
Erna seolah mengerti, dia pun menyingkir dari ruangan mushola itu, meninggalkan Nata yang masih menatap secara bergantian dengan penuh takjub kepada Jessy dan Sabrina yang terlihat sangat cantik dan anggun mengenakan busana muslimah pada saat itu.
“Pasti semua teman kalian juga akan sangat kagum dan pangling nanti jika bertemu dengan kalian berdua, kalau kalian berdandan begini.”
“Ihhh akang mah bisa aja.”
“Jadi akang setuju kalau kami berbusana seperti ini setiap hari ?”
“Setuju dong karena kalian juga terlihat semakin cantik. Juga terlindungi bagaikan permen yang masih dalam kemasan.”
“Kok permen sih ?” tanya Sabrina dan Jessy dengan heran.
“Iya coba bayangkan kalau kemasan permen itu dibuka lalu jatuh ke tanah berpasir, pasti tidak akan ada yang akan memungutnya hehehe.”
“Ohh iya juga, bisa aja nih akang kita mah. Hehehe.” Kekeh Sabrina.
“iya masuk akal juga.”
“Aku lapar, kita mau makan malam dimana ?” ucap Nata.
“Hmmm bagaimana kalau kita ke pondok kopi surabi Mang Engkus ?” Ajak Jessy.
“Boleh juga tuh, suasananya sudah baru, tapi kita makan di ruko saja yaa, OK ajak Erna agar bergabung dan memesan makanan ke Mang Engkus.” Nata lalu turun dari lantai tiga menuju ke ruang makan di lantai satu ruko itu. Jessy dan Sabrina pun turun dengan diikuti oleh Erna. Mereka pun lalu makan bersama di malam itu, dengan beberapa sajian menu baru dari Pondok Kopi Surabi Mang Engkus.
Keesokan harinya, Nata menerima kedatangan dari Team Project Manager yang menangani rehab interior gedung kantor pusat, mereka melaporkan bahwa semua pengadaan furniture dan rehab interior sudah selesai.
“Wah hebat, cepat sekali bekerjanya bapak-bapak ini.” Puji Nata saat menerima berkas laporan kemajuan pekerjaan dari mereka.
“Iya itu juga atas perintah dari pemilik perusahaan kami agar menambah personel yang bekerja dalam menangani rehab interior dan pengadaan furniturenya, kami kerjakan juga dalam tiga shift, jadi kami bekerja 24 jam dalam sehari.”
“Ohhh ternyata ada instruksi langsung dari Pak Andi, saya secara pribadi mengucapkan banyak terima kasih atas semua bantuan dari team bapak dan sampaikan salam saya kepada beliau, kapan jadwal serah terima pekerjaanya ?”
“Siap akan kami sampaikan pak, jika Pak Nata berkenan sekarang juga kami siap, ini data-data hasil pekerjaan kami.” Jawab Arwan sebagai Project Manager Leader. Kemudian Erna datang dengan membawa nampan dan tiga buah cangkir kopi sebagai minuman yang disuguhkan untuk tamunya Nata tersebut.
“Baiklah akan saya baca, silahkan diminum dulu kopinya.”
“Terima kasih.” Jawab Arwan mewakili rekannya.
Kemudian Nata membaca semua laporan itu, laporan yang disertai dengan foto semua kegiatan, lengkap dengan grafik kemajuan pekerjaan, Nata lalu pamit untuk menemui Jessy dan Sabrina yang sedang berada di ruangan kerja mereka masing-masing. Lima menit kemudian Nata dengan didampingi oleh Sabrina dan Jessy menemui kembali tamunya itu.
“Kami sudah membaca semua laporan kemajuan perkerjaan ini, dan ini sisa fee pembayaran kami, mohon diterima.” Ucap Nata lalu menyerahkan amplop berisi cek untuk melunasi semua biaya rehab interior dan pengadaan furniture.
“Salam juga untuk teh Putri dari Kami.” Ucap Sabrina yang kini mengenakan busana muslimah itu, seperti juga dengan Jessy.
“Baik nanti kami sampaikan, lalu mengenai pemasangan lift di ruko ini bagaimana ?”
“Silahkan, kapan saja bapak-bapak bisa memulai pekerjaan itu.”
“Baiklah, kami mohon pamit, besok akan kembali kemari dengan membawa semua peralatan
untuk memasang lift di ruko ini.”
