
Pada hari Sabtu pagi setelah sebelumnya menghubungi Andi dan sepakat untuk bertemu di rumahnya Andi, Nata yang didampingi oleh Sabrina dan Jessy berangkat menuju ke rumahnya Andi Saputra.
“Kang kita mampir dulu ke minimarket untuk membeli buah tangan untuk anak-anaknya kang Andi yaa.” Ucap Sabrina yang berada di jok penumpang belakang, sedangkan Jessy berada di sebelah Nata.
“Iya silahkan.” Jawab Nata. Lima menit kemudian mobil yang dikendarai mereka menepi di sebuah pelataran parkir Minimarket. Disana Sabrina dan Jessy mulai memilih beberapa makanan juga mainan yang akan diberikan nanti kepada anak-anaknya Andi yang berjumlah empat orang itu. Setelah selesai berbelanja Sabrina dan Jessy kembali masuk kedalam mobil. Rubicon merah itu kemudian meluncur menuju ke Komplek Perumahan Dago Resort. Sesampainya di kediaman pengusaha muda itu, mereka disambut oleh Ane dan Mira yang sedang menyirami tanaman di halaman rumah yang cukup luas pada pagi hari itu.
“Assalamualaikum.” Ucap Nata, Sabrina dan Jessy, saat mereka turun dari kendaraanya.
”Waalaikumsalam.”
“Wah Teh Ane sama Teh Mira rajin amat, semua tanaman dan bunganya cantik-cantik secantik Teteh semua. Hehehe.” Puji Sabrina.
“Ahh kamu bisa saja Sabrina. Mari silahkan masuk, kang Andi dan Putri seperti biasa kalau hari Sabtu pagi sedang berenang sama anak-anak tuh.” Ajak Mira. Nata, Sabrina dan Jessy lalu mengikuti langkahnya Mira dan Ane menuju ke halaman belakang rumah mereka. Benar saja, terlihat Andi sedang berenang dengan keempat anak-anak mereka, didampingi oleh Putri yang juga berada didalam kolam renang untuk mengawasi anak-anak, terutama si kembar Ricky dan Dinda yang masih berumur sekitar empat tahunan itu. Sedangkan anak yang sulung bernama Faizal yang merupakan anak yang lahir dari rahim Ane, nampak sudah mahir mengikuti Andi, demikian juga dengan Icha anak dari Mira dengan gesit seolah berlomba berenang dengan Papanya.
“Ehhh ada tamu, anak-anak sudah dulu yaa berenangnya, nanti dilanjutkan lagi setelah sarapan.” Ajak Putri.
“Ayo Ical, Icha, Iki, Dinda naik dulu nak. Salim dulu sama Om dan Tante nih.” Ucap Ane yang turut mengajak semua anak-anak untuk naik.
“Tapi nanti kalau sudah mamam kami boleh berenang lagi kan Mam ?” Tanya Faizal.
“Iya boleh nak,”
“Horee !!.” Jawab semua anak-anak itu lalu berlomba naik dari kolam renang, dan berebut untuk bersalaman dengan Nata, Sabrina dan Jessy.
“Ehh pelan-pelan dong, nanti baju Om sama Tantenya jadi ikut basah.” Ucap Mira, yang berusaha untuk menghalangi anak-anak yang sedang berebutan untuk bersalaman dengan Nata, Sabrina dan Jessy.
“Tidak apa-apa teh, namanya juga anak-anak, hanya air juga kok. Hehehe.” Ucap Nata lalu membalas semua jabatan tangan dari anak-anak, demikian juga dengan Sabrina dan Jessy.
“Tante berikan untuk kalian nih anak-anak pinter.” Ucap Jessy.
“Terima kasih Tante cantik.” Ucap mereka. Sabrina juga memberikan buah tangan untuk mereka.
“Ahhh kalian sampai repot-repot segala. Apa kabar ?” Ucap Andi yang sudah membelitkan handuk di pinggangnya.
“Alhamdulillah baik kang.” Jawab Nata.
“Ayo kita duduk disana, tapi aku mau ganti baju dulu yaa.” Tunjuk Andi pada bangunan berbentuk hexagonal tersebut.
“Silahkan kang.” Jawab Nata, Sabrina dan Jessy serempak.
