
Pukul delapan pagi mereka sudah selesai menyiapkan ruang meeting itu. Nata, Jessy dan Sabrina nampak mengusap keringatnya yang bercucuran, meskipun AC di ruang meeting dan semua ruang Ruko sudah di setting pada suhu terendah tetap saja badan mereka berkeringat dengan derasnya.
“Break dulu yuk, kita belum sarapan.” Ajak Nata.
“Sebentar lagi pihak katering datang kang, mereka sedang dalam perjalanan katanya.”
“Baiklah, tolong kamu atur semuanya Sab, sisihkan untuk sarapan kita langsung disajikan di meja makan.”
“Siap Kang Boss.” Benar saja kurang dari satu menit sudah ada yang mengetuk pintu ruko, team katering sudah datang dengan membawa aneka hidangan untuk makan siang dan sarapan pagi. Sabrina langsung mengarahkan hidangan untuk nanti makan siang agar disusun di meja dapur. Agar nanti bisa dihangatkan saat makan siang. Lalu hidangan untuk sarapan segera disajikan di meja makan oleh petuga katering yang jumlahnya empat orang itu. Sabrina lalu memberikan tips kepada empat orang petugas katering itu.
”Nanti kami kembali lagi sore Bu. Untuk membawa peralatan katering kami.”
“Iya terima kasih yaa. Salam untuk ibu Putri.” Jawab Sabrina, kemudian mengantar para petugas katering itu menuju pintu ruko.
“Ayo mari kang, Jessy kita sarapan dulu, aku juga jadi lapar banget nih.”
“Alhamdulillah, sarapan pagi supaya semangat bekerja, hehehe.” Nata dan Jessy lalu duduk disamping Sabrina. Seperti biasa Nata lalu memimpin do’a untuk santap sarapan pagi itu. Disela suapannya Nata memuji masakan yang disajikan saat itu.
“Enak banget nih masakannya, menu untuk makan siang seperti ini juga Sab ?” tanya Nata.
“Beda kang, untuk makan siang ada gulai kambing dan sate kambing, sate ayam serta beberapa buah-buahan dan pudding.” Jawab Sabrina.
“Wah mantap tuh, nanti segera kita bereskan meja makan ini, karena nanti siang akan kita pakai kembali untuk menjamu semua tamu kita setelah meeting nanti.”
“Ini katering yang di dago itu Sab ?” tanya Jessy.
“Iya benar Jess.”
“Pantas saja, seperti kenal dengan semua masakannya dan tadi juga kamu bilang titip salam kepada salah seorang istri dari owner pemilik kedai dan katering itu.”
“Iya Teh Putri, Teh Ane dan Teh Mira, usaha mereka maju pesat. Aku kenal dekat dengan teh Putri, dia juga punya wedding organizer, nanti kita akan memakai jasanya saat kita nanti menikah, Jess.” Jawab Sabrina dengan mata yang berbinar-binar seolah sudah tidak sabar menanti untuk segera menikah dengan Nata. Sedangkan Nata yang kini sedang berada di ruang kerjanya sibuk mencetak semua persiapan untuk meeting.
“Aku mau mandi dulu yaa, ga enak nih badan sudah berkeringat begini.” Ucap Nata sambil berlalu menuju ke lantai tiga.
“Iya kang, kita bergiliran mandi dan berdandan nanti untuk menyambut tamu-tamu kita.” Jawab Jessy.
“Jess nanti aku mandi duluan yaa, setelah itu kamu. Masih ada waktu, sekarang jam sembilan.”
“OK bestie, aku bereskan dulu semua peralatan bekas sarapan kita tadi.” Jawab Jessy yang dengan cekatan membereskan dan mencuci semua peralatan makan. Setelah selesai lalu dia naik ke lantai tiga. Di tangga menuju ke lantai tiga dia berpapasan dengan Nata yang sudah mengenakan pakaian formal, dengan jas warna biru tuanya itu.
__ADS_1
“Wah akang ganteng banget, sudah siap nih menyambut tamu kita.” Puji Jessy dengan senyuman lebarnya.
“Terima kasih Jessy, Muach, ini hadiah dariku karena sudah memujiku, hehehe.” Jawab Nata sambil mengecup bibir Jessy yang tipis dan merah merekah itu.
“Wangi banget kang.”
“Sudah cepetan sana mandi, tuh Sabrina tolong ingatkan jangan terlalu lama dandanya, karena kalian berdua sudah cantik, ga perlu dandan lama-lama, hehe.”
“Ahhh bisa aja akang mah.” Jawab Jessy lalu dengan tersipu malu dia segera menuju ke lantai tiga menyusul Sabrina yang sedang mandi. Nata lalu mengambil semua kunci mobil di rak kunci dekat tangga menuju ke basement.
