Tangguh

Tangguh
Bab 60 Menuju Tasikmalaya.


__ADS_3

Setelah menerima dan mendatangani pelimpahan seluruh aset di kantor Notaris, pada hari Sabtu sore Nata dan Jessy berpamitan kepada Sabrina, untuk menuju ke Tasikmalaya dalam rangka meninjau kembali lahan di tepi pantai Cipatujah. Nata dan Jessy akan mampir juga ke rumah peninggalan dari orang tuanya Nata di Tasikmalaya. Sabrina lalu berbisik kepada Nata sambil mencium pipinya Nata, saat Nata sudah berada di teras halaman ruko milik mereka itu.


“Kang, buat Jessy senang yaa, titip dia, jaga dia sebaik mungkin.” Ucap Sabrina.


“Ngapain sih pakai bisik-bisik segala ?” Tanya Jessy dengan nada protes.


“Hehehe, dia nitip beli oleh-oleh sayang, jangan sewot begitu dong.”


“Ohhh kirain ngomongin tentang aku, hihihi. Kami berangkat yaa bestie, Erna titip yaa bestiku.” Ucap Jessy lalu bercipika cipiki dengan Sabrina.


“Siap Kak, akan saya jaga 24 jam nonstop, hihihi.” Jawab Erna yang berdiri disebelah Sabrina.


“Assalamualaikum.” Ucap Nata dan Jessy, lalu mulai menaiki Rubicon kuning milik Jessy itu, Nata memegang kendali atas mobil yang dikendarainya itu, sementara Jessy duduk manis dengan sangat anggun di sampingnya Nata.


“Waalaikumsalam.” Jawab Sabrina dan Erna lalu melambaikan tangan ke arah Nata dan Jessy yang mulai meninggalkan pelataran Ruko milik mereka itu.


Tiga jam kemudian Nata dan Jessy sudah sampai di sebuah bangunan rumah yang nampak terawat dan asri. Letak bangunan yang berada di pusat kota Tasikmalaya itu dijaga oleh dua orang pelayan wanita dan dua orang tukang kebun merangkap penjaga rumah ditambah satu orang sopir pribadi keluarganya Nata, kelima orang itu usianya sebaya dengan kisaran umur sekitar empat puluh tahunan.


Seorang penjaga rumah pria nampak menghampiri mobil yang dikemudikan oleh Nata yang sedang membawa istrinya yaitu Jessy.


“Mang Undang kumaha damang ?”


“Eleuh manawiteh saha, sihorengteh Den Nata, Aden kamana wae atuh ?”


“Saya baru saja menikah Mang, Mang Dudung, Mang Sobri,  Bibi Endah sama Bi Julaeha ada ?”


“Ada den, meuni diabsen semuanya. Hehehe.”


“Ohh iya mang kenalkan ini Jessy, istri saya.”


“Eleuh meuni geulis pisan, siga orang Jepang bodas kieu.”


“Saya memang berasal dari Jepang Mang.” Ucap Jessy lalu bersalaman dengan Mang Undang.


“Ohhh bisa bahasa Indonesia juga geuning neng. Mari masuk.” Ucap Mang Undang sambil terheran heran dia membuka pintu rumah utama bangunan itu.


“Iya memang sejak kecil saya sudah tinggal di Bandung.”


Mang Undang lalu mempersilahkan Nata dan Jessy untuk memasuki rumah tempat Nata lahir, rumah yang kini hanya tinggal kenangan indah saat bersama kedua orang tuanya yang kini sudah tiada. Rumah sederhana namun tampak sangat asri yang dikelilingi kebun, bunga dan buah buahan. Nata lalu mengajak Jessy untuk duduk di ruang tengah rumah itu duduk di satu set kursi anyaman rotan.


“Sebentar yaa den saya panggilkan dulu Mamang dan Bibi yang lainnya. Mau minum apa den ?”


“Biasa, air teh hangat saja Mang jangan pakai gula, kamu mau juga Jess ?”


“Iya sama kang.” Jawab Jessy lalu berdiri dan mengamati beberapa foto yang tertempel di dinding ruang keluarga itu.