“Aku juga mau ganti baju, sambil ngurus anak-anak, silahkan ditemani dulu sama Teh Ane dan Teh Mira.” Ucap Putri, lalu bersama anak-anak masuk kedalam rumah menyusul Andi.
“Iya Teh.” Ucap Nata, Sabrina dan Jessy.
“Seru banget yaa. Setiap hari mereka berenang ?” Tanya Sabrina.
“Enggak juga, kalau ada Papanya saja dirumah, tahu sendiri lah repot kalau kami harus ngejar-ngejar mereka mah.” Jawab Ane.
“Kakek sama neneknya pada kemana ?” Tanya Jessy.
“Biasa lah kalau week end begini mereka hiling ke Pontren dan perkebunan, pulangnya nanti hari Senin. Baby sitter juga kalau week end kami liburkan.” Jawab Mira.
“Ohh jadi kalau week end benar-benar quality time full dengan keluarga yaa.” Tukas Nata.
“Benar Kang Nata. Ehh dengar-dengar dari Teh Mira dan dan Teh Ane, kalian berdua sedang hamil yaa ?” Tanya Putri yang baru datang kembali bergabung dengan mereka diikuti oleh Andi dan keempat anak-anaknya.
“Iya alhamdulillah, makanya untuk satu sampai dua bulan kedepan nanti, kami dilarang sama Kang Nata untuk terlalu lelah bekerja.” Jawab Sabrina.
“Syukurlah kalau begitu, rencana ingin punya berapa anak ?” Tanya Mira.
“Hehe, Akang kami inginnya satu lusin, enam dari aku dan enam lagi dari Sabrina.” Jawab Jessy.
“Astaga, banyak amat.” Pekik Ane dengan terkejut.
“Supaya rumah terasa ramai dan hangat Teh, Hehehe.” Sambung Nata juga.
“Anak-anak, jangan dulu makan banyak kue dari Om dan Tante yaa, kalian harus sarapan dulu. Temani Om sama Tante kalian yang baru datang ini, Mama sudah masak ayam goreng lho kesukaan kalian.” Ucap Ane.
“Iya baik Mama.” Jawab semua anak mereka itu.
__ADS_1
“Kang Nata, Sabrina dan Jessy nanti kita makan barengan yaa.” Ajak Ane.
“Ehh malah ikut numpang makan nih disini. Hehehe.” Kekeh Nata.
“Tidak apa-apa sekali-sekali. Mir, kita makan lesehan disini saja deh.” Jawab Andi.
“OK Kang, Mira bawa kemari deh semua makanannya. Ayo Ne, Put.” Jawab Mira lalu mengajak Ane dan Putri menuju ke dapur.
“Boleh aku bantu juga teh ?” Tanya Sabrina.
“Boleh yuk.” Jawab Mira.
“Aku juga ikut aahhh.” Ucap Jessy, lalu bangkit dari duduknya menyusul mereka. Sedangkan keempat anak-anak kini sedang asik bermain dengan ponselnya masing-masing di sudut Gazebo itu.
“Pah kok ga ada wifinya sih ?” Tanya Faizal.
“Ohh belum dinyalakan, tunggu sebentar, tapi janji yaa sesudah ini kalian makan.”
“Iya Pah.” Jawab Faizal. Setelah menyalakan router di Gazebo itu Andi lalu kembali duduk disamping Nata.
“Ada yang akan disampaikan ?” Tanya Andi, langsung pada pokok pembahasan.
“Ohh iya kang, beberapa hari yang lalu saya sudah ngobrol dengan Bang Arwan juga di proyek, jadi maksud kedatangan kami kemari ini ingin menyampaikan rencana pembangunan resort yang ada kaitannya dengan pembangunan kampus kita itu. Ini proposal dan slidenya.” Jawab Nata lalu menyerahkan map yang berisi dokumen proposal pembangunan resort dan tempat wisata sekaligus kampus alam di Cipatujah Tasikmalaya. Andi lalu menerima proposal tersebut dan membacanya dengan seksama.
“Wah bagus tuh, aku dukung 100%, apa yang bisa saya bantu untuk semua ini ?”
