
“Sekarang kita bersiap-siap chek out dari hotel ini, sambil menunggu kedatangan Bang Anwar.” Ucap Nata. Namun Jessy dan Sabrina seakan tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Nata. Kini mereka memeluk Nata dengan sangat erat. Air mata bahagia lalu mulai menetes satu persatu dari bola mata yang indah Sabrina dan Jessy. Nata yang heran saat merasakan suasana itu lalu bertanya.
“Kalian kenapa menangis ?”
“Kang Nata Suamiku.” Ucap Sabrina sambil terisak merasakan kebahagiaan yang dari tadi sudah dibendungnya saat ijab kabul di Masjidil Haram.
“Kang Nata peluk dan cium kami dulu dong.” Rengek Jessy.
“Ohhh maaf, aku sampai lupa.”
“Ihhh dasar akang ini, ga bisa romantis apa ?” Protes Jessy.
“Iya cium saja dulu yaa, nanti kita lanjutkan di rumah kita.” Jawab Nata dengan salah tingkah. Dia pun lalu mencium Sabrina dan Jessy secara bergantian. Sabrina dan Jessy membalas ciuman dari Nata itu, mereka bahkan melepaskan semua baju yang dikenakan, tanpa disadari oleh Nata. Suasana di kamar hotel itu kini menjadi terasa gerah, saat Nata seperti kewalahan melayani kedua istrinya itu. Namun kegiatan tersebut segera terhenti saat mendengar suara ketukan kamar.
“Siapa tuh ?” Tanya Jessy
“Mungkin Bang Anwar, temanku.” Ucap Nata yang segera membenahi kembali pakaiannya. Setelah rapi dia lalu membuka pintu kamar, sedangkan Jessy dan Sabrina berada dibalik ruang makan di kamar hotel tersebut, merekapun kini sedang membenahi pakaian mereka.
“Maaf mengganggu.” Ucap Anwar.
“Iya tidak apa-apa Bang Anwar.”
“Saya hanya memberikan surat keterangan ini, ada empat lembar. Dua lembar untukmu dan dua lembar masing-masing untuk kedua istrimu.”
“OK terima kasih, kita minum dulu sebentar.” Ajak Nata.
“Tidak perlu, lebih baik kamu hapus dulu noda lipstik di seluruh pipimu itu. hehehe.”
“Waduh.” pekik Nata lalu berusaha menghapus noda merah di pipinya itu.
“Baiklah aku pamit yaa, selamat ber-honey moon kawan. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Jawab Nata sambil berusaha menghapus noda lipstik di pipinya itu. Kemudian Nata kembali mengunci pintu kamarnya. Dan bergegas menemui kembali Sabrinan dan Jessy, yang nampak masih tersenyum dan tertawa cekikikan.
“Waduh, aku malu banget barusan dilihat oleh Bang Anwar. Kenapa kalian tidak memberitahu ku sih kalau ada noda lipstik di pipiku ?”
“Hehehe mana sempat, akang sendiri tadi yang langsung menemui Bang Anwar.” Kekeh Sabrina.
“Iya padahal kami bermaksud mau menghapus dulu, tapi akang keburu membuka pintu.” Jawab Jessy pula sambil tak bisa menahan tawanya.
“OK karena sekarang sudah Sah.” Ucap Nata sambil memperlihatkan surat keterangan dalam bahasa Arab.
“Aku mau lihat tubuh kalian berdua.” Ucap Nata sambil berusaha mendekati kedua istrinya itu.
__ADS_1
“Isshh, ogah ahhh, nanti saja di Rumah.” Pekik Sabrina.
“Iya nanti saja sekalian, sampai akang puas semuanya, hehehe.” Kekeh Jessy juga.
“Barusan aku sudah menghubungi pilot kita, dia sudah menunggu kita di bandara tuh.” Balas Sabrina sambil memperlihatkan Ponsel miliknya.
“Ohhh yaa sudah, cepat ganti baju kalau begitu.” Ucap Nata sambil menarik napas panjang, terpaksa menunda keingingannya itu, terhambat lagi deh untuk sementara waktu.
“Tidak perlu kesal kang, kami tidak akan lari kok, hihihi.” Ucap Jessy.
“Iya santai saja kang, semua untuk akang kok, jangan khawatir.” Tambah Sabrina sambil menggerlingkan bola matanya yang biru menggoda Nata.