“Itu akang yaa ?” Tunjuk Jessy pada sebuah foto anak umur belasan tahun yang sedang mengenakan baju Wisudawan.


“Iya itu waktu aku berumur enam belas tahun,  saat di Wisuda Graduate di UCLA.” Jawab Nata.


“Ohhh waktu akang wisuda S1, masih imut imut, ganteng mirip ayahnya, ibunya juga cantik sekali, tidak banyak berubah hanya sekarang akang lebih gemuk berisi saja. boleh aku foto kang ?”


“Boleh silahkan saja, rumah ini juga anggap milikmu juga kan kamu sudah jadi istriku seperti Sabrina.”

__ADS_1


“Sayang, Sabrina tidak bisa ikut, dia pasti senang saat dibawa kemari.”


“Dia kan sedang tidak boleh jalan jauh dulu sementara, karena usia tiga bulan pertama bagi ibu hamil itu sangatlah rentan, apalagi kehamilan pertama, Jess.”


“Iya mungkin lain kali dia bisa kemari juga seperti aku.”


“Den Nata !” Pekik Bibi Endah sama Bi Julaeha dengan suara cemprengnya yang khas itu. Sedangkan dibelakangnya Mang Sobri, Mang Dudung dan Undang.


“Bi Endah dan Bi Eha, mohon maaf saya baru bisa datang kemari lagi, ini kenalkan istri saya, Jessy. Bi Endah dan Bi Eha atau Julaeha ini yang mengurusku sewaktu aku masih bayi, Jess.”


“Ehh geulis pisan neng, siga Artis Korea.” Ucap Bi Eha saat menjabat tangan Jessy.


“Terima kasih Bi.” Jawab Jessy dengan tersenyum manis.


“Jangan ngobrol bahasa Sunda Bi, dia kurang ngerti nanti disangkanya ngomongin yang –jelek-jelek atau ngeledek, hehehe.” Goda Nata.


“ihh masa atuh Bi Eha berani seperti itu sama neng geulis. Ehhh ini air teh nya Den. Hihihi.”


“Ini Bi Endah, dia orangnya pendiam, tapi masakannya enak banget, Nah kalau yang ini Mang Sobri, sopir Ayah dan ibuku almarhum, dia yang dulu waktu aku masih kecil yang ngajarin aku naik sepeda. Kalau ini Mang Dudung, yang ngajarin pencak silat, tapi sering aku jahilin hehehe.”


“Hehehe, aden masih ingat saja.” Kekeh Mang Dudung yang memakai baju Pangsi (Seragam Silat) warna hitam itu memakai ikat pinggang kain sarung hijau.


“Nanti silahkan coba bertarung melawan istriku mang, dia juga jago karate lho sudah sabuk hitam internasional.”


“Aduh ngeri amat Den, Mamang ga berani aahhh. Hehehe.”


“Ohhh iya Mang, nanti kami mau ke Cipatujah sekalian ke kebun, sebelumnya kita makan siang dulu, sudah lama saya tidak mencicipi masakan Bi Endah. Bi Endah barusan sedang masak yaa ? Masak apa ?”


“Wah boleh tuh bi, sambel goangnya pakai kencur yaa sedikit, supaya lebih seger.”


“Siap Den, kalau begitu Bibi siapkan dulu bumbu-bumbunya, Ayo Mang Sobri sama Mang Dudung, tangkapkan ikan Nila yang besar besar untu Den Nata dan Istrinya.”


“Okeh lah kalau begituh.” Jawab Mang Sobri dan Mang Dudung, kemudian mereka berlima meninggalkan Nata dan Jessy di ruang tengah keluarga itu.


“Hihihi, lucu-lucu mereka semua yaa kang, baik-baik semua pula.”


“Iya, rupanya mereka senang juga melihatmu sayang.”


“Bi Endah dan Bi Eha itu sudah menikah kang ?”


“Sudah, tadi Mang Dudung itu adalah suaminya Bi Endah dan Mang Sobri adalah suaminya Bi Eha.”


“Ohhh, pantas tadi mereka dari belakang bersamaan, kalau mang Undang ?”


