
Hari Minggu siang sekitar pukul sebelas, Nata bersama Jessy dan Sabrina berkemas-kemas untuk kembali ke Bandung. Mereka pulang dari Pantai Cipatujah Tassikmalaya dengan membawa berjuta kenangan indah, menyimpan beberapa rencana kedepan bagi para penduduk di pesisir pantai Cipatujah itu. Nata memberikan puluhan lembar uang berwarna merah kepada pemilik penginapan itu. Meminta nomor kontak kepada pemilik penginapan tersebut juga menitip pesan agar mencari informasi tentang status kepemilikan area pantai yang menurut kedua istrinya itu sangat indah dan masih nampak sangat alami.
Jessy bersikeras untuk mengemudikan mobil Rubicon Hatsback Kuning miliknya itu, dia bahkan meminta agar Nata dan Sabrina duduk manis saja di jok penumpang belakang. Dibagasi belakang dipenuhi oleh puluhan butir kelapa muda, juga beberapa ikan asin olahan yang diberikan oleh Pak Surya sang pemilik penginapan itu yang sangat baik terhadap Nata beserta kedua istrinya. Walaupun pada awalnya Nata menolak semua pemberian dari Pak Surya itu, namun pada akhirnya tidak kuasa untuk menerimanya. Sehingga Mobilnya Jessy kini penuh sesak di bagasinya dengan banyaknya oleh-oleh yang diberikan oleh Pak Surya. Sayang sekali tadi Nata tidak bertemu dengan anak-anak yang sudah membantu mereka saat membakar ikan di tepi pantai pada malam kemarin itu.
Sementara itu Sabrina saat berada di jok penumpang belakang tidak henti-hentinya memeluk Nata dengan sangat mesra, sesekali tersenyum kepada Nata dan menciumnya dengan gemas membuat Nata merasa jengah karena malu saat diperhatikan oleh Jessy yang mengintip dari kaca spion saat Sabrina sedang mengulum bibirnya. Jessy justru nampak santai-santai saja, sesekali tersenyum melihat tingkah laku dari bestienya itu. Seolah-olah memang sudah terjadi kesepakatan yang tidak terlulis diantara Jessy dan Sabrina yang sama-sama istri dari Nata tersebut. Sabrina bahkan semakin berani saat mereka sedang menyusuri jalan raya yang terlihat sepi, pakaiannya sudah dihempaskan entah kemana oleh Sabrina.
“Sayang, kita ini sedang dijalan raya lho.” Ucap Nata mengingatkan Sabrina.
“Biar saja, kita kan bebas melakukan, karena kita berdua sudah suami istri.” Elak Sabrina dengan alasan yang cukup kuat itu.
“Jess boleh kan aku minta jatah sekarang ?” tanya Sabrina semakin berani.
“Lanjutkan saja besti, hihihi.” Kekeh Jessy yang sedang berkonsentrasi mengemudikan kendaraannya dengan sangat piawai seolah menikmati mainan barunya itu yang sangat bertenaga dan stabil.
Sabrina lalu menghentikan sejenak kegiatannya bersama Nata di jok penumpang belakang itu saat Jessy menambah bahan bakar di sebuah SPBU yang berbatasan dengan kabupaten Garut. Nata berusaha merapikan dandannannya Sabrina namun tangan Sabrina menepisnya.
”Diam saja kang biar aku yang melakukannya.” Ucap Sabrina dengan mata melotot, memperlihatkan dua bola mata birunya yang sangat indah itu.
“Malu dong Sab, kita sedang barada di jalan.”
“Mereka kan tidak melihat kita, kaca mobil ini kan tidak mudah ditembus oleh pandangan mata dari luar. Sudah akang diam saja lah.” Jawab Sabrina yang keukeuh itu. Nata pun pada awalnya diam saja. Namun pada akhirnya dia terbawa arus oleh panasnya ulah Sabrina pada setiap jengkal tubuhnya itu. Jessy sampai menahan suara cekikikannya saat Nata mulai membalas semua perlakuan dari Sabrina itu, yang membuat Sabrina menjadi sangat senang karena berhasil membangunkan lagi libido suaminya. Jessy seperti memahami tentang hal itu, dia bahkan mencari jalan alternatif yang menurutnya sepi dari peta google di layar navigasi mobilnya itu. Sabrina semakin buas dan garang berada diatas tubuhnya Nata. Sampai pada akhirnya dia beberapa kali mencapai puncaknya disusul oleh Nata juga.
