
Di sebuah restoran yang biasanya penuh dengan pengunjung kini terlihat Nata, Sabrina dan Jessy. Mereka meminta private room untuk tempat makan itu kepada pelayan restoran, agar mereka bisa lebih leluasa berdiskusi tanpa terganggu oleh pengunjung restoran lainnya. Mereka baru saja selesai makan mala, Nata pun mulai membuka laptopnya. Memaparkan rencana-rencana mereka selanjutnya. Sabrina dan Jessy nampak memperhatikan apa yang dipaparkan oleh Nata itu dengan serius dan penuh perhatian.
“Kalau kalian sudah mengerti dan paham, rencana selanjutnya adalah membeli beberapa tempat bisa berupa tanah yang luas dan berada di lokasi yang strategis, bisa berupa bangunan yang terbengkalai karena pemiliknya terlilit hutang. Intinya adalah mencari tempat strategis dengan harga semurah mungkin untuk kita benahi lalu kita juga lagi setelah direhab dan dilengkapi dengan fasilitas tambahan sesuai dengan perkembangan jaman, namun ingat jangan ada kaitan dengan lahan milik pemerintah.”
“Kalau melalui perantara bagaimana kang ?” tanya Sabrina.
“Sebaiknya jangan, nanti bikin ribet untuk urusan kedepannya.”
“Kalau mencari lahan strategis artinya kita juga harus mempunyai link dengan dinas tata kota dong.” Saran Jessy.
“Tepat Jess, bisa dibuka di web site untuk langkah awal pengembangan kota. Nanti juga kita akan berkenalan dengan pejabat yang mengetahui rencana jangka panjang pengembangan kota.”
“Rencana kita ini berlaku hanya untuk di Kota Bandung saja kang ?”
“Untuk langkah awal di Kota Bandung dulu, baru nanti kita kembangkan di kota besar lainnya. Ada satu lagi rencana yang belum akang ungkap.”
“Apa itu kang ?” tanya Jessy dan Sabrina dengan wajah penuh dengan penasaran.
“Cari Bank yang sudah mulai bangkrut, kita beli lalu kita jadikan Bank Syariah, aku berencana akan membantu usaha kecil menengah (UKM) kebawah dengan Bank Syariah kita nanti.”
“OK kami catat semuanya kang.” ucap Jessy dengan serius.
“Mengapa akang sangat peduli dengan masyarakat menengah kebawah ?” tanya Sabrina.
“Karena masyarakat menengah kebawah lebih banyak jumlahnya, selain itu mereka itu adalah urat nadi soko guru atau poros pusat perekonomian di manapun di seluruh dunia, bukan hanya masyarakat di Indonesia saja.”
“Hhhmm benar juga yaa. Jess. I hope Indonesian people is gone be rich.”
“Yups thats true Sab, i’m 100% agree.” Jawab Jessy dengan diikuti senyuman Nata yang penuh dengan percaya diri.”
“Jika semua pengusaha muda bersikap seperti akang kita ini, niscaya tuntas semua kesenjangan sosial ekonomi tidak akan terlihat lagi di Indonesia.” Puji Sabrina.
“Hahaha kamu bisa aja Sab. aku hanya berupaya dan aku juga tidak pernah memikirkan hasil, hasilnya sepenuhnya aku serahkan kepada yang Maha kaya dan Maha bijaksana.”
“Aku mau tanya kang, apakah akang tidak akan takut diperiksa kekayaan akang oleh pemerintah ?” Tanya Jessy dengan tatapan tajamnya, sorot mata Nana menunjukkan sikap yang penuh dengan percaya diri, saat melihat sinar mata dari Nata itupun sudah cukup sebagai sebuah jawaban untuk Sabrina, dia yang sudah sangat berpengalaman dibidang penelusuran bakat dan sumber daya manusia itu sangat yakin Nata sudah punya jawaban yang tepat. Kedua Gadis cantik yang satu sebagai pengusaha yang satu lagi sebagai HRD itupun lalu mendengarkan penuturan Nata.
“Mengapa mesti takut ? Aku beberkan saja semua usaha aku sewaktu di luar negeri. Sampai sekarang catatan pembukuan dan catatan kekuangannya masih lengkap ada, semua bukti lengkap, namun aku memang menyimpannya di sebuah bank yang sangat dipercaya oleh semua pengusaha, bank itu berada di Swiss. Justru aku membawa dana yang cukup besar dari luar negeri itu bertujuan untuk membantu semua masyarakat, terutama UKM, selain bidang usaha yang nanti akan kita geluti bersama.”
“Apakah kalian masih ragu ? apakah kalian perlu melihat lagi jumlah dana yang ada rekening milikkku ?” Nata lalu bertanya balik kepada dua gadis cantik itu.
__ADS_1
“Cukup kang, kami percaya.” Jawab Jessy.
“Aku juga sangat percaya, makanya aku berani mengundurkan diri sebagai HRD di salah satu perusahaan swasta yang cukup terpandang disini.” Sabrina juga mengucapkan rasa percaya atas semua penjelasan dari Nata itu. Kini tiga tangan kanan mereka saling menggenggam diatas meja makan itu. Tangan Jessy dan Sabrina menggengam dengan sangat erat telapak tangan Nata yang terbuka itu.
“Sudah cukup malam, kita pulang yuk.”
“Ayo.” jawab Sabrina dan Jessy. Nata pun memanggil seorang waiters yang sejak tadi berdiri dekat dengan pintu ruang makan VIP itu.
“Mbak tolong bill nya.”
