Tangguh

Tangguh
Bab 77 Team Ceriwis Rempong.


__ADS_3

“Kang antarkan aku dan Jessy ke Ruko, karena aku dan Jessy mau bebenah sekalian ngambil mobil untuk dibawa ke rumah kita.” Ucap Sabrina saat mereka sudah selesai makan siang dengan menu Batagor itu.


“OK deh, Sayang.”  Jawab Nata lalu mengemudikan mobilnya menuju ke Ruko.


“Oh kalian tidak tinggal di ruko itu lagi ?”


“Iya Amanda, ruko itu memang hanya tempat tinggal kami sementara. Mau ikut mampir ke rumah kami ?” Jawab Sabrina.


“Lain kali deh, karena sore ini aku ada janji dengan Client.” Jawab Amanda. Tidak lama kemudian Sabrina dan Jessy turun dari mobil itu saat mereka sudah tiba di pelataran parkir Ruko tersebut, sedangkan Nata dan Amanda melanjutkan perjalanan menuju ke Kantor Pusat Bank NSP.


“Begini yaa rasanya kalau di sopiri sama Owner Bank, hehehe.” Ucap Amanda yang masih duduk di jok penumpang belakang mobilnya Nata.


“Iya bayar sopirnya mahal nih, hahaha.” Canda Nata dengan terbahak bahak.


“Nat, kamu keliatannya sayang banget sama Sabrina dan Jessy, ingat jaga baik-baik yaa semoga hubungan kalian langgeng.”


“Iya Amanda, terima kasih atas do’anya. Semoga kamu juga mendapatkan pendamping yang baik dan cocok sama kamu deh. By the way kenapa dulu teman teman kita di kampus menyangka kita berdua ada hubungan yaa ?”


“Hemm mungkin karena kita sama-sama berasal dari Indonesia, lalu memang kita berdua dari dulu sangat akrab.”


“Lalu mengapa kamu niat banget untuk jadi dosen ?”


“Pertama karena kamu yang membangun Kampusnya, karena aku sangat mengetahui pribadi kamu Nat, kamu pasti punya misi lain yang membuat aku penasaran, kedua memang sudah dari dulu aku ingin mengabdikan diri untuk menyalurkan dan mengamalkan semua ilmu yang dimiliki, ketiga semoga saja dapat jodoh dari pergaulan sesama dosen, hihihi.”


“Kalau memang benar itu niatmu, aku tawarkan bukan hanya sebagai dosen, tolong bantu kami semaksimal mungkin, nanti aku akan jelaskan di kantor deh secara lebih terperinci. Dengan Syarat Gajinya jangan mahal-mahal dong dong, hehehe.”


“Ahh kamu, ga pernah berubah seperti dulu, masih saja sambil bercanda. Kamu nilai sendiri saja nanti hasil kerja aku deh, tenang saja aku tidak akan meminta upah yang besar kok.” Jawab Amanda dengan lebih serius.


“OK deal. Sudah sampai nih, kamu kalau mau menunggu di ruang kerjaku silahkan, aku mau Sholat Dzuhur dulu deh.”


“Aku juga mau Sholat dong Nat.”


“Ohh kamu sudah insaf ?”


“Sialan, jangan samakan aku seperti saat kita kuliah bareng disana yaa.” Ucap Amanda dengan geram.


“Hahaha, Sorry, aku kira kamu masih suka clubbing seperti dulu.” Jawab Nata sambil turun dari mobilnya dan membukakan pintu penumpang belakang untuk Amanda.

__ADS_1


“Terima kasih, Nat... semenjak Papa ku meninggal setahun yang lalu, aku sudah berhenti total dari dunia gelap, aku juga bahkan sudah berhenti merokok. Tapi belum seperti kedua istrimu yang kini sudah menutup aurat dengan hijabnya, mungkin suatu saat nanti aku juga akan mengenakan hijab.” Jawab Amanda dengan raut wajah menjadi sendu.


“I’m so sorry, hampir bersamaan dengan meninggalnya kedua orang tuaku sekaligus. Yang sabar yaa Amanda.”


“Iya Nat, Thanks yaa.” Jawab Amanda. Mereka pun menaiki lift dari basement langsung menuju ke lantai empat. Nata lalu menanggalkan jas dan dasinya. Kemudian meraih sajadah dan mengenakan peci dari dalam ruangan kerjanya.


“Kamu bawa mukena ?”


“Bawa dong, ini aku bawa kemanapun aku pergi, didalam tas ini. Kita mau sholat dimana ?” Jawab Amanda.


“Kita Sholat di Masjid, aku dirikan Masjid tepat di lantai lima, lantai paling atas dari gedung kantor ini.” Jawab Nata. Lalu mereka mulai menaiki lift menuju ke lantai lima. Didalam lift Nata bertemu dengan beberapa anak buahnya yang juga akan menuju ke masjid. Nata membalas anggukan tanda rasa hormat seorang bawahan terhadap atasannya. Tidak seorang pun dari mereka berani menatap Nata. Sangat bertentangan dengan adat istiadat saat Amanda dan Nata sedang menuntut ilmu di USA sana. Amanda pun sangat maklum dengan hal itu, dia pun hanya tersenyum saja. Pintu lift lalu terbuka, Nata menunjuk tempat untuk mengambil wudhu untuk Amanda, dengan isyarat tersebut Amanda lalu melangkah menuju ke tempat berwudhunya Akhwat. Setelah selesai Sholat berjamaah, Amanda dan Nata lalu kembali ke ruang kerjanya Nata, disana Nata secara terperinci memaparkan semua rencana, termasuk membangun resort dan tempat wisata di Cipatujah Tasikmalaya, yang menjadikan rangkaian pembangunan dari kampus yang sedang dibangunnya saat ini.


