
Tanpa aku duga Kak Raja membawaku ke taman bermain dan pasar malam. Kami naik roller coaster yang terlihat mengerikan dengan liukannya itu. Itu adalah pengalaman pertamaku dan aku muntah karena mabuk setelahnya.
Aku menatap tangan yang terulur padaku dan menatap pemiliknya bingung. Karena aku yang terlalu lama merespon, Kak Raja mengambil sendiri tangan kananku dan mengusap telapaknya lembut.
"Memijit telapak tangan bisa mengurangi gejala mabuk," katanya tanpa menatapku.
Hati dan perasaanku menghangat karena kelakuan kecilnya. Tangannya sangat hangat. Dengan lembut menekan. Dan terasa tegas di saat yang bersamaan.
"Masih mual?"
Aku menggeleng.
"Lapar?"
Aku menggeleng lagi. "Masih ingin main," kataku seperti anak kecil.
Kak Raja mengacak rambutku. "Ada perahu yang menyusuri taman bermain lewat sungai kecil. Apa kau ingin mencoba?"
Aku berbinar dan mengangguk cepat. Kak Raja membantuku berdiri dan kami segera menuju ke stand untuk membeli tiket.
Perahu itu kecil. Muat untuk dua orang. Awalnya kami duduk saling berhadapan, namun karena ingin melihat ke arah depan, aku memutar dudukku membelakangi Kak Raja. Dengan tega membiarkannya mendayung sendirian.
Aku menatap kagum saat perahu melewati celah sempit diantara tanaman sulur membentuk terowongan di atas kepala. Aku menyentuhnya dengan jari-jariku dan tersenyum senang.
Aku menatap air yang jernih di bawah. Menumpukan dagu di pinggir perahu, aku menatap jari-jariku yang separuh berada dalam air. Tanpa sadar aku merenung lagi. Kak Raja memberikanku kenangan indah ini. Jika benar aku ditakdirkan untuk menikah secepat ini, aku ragu kesempatan seperti ini masih ada. Tanggung jawabku akan semakin besar. Melihat Ibu, bagaimana dia menanggung semua beban menjadi seorang istri, membuatku takut. Aku takut tidak bisa melakukan semuanya. Tanggung jawab itu terlalu besar.
Aku tersadar saat perahu berhenti bergerak. Aku menoleh pada Kak Raja yang ternyata juga tengah menatapku.
"Kau terlihat sedih."
Aku tersenyum tipis. Tidak, Kak Raja terlalu baik. Dia sempurna. Justru Kak Raja terlihat terlalu terbebani dengan tingkahku.
"Kak, jika kita berjodoh, kita akan tetap menikah 'kan?" tanyaku.
"Tidak selalu yang berjodoh akan menikah Rain. Jodoh bukan berarti selalu bersama." katanya membuatku menatapnya lamat-lamat.
"Apa Kakak mempunyai seorang kekasih?"
__ADS_1
Kak Raja mengerutkan dahinya lalu menggeleng.
"Ah yang benar?" tanyaku karena jawabannya sulit untuk dipercaya.
"Tidak Rain. Bagaimana denganmu?"
Aku menghela napas dan ikut menggeleng. "Aku tidak pernah memiliki kekasih Kak. Kau tahu 'kan aku selalu dilarang untuk dekat dengan laki-laki manapun," jawabku. Aku menatap Kak Raja lagi.
"Bagaimana dengan orang yang menyukai Kakak?" tanyaku ngotot.
Kak Raja mengerutkan dahinya dan terkekeh kemudian. "Begini saja Rain, jika memang kita ditakdirkan untuk menikah, mari kita putuskan semua hubungan yang cenderung lebih dari teman. Baik itu aku maupun dirimu."
Aku menatap Kak Raja lamat-lamat begitu pun dirinya yang menatap intens.
"Deal?"
"Deal."
Benar. Jika kami memang ditakdirkan untuk menikah, maka semua hubungan lain harus diputuskan untuk menjaga keutuhan dan menghormati masing-masing pihak.