“Haduh bisa boros sabun nih, kita mandi terus. hehehe.” Keluh Nata sambil terkekeh lalu mulai membantu membenahi pakaiannya Sabrina.
“Terima kasih yaa akangku sayang. Muacch.”
“Waduh kenyang yaa Sab. hampir dua jam tuh kalian dibelakang situ. Hihihi.”
“Iya Jess, terima kasih yaa atas pengertiannya, nanti kamu boleh sepuasnya deh sama akang, aku mau bobo cantik, hihihi.” Ucap Sabrina sambil menggerlingkan matanya ke arah Nata. Nata hanya tersenyum nyengir saja saat mendengar celotehan dari Sabrina itu.
“Hore, nanti kamu masak yaa, aku mau sama akang dikamar sampai malam.” Pekik Jessy dengan senangnya.
“Iya silahkan, aku sudah puas banget, capek, peluk dong kang.” Rengek Sabrina, lalu mulai memejamkan mata dipangkuannya Nata, sampai mereka tiba di Ruko tempat tinggalnya.
“Ehhh kita kan mau nengok anaknya Charlie.” Ucap Nata yang lebih ingat akan janjinya untuk menengok lahirnya anak dari Charlie tersebut.
“Ehh iya, kita mandi dulu deh kang, tapi nanti jangan lama-lama yaa, aku lelah banget.” Ucap Sabrina.
“Kamu lelah tapi enak tuh. Hihihi.” Ucap Jessy lalu mulai membuka pintu garasi basement dengan ponselnya.
“Kita jangan pakai mobil yang ini kang, pakai mobil akang saja, masa nengok sambil bawa barang bawaan sih ?” Ucap Sabrina.
“Iya deh, biar aku yang nanti nyetir, Jessy juga sudah keliatan lelah tuh. Kita juga harus mandi dulu Sab. terus sholat Dzuhur. ”
“OK Akangku sayang.” Jawab Sabrina lalu mulai turun dari mobil saat Mobil itu sudah berada didalam basement Rukonya itu.
“Yaa sudah kalian mandi duluan, aku nanti nyusul, aku mau menurunkan barang-barang ini dulu.”
“Traveler bag biar kami yang bawa saja kang.” Ucap Jessy.
“Iya, nih.”Jawab Nata lalu menyerahkan Traverler bag beroda itu kepada Jessy, kemudian Jessy dan Sabrina mulai naik kedalam lift untuk menuju ke kamarnya. Nata lalu mengambil troller yang disimpan di sudut basement itu. puluhan butir kelapa muda mulai dipindahkan dari mobil ke dalam troller miliknya itu. Terakhir diraihnya ikan asin jambal roti dari dalam bagasi mobilnya Jessy itu. Setelah menutup bagasi mobil Nata mulai mendorong troller itu menuju ke lift, lalu Nata mulai meletakkan Ikan asin jambal roti itu didalam freezer dan membiarkan puluhan butir kelapa muda itu masih didalam troller. Setelah itu Nata menyusul istrinya ke lantai tiga. Terdengar Sabrina dan Jessy masih menggunakan shower di dalam kamar mandinya. Nata lalu masuk ke dalam kamar tidurnya dan mulai melucuti semua pakaiannya. Lalu masuk kedalam kamar mandi yang berada di dalam kamar tidurnya itu. Setelah selesai mandi, Nata keluar dari kamar mandi menuju ke arah mushola bersamaan dengan Jessy dan Sabrina yang baru selesai mandi di kamar mandi sebelah kamar tidurnya Nata itu.
Tepat pukul dua siang, mereka sudah kembali berada dijalan raya menuju ke sebuah baby shop. Untuk membeli kado untuk anaknya Charlie itu.
“Anaknya laki atau perempuan sih ?” tanya Nata.
“Tadi kami sudah bertanya, kata Charlie sih perempuan kang.” jawab Sabrina saat mereka sedang memilih milih baju bayi dan perlengkapan bayi untuk anaknya Charlie tersebut.
__ADS_1
“Lahirnya normal kan ?”
“Iya, istrinya yang menginginkan dia melahirkan normal, katanya dia tidak mau di cessar.” Jawab Jessy.