“Mang Undang itu istrinya berjualan di Pasar, pagi-pagi sebelum subuh sudah berangkat, mungkin sebentar lagi juga Mang Undang akan menjemputnya dari pasar, biasanya jam sebelas atau sebelum Dzuhur sudah pulang ke rumah, tapi tidak tinggal disini, mereka berdua bersama anak-anaknya tinggal di rumah dibelakang rumah ini.”


“Ohhh yang itu ?” tanya Jessy sambil melihat ke jendela.


“Iya yang cat rumahnya warna biru.”


“Kalau Mang Dudung dan Mang Sobri tinggal disini ?”


“Iya, mereka juga masing-masing punya rumah di kampungnya, jaraknya 40km dari sini. Tapi sejak dulu diperintahkan untuk mengurus rumah ini oleh Ayah dan Ibuku, sesekali saja mereka pulang ke kampungnya, kalau hari raya atau libur panjang, itu juga bergantian, karena menurut amanah dari Almarhum Ayah dan Ibuku rumah ini tidak boleh kosong, kamu mau tinggal disini juga Jess ?”

__ADS_1


“Sekali-kali saja kang kita kemari, kalau liburan, sekalian memberi kesempatan kepada yang menjaga rumah ini untuk pulang kampung.”


“Ohh iya, tadi mana map yang kita bawa dari rumah ?”


“Ada tuh kang aku bawa didalam tas ku.” Jawab Jessy lalu mengeluarkan map yang berisi foto copy serta denah lokasi di pantai Cipatujah itu. Nata lalu membukanya lalu menuturkan rencana kedepan untuk pengelolaan lahan tersebut.


“Jess ini rencanaku, yang dulu pernah kita sepakati bertiga bersama Sabrina dan kamu juga, aku mau membuat rencana pembangunan Cipatujah Edukasi Resort Konservasi, lahan yang terdiri dari, Sawah, Ladang/ Perkebunan, Peternakan, Perikanan akan kita jadikan, Obyek wisata alam, Cagar Alam, Cagar Budaya dan Kultur, dilengkapi dengan Infrastruktur Sarana penunjang berupa Fasilitas Umum dan membuat Sumber Tenaga Listrik yang berasal dari pemanfaatan alam, nanti kita survey dulu tempatnya, lalu kita berunding bersama Sabrina, kemudian setelah itu baru mengundang Konsultan dan Kontraktor untuk melaksanakan semua rencana kita. Bagaiamana kamu setuju kan ?”


“Setuju banget, aku yakin Sabrina juga akan setuju.” Ucap Jessy sambil melihat dan mengamati peta yang sudah di print oleh Nata.


“Peruntukannya nanti untuk bahan penelitian bagi kampus yang sedang kita dirikan, yang ada hubungannya dengan teknik planologi, teknik lingkungan, fakultas biologi juga fakultas lainnya yang berkaitan dengan alam dan lingkungan hidup. Untuk pembangkit tenaga listrik, selain memanfaatkan kontur lahan kita buat pembangkit listrik mikro hidro pada beberapa titik, selain itu kita manfaatkan juga tenaga angin untuk kita jadikan kincir angin mini pembangkit listrik, selain memanfaatkan sinar matahari juga kita gunakan panel surya atau solar cell. Agar tidak membebani PLN setempat, bahkan dapat membantu menerangi jalan dengan memasang setiap tiang listrik yang terpadu dengan Solar cell tersebut.”


“Luas yang 80 hektar ini pada area yang warna kuning ini kang ?”


“Iya sudah aku tandai dengan arsiran warna kuning di google map, dulu terpecah menjadi delapan sertifikat, atas nama perseorangan, semuanya saudara dari Ayah dan Ibuku, sekarang sudah aku gabung lagi, atas nama perusahaan kita, kalau atas nama perusahaan kita tidak apa-apa luasnya lebih dari sepuluh hektar juga, asal jangan lebih dari 100 hektar.”




“Nanti untuk Anggaran biaya pembangunannya sangat besar dong kang ?”


