Tangguh

Tangguh
Bab 21 Meeting hari kedua.


__ADS_3

Kegiatan dari pagi hari sampai sore yang melelahkan itu membuat Sabrina dan Jessy setelah selesai Sholat Isya dan dilanjutkan dengan Sholat Sunnah, mereka langsung terkapar karena ngantuk dan kelelahan di kamarnya. Sedangkan Nata setelah selesai Sholat masih melanjutkan kegiatannya untuk merekap hasil meeting hari itu, lalu dia juga membuat rencana kegiatan setelah meeting lanjutan besok hari. Setelah dirasa sudah cukup semua bahan yang akan di sampaikan besok. Nata lalu menutup laptopnya, dia lalu berbaring di kasur empuknya itu. Nata membayangkan sebentar lagi hanya dengan hitungan hari semua rencana yang merupakan impian saat masih berada di luar negeri akan segera terwujud. Pada malam itu kembali Nata mengucapkan rasa syukur atas semua pencapaiannya dalam tahap awal itu. Nata juga sangat bersyukur karena sangat terbantu dengan keberadaan Sabrina dan Jessy yang bisa mengimbangi  ritmenya saat bekerja.


Nata lalu membuat konsep kecil dengan bantuan ponselnya, sebelum benar benar mengantuk. Dalam konsepnya itu Jessy akan diarahkan sebagai eksekutor bagi dunia bisnis yang nanti akan digelutinya. Sedangkan Sabrina bisa dijadikan sebagai ujung tombak Perencanaan Kerja dan Pengembangan SDM. Nata sendiri sebagai konseptor sekaligus eksekutor yang membantu Jessy dan Sabrina secara global atas semua aspek perencanaan dan pekerjaan yang akan digelutinya nanti.  Sedangkan untuk legalitas dan Audit, Nata mempercayakan kepada Pak H. Mumuh yang akan dijadikannya sebagai tenaga ahli dibidang  perijinan, legalitas  dengan dibantu oleh team Audit yang ditunjuk oleh Pak H. Mumuh itu.


Memang bukan pekerjaan yang mudah untuk mengendalikan semua pekerjaan yang nanti akan digarapnya secara rutin. Namun Nata mempunyai semangat serta didukung pula oleh pengalaman bekerja di luar negeri serta back ground pendidikan yang  mendukung semua aspek pekerjaaannya itu. Nata juga berpikir dana awal untuk mendukung langkah awalnya itu tidak sedikit. Sudah hampir 30% dana sebagai modal awal digelontorkan oleh Nata dari seluruh modal awal yang dikendalikannya. Namun Nata sangat Optimis, bahwa nanti BEP (Break Event Point) akan kembali dalam jangka waktu lima tahun ditambah dengan keuntungan yang menurut perhitungannya akan sangat cukup bahkan berlebih untuk menggaji semua karyawannya nanti. Nata mulai mematikan layar ponselnya, rasa kantuknya terasa sangat bertolak belakang dengan semangat yang menggebu-gebu didalam dirinya.  Nata yang bukan robot itu kini terbaring dengan meninggalkan konsep yang sangat luar biasa.


Pagi hari itu Nata dibangunkan oleh berisiknya suara Jessy dan Sabrina. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi lewat lima belas menit, sebentar lagi akan terdengar gema adzan Subuh.


“Kang Bangun kang. Sudah  Pagi nih !” Ucap Jessy yang sudah memasuki kamarnya bersama Sabrina. Mereka sudah mengenakan mukenanya. Nata mula membuka matanya dengan perlahan, lalu duduk di pembaringan itu.


Sedangkan Jessy dan Sabrina masih berdiri di samping tempat tidurnya itu.


“Kang tadi malam aku mimpinya indah banget.” Ucap Sabrina.


“Aku juga kang, seperti melihat cahaya masa depan yang sangat terang benderang bersama akang.”


“Wah kok mimpi kalian mirip sih ?”


“Iya kang kami juga heran.” Jawab Jessy dan Sabrina kompak.


“Yaa sudah nanti kita lanjutkan ngobrolnya, aku mau ambil air wudhu dulu.” Ucap Nata sambil melangkah perlahan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar tidurnya itu.


“Baiklah kami tunggu di Mushola.” Jessy dan Sabrina pun meninggalkan kamar tidurnya Nata.


Setelah selesai Sholat Subuh, Sabrina dan Jessy lalu bergantian melanjutkan cerita tentang mimpinya tadi malam.  Nata mendengarkan semua cerita dari Jessy dan Sabrina itu dengan seksama.


“Pertanda baik untuk kalian semua, sekarang kalian akan aku buatkan sarapan, aku lihat kemarin masih ada sisa nasi, cukup untuk dibuat nasi goreng. Aku mau bikin nasi goreng tutug oncom khas Tasikmlaya untuk kalian berdua deh.”


“Asik terima kasih yaa akang ku yang handsome.” Ucap Sabrina lalu mengecup pipinya Nata.

__ADS_1


“Kami akan membereskan dan menyiapkan ruang meeting, yaa Sab.”


“Ohh iya sekalian print semua data yang tadi malam aku rekap, sebagai resume rapat untuk hari ini, tapi cium dulu aku Jess sebelum kamu membereskan semuanya itu.”


“Ihhh akang mah, Cup, tuh sudah.” Ucap Jessy dengan malu-malu mengecup juga pipinya Nata, lalu menarik tangan Sabrina dan dengan bergegas mereka menuju ke lantai satu, meninggalkan Nata yang tersenyum penuh rasa senang.