“OK deh, aku pamit dulu yaa, pukul tiga sore ini aku ada janji denga client, good luck yaa Nat. Kalau ada perkembangan tolong kabari aku segera.”


“Iya Amanda. Nanti silahkan kamu ngobrol dengan Sabrina dan Jessy deh, kalau aku tidak sedang berada di Kota Bandung.”


“OK Nata, Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.” Jawab Nata, sambil memandang Amanda memasuki lift.


Sementara itu Jessy dan Sabrina sedang bebenah di ruko, mereka dibantu oleh beberapa orang anak buahnya Jessy.


“Iya-iya Winda bawel, hehehe.” Jawab Jessy lalu duduk di sofa, disamping Sabrina yang juga sangat dilarang oleh semua anak buahnya Jessy yang semuanya adalah wanita.


“Makanya harus nurut tuh, jadi saja kamu dimarahi sama anak buahmu. Hihihi.” Cicit Sabrina.


“Ahh kamu juga jangan ngeledek aku, bestie.” Ucap Jessy yang pura-pura marah terhadap Sabrina. Karena terlihat oleh Sabrina senyuman yang tersembunyi dibalik perkataan dari Jessy tersebut. Sabrina pun tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku dari Jessy tersebut.


“Kamu tidak berbakat untuk menjadi artis sinetron, Bestie. Hahaha.”


(Team ceriwis) Lima orang anak buah Jessy itu pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, saat melihat dan mendengar dua orang atasannya itu ngobrol. Mereka lalu meneruskan semua pekerjaan yang diperintahkan oleh Jessy dan Sabrina itu. Kelima orang yang merupakan anak buah dari Sabrina dan Jessy itu dipanggil ke ruko, sebagian orang atau tiga orang wanita yang mengurus dan membantu merawat  apartemen milik Sabrina dan Jessy dua orang lagi adalah karyawan kepercayaan dari Jessy yang mengurus toko komputer yang juga milik Jessy dan Sabrina.


“Wah nanti dua bulan lagi kita pindah kemari dong, enak banget nih tempatnya, nyaman.” Ucap Tita yang selalu setia mendampingi Winda di toko Komputer.


“Kalian yang jomblo juga boleh kok menginap disini.” Ucap Jessy.


“Serius bu Boss ? aku juga mau dong.” Ujar Lina yang sehari-hari mengurus apartemen.

__ADS_1


“Lin, kamu seperti ga puas yaa, nginep di apartemen bagus ? aku saja ga boleh kalau nginep di apartemen, pelitnya kamu.” Tanya Winda.


“Hihihi bilang saja sendiri kalau berani, kalau kamu mau nginep di apartemen.” Kilah Lina.


“Weiii yang kerja tangannya bukan bibirnya. Berisik amat sih.”  Tegur Jessy berlagak galak sama semua anak buahnya. Sabrina malah tambah ngakak mendengar suara teguran dari Jessy itu.


“Ehh bu Boss kita terlihat lagi happy banget yaa, malah ketawa ketiwi saat kita sedang repot begini.” Ucap Ani dengan wajah polosnya.


“Mereka memang lagi hamil, Andoong. Dasar dodol.” Ucap Tita dengan kesal sambil menoyor Ani.


“Idih KDRT nih.” Keluh Ani. Jessy dan Sabrina pun kembali tertawa terbahak bahak.


“Seru juga kalau mereka lagi ngumpul begini, ga perlu bayar pelawak, cukup mengundang mereka saja. hihihi.” Ucap Sabrina, sambil terus terpingkal-pingkal.


“Iya makanya Bu Boss sering-sering dong ngajak kami ngumpul, kan lumayan nanti kami bakal dapat saweran.” Ucap Winda.


“Ehh nanti jangan lupa carikan operator untuk mengoperasikan printer banner, kalau bisa cowoq dan masih single, siapa tahu nanti bakal berjodoh dengan kalian.” Ucap Jessy.


“Siap Bu Boss. Aku nanti akan cari mall tempat kita jualan Komputer.” Ucap Winda.


“Aku ga mau Bu Boss, pasti mereka itu bekas dipakai sama Winda. Hehehe.”  Ucap Wati yang baru mengeluarkan suaranya.


“Enak saja, rugi bandar dong, kalau pernah dipakai mah.” Jawab Winda dengan ketus.


“Pada gokil juga mereka yaa Jess.” Ucap Sabrina.


“Iya parah, lebih baik kita segera menyingkir dari sini, nanti bayi yang berada didalam kandungan kita malah terkontaminasi dengan kelakuan mereka. Hihihi.” Cicit Jessy.


“Hahaha, macam penyakit menular saja. Kalian lanjutkan yaa, aku dan Jessy mau Sholat Ashar dulu.” Ucap Sabrina lalu bersama Jessy naik dengan menggunakan lift menuju ke lantai tiga.


“Siaap Bu Boss.” Jawab mereka serempak.


“Enak banget kalau jadi Bu Boss yaa, sudah sholehah, cantik, tajir, baik hati juga.” Ucap Ani sambil memandang ke arah lift sampai Jessy dan Sabrina tidak terlihat lagi disana.


“Makanya sekolah yang benar, jangan mabal melulu.” Ucap Tita.


“Kan kamu yang dulu ngajak aku mabal rame-rame. Weew.” Jawab Ani dengan cepat.

__ADS_1


“Hehehe iya juga.” Jawab Tita sambil garuk-garuk kepalanya.


__ADS_2