“Baik Pak, mohon ditunggu sebentar.” Tidak berapa lama Waiters itu pu kembali dengan menyodorkan biaya tagihan makan malam mereka. Lalu Nata memberikan sejumlah uang dengan melebihkan nilainya sebagai tips kepada waiters itu. Setelah itu lalu Nata dengan didampingi oleh Sabrina dan Jessy meninggalkan ruangan VIP itu. Meninggalkan senyuman lebar sang waiters yang sangat senang diberi tips yang menurutnya cukup besar itu. Nata seperti biasa mengemudikan mobil mewah milik Sabrina itu. Mobil itu dengan perlahan kembali menuju ke Ruko tempat tinggal mereka saat ini. Disebuah persimpangan jalan tiba-tiba Nata berhenti.
“Kenapa berhenti kang ?”
“Kita datangi dia yuk yang sedang berjualan kue surabi.” Ajak Nata.
“Iya boleh.” Jawab Sabrina dan Jessy, Namun Sabrina dan Jessy masih sangat heran, didalam hatinya mereka sama-sama bertanya. ‘Nata mau ngapain lagi nih?’
Lalu didengarlah sebuah pembicaraan dalam bahasa Sunda, yang hanya sedikit dimengerti oleh Sabrina maupun Jessy. Tidak lama kemudian lalu Nata mengajak Jessy dan Sabrina memasuki mobil kembali lalu meneruskan perjalanan pulang.
“Barusan ngomong apa sih kang ? kami tidak mengerti.” Tanya Jessy
“Nanti aku jelaskan di rumah kita.”
Saat sudah sampai di Ruko Nata langsung turun dan membuka rolling door serta pintu bagian dalam basement itu.
“Biar aku saja yang parkirkan ke dalam basement kang.” ucap Jessy yang sudah pindah duduk di depan kemudi Sedan Mercedes itu.
“OK aku akan menguncinya kembali dari luar rolling door ini.” Jawab Nata.
“Ugggghhh tidak terasa waktu cepat sekali berjalan. Sudah jam sepuluh malam lagi nih.” Ucap Sabrina sambil menghempaskan diri duduk di sofa baru yang empuk itu di kamar tidur mereka.
“Sebelum tidur kita sholat isya dulu yuk.” Ajak Nata.
“Boleh duduk dulu sebentar kang ?” tanya Jessy.
“Hmm boleh, asal jangan ketiduran.”
“Iya ceritakan dulu tadi apa yang dibicarakan dengan tukang surabi itu, penasaran nih.”
__ADS_1
“Begini, Sabrina dan Jessy calon istriku yang sangat cantik jelita.”
“Wow i’m gone be shy if you talk thats. Hehehe.” Kekeh Sabrina dengan muka merah merona saat dipuji oleh Nata, demikian juga Jessy yang tidak bisa berkata apa-apa mendengar pujian itu.
“Tadi aku bertanya apakah dia menyewa di tempat itu ? dia bilang iya karena memang dia tidak memiliki tempat, jadi dia menyewa. Sekarang kalian cicipi deh kue surabi yang tadi dibuatnya, mumpung masih hangat.”
“ok ...hmmmm enak banget rasanya.”
“Iya kang, pasti harganya mahal dong ?”
“Harganya tidak seberapa, sangat murah. Kurang dari lima ribu rupiah per biji, sangat tidak sebanding dengan usaha dan sewa tempatnya, lalu aku tawarkan untuk berjualan didepan ruko kita yang luas ini, dengan tanpa menyewa, namun dia harus menjaga kebersihan. Dia pun menyanggupinya, lalu memberikan kue surabi ini. Dibayarpun dia tidak mau, saat aku sodorkan uang kepadanya, dia menolak dengan keras. Akhirnya aku cepat-cepat pulang, karena aku tidak mau nanti semua kue surabinya diberikan kepada kita. Hehehe.”
“Ohhh begitu. Lalu mengapa akang menawarkan dia untuk berdagang di depan ruko ini ?” tanya Sabrina dengan masih sangat penasaran.
“Kita tinggal bertiga disini, anggap saja dia itu penjaga halaman ruko kita saat malam tiba, karena dia berjualan hanya dari jam 5 sore sampai subuh.”
“Wow sepuluh jam kita dijaga gratis dong, tidak perlu bayar security ?” tanya Sabrina yang kini sudah mulai mengerti maksud dari Nata itu.
“Iya sekalian membantu dia, tempat ini kan sangat ramai, aku yakin makanan yang dia jual pasti akan laku keras dan dia tidak perlu menyewa lagi lahan berjualan. Nanti kalau ada pihak Satpol PP yang bertanya aku akan bilang kepada para petugas itu bahwa itu usaha sampingan kita, kan kita juga tidak menggunakan lahan milik umum untuk penjual kue Serabi itu.”
Prok
Prok
Prok.
Terdengar tepuk tangan dari Jessy dan Sabrina, mereka tepuk tangan sambil bangkit berdiri.
“Kami salut kang.” Puji Sabrina dan Jessy bersamaan.
“Jadi kalian setuju dengan tindakanku itu ?”
“Iya pasti sangat setuju dong kang boss ku.” Jawab Jessy.
“Tepatnya sangat setuju sekali.” Tambah Sabrina sambil memeluk Nata dan mencium pipinya.
“Ihhh aku belum cium dia.” Rengek Jessy lalu memeluk dan mencium sisi kiri pipinya Nata itu, dengan bertubi tubi.
“Ampuun ampun, ayo kita ambil air wudhu.”
__ADS_1
“Siaap Kang Boss !!.” Jawab mereka serentak, lalu melepaskan pelukannya terhadap Nata.