Tangguh

Tangguh
Bab 22 Kerja cepat hasil akurat.


__ADS_3

Meeting hari itu terasa lebih lancar dan cepat, karena hanya tinggal menentukan kapan hari dimana tempat serah terima Bank itu akan berlangsung. Setelah selesai meeting dengan pemilik bank yang lama yaitu Pak Rahmat. Nata memohon kesediaan dari Pak H. Mumuh agar melanjutkan pembicaraan diluar topik serah terima Bank tersebut. Nata yang sudah sepakat dengan Jessy dan Sabrina lalu menentukan tanggal dan tempat Lounching serah terima, sekaligus sebagai acara syukuran pernikahan mereka nanti.  Mereka lalu mengemukakan hal itu sekaligus memohon kesediaan kepada Pak H. Mumuh utk menjadi wali hakim atas Sabrina dan Jessy.


“Baiklah saya bersedia, sungguh merupakan suatu kehormatan bisa menjadi wali orang tua kalian, akan saya luangkan waktu yang sangat penting itu untuk kalian berdua Jessy dan Sabrina.”


“Alhamdulillah terima kasih Pak Haji.” Balas Sabrina dan Jessy bersamaan.


“Nanti jadwal dan waktu pelaksanaan akan kami serahkan kepada Pak Haji, dari Wedding Organizer yang telah kami tunjuk.” Tambah Sabrina.


“Baiklah kalau begitu, berhubung sudah sore saya mohon pamit.” Ucap Pak H. Mumuh itu.


“Sekali lagi kami ucapkan terima kasih atas semua bantuan dari Pak Haji.”


“Sama-sama Pak Nata, Bapak doakan juga semua rencana dan pekerjaan kita nanti kedepan berjalan lancar.”


“Aamiin yaa mujiba salim.” Jawab Nata sambil mengantar Pak H. Mumuh di basement menuju kendaraan yang terparkir di dalam basement itu. Sang Notaris senior itu pun meninggalkan Ruko tersebut dengan diiringi tatapan tiga pasang mata.


Yang lebih melegakan lagi pada hari itu adalah sebuah keputusan dari Pak Rahmat. Pak Rahmat memutuskan dan mempersilahkan kepada Nata untuk memperkenalkan diri sebagai Owner baru dari Bank yang kini sudah menjadi miliknya walau belum 100% pembayaran dilaksanakan. Pak Rahmat juga sudah mengumumkan kepada seluruh karyawan/ karyawati di bank tersebut untuk kembali bekerja sesuai dengan keinginan dari Nata untuk mempekerjakan kembali para pegawai bank yang dulu Pak Rahmat Pimpin. Satu persatu pengendalian management Bank sudah diserahkan kepada Nata.


“Sabrina dan Jessy, dikarenakan Kantor Pusat Bank tersebut ada di Jakarta, kemungkinan nanti kita akan pindah ke Jakarta, atau Kantor Pusat akan kita alihkan ke Kota Bandung saja. Bagaimana menurut pendapat kalian berdua ?” tanya Nata dengan nada suara bariton yang sangat serius itu.


“Jika bisa dipindahkan ke Kota Bandung itu lebih baik kang.”


“Iya benar kang, kita bisa urus pemindahan kantor pusat, sekalian lounching nanti.”


“Tapi kita belum punya gedung yang sesuai bagi kantor pusat kita di Kota Bandung ini.”


“Dari beberapa data tanah dan aset yang dijual hasil pengamatan saya di lapangan, ada sebuah gedung di Kota Bandung yang cocok untuk bisa dijadikan kantor pusat, gedungnya masih baru, letaknya strategis, akses jalan sangat mudah, dekat juga dari Ruko ini.” Ucap Jessy dengan berapi-api.


“Hmmm boleh juga tuh, aku lupa Jess yang mana datanya ?”


“Ini kang, sudah kita simpan di Holder map di atas rak ini.” Jawab Jessy lalu menyerahkan data yang tersimpan rapi di Map Holder ruang kerja Nata itu. Nata lalu membaca dan memeriksanya dengan disaksikan oleh Sabrina dan Jessy.