“Terima kasih. Hati hati dijalan.”
“Sama-sama, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Nata beserta Jessy dan Sabrina lalu mengantar tamunya itu sampai mereka naik ke kendaraannya.
__ADS_1
“Hebat mereka bekerja dengan sangat cepat yaa kang.” Puji Jessy.
“Benar, mungkin karena ada kaitannya juga dengan jadwal lounching dan syukuran pernikahan kita yang ditangani oleh Teh Putri.” Ucap Sabrina menganalisa tentang pekerjaan yang sudah selesai dilakukan oleh Kontraktor yang sudah mereka tunjuk itu.
“Berarti tidak salah kita menunjuk mereka sebagai Kontraktor. Lalu kapan jadwal kita bertemu penghulu ?”
“Aku tanyakan sekarang yaa ke teh Putri.”
“Sab, nelponnya di ruangan aku saja, yuk.” Ajak Nata, lalu meraih cangkir kopi yang masih banyak isinya, karena tadi dia baru sempat minum sedikit kopi yang dibuatkan oleh Erna untuk dia dan semua tamunya.
“OK.” Jawab Sabrina.
Sabrina lalu menelepon Putri. Saat Sabrina menelepon, Jessy menghampiri Erna dan memerintahkan Erna untuk membeli adodan Surabi dari kedua orang tuanya Erna itu.
“Untuk apa kak ?”
“Nanti kamu saksikan, aku akan membuat sesuatu yang lebih modern dari Surabi itu. Kamu catat, lalu nanti kamu sarankan menu baru nanti untuk dijual di Pondok Kopi Surabi bapakmu itu.”
“Ohhh siap Kak.” Lalu Erna pergi sesuai petunjuk dari Jessy. Tidak berapa lama Erna kembali menemui Jessy yang kini sudah berada di dapur, dengan membawa satu panci ukuran sedang berisi adodan kue surabi.
“Kak ini uangnya dikembalikan sama Bapak, katanya ini mah untuk Kak Jessy saja.”
“Ohh nanti sampaikan terima kasih untuk Bapak dan Emak mu.”
“Santai saja kak.”
“Nah sekarang kamu harus mulai mencatat, ikuti semua langkahku dalam memodifikasi kue surabi ini.”
“Siap Kak.” Jawab Erna lalu mulai menulis untuk mencatat semua tahapan memasak Surabi ‘ala Jessy itu.
“Ohhh ternyata kalian ada disini, lagi masak apa ?”
“Ohhh begitu, Jess nanti jangan semua dimasak adodannya yaa, aku juga punya ide untuk resep baru Surabi.”
“Haha, kamu tertarik juga dengan Surabi ?”
“Hehehe Iya dong, murah meriah tapi ngeunah pisan.” Jawab Sabrina sambil terkekeh meniru ucapan yang sering diucapkan oleh Nata.
“Hihi, lucu ngomongnya Sis.” Komentar Erna saat mendengar suara Sabrina yang berusaha berbicara bahasa Sunda dengan dialek English-nya itu.
Tiga puluh menit kemudian masakan dari Jessy dan Sabrina kelar. Erna lalu disuruh oleh Sabrina untuk memanggil Nata, agar bisa menikmati hidangan hasil modifikasi mereka itu. Nata lalu bergabung duduk di meja makan dan melihat semua yang disajikan pada siang hari itu di meja makan.
“Wah harum dan nikmat kelihatannya nih. Apa nama makanannya ?”
“SURABI KATSU dan SURABI BURGER, dari Jessy dan Sabrina, hehe.” Jawab Jessy.
“Wow perpaduan makanan tradisional dengan jajanan internasional nih.”
“Iya kang, menu ini aku berikan gratis untuk Mang Engkus, agar Surabi lebih bisa dinikmati di manca negara dan juga disukai oleh kawula muda yang doyan makan enak tapi murah.” Tambah Sabrina.
“Erna sudah mencatat semua resep dari kami, untuk dijadikan menu tambahan di Pondok Surabi Kopi Mang Engkus.” Ucap Jessy dengan tersenyum puas.
“Bagus, sangat kreatif ide kalian berdua, sekarang aku mau mencicipi semuanya.” Puji Nata.
“Iya sekalian kita makan siang, karena makanan ini sudah lengkap dengan karbohidrat, sayuran serta protein. Kami masak banyak kok. Tenang saja tidak akan kehabisan, nanti Erna bawa juga yaa untuk Bapak dan Emakmu.”
