
Waktu menunjukkan pukul delapan malam saat mereka selesai makan malam bersama. Nata dan Jessy lalu menuju ke teras depan, lalu mereka duduk di kursi teras itu.
“Cuacanya cerah malam ini kang, kita jalan-jalan dulu yuk sebentar.”
“Mau jalan kemana Jess ?”
“Jalan kaki saja di sekitar rumah ini, melihat bintang bintang di langit. Tidak usah pakai kendaraan.”
“Hmmm kamu betah ya disini ?”
“Iya, tapi tidak mungkin juga meninggalkan pekerjaan yang begitu banyak di kantor.”
“Baiklah, ayo kita ke kebun bunga disamping rumah.” Ajak Nata, dengan senangnya Jessy lalu menggelayut disamping tubuh suaminya. Merekapun berjalan di sekitar kebun bunga, menyusuri setiap pematang kebun bunga itu.
“Wow banyak kunang-kunang ternyata disini kang.” Pekik Jessy dengan riangnya, kedua bola mata yang indah itu seakan turut berbicara mengungkapkan rasa senangnya, kedua bola mata yang indah itu seakan menghipnotis Nata yang terus memandangi wajah Jessy.
“Kenapa malah memandangku seperti itu kang ?”
“Kamu sungguh sangat cantik Jess.” Jawab Nata seraya memeluknya, Jessy pun membalas pelukan suaminya yang sangat dicintai itu.
“Eehhmm malu nanti dilihat sama bibi dan mamang kamu.” Ucap Jessy yang melonggarkan pelukannya, tersadar dirinya ada di tempat terbuka.
“Jangan khawatir, mereka sudah masuk kamarnya masing-masing dan kamu juga tidak perlu malu karena kamu adalah istriku. Tadi Sabrina bilang mau menelepon lagi.”
“Ponselku masih ada di kamar, mungkin dia menelepon ku juga kang, aku juga kangen sama bestie ku.” Ucap Jessy sambil menyandarkan kepalanya di bahu Nata, Nata lalu membelai kepala yang tertutup hijab itu. Kemudian mereka dikejutkan oleh bunyi dering telepon. Nata segera mengeluarkan ponsel yang dikantongi di celananya itu.
“Sabrina, dia Video Call lagi nih, baru saja diomongin.” Ucap Nata sambil memandang Jessy seakan bertanya kepadanya.
“Jawab saja kang.” Jawab Jessy dengan cepat.
“Assalamualaikum kang, kok gelap lagi dimana kang ?”
“Waalaikumsalam sedang di kebun bunga, bareng Jessy nih.” Jawab Nata lalu menyalakan lampu ponselnya, lalu mengarahkan kamera ponsel ke segala arah kemudian memberikan ponsel itu kepada Jessy.
“Duh asiknya yaa bestie, malam-malam bersama akang kita di kebun.”
“Hehehe, iya Sab, coba kalau kamu bisa ikut juga pasti seru deh, enak disini udaranya sejuk, jauh dari kemacetan dan polusi udara.”
“Dua bulan lagi deh aku baru bisa kesana, aku tidur sendirian nih di kamar, kalau Erna tidur di kamar sebelah. Jess coba kamu cium akang, bilang saja itu ciuman dari ku, hehehe.”
“Hahaha kasian deh, yang lagi tidur sendirian, nih aku cium akang kita. Mmmmuuuacchh.” Ucap Jessy sambil mencium pipinya Nata.
“Kok ciumnya di Pipi sih ? Malu sama aku yaa Jess ?”
“Bukan malu sama kamu Sab. tapi malu dan takut ada yang ngintip di kebun sini, hihihi.”
“OK deh, aku mulai ngantuk, nanti kalau pulang jangan lupa bawa baby yaa, hihihi.”
“Hahaha, ok deh bestie selamat tidur.”
“Bye akang, I Love you.”
“Love you too.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Jawab Nata dan Jessy, pembicaraan via video call itu pun ditutup.
“Masuk kamar yuk kang, sudah mulai terasa dingin nih udara malam disini.” Ucap Jessy sambil menggigil, Nata tidak menjawabnya namun segera memeluknya dengan erat, lalu berjalan sambil berpelukan memasuki rumah. Setelah itu mereka mengunci pintu utama rumah itu, kemudian mereka masuk ke dalam kamar. Nata lalu masuk ke kamar mandi dan menggosok giginya, diikuti oleh Jessy, Jessy mulai melucuti hijab dan mengganti pakaiannya dengan piyama yang dibawanya dalam traveler bag. Kemudian dia berbaring disampingnya Nata yang hanya mengenakan celana boxer.
“Kang pakaian kotor yang tadi di kamar mandi kok ga ada ?”
“Mungkin sudah dicuci sama Bi Eha, besok siang juga kering dan sudah rapi lagi di setrika.”
“Ohhh aku kira dimana, cekatan juga yaa Bi Eha dan Bi Endah.” Ucap Jessy sambil memeluk tubuh Nata di pembaringan itu, rambut hitamnya kini tergerai di atas dada bidangnya Nata.