“Syukurlah, kalian tunggu dulu disini yaa aku mau ke ATM dulu.” Ucap Nata.
“Iya kang.” Jawab Jessy dan Sabrina dengan kompak. Sabrina dan Jessy sudah memilih beberapa baju bayi yang menurutnya sangat lucu dan bagus. Bahkan Sabrina dan Jessy memilih kereta dorong bayi juga gendongan bayi. Mereka lalu membayar semua barang yang sudah dipilihnya itu di kassa. Tidak lama kemudian Nata sudah kembali menemui Sabrina dan Jessy yang masih mengantri untuk membayar di kassa.
“Sekalian beli amplopnya dong Jess.” Ucap Nata kepada Jessy.
“OK kang.” Jawab Jessy.
“Kang kita duduk saja yuk, kakiku mulai pegal-pegal nih,” Ajak Sabrina.
“Iya kamu duduk saja bestie, biar aku yang selesaikan ini semua.” Ucap Jessy sambil tersenyum kepada Sabrina. Sabrina pun mengangguk lalu duduk di kursi tunggu sambil menunggu Jessy selesai membayar semua barang belanjaannya.
“Mana yang pegal, sini aku pijat deh.”
“Ihh jangan, yang pegal pingang dan ************, masa dipijat disini sih.” Bisik Sabrina, sambil mendekatkan bibirnya di dekat telinga Nata.
“Hehehe, kamu sih heboh banget berlaga pengen terus.”
“Biarin dong kang, kan katanya melayani suami itu katanya ibadah, apalagi kalau aku yang memintanya, bisa doble pahalanya. Hihihi.”
“Wah sudah semakin pintar dan mengerti ilmu fiqih yaa sekarang.”
“Kan akang yang mengajari kami berdua.” Ucap Sabrina sambil membelai pipinya Nata yang menurut Sabrina sangat halus seperti kulit bayi, walaupun dibeberapa tempat sudah tumbuh bulu bulu halus di bibirnya dan jambangnya.
“Duh mesra-mesraan terus kalian, sampai lupa sama aku yang sedang bawa barang belanjaan segini banyaknya.”
“Ayo kita segera ke rumah sakit.” Ajak Sabrina. Nata lalu memasukkan semua barang kedalam bagasi mobilnya, kemudian mereka mulai naik lagi ke dalam Rubicon hitam milik Nata itu.
“Aku dibelakang saja yaa, kamu temani akang kita Jess, di depan.” ucap Sabrina, lalu naik lebih dulu ke jok penumpang belakang.
“Iya Sab.” Jawab Jessy. Nata lalu mulai mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit bersalin. Untuk menemui Charlie dan istrinya yang baru saja melahirkan.
“Jess kamu telpon dulu Charlie sedang berada dimana.” Ucap Nata saat mereka sudah tiba di tempat parkir rumah sakit bersalin itu.
“Iya kang.” Jawab Jessy lalu dia segera menelepon Charlie dengan ponselnya.
“Assalamualaikum, kamu posisi dimana Charlie ?”
“Waalaikumsalam, aku sedang di apotek dulu untuk membeli resep dari dokter untuk istriku, kamu sudah sampai Jess ?”
“Iya kami ada di tempat parkir.”
“OK tunggu sebentar nanti aku kesitu.”
Lima menit kemudian mereka melihat Charlie menghampiri mobil. Nata yang sudah turun lebih dulu langsung memberikan ucapan selamat kepada Charlie.
”Selamat yaa, sudah menjadi bapak sekarang. Semoga anakmu nanti menjadi anak yang Sholehah dan berbakti kepada kedua orang tuanya.”
“Aamiin terima kasih kang boss.”
“Dimana anak dan istrimu dirawat ?” tanya Jessy dan Sabrina bersamaan.
“Tuh disitu, di paviliun ruang perawatan selesai bersalin.” Tunjuk Charlie pada sebuah bangunan paviliun rumah sakit bersalin tersebut.
__ADS_1
“Nama istrinya Charlie siapa ?” tanya Nata dengan berbisik kepada Sabrina.
“Ohhh istrinya itu bernama Lusy. Cantik lho kang.” ucap Sabrina.
“Iya dong pasti cantik, kalau Lusy nya ganteng, pasti Charlie juga ga suka, hehehe.” Kekeh Nata sambil menjinjing barang bawaanya itu mengikuti langkahnya Charlie dan Jessy yang berjalan lebih dulu didepannya.