“Siap Kak.”
Nata lalu memimpin berdo’a makan siang, kemudian mereka menikmati hidangan menu baru ‘ala Sabrina dan Jessy itu dengan lahapnya. Tidak henti-hentinya mereka mengunyah sampai perut mereka kenyang.
__ADS_1
”Alhamdulillah nikmat banget surabi hasil modifikasi kalian berdua. Wah hari ini akan jadwal masak bergantian untuk kalian bertiga dong. Kamu bisa masak juga kan Erna ?” Tanya Nata.
“Bisa, tapi tidak sepandai Emak di dapur. Hehehe.” Jawab Erna.
“Nah sekarang bawa menu baru ini, tunjukkan kepada Emak dan Bapakmu.” Ucap Jessy sambil menyerahkan satu nampan berisi surabi katsu dan surabi burger itu kepada Erna.
“Siap Kak, panci kosongnya saya bawa kembali yaa, nanti Emak nyari-nyari pancinya. Hihi.”
“Iya, sampaikan terima kasih dari kami yaa.” Jawab Jessy.
Erna pun kembali menuju ke tempat berjualan Mang Engkus yang kini juga sebagai tempat tinggalnya di sebelah Ruko itu.
“Erna itu punya saudara ga ?” Tanya Nata.
“Semalam sih waktu kami ngobrol sebelum tidur, dia bercerita tentang keluarganya, kakaknya perempuan yang Sulung sudah menikah, yang satu lagi laki-laki sedang kuliah.” Jawab Sabrina.
“Jurusan apa kuliahnya ?” tanya Nata lagi.
“Teknik mesin katanya, tapi aku lupa tidak menanyakan dimana kuliahnya.” Jawab Sabrina
lagi.
“Nanti kalian selidiki secara diam-diam, aku punya rencana lain untuk anaknya Mang Engkus yang sedang kuliah itu. Terus nanti juga kalau bisa Erna melanjutkan sekolah lagi.”
“Siap kang Boss.” Jawab Jessy dan Sabrina dengan kompak.
“Lalu tadi bagaimana hasil pembicaran dengan Teh Putri tentang jadwal pertemuan kita dengan Penghulu ?”
“Dua atau tiga hari lagi semua surat-surat untuk pengajukan menikah kita selesai dari KUA katanya kang.” Jawab Sabrina.
“Hmmm berarti tiga hari kedepan kita bisa melaksanakan akad nikahnya dulu dong ?”
“Akang sudah ngebet banget kepengen menikah ?”
“Iya dong, jangan sampai kalian berdua keburu disambar sama orang lain, hehehe.”
“Idih, protektif banget. Hahaha.” Jawab Jessy.
“Iya nihh Jess, akang kita ini ternyata takut yaa kalau kami disambar orang lain ?”
“Karena kalian berdua semakin cantik dan semakin menarik, aku ga mau dong nanti kalian disambar orang lain.”
“Hehehe, jangan takut kang, aku sudah punya komitment dengan akang, aku harus konsekuen atas komitmen tersebut.” Ucap Jessy dengan wajah serius dan bersungguh sungguh.
“Benar kang seperti ucapan Jessy barusan, sekali kami sudah berkomitmen hati kami tidak akan berubah untuk akang.”
“Boleh saja kalian berkata seperti itu, tapi aku akan lebih tenang jika kalian berdua sudah dalam ikatan pernikahan dengan ku nanti.” Jessy dan Sabrina lalu memeluk Nata dengan erat, lalu mengecup pipinya Nata.
“Kang, dengan bersedia tinggal dengan akang dari bulan kemarin, apakah akang masih sangsi terhadap kesungguhan hati kami ?” tanya Jessy.
“Iya mengapa akang masih ragu terhadap kami kang ?” tanya Sabrina juga, kemudian mereka tak henti-hentinya berulang-ulang mengecup pipinya Nata dengan gemas.
“Alhamdulillah sekarang, aku berhasil mendapatkan ciuman dari kalian berdua, tanpa aku bersusah payah mengejar kalian, hehehe.”
“Idih Jess, kita dikerjain oleh akang kita ini mah.”
“Iya dasar akang mah, benar juga modus nih, ternyata lelaki itu banyak banget akalnya, hahaha.”
“Yang penting nikmat, dicium oleh dua bidadari ku.”
__ADS_1