“Ohh ternyata sudah rapi parkirnya semua mobil yang ada di basement ini.” gumannya saat Nata memeriksa basement tempat parkir mobil. Disana terlihat hanya tiga unit mobil, Rubicon double cabin, Sedan Mercedes milik Sabrina dan Porshe Merah milik Jessy, semuanya terparkir dengan rapi, dilihatnya basement itu masih bisa menampung empat unit mobil lagi untuk para tamunya. Kemudian Nata mengembalikan lagi semua kunci mobil itu ketempatnya semula.
Nata lalu memeriksa kembali semua dokumen meeting, yang tadi dia letakkan diatas meja. Semua dokumen itu berada dalam map yang bersih dan tersusun rapi, masing-masing untuk dua orang pihak owner, dua map untuk pihak notaris dan tiga map untuk Nata, Jessy serta Sabrina. Nata lalu menyemprotkan pengharum ruangan, agar ruangan menjadi lebih segar dan harum. Terdengar suara langkah high hill menuruni tangga, Sabrina nampak dengan penuh percaya diri sudah berdandan dengan sangat rapi dengan blazer biru tua senada warnanya dengan jas yang dikenakan oleh Nata, nampak sangat elegant berwibawa. Rambut panjangnya dikepang dan ditata melingkar dikepalanya. Nata sungguh sangat terpesona melihat Sabrina yang berdandan dengan sangat cantik itu, sampai Nata seolah-olah lupa bernapas saat menatap sosok yang semakin mendekatinya itu.
“Ihhh akang, kok seperti melihat hantu begitu menatapnya. Hihihi.”
“Cantik banget kamu Sabrina. Bintang film Hollywood pasti kalah bersaing dengan kamu nih.”
“Idiih akang mah berlebihan.” Ucap Sabrina yang masih kental dengan logat bule itu. Giginya putih bersih yang berderet rapi tak mampu disembunyikan saat dia tertawa dengan riangnya, wangi tubuhnya yakin mampu meruntuhkan siapapun lelaki yang dekat dengannya. Didalam hatinya Nata mengucapkan rasa syukur, karena Sabrina itu adalah calon istrinya yang cantik jelita, calon ibu dari anak-anaknya kelak. Sabrina pun lalu duduk ditempat duduk sesuai dengan tempat yang tadi sudah diarahkan oleh Nata. Kini matanya Sabrina nampak serius membaca semua roundown acara yang sudah diketiknya tadi dan sudah dicetak oleh Nata untuknya. Tidak lama kemudian terdengar lagi suara langkah dari tangga, menuju ke ruang meeting itu. Seorang gadis keturunan Jepang, dengan mata sipit dan postur tubuh yang sempurna mulai melangkah mendekati ruang meeting itu. Untuk kedua kalinya kini Nata terpesona, saat melihat Jessy yang mempunyai lesung pipi itu tersenyum kearahnya.
“Waduh aku hari ini didatangi dua Bidadari yang sangat cantik, sungguh sangat beruntung sekali aku ini. Ck ck ck ck.” Ucap Nata sambil berdecak kagum.
“Akang lebay ihhh. Hihihi.” Kekeh Jessy lalu duduk di samping Nata.
“Kenapa kang ?” tanya Jessy dan Sabrina bersamaan.
“Karena takut salah ucap, saat melihat dua bidadari yang ada disamping kiri kanan ku
sekarang.”
“Ihhh Gombal !” Pekik Jessy dan Sabrina bersamaan, namun kedua gadis cantik itu lalu tersenyum dengan wajah merah merona.
“Kang itu Pak H. Mumuh dan Pemilik Bank itu datang.” Ucap Sabrina lalu menyambut tamunya itu.
“Iya silahkan arahkan pengemudinya parkir di basement saja.”
“Sepertinya mereka nyetir sendiri kang, ga bawa sopir.”
“Baiklah, biar aku sendiri yang mempersilahkan mereka untuk parkir di basement.” Nata lalu melangkah ke halaman ruko itu, lalu memberi tanda agar kedua kendaraan yang baru datang itu memarkir kendaraanya di dalam basement. Lalu Sabrina dan Nata membukakan pintu mobil saat kedua mobil itu sudah terparkir di dalam
__ADS_1
basement.
“Selamat datang di kantor kami yang sederhana ini.” ucap Nata.
“Terima kasih Pak, wah ini bukan sederhana, sangat bagus kantornya.”Jawab sang Pemilik Bank itu.
“Saya Nata, Natadisastra. Pak. Ini Pak H. Mumuh dan mungkin bapak sudah kenal dengan Sabrina.”
“Iya, saya sudah kenal dengan Sabrina. Kenalkan nama saya Rahmat Hidayat dan istri ini saya Melly Susanti, saya juga sudah kenal lama dengan pak H. Mumuh Notaris senior di kota Bandung, tidak menyangka bakal bertemu lagi disini yaa Pak Haji.” Ucap Pak Rahmat dengan sangat ramah dan bersahaja itu.