Setelah mereka berdua selesai melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai suami istri, Nata dan Jessy lalu tidur dengan perasaan yang plong. Dengan kedua tubuh yang masih basah keringat merekapun tertidur dengan sangat lelap.
__ADS_1
Pagi harinya setelah selesai sholat subuh, sesuai dengan jadwal yang sudah direncanakan Nata dan Jessy lalu berangkat menuju ke pantai Cipatujah Tasikmalaya. Jessy yang mengemudikan Rubicon Kuning itu dengan lincahnya menyusuri sepanjang jalan yang belum tersinari mentari pagi. Tiga puluh menit kemudian mereka sudah sampai di tempat tujuan. Nata segera mengeluarkan ransel berisi kamera dan drone yang disimpan di bagasi Rubicon Kuning itu. Kemudian ransel itu dijinjingnya oleh Nata, mereka berjalan setelah mobil diparkir dengan aman di pelataran parkir tepi pantai dengan aman, lalu Nata dan Jessy menuju rumah Abah Rahmat.
“Ehh Den Nata, langsung dari Bandung ?” Tanya Abah yang sedang memberi makan ayam di pekarangan rumahnya.
“Assalamualaikum Abah.” Ucap Nata memberi salam kepada Abah Rahmat.
“Waalaikumsalam.”
“Kami dari Kota Tasikmalaya, berangkat dari Bandung kemarin pagi.”
“Ohh hanya berdua saja ?” Tanya Abah Rahmat .
“Iya Abah.” Ucap Nata lalu mencium punggung tangan Abah Rahmat diikuti oleh Jessy melakukan hal yang sama seperti Nata.
“Mari silakan masuk ke dalam rumah, maaf Abah hanya pakai celana pangsi begini, hehehe. Bu... Ambu, ada den Nata nih.”
“Tidak perlu repot repot Abah, kami hanya ingin menyampaikan sesuatu, sesudah ini kami mau ke kantor Kades.”
“Ehhh nanti dulu atuh, biar Kadesnya nanti yang Abah panggil kemari.”
“Wah Abah, masa pejabat yang disuruh datang kemari.”
“Biar saja, Kadesnya masih keponakan Abah kok. Hehehe.”
“Ehh Den Nata sama neng Jessy, hanya berdua saja nih sekarang ?” Tanya Ambu yang baru keluar dari kamar mandi.
“Iya Ambu, karena Sabrina saat ini sedang mengandung , jadi belum boleh jalan jauh.” Jawab Jessy dengan senyuman manisnya.
“Alamdulillah sudah isi dong. Neng Jessy kapan nyusul ?”
“Haha, kok nyusul ? kami tidak ikut balapan hamil kok Ambu.” Kekeh Jessy.
“Mudah-mudahan sepulang dari sini Jessy juga terisi perutnya dengan dede bayi, minta do’a-nya saja dari Abah sama Ambu.” Ucap Nata sambil tersenyum juga.
“Aamiin, semoga dipercepat dan dikabulkan semua keingannya.” Jawab Abah
“Aamin, terima kasih Abah dan Ambu atas do’a-nya.” Ucap Jessy.
“Tidak perlu repot-repot Ambu, ada yang perlu kami sampaikan untuk Abah dan Ambu, maaf waktu tempo hari kemari kami lupa memberikannya.” Ucap Jessy lalu mengeluarkan Amplop dari tas kecil yang selalu dibawanya, kemudian memberikannya langsung kepada Ambu.
“Apa ini ?”
“Dengan tidak mengurangi rasa hormat kami, Mohon diterima oleh Ambu dan Abah.”
“Eleuh geuning uang segini banyaknya Abah.” Pekik Ambu dengan suara gemetaran saat amplop itu langsung dibuka didepan Nata.
”Ihh ari Ambu ga sopan, langsung dibuka begitu, malu atuh sama Den Nata dan Neng Jessy.”Hardik Abah, mengingatkan istrinya.
“Tidak apa-apa atuh Abah, oh iya Jess, Abah ini masih terhitung saudara jauh juga dari Ibuku.”
“Ohh pantas saja Kang Nata sangat begitu akrab dengan Abah dan Ambu.”
“Iya Abah ini sepupu dari Almarhum Ibunya Den Nata, Neng, dulu kami dititipkan beberapa bidang tanah untuk kami garap sebagai kebun dan sawah, termasuk lahan di pesisir pantai Cipatujah ini.” Ucap Abah menambahkan.
“Nah berkaitan dengan hal itu, kami berniat untuk membenahi semua lahan warisan peninggalan Ayah dan Ibu kami itu, Abah. Maka dari itu saya akan menghadap ke Kades sebagai langkah awal untuk rencana kami itu. Sekalian untuk membuka lapangan pekerjaan kepada para remaja di sekitar pantai Cipatujah ini.”
“Wah pasti niat baik Den Nata akan didukung penuh oleh Kades, Alhamdulillah masih ada yang peduli dengan masyarakat di pedesaan seperti Den Nata ini.”