Lima belas menit kemudian mereka bertiga sudah chek out dari kamar hotel tersebut. Barang bawaan mereka kini bertambah. Ada juga beberapa kota dus sebagai oleh-oleh untuk semua yang sedang mengunggu di tanah air. Dengan mengendarai sebuah taksi kemudian mereka menuju ke Bandara King Abdulazis. Mereka lalu menunjukkan pasport dan boarding pass kepada petugas bandara, lalu dengan sebuah kendaraan mereka menuju ke pesawat charteran mereka yang sudah siap untuk lepas landas dari bandara itu. Dengan dibantu petugas porter bandara, mereka menaikkan semua barang bawaan itu ke dalam pesawat. Dua orang Pramugari lalu menyambut Nata, Sabrina dan Jessy.
“Selamat datang kembali, Pak Nata Bu Sabrina dan Bu Jessy.”
“Iya terima kasih.” Jawab Nata, Sabrina dan Jessy serempak.
Nata yang merasa bete, lalu tidur, Sabrina dan Jessy yang melihat hal itu lalu saling beradu pandang dan tersenyum. Lalu mereka ngobrol berdua sepanjang perjalanan menuju ke tanah air, hingga merekapun ikut tertidur. Mereka dibangunkan oleh dua pramugari cantik itu saat makan siang. Dengan masih mengantuk dan kurang berselera Nata, Sabrina dan Jessy lalu makan bersama. Setelah itu melanjutkan tidurnya. Pada tengah malam mereka dibangunkan kembali oleh dua orang Pramugari cantik tersebut, karena pesawat akan segera mendarat. Pesawatpun mendarat dengan mulus di landasan Bandara Husein Sastra Negara Bandung.
“Kita tidak perlu minta jemput Charlie, kita pakai taksi online saja ke rumah kita.” Ucap Nata memberi komando kepada istrinya saat mereka sudah berada di lantai lobby Bandara Husein Sastra Negara Bandung itu.
“Baiklah, aku saja yang ngorder taksi on linenya deh.” Ucap Jessy. Lima menit kemudian sang driver taksi on line menghampiri Nata, Sabrina dan Jessy yang sedang berdiri menunggu driver tersebut.
“Atas nama Ibu Jessy Nakamura ?”
“Baik Bu. Silahkan naik Bapak dan ibu-ibu. Biar saja saya yang membereskan bagasinya.”
“Terima kasih.” Jawab Nata, Sabrina dan Jessy. Kemudian mereka meluncur menuju ke Ruko. Suasana di jalanan yang sepi di tengah malam itu membuat mereka lekas sampai di ruko. Tiga puluh menit kemudian Nata, Sabrina dan Jessy mulai memasuki Rukonya. Dilihatnya lift sudah selesai terpasang. Merekapun mencoba menggunakan lift itu menuju ke lantai tiga ruko itu.
“Jangan kamu bangunkan Erna yang ada di kamarnya.” Ucap Nata
“Lalu kita tidur dimana ?”
“Kalian kan sudah jadi istriku, kita tidur di kamarku saja bertiga.”
“Hmm yang sudah ngebet sedari di Makkah semalam. Hehehe.”
“Iya tuh Sab. kita keroyok aja yuk.” Tukas Jessy sambil tersenyum memandang Nata.
“Coba saja, siapa takut hahaha.” Balas Nata lalu membuka pintu kamarnya, kini dia tidak segan membuka baju didepan kedua istrinya. Jessy lalu mengunci pintu kamarnya. Kemudian menuju ke dalam kamar mandi, diikuti oleh Sabrina setelah selesai membasuh seluruh tubuhnya kedua istri Nata lalu menyusul Nata yang sudah berbaring di kasur empuknya itu. Jessy dan Sabrina hanya mengenakan kimono tidurnya saat mulai naik ke kasur empuk itu. Mereka berdua lalu mengecup pipinya Nata yang sudah memejamkan matanya. Nata lalu segera terbangun saat merasakan hembusan napas dari kedua istrinya itu. Sabrina lalu menutupi ketiga tubuh di atas kasur itu dengan selimut, dibantu oleh Jessy dari sisi lainnya. Tangan Sabrina dan Jessy kini dengan terampil melucuti seluruh pakaian Nata yang hanya mengenakan celana boxer dan kaus oblong.
Kini kedua istrinya Nata nampak sangat bersemangat menikmati malam pertamanya, bergantian dengan Jessy, Sabrina melepaskan seluruh hasratnya diatas tubuhnya Nata. Lengungan, erangan bahkan pekikan hanya terdengar didalam kamar tidur yang kedap suara itu. Tetes air mata Jessy dan Sabrina seolah menjadi saksi atas penyerahan semua yang dimiliki oleh kedua istrinya Nata tersebut, terhadap suami yang sangat dicintai oleh Sabrina maupun Jessy. Noda di atas seprai merekapun bersatu. Keringat mereka masih mengucur saat mereka sudah selesai melaksanakan kewajibannya sebagai suami istri diatas tempat tidurnya Nata.