“Hhmmm memang Jessy cenderung lebih pemalu dibandingkan dengan Sabrina, namun pekerjaanya sangat cekatan mengalahkan pekerjaan seorang pria.” Guman Nata. Nata lalu menuju ke lantai satu, ke arah dapur, tidak lama kemudian mulai tercium wangi masakan dari arah dapur. Nata lalu dengan serius memasak untuk santapan mereka sarapan pagi. Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit dia sudah berhasil membuat menu nasi goreng tutug oncom itu. Nata lalu menyajikannya diatas meja makan. Sengaja dia membuat terpisah sambal karena Sabrina kurang begitu menyukai pedas, lain halnya dengan Jessy yang doyan banget makan masakan pedas.


“Ayo kita sarapan dulu Girls.” Teriak Nata ke arah ruang meeting.  Jessy dan Sabrina lalu segera menghampiri


meja makan.


“Wow sepertinya mengundang selera makan kita banget nih Jess. Aku belum pernah makan oncom seperti ini.” ucap Sabrina.


“Sama Sab. aku juga baru kali ini. Yuk kita makan.”  Nata seperti biasa memimpin mereka berdoa untuk sarapan pagi itu.


“Enak banget kang, ada suiran ayam, telur orek dan granula oncom bakarnya sangat terasa lezat.” Ucap Sabrina.


“Sambal dan acar timunnya juga mantap banget pedas dan segarnya. Wuiih benar-benar chief handal nih akang  kita Sab.” Puji Jessy yang terlihat lahap  dengan sambal dan acar yang dicampur dengan nasi goreng tutug oncom buatan Nata itu.


“Alhamdulillah, ternyata kalian suka.”


“Ajari kami nanti cara memasaknya kang, supaya nanti akang jadi betah dirumah, tidak jajan sembarangan, nanti juga aku akan buatkan menu masakan Jepang untuk akang.”


“Iya Jess setuju, akang kita tidak boleh sering jajan diluar, harus punya quality time dengan kita, kalau sudah menikah nanti. Aku juga nanti akan buatkan masakan western untuk akang kita tercinta deh.”


“Hehehe. Aku kalau makan diluar juga kan ngajak kalian berdua.”


“Beruntung juga aku berhenti dari seorang vegetarian, ternyata semua protein hewan sangat  lezat dan nikmat. Hihi.” Kekeh Jessy yang mulai nambah lagi porsi sarapannya itu.

__ADS_1


“Wah Jess kamu doyan atau ketagihan sih ? aku juga jadi pengen nambah deh.”


“Dua duanya Sab. abis enak banget sih, susah untuk disisakan, sikat habis Sab. hehe.”


Benar saja makanan sarapan pagi itu tidak ada yang tersisa, disikat habis oleh mereka bertiga. Sabrina dan Jessy lalu membereskan meja makan itu, lalu mencuci semua peralatan makan perabotan masak didapur. Sedangkan Nata memeriksa ruang meeting dan semua perlengkapannya. Seperti kemarin, kini ruang meeting itu sudah rapi, semua berkas atau tools meeting sudah tersedia di setiap tempat duduk para peserta rapat nanti siang. Nata pun tersenyum dengan sangat puas atas semua persiapan meeting hari kedua itu. Dia lalu  emasuki ruang kerjanya duduk  dan menyalakan PC diatas meja kerjanya. Terlihat sangat serius hingga tidak menyadari bahwa Jessy dan Sabrina sudah berada dibelakangnya.


“Itu gambar design apa kang ?” tanya Jessy yang sudah berganti pakaian, didampingi Sabrina yang juga sudah terlihat rapi dan sangat cantik kedua calon istri dari Nata itu.


“Ohhh ini gambar design dari tanah yang akan kita beli atas rekomendasi dari kamu Jess.”


“Seperti sekolahan bentuknya. Tapi lebih futuristik.”


“Benar Sabrina, ini sebuah bentuk sekolah masa depan, tempat menimba ilmu bagi semua anak didik yang berprestasi namun kurang beruntung, nanti aku akan kucurkan setiap tahun dana CSR dari perusahaan kita untuk membantu mereka menuntut ilmu di sekolah modern ini. Aku berikan gratis tanpa ada uang pembangunan, SPP dan iuran lainnya bagi semua anak yang berprestasi.”


“Wow, mengapa akang begitu peduli dengan anak sekolahan ?”


“Karena mereka itu adalah generasi penerus kita Jess. Yang akan menggantikan kita untuk mengelola sumber daya alam di negara kita, maka dari itu mereka harus mempunyai bekal yang cukup dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni, bisa bersaing dengan tenaga ahli dari sekolah lain. Mungkin sesekali kita selaku praktisi bisnis akan memberikan kuliah umum secara bergiliran agar dapat memotivasi semua murid maupun mahasiswa yang bersekolah di kampus atau sekolah kita itu nantinya.”


“Keren banget kang, aku juga mau ngajar disana, meskipun tidak dibayar juga ga masalah.” Ucap


Jessy.


“OK ini semua untuk nanti, tahap selanjutnya. Untuk saat kita harus bekerja keras agar semua rencana kita kedepan dapat tercapai.”


“Ehh tuh ada yang datang kang. Sepertinya Pak H. Mumuh dan team Auditnya.” Ucap Sabrina.


“Arahkan supaya parkir di basement saja Sab. seperti kemarin. ohh ternyata sudah jam sepuluh lebih nih.” Saran Nata. Lalu Nata segera merapikan pakaiannya, mengenakan dasi serta Jas warna abu-abu.


“Iya kang.” Lalu Jessy dan Sabrina menyambut Pak H, Mumuh beserta rombongan. Sementara itu Nata menuju ke ruang meeting memastikan kembali kesiapan rapat hari kedua di ruko itu.

__ADS_1


__ADS_2