“Kami memerlukan Konsultan dan Kontraktor, Bang Arwan juga saya dengar sudah siap untuk mendukung rencana kami ini Kang.”
“OK, nanti kita bentuk team Konsultan dan Kontraktornya, ini artinya penunjukkan langsung kan ?”
“Iya kang, syukurlah kalau begitu.”
“Kapan kira-kira akan mulai bergerak ?”
“Rencana nanti hari Senin kami akan berangkat ke Tasikmalaya, untuk melaksanakan Audensi dengan Bupati dalam rangka menyampaikan rencana tersebut, sekalian untuk berkoordinasi dengan pihak pemerintah terkait yaitu Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata, Dinas KLHK.”
“Kalau akang berkenan silahkan.”
“Baiklah aku, reschedulle dulu deh untuk jadwal hari Senin nanti, agar bisa sama Kang Nata berangkat kesana.”
“Siap kang, terima kasih sebelumnya.”
“Sama-sama, sekarang kita sarapan dulu deh, tuh mereka sudah kemari lagi bawa makanan.” Ucap Andi menutup sementara pembicaran mereka tentang rencana pembangunan resort dan tempat wisata tersebut.
Mereka pun mulai makan bersama, di Gazebo tersebut. Suasana penuh dengan kehangatan dan keakraban segera terlihat di gazebo tersebut. Setelah selesai makan Sabrina juga nampak dengan penuh perhatian mengajarkan bahasa Inggris kepada empat orang anaknya Andi itu. Jessy juga tidak mau ketinggalan turut mengajarkan secara selintas tentang bahasa Jepang kepada mereka. Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, mereka nampak sangat betah bercengkrama di rumahnya Andi tersebut, hingga pada pukul dua belas siang mereka menghentikan semua kegiatannya untuk menuju ke masjid, disana mereka melaksanakan Sholat Dzuhur berjamaah. Sedangkan Sabrina dan Jessy cukup sholat berjamaah di rumahnya Andi bersama Ane, Mira dan Putri.
Nata, Sabrina dan Jessy lalu pamit dari rumahnya Andi setelah mereka selesai membahas semua rencana pembangunan resort dan tempat wisata.
“Lucu-lucu semua anaknya kang Andi, pada pintar semua lagi.” Ucap Sabrina pada saat mereka sudah berada dijalan raya, menuju kembali ke rumah.
“Iya bestie, ingin rasanya anak kita juga seperti mereka.”
“Tunggulah sabar, sampai mereka lahir dari dalam perut kalian berdua.” Jawab Nata sambil fokus mengemudikan mobil.
“Gerah banget, aku juga jadi ingin berenang, kita berenang yuk Sab.” Ajak Jessy.
“Ayo, kita berenang di rumah saja, akang mau ikutan ?” Jawab Sabrina lalu bertanya kepada Nata.
“Mau dong, berenangnya plus plus juga yaa, boleh kan ? hehehe.”
“idih akang maunya kesitu melulu, hihihi.” Cicit Jessy.
Pada saat mereka sudah sampai dirumah, sebuah kendaraan lain juga sedang menunggu kedatangan dari Nata.
“Siapa mereka kang ? Akang kenal ?” Tanya Sabrina.
“Ga tahu, mungkin salah alamat.” Jawab Nata lalu turun dari kendaraanya untuk menemui tamu yang sudah berada di depan rumahnya itu. Diikuti oleh Sabrina yang ikut turun dari mobil tersebut.
“Maaf mau cari siapa yaa ?” Tanya Nata dengan sopan.
__ADS_1
“Ini pak kami mencari Pak Nata.”
“Ohh iya saya sendiri, ada apa yaa ?”
“Mau memasang water heater untuk di kolam renang pak, bukannya bapak yang pesan ?”
“Ohhh iya maaf saya sampai lupa, sudah lama datang ?”
“Ada sekitar lima menit pak.”
“Baiklah, silahkan masuk, Sabrina sayang tolong masukkan mobilnya kedalam, aku mau menemani mereka dulu.” Ucap Nata.
“Iya kang.” Jawab Sabrina.
“Siapa mereka Sab ?” Tanya Jessy yang tidak ikut turun dari mobil.