__ADS_1
“Terima kasih sayangku Sabrina dan Jessy. Kalian sudah berhasil menjaga semua keutuhan diri kalian, lalu menyerahkannya secara utuh untukku. Aku sangat mencintai kalian berdua.”
“Sama-sama akangku, suamiku.” Jawab Sabrina dan Jessy. Lalu ketiganya tertidur dengan penuh kepuasan dalam satu selimut tebal mereka tidur saling berpelukan.
Pada pagi harinya, Nata, Sabrina dan Jessy mandi bersama didalam kamar mandi yang berada didalam kamar tidurnya Nata. Nata kini dapat melihat dengan sangat jelas tubuh dari kedua istrinya itu. Dia bergantian menyabuni dan membilas tubuh istrinya dengan penuh perhatian dan kasih sayang.
“Tubuh kalian sangat indah, putih dan bersinar aku suka dengan semua yang ada di tubuh kalian sayang.” Ucap Nata sambil terus mengelus tubuh Sabrina dan Jessy yang nampak kegelian saat diusap oleh telapak tangannnya Nata itu.
“Iya kang, kami persembahkan semua untuk akang, suami ku tercinta.” Jawab Sabrina sambil menggelinjang.
“Kami juga sayang sama akang, Suami yang ternyat sangat perkasa diatas pembaringan, membuat kami terbang melayang bagai tertiup angin.”
“Syukurlah kalau kalian sangat puas, aku juga sangat puas dengan semua pelayanan kalian berdua sayang.” Ucap Nata lalu mengecup dan ******* bibir Jessy bergantian dengan ******* bibir Sabrina dibawah guyuran Shower di kamar mandi itu.
Setelah mereka selesai mandi junub, merekapun melakukan shalat subuh berjamaah di mushola. Mereka lalu bertemu dengan Erna yang nampak keheranan karena terkejut atas kedatangan dari Nata, Sabrina dan Jessy itu.
“Pak Nata dan Kakak berdua kapan datang ? Kalian tidur dimana ?” Tanya Erna setelah mereka selesai Sholat Subuh berjamaah.
“Tadi tengah malam kami datang, kami tidak ingin mengganggu tidurmu. Kami sudah menikah.” Jawab Nata kepada Erna.
“Alhamdulillah selamat yaa Pak Nata, Kakak Jessy dan Sis Sabrina.”
“Aku mau protes, kedua istriku dipanggil kakak, sedangkan aku sendiri dipanggil Bapak, ga adil rasanya.”
“Hehehe. Maaf Pak, saya belum berani memanggil sebutan yang lain.”
“Sekarang tolong pesankan makanan untuk kita sarapan pagi, uang kamu masih ada atau sudah habis ?”
“Masih ada, masih banyak Pak. Baiklah saya pesankan sekarang.”
“Nanti tolong antar ke kamar kami yaa, hari ini kami ingin beristirahat di dalam kamar.” Jawab Nata.
“Siap Pak Nata.” Jawab Erna kemudian. Sedangkan Jessy dan Sabrina tidak mengeluarkan suara, mereka berdua hanya tersenyum mendengar percapakan Nata dan Erna setelah selesai sholat subuh itu. Erna lalu bangkit dan keluar dari Mushola itu.
“Kalian berdua hari ini libur, menemani aku seharian didalam kamar yaa.”
“Ihhh akang mau lagi yaa ?” tanya Sabrina.
“Kalau dikasih, mau dong.” Jawab Nata.
“Ga perlu diminta juga, kami sudah siap kok kang.” Ucap Jessy sambil melipat semua peralatan sholat yang tadi dikenakannya. Kemudian mereka kembali menuju ke kamarnya Nata. Lalu kembali bercengkrama didalam kamar yang sudah dikunci oleh Nata tersebut. Pengantin baru itu kini seperti tidak ada lelahnya bergulat diatas kasur, saling memberi dan saling memuaskan.
“Masih perih kang, pelan-pelan dong.” Rengek Sabrina.
__ADS_1
“Iya kang, perih banget.” Ucap Jessy juga dengan wajah meringis.
“Ohhh maaf, aku cium dulu yaa supaya tidak merasa perih.” Jawab Nata yang dengan sangat hati-hati memperlakukan kedua isrinya itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.