***
"Wah kemana saja Kakak sepupu larut begini baru pulang?" pertanyaan sinis Vika terlontar padaku saat aku menginjak teras rumah.
Mendengar suara Vika, orang-orang di dalam bermunculan keluar. Yang tak lain dan tak bukan adalah Bibi-bibiku sendiri.
Bibi Dina—Ibu Vika, menatapku dengan alis bertaut. "Kemana saja Kara? Ini sudah sangat larut untuk seorang gadis bepergian. Kami sangat khawatir karena wanita sangat sulit menjaga dirinya sendiri."
"Jadi begini perilaku anak yang mendapatkan beasiswa belajar di luar negeri? Apa ini yang selalu kau lakukan di negeri orang?" sahut Bibi Risa—Ibu Jessi.
Aku memaksa senyum. "Terimakasih sudah mengkhawatirkanku Bibi. Maafkan keponakanmu yang nakal ini. Kara terlalu banyak bermain tadi bersama Kak Arjuna," kataku menjaga nada bicaraku untuk tidak sinis.
"Kalian belum menikah. Belum boleh terlalu banyak bertemu. Apa kau ingin terjadi sesuatu yang tidak-tidak? Apa kata orang nanti? Ini bukan di Jerman, tolong jangan bawa kebiasaan buruk," kata Bibi Risa
"Kak Juna adalah calon suamiku Bibi. Kakek bahkan meminta kami untuk saling bertemu dan menghabiskan waktu untuk mendekatkan diri. Apa itu salah? Lagipula kami juga tahu batasannya," ujarku.
"Tidak keponakan." Bibi Dina mengusap bahuku.
__ADS_1
Aku menipiskan bibirku. "Oh atau jangan-jangan Bibi tidak percaya pada calon suamiku? Bibi tidak percaya dengan pilihan Kakek? Jika Kak Raja dan Kakek tahu, mereka pasti akan sangat kecewa. Padahal calon suamiku adalah seseorang yang beretikat baik dan sopan. Dia sempurna," ujarku setengah sinis.
"Jangan salah paham Kara. Kami hanya mengkhawatirkan keponakan kami ini karena kami peduli. Kami takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan padamu." Dia menatap ke arah belakangku yang ternyata sudah berdiri Kak Raja di sana.
Cih...
"...Benar 'kan Kak?" tanya Bibi Dina pada Bibi Risa.
"Itu benar keponakan."
Aku mendengus muak. "Baiklah. Kara juga minta maaf Bibi karena sudah membuat Bibi khawatir. Kalau begitu kami masuk dulu."
Aku menoleh pada Kak Raja memberinya isyarat untuk mengikutiku. Setelah melewati pintu, aku memperlambat laju langkahku hingga Kak Raja tepat berada di belakangku.
"Kakak bilang tidak ingin mampir," bisikku.
"Kalau aku tidak mampir, Bibi-bibimu tidak akan berhenti memojokkanmu."
Aku mendesah. "Aku baik-baik saja Kak. Itu sudah biasa."
Alis Kak Raja bertaut tidak senang karena ucapanku. Aku menatap lagi ke depan sembari tetap berjalan pelan ke ruang tamu.
"Pokoknya jika terjadi hal seperti ini lagi, Kakak tidak boleh membicarakannya pada Bibi Dina dan Bibi Risa," kataku.
"Kenapa?"
Aku mendesah. "Pokoknya tidak boleh. Mereka akan semakin suka memojokkanku."
Aku tersentak saat Kak Raja menarik lenganku membuat kami saling berhadapan. Aku terpaku pada tatapannya yang mengunci dengan tajam. Kedua alisnya hampir menyatu dengan raut yang tidak senang. Aku menahan napas melihatnya begitu dekat.
"Rain—"
"Kara? Juna?" Kami refleks saling memisahkan diri saat suara Kakek terdengar di sebelah kiriku.
Sial.
***
__ADS_1