”OK deh, segera kalian eksekusi, jadwalkan pertemuan untuk transaksinya, yakin aman kan bukan tanah bangunan yang bermasalah ?.”

__ADS_1


“Aman  Kang. Owner menjual aset tanah bangunan itu karena sangat membutuhkan dana, karena terkena imbas dari Pandemi selama dua tahun belakangan ini.”


“OK segera hubungi dulu. Aku percayakan semua transaksinya kepada kalian berdua.”


“Siap, kang Boss.”


Kemudian Jessy dan Sabrina mengatur tugas. Sabrina yang menelepon pemilik gedung itu untuk langkah awal. Jessy dan Sabrina lalu berpamitan kepada Nata. Setelah itu mereka berdua dengan mengendarai Porshe Merah milik Jessy meluncur ke sebuah tempat dimana Owner pemilik gedung itu kini berada. Tidak sulit untuk Jessy dan Sabrina melakukan negosiasi awal dengan pemilik gedung tersebut. Berkat sikap dan pengalaman Sabrina yang sangat handal itu sang pemilik Gedung itupun mau melepaskan gedung yang dimilikinya dengan nilai yang sudah disepakati sejak awal. Sang pemilik gedung itupun mau untuk dipertemukan di kantor Notaris tiga hari kedepan sebagai tempat untuk serah terima serta transaksi atas jual beli gedung tersebut.


Pada pukul 19.30 Jessy dan Sabrina kembali ke ruko miliknya itu, untuk melaporkan kegiatan mereka tadi sore hingga malam itu kepada Nata. Saat Jessy dan Sabrina kembali, kini pintu basement sudah berubah, karena sudah bisa dikendalikan dari jarak jauh oleh Nata. Yang memantau dari layar CCTV di dalam ruangan kantornya.


“Kami mau lapor kang.” Ucap Jessy saat sudah berada di ruang kerja Nata.


“Nanti dulu, tunda dulu laporan kalian, kalian sudah sholat Isya ?”


“Sudah tadi numpang dengan pemilik gedung yang akan kita beli.” Jawab Sabrina.


“Pasti belum makan yaa ?”


“Yaa sudah, kita makan dulu tadi aku sudah pesan makanan untuk makan malam kita.” Ajak Nata lalu mendahului Sabrina dan Jessy menuju ruang makan. Kemudian Nata membuka dua buah tudung saji yang berada di meja makan itu.


”Wow ada ikan gurame.” Pekik Jessy dan Sabrina bersamaan.


“Iya kali ini Sundanese meals. Ada goreng ikan gurame, sup ikan Patin dan sayur kangkung, karedok kacang panjang,  semur jengkol dan aneka lalapan.”


“Wah bikin ngantuk semua nih, hehehe.” Ucap Jessy.


“Iya pasti ngantuk kalau sudah kenyang makan, hehe.” Kekeh Nata. Lalu Nata memimpin doa makan untuk santap makan malam saat itu. Acara goyang lidah pun terjadi tanpa ada suara, mereka sangat menikmati hidangan yang dipesan oleh Nata tersebut. Setelah selesai makan malam, masih di meja makan itu, Nata pun mulai bertanya kepada Jessy dan Sabrina.


“Bagaiman tadi, sukses negosiasinya ?”


“Alhamdulillah kang, sukses, pemilik gedung bersedia melepaskan asetnya, lalu mau datang untuk menandatangani berita acara jual beli aset tersebut di kantor Notaris Pak H. Mumuh.” Jawab Jessy.


“Alhamdulillah Pasti Pak H. Mumuh merasa senang tuh, karena mendapatkan lagi order pekerjaan untuk kantornya.”

__ADS_1


“Iya kang, pasti beliau sangat senang.”


“Baiklah untuk tahun pertama, kita selesaikan semua pekerjaan kita. Tinggal satu lagi aset yang akan kita beli untuk tahun pertama ini. Nanti kita lanjutkan membeli aset yang lain jika semua usaha kita sudah berjalan selama setahun. Ingat ini baru langkah awal atau langkah pertama. Program Rencana Kerja kita masih sangat panjang.”