“iissshh dasar akang mah.” Ucap Sabrina sambil mencubit dengan gemas pinggangnya Nata. Nata hanya nyengir dan meringis karena tidak mau suara teriakan sakitnya itu didengar oleh Charlie. Sesampainya di ruang perawatan pasca bersalin, Jessy dan Sabrina langsung memeluk dan menciumi Lusy.
“Lusy selamat yaa untuk kalian berdua, ternyata hasil penggerebekan dulu, kini sudah menghasilkan keturunan. Hihihi.” Ucap Sabrina dengan tengilnya.
“Hahaha, iya untungnya aku suka sama Charlie.” Jawab Lusy yang berusaha bangkit dari berbaringnya.
“Sudah jangan dulu banyak gerak, nanti jahitannya longgar lagi.” Goda Jessy.
“Duh dasar deh kalau datang turis asing seperti kalian pasti bikin heboh, ehhh kalian berdua sekarang sudah berhijab ?”
“Iya, kami juga sudah menikah kok.” Jawab Jessy dan Sabrina sambil memperlihatkan cincin berlian di jarimanisnya.
“Sama siapa ? Jangan-jangan sama boss papanya Nindy deh.” Ucap Lusy lalu memandang ke arah Nata yang tadi terhalangi oleh Jessy dan Sabrina.
“Iya dong, ohh nama anak kalian Nindy ?” Tanya Jessy.
“Ehh suami kalian ganteng banget, pantas saja kalian berdua suka. Hehehe.” Ucap Lusy mulai mengalihkan pembicarannya lagi.
“Mam ini kenalkan Pak Nata yang sering Papa bicarakan itu, beliau ini adalah suaminya mereka.”
“Terima kasih yaa Pak Nata, kini suami saya sudah punya pekerjaan lagi.”
“Jangan panggil pak dong, panggil akang saja seperti Charlie memanggilku.”
“Mam mulai minggu depan kantor pusat kami akan mulai beroperasional, Mama jaga Nindy baik-baik yaa.”
”Iya Pah Alhamdulillah nanti akan Mama panggil tantenya Nindy untuk membantu merawat anak kita, Papa yang rajin yaa kerjanya.” Ucap Lusy yang tak kuasa menahan air matanya yang terharu dan merasa bahagia saat suaminya kini sudah kembali bekerja.
“Tenang Lusy, nanti kami yang tegur dia kalau kerjanya tidak rajin. Hehehe.” Ucap Sabrina.
“Iya jangan khawatir, kalau macam-macam nanti kita gerebek untuk kedua kalinya. Hahaha.” Ucap Jessy yang membuat Lusy kini ikut tertawa terbahak-bahak, mengingat kejahilan dari Jessy dan Sabrina itu.
“Dasar kalian turis gokil. Hahaha.” Jawab Lusy tak mau kalah. Nata pun ikut tertawa mendengar julukan dari kedua istrinya yang cantik itu.
“Ehh maaf yaa kang Nata beginilah kalau kami sedang reuni, seperti kembali ke masa yang lalu.” Ucap Lusy.
“Iya tidak apa-apa artinya kalian itu adalah sahabat sejati yang tanpa ada batas penghalang, santai saja lah Lusy.” Jawab Nata.
“Ehh ini kami bawa sesuatu untuk anakmu dan ini tolong diterima yaa dari kami.” Ucap Sabrina sambil memberikan amplop kepada Lusy.
“Aduh kalian repot amat, terima kasih yaa. Nak tuh tante kalian baik sekali nih.” Ucap Lusy sambil melirik ke arah box bayi di sampingnya.
“Ohh ini anakmu Lus, wah cantik dan lucu sekali.”Puji Sabrina.
“Untung saja tidak mirip sama bapaknya, hehehe.” Kekeh Jessy.
“Tuh nya angger si etamah, bagian bapana kanu palebah kagorengan mah. Hehehe.” Protes Charlie dengan bahasa Sunda yang sangat fasih dan kental, namun terkekeh geli saat mendengar Jessy berkata seperti itu.
“Ngomong apa sih dia Sab ?” tanya Jessy.
“Tau tuh kesurupan kalee. Hihihi.” Jawab Sabrina.~~~~
__ADS_1