk membuatkan omelet untuk suami mereka. Sambil berjalan, terdengar Jessy dan Sabrina bersenandung ria menuju ke dapur. Nata nampak tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku kedua istrinya itu.
Tiga puluh menit kemudian Sabrina menghampiri Nata yang sudah duduk di kursi meja makan. Sabrina dan Jessy masing-masing membawa sebuah piring besar yang semuanya tertutup oleh, alumunium foil. Kemudian Sabrina dan Jessy menyusun piring itu hingga berbaris tepat di tengah meja makan dengan posisi memanjang.
“Tarra.” Ucap Jessy dan Sabrina sambil membuka satu persatu dari keempat piring itu. ternyata di keempat omelet yang berada di atas piring besar tersebut bertuliskan.
I LOVE-YOU-AKANG-NATA
Tulisan yang disusun dengan potongan strowberry membuat, tulisan itu terlihat kontras dibandingkan dengan adonan yang sudah matang dari omelet yang sudah dibuat oleh Sabrina dan Jessy itu.
“Terima kasih sayangku Sabrina dan Jessy.” Nata segera memeluk kedua istrinya itu.
“Aku jadi tidak tega untuk makan omelet yang terlihat sangat cantik seperti kalian ini.”
“Hehe, kita foto dulu agar bisa di terus dilihat.” Ucap Jessy.
“Iya benar Jess.” Jawab Sabrina, Lalu Sabrina dan Jessy meraih ponselnya masing-masing dan mengabadikan omelet yang sudah mereka buat itu.
“Ide siapa sih ini ?”
“Sabrina kang.” Jawab Jessy.
“Makannya nanti ditambah dengan tetesan madu kang, kami sengaja tidak membuat terlalu manis karena akan di teteskan madu diatasnya.” Ucap Sabrina.
“OK, akang boleh makan yang mana nih ?”
“Bebas kang, semua sama kok rasanya.” Jawab Sabrina.
“Ini saja untuk akang dua piring, supaya kenyang, yang bertuliskan KANG NATA untuk kami berdua. Hehe.” Ucap Jessy.
“Ohh ok deh.” Nata lalu mulai meneteskan madu diatas omelet, kemudian mulai menikmati irisan demi irisan omelet rasa strowberry itu dengan penuh perasaan.
“Enak kang ?” tanya Sabrina.
“Enak banget, manisnya pas ada rasa asam dari strowberry, adodannya juga lembut, pandai sekali kalian memasak.” Puji Nata kepada kedua istrinya itu.
“Sekarang kalian coba makan dari mulutku deh.” Ujar Nata kemudian, lalu dia memotong omelet itu dan menggigitnya, sebagian potongan omelet berada didalam mulut Nata sebagian lagi berada di luar agar bisa digigit juga oleh Sabrina dan Jessy.
“Ohhh begitu, ok siapa takut yaa Jess.” Jawab Sabrina.
“Iya gambang kalau hanya begitu.” Ucap Jessy. Kini Sabrina dan Jessy mendekati wajahnya Nata. Mereka mencoba untuk menggigit potongan omelet itu yang menjulur keluar dari bibirnya Nata. Pada saat sudah semakin dekat Nata langsung menelan omelet itu tanpa mengunyahnya, membuat bibir Sabrina dan Jessi kini malah berebut mencium bibirnya Nata.
__ADS_1
“Idihh akang ngerjain kami.” Keluh Sabrina.
“Iya curang. Tuh.” protes Jessy. Terlihat Nata masih berusaha dengan susah payah untuk menelan potongan besar omelet itu didalam kerongkongannya. Lalu tertawalah Nata dengan senangnya, karena sudah berhasil mengerjai kedua istrinya itu. Setelah Omelet yang dimasak oleh Sabrina dan Jessy sudah habis, tanpa bersisa, Nata dan kedua istrinya itu lalu duduknya pindah pada sebuah kursi sofa panjang yang letaknya berada di ruang keluarga.