“Iya kang, jangan sampai kita kewalahan karena tidak bisa mengatur jadwal pekerjaan. Kami juga belum bisa menebak kemana sebenarnya arah atau tujuan pekerjaan akang nanti.” Tutur Sabrina dengan menatap tajam kepada Nata.


“Sabar, lambat laun nanti kalian akan bisa membacanya juga. Aku sekali lagi bertanya kepada kalian, kalian yakin akan terus bersamaku untuk mewujudkan semua rencana dan tujuanku nanti ?”


“Iya tentu dong kang.”


“Kami meskipun masih bingung tapi tetap fokus sesuai dengan arahan dari setiap tugas yang akang berikan  kepada kami.”


“Syukurlah kalau begitu, aku tidak meragukan lagi semua potensi yang kalian miliki berdua. Toh nanti juga hasilnya akan kita nikmati bersama, bukan hanya untukku sendiri. Untuk kalian juga dan untuk anak cucu kita kelak dikemudian hari. Sekarang waktunya kita mandi. Besok jadwal pekerjaan kita tidak begitu padat, kita bisa bersantai malam ini, temani aku di ruang home theater.”


“Hore, terima kasih kang.” pekik Jessy dan Sabrina. Lalu mereka bertiga segera membereskan semua peralatan makan, setelah semua selesai dicuci mereka bertiga lalu menuju ke kamarnya masing-masing untuk mandi. Nata dengan cepat bergegas mandi lebih dulu dan hanya mengenakan celana pendek serta kaos oblong setelah selesai mandi. Lalu Nata menuju ke ruang home theater. Dia memilih beberapa judul film berbayar dari platform online theater. Beberapa film sudah berhasil dibelinya secara online agar bisa ditonton kapanpun mereka inginkan. Yang dipilihnya adalah beberapa film yang belum ada di bioskop juga beberapa film yang sudah pernah mencapai box office.


Wangi parfum yang berbeda dari dua gadis cantik yang berbeda karakter itu kini mulai tercium oleh Nata. Nata lalu menolehkan pandangannya untuk memandang kepada dua gadis cantik calon istrinya itu yang sedang berjalan menghampirinya.


“Wow  kalian cantik sekali malam ini.”


“Ohhh jadi malam-malam sebelumnya kami tidak cantik yaa ?” tanya Jessy sambil tersenyum.


“Ehhh bukan begitu maksudnya. Kalian berdua memang sudah cantik dari lahir. Penampilan kalian sungguh sangat berbeda. Hehehe.”


“Cie ada yang merayu kita Jess.”


“Memang kenyaataanya begitu kan ?  Ehhh temani aku nonton film dong. Aku sudah mendownload beberapa judul film yang box officce maupun yang belum ada di bioskop. Nih lihat, judul-judulnya. Kalian mau pilih yang mana.”


“Akang saja yang pilih kami ikut nonton saja deh.” Jawab Jessy


“Iya giliran akang yang pilih, kami turut saja.” Ucap Sabrina lalu duduk disamping kanannya Nata diatas sofa empuk itu. Sedangkan Jessy menarik sandaran kaki sofa terlebih dahulu agar mereka bertiga lebih nyaman lagi nontonnya sambil setengah rebahan di atas sofa empuk itu. Lalu Jessy duduk di samping kirinya Nata. Back sound awal film pertama pun mulai terdengar, menggemuruh. Suara suround sound system itu mulai terasa, namun tidak memekakkan telinga, bahkah membuat suasana lebih relax. Sabrina lalu bangkit, untuk meraih beberapa botol minuman ringan dari lemari cool show case yang berada di ruang home theater itu, bahkan Sabrina juga membawa beberapa snack yang berada di etalase dekat show case itu.


“Nah kalau begini kita seperti di bioskop VIP hehehe.” Ucap Sabrina seraya membagikan snack dan minuman ringan itu untuk Jessy dan Nata.

__ADS_1


__ADS_2