“Iya benar Pak Rahmat sungguh suatu kehormatan bisa bertemu lagi dengan Pak Rahmat beserta ibu, ini kenalkan sekretaris saya sekaligus wakil saya di kantor.”
“Kenalkan saya Winni pak.”
“Yuk mari kita langsung ke ruang meeting.” Ajak Nata lalu mempersilahkan Pak Rahmat beserta ibu dan Pak H. Mumuh beserta sekretarisnya itu untuk menuju ke ruang meeting. Nata lalu menggandeng tangan Sabrina berada paling belakang. Di dekat pintu meeting Jessy sudah menunggu dan mempersilahkan para tamunya untuk duduk di kursi yang sudah disediakan sebelumnya. Meeting pun segera dimulai, suasana penuh keramahan dan kekeluargaan pun begitu terasa di ruang meeting itu. Tidak ada adu argument ataupun tawar menawar dalam meeting itu. Semua sudah sesuai dengan kesepakatan saat Sabrina sudah bernegosiasi sebelumnya dengan pemilik bank yang bernama Pak Rahmat itu. Sekretaris dari Pak H. Mumuh pun lalu memberikan konsep berita acara agar nanti ditindak lanjuti oleh team Notaris dan team audit. Berkas domilsili perusahaan yang diserahkan oleh Nata pun dibaca oleh Notaris sebagai dasar atau langkah awal.
“Pak Nata, sepertinya legalitas perusahaan akan lebih cepat berjalan, karena kita nanti tinggal membuat akta perubahan perusahaan perbankan saja, lalu dilanjutkan dengan akta pembuatan perusahaan yang sesuai dengan bidang yang pak Nata inginkan.”
“Alhamdulillah kalau begitu Pak Haji. Kami mohon dibimbing dan mohon dipercepat saja prosesnya.”
“Iya semua itu perlu proses, namun jika saya lihat semua persyaratan sudah lengkap, semoga saja tidak begitu lama prosesnya. Kita tinggal berdoa saja untuk lebih memperlancar semua proses itu.”
“Aamiin Pak Haji.”
“Baiklah Pak Nata dan Pak Rahmat yang sangat saya hormati, untuk mempersingkat waktu, silahkan cantumkan akan ada berapa termint tahap pembayarannya, agar dapat kami catat di dalam berita acara serah terima aset nanti.”
“Jika lima termint bisa pak ?” tanya Pak Rahmat.
“Bagaimana jika tiga termint saja pak. 40% , 30% lalu terakhir 30%. Saya jamin tidak ada retensi atau penangguhan pembayaran, silahkan saja saya ikuti semua tahapan pembayaran itu, pak. Bagaimana Pak Haji Mumuh, apakah bisa jika hanya tiga termint saja ?”
“Waduh, sangat bersemangat nih ternyata pak Nata. Kalau saya pribadi sih sangat senang jika lebih cepat. Hehehe.” Kekeh Pak Rahmat.
“Bisa, insya Allah saya bantu semuanya, baiklah saya catat dan saya bubuhkan semua hasil pembicaraan ini dalam berita acara serah terima. Tinggal satu tahap lagi nanti yang akan kita lalui yaitu tahap audit, Sabrina dan saya sudah menunjuk team Audit dari sebuah perusahaan akuntan publik yang sangat dipercaya dan sudah berpengalaman.” Tutur Pak H, Mumuh.
“Jadi nanti tahap kedua sekaligus nanti tahap pembayaran termint kedua, kita akan bertemu lagi disini saja yaa pak ? Untuk berkumpul dengan team Audit dari akuntan publik.” Tanya Nata.
“Saya setuju dengan saran dan pendapat dari Pak Nata. Saya ucapkan Terima kasih kepada Pak Haji Mumuh yang sudah membantu untuk mempermudah proses transaksi ini.” jawab Pak Rahmat.
“Baik Pak. Kalau begitu akan saya tulis cek tunai sebesar 40% dari rekening saya pribadi kalau begitu. Sabrina tolong siapkan buku cek-nya nanti tolong foto copy dan serahkan kepada Pak H. Mumuh dan untuk kita juga salinannya.”
__ADS_1
“Siap kang.” kemudian Sabrina menuliskan cek dan memfoto copy, lalu diserahkan kepada Nata.
”Nah, sambil menunggu menghubungi pihak Akuntan Publik, kami persilahkan sekarang untuk makan siang bersama ala kadarnya.” Ajak Nata kepada semua tamunya. Jessy lalu dengan sigap menyiapkan semua makanan untuk di hidangkan di meja makan. Acara meeting pun di jeda dulu dengan jamuan makan siang di Ruko itu.