“Untuk anggaran biaya tidak masalah, kan bisa bertahap, lalu aku juga  memang sudah menyiapkannya semua anggarannya, yang harus dipersiapkan sekarang adalah meminta ijin kepada semua dinas pemerintah terkait, seperti Dinas Pekejaan Umum, Pemda Setempat, PLN, Dinas Pertanian Kehutanan Perikanan dan Perkebunan tidak lupa Dinas Pariwisata juga, selain itu kita juga akan menggunakan tenaga kerja yang berasal dari masyarakat setempat di sekitar area lahan resort yang akan kita bangun tersebut, kalau ada pemasukan dari pihak sponsor silahkan saja asal tidak bertentangan dengan tujuan awal kita. Kita juga tidak akan langsung membangun seluruhnya, pembangunan akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan skala prioritas. Yang perlu digaris bawahi adalah jangan sampai merusak ekosistim dari alam yang sangat indah ini di Cipatujah.”


“Wah rencana yang bagus itu kang, akang bakal dapat piagam penghargaan dari Dinas KLH bahkan mungkin juga bisa dapat Piala Kalpataru dari Pemerintah Pusat, hihihi.”


“Aahhh aku tidak memikirkan sampai ke arah sana, terlalu jauh dong Jess, kita lakukan saja yang bisa kita jangkau dulu, mulai dari lahan milik kita bersama. Nanti kita akan berkonsultasi dengan pihak konsultan perencanaan terlebih dahulu untuk pembuatan proposal sebagai langkah awal dari mega proyek ini.”


“OK aku sih setuju saja kang, ehhh kang kamar tidur akang yang mana ? Boleh aku lihat ?”


“Boleh, itu tuh yang di tengah sana disebelah kamar Almarhum Ayah dan Ibuku, ayo sini.” Ajak Nata sambil menggengam tangannya Jessy untuk memasuki kamarnya yang tidak terkunci itu.


“Wah rapi banget, sangat terawat, wangi harum bunga juga.”


“Iya di bawah jendela kamarku ditanam bunga melati, kacapiring dan sedap malam, wanginya bergantian sesuai pergantian waktu.”


“Hemmm pantas saja, Pasti Mang Undang yang merawat semua tanaman ini yaa kang ?” Ucap Jessy sambil mengeluarkan kepalanya di jendela yang terbuka lebar itu.


“Iya sayang.” Jawab Nata lalu memeluk Jessy dari belakang.


“Sejuk, wangi, aku ingin di ruko juga menanam semua bunga ini di dalam pot.”


“Iya boleh sayang, nanti tinggal bilang saja kepada mang Undang untuk menyiapkan pot dan benih tanamannya agar bisa kita bawa pulang.”


“Kang sambil menunggu, kita tiduran dulu yuk.” Ajak Jessy lalu membalikkan badannya, kini tubuhnya berhadapan di depan jendela kamar itu sambil memeluk lehernya Nata, mukanya menengadah bibirnya merekah menunggu Nata untuk menempelkan bibirnya, matanya yang sipit itu kini terpejam. Nata lalu menciumnya dengan sangat lembut, lalu membobong tubuh Jessy menuju ke pembaringan.


“Kang tolong kunci dulu pintunya.” Pinta Jessy mengingatkan.


“Iya sayang.” Jawab Nata lalu menutup dan mengunci pintu kamarnya, bahkan menutup juga semua jendela yang terbuka di kamarnya itu. Kamar itu kini menjadi hening, Jessy berusaha menahan suaranya sekuat mungkin pada saat tubuh mereka menyatu. Sampai akhirnya lima puluh menit kemudian tubuh Nata dan Jessy kelelahan dengan kepuasan yang tak terhingga.


”Terima kasih yaa kang, aku sangat puas.”


“Sama-sama sayangku, ayo kita mandi sekalian sayang.” Ucap Nata lalu mengeluarkan dua helai handuk dari dalam lemari pakaiannya. Suara Adzan Dzuhur mengiringi mereka saat memasuki pintu kamar mandi, air dari gunung yang sangat sejuk dan menyegarkan itu telah membasahi  Nata dan Jessy. Nata dan Jessy lalu mengenakan perlengkapan sholatnya.

__ADS_1


__ADS_2