“Mereka itu teknisi yang akan memasang water heater untuk di kolam renang.” Jawab Sabrina.
“Jadi juga dipasang disana, kita kan hanya bercanda kemarin yaa Sab. hehehe.”
“Iya lain kali nanti kita jangan asal bicara deh, pasti semua perkataan kita akan dituruti oleh akang kita, hihihi.” Tukas Sabrina sambil mulai memasukkan mobil kedalam basement rumah mereka.
Sementara itu dengan cekatan dan penuh dengan hati-hati para teknisi itu mulai menurunkan alat-alat yang akan dipasang dari atas mobil box. Nata mulai mengarahkan para teknisi itu dan mulai memasuki rumah melewati pintu samping bangunan rumah yang aksesnya langsung menuju ke halaman belakang rumah. Nata lalu menunjukkan sumber air dan sirkulasi yang diinginkan untuk menghangatkan kolam renang tersebut.
Tiga puluh menit kemudian water heater pun sudah terpasang di kolam renang tersebut, tinggal menutup instalasi pipa stainless steel tersebut dengan peredam panas. Indikator untuk melihat Temperatur water heater itu pun sudah terpasang dengan rapi. Nata terus mengawasi semua pekerjaan para teknisi itu dengan seksama. Sedangkan Jessy dan Sabrina baru saja selesai membuat minuman dan menyiapkan makanan kecil untuk para teknisi itu. Sabrina dan Jessy lalu menyimpan semua makanan dan minuman itu di dekat Nata yang duduk lesehan di gazebo berkarpet tebal itu.
“Cepat sekali mereka kerjanya.” Ucap Jessy.
“Iya dong, kan memang mereka sudah profesional terbiasa mengerjakan hal seperti itu.” Jawab Nata.
“Akang kapan ngordernya sih ?” Tanya Sabrina.
“Tadi malam sebelum tidur, aku juga sampai lupa tadi.” Jawab Nata sambil matanya terus memperhatikan para teknisi itu sedang bekerja.
“Ihh dasar yaa, kebiasaan ckckckck.” Ucap Sabrina
“Sudah selesai semua pak.” Ucap seorang teknisi yang menghampiri Nata.
“Duduk dulu disini, kita ngopi bareng dulu. Istri saya sudah menyediakan ini untuk kalian.” Ajak Nata lalu memberi tempat kepada para teknisi yang berjumlah empat orang itu.
“Terima kasih pak.”
“Sama-sama, ini semua aman kan ?”
“Aman pak karena alat ini menggunakan gas elpiji untuk memanaskan airnya, bukan pakai listrik.” Jawab seorang teknisi yang terlihat lebih senior.
“OK ini untuk kalian berempat.” Ucap Nata lalu menyerahkan empat buah amplop berisi uang kepada mereka.
“Kan sudah lunas dibayar pak.”
“Iya ini sekedar untuk upah kalian berempat saja.”
“Ohhh baiklah kalau begitu, terima kasih pak.”
“Aku juga sangat berterima kasih kepada kalian semua. Habiskan dulu minum kopi dan makanannya, kalau tidak habis bawa saja sama tempatnya.” Ucap Nata.
“Hehe, iya pak.”
Sabrina dan Jessy pun tersenyum menyaksikan hal itu, kemudian Sabrina dan Jessy menanyakan tentang pengoperasian water heater tersebut kepada salah seorang teknisi. Lalu teknisi itu mulai menerangkan cara pengoperasian water heater itu kepada Sabrina dan Jessy. Beberapa saat kemudian para teknisi itu berpamitan, mereka lalu mulai pergi meninggalkan rumah Nata, Sabrina dan Jessy.
“Terima kasih yaa kang.” Ucap Jessy dan Sabrina bersamaan sambil memeluk Nata.
“Sama-sama sayang.”
“Sekarang kita bisa berenang di malam hari atau pagi hari tanpa takut kedinginan, hehehe.” Ucap Sabrina.
“Sholat dulu yuk sekarang, sudah hampir jam tiga nih.” Ucap Nata mengajak kedua istrinya untuk Sholat Ashar.
“OK Akang sayang. Cup... Cup.” Jawab Sabrina dan Jessy dengan mengecup pipi kiri dan kanan Nata.
__ADS_1