“Justru ide ini muncul dari kedua istri saya Abah, Jessy dan Sabrina. Karena waktu bulan kami kemari kesini ternyata belum ada fasilitas umum maupun fasilitas pendukung di sepanjang pantai ini. Semoga nanti untuk kedepan bisa menaikkan juga pendapatan masyarakat disini selain sebagai petani atau nelayan. Kami juga akan bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat juga dengan dinas terkait lainnya, Abah.”
“Bagus den, Abah sangat setuju. Abah juga sangat yakin Kades juga akan mendukung penuh niat baik Den Nata beserta Neng Jessy ini.”
“Iya abah, dimulai dengan lahan berupa warisan dari Almarhum Orang tua saya, nanti dilanjutkan dengan lahan lainnya baik lahan milik warga maupun lahan milik pemerintah. Saya sekarang mohon ijin dulu untuk mengambil gambar dan survey langkah pertama di pantai ini Abah.”
“Ohh iya silahkan Den, nanti Abah menyusul kesana, sekalian mau bawa makanan dan minuman untuk Aden dan Neng Jessy. Rencana mau menginap disini lagi ?” Ucap Abah, lalu bertanya kepada Jessy dan Nata.
“Tidak abah, kami tidak akang menginap, nanti bada Ashar kami akan kembali dulu ke rumah yang di Tasikmalaya.”
__ADS_1
“Padahal mah menginap saja disini semalam lagi, mumpung penginapan tidak ada yang menyewa, sekalian ngobrol lebih panjang dan santai dengan Kades nanti.”
“Hmmm bagaimana Jess ?” Tanya Nata sambil menatap Jessy.
“Bisa mengambil foto suasana malam juga nanti di beberapa titik, lebih baik kita menginap saja semalam disini kang.” saran Jessy.
“Ohhh ok deh kalau begitu. Tapi nanti kita telepon dulu ke Mang Dudung, karena mereka pasti di rumah menunggu kita. Baiklah Abah, kami menginap semalam di penginapan.”
“Nah begitu dong, Kalau begitu nanti Abah akan suruh anak-anak untuk menyiapka n penginapannya.”
“Iya Abah, kami mau ngambil gambar-gambar dulu sekarang.”
“Mangga den.” Jawab Abah Rahmat. Nata dan Jessy lalu keluar dari rumahnya Abah dengan membawa kamera dan drone menuju ke pantai.
Setibanya di tepi pantai, Nata lalu mengeluarkan dronenya, sedangkan Jessy membantu untuk memotret dengan kamera yang dibawa oleh Nata itu. Selama dua puluh lima menit Nata dan Jessy berhasil mengabadikan suasana pantai Cipatujah di pagi hari itu.
“Cukup Jess, kita istirahat dulu sebentar, nanti kita lanjutkan untuk mengambil gambar dari bukit sana.” Tunjuk Nata ke arah bukit di arah utara Pantai Cipatujah tersebut.
“Akang sudah mencatat setiap titik koordinatnya ?”
“Sudah, pakai drone ini, aku screen shoot setiap titik koordinat sesuai dengan denah awal dari sertifikat tanah. Tuh Drone nya juga sudah low batt, masih ada sih dua buah baterai cadangan.”
“Nanti di charging di mobil saja atau di penginapan kang.”
“Iya sayang, tuh Abah sudah datang, sama anak-anak yang tempo hari bantuin kita.”
“Asik mereka bawa kelapa muda.” Ucap Jessy dengan senangnya.”
“Den ini Abah bawakan dawegan dan gorengan.”
“Terima kasih Abah. “ Ucap Nata dan Jessy.
“Untuk Tatang dan Wawan juga terima kasih, Asep kemana ?” Tanya Nata.
“Asep sedang membereskan penginapan Pak.” Jawab Tatang.
“Ohhh begitu, Jess kamu mau pesan ikan apa untuk makan malam dan makan siang nanti ?”
“Hmmm kalian berdua bisa mencarikan ikan tuna ? Kalau bisa yang besar sekitar lima sampai tujuh kilogram per ekornya, satu ekor atau dua ekor saja tidak apa apa.”
“Harus nyari langsung ke TPI Bu kalau yang begitu. Mumpung sekarang masih pagi, kami akan naik motor kesana”
“Kamu mau bikin sushi yaa ? Jess.”
“Iya kang, sekalian nanti Tatang dan Wawan beli bumbunya yaa.” Ucap Jessy lalu mencatat di selembar kertas notesnya. Setelah itu memberikan uang dan catatan kepada Tatang dan Wawan.
“Cukup ga kalau uangnya segini ?” Tanya Jessy lagi kepada Wawan dan Tatang.
“Cukup bu, bahkan lebih.” Jawab Wawan.
“Iya tidak apa-apa untuk pegangan kalian juga, khawatir kurang nanti.”
“Baiklah kami akan langsung kesana, ke TPI (Tempat pelelangan Ikan).” Tatang dan Wawan pun segera bergegas, mereka mengambil sepeda motor, dengan berboncengan Wawan dan Tatang langsung menuju ke TPI.
“Semoga mereka mendapatkan ikan Tuna-nya.” Ucap Jessy sambil menatap kepergian Tatang dan Wawan yang menggunakan sepeda motornya itu.
“Kalau masih pagi seperti ini biasanya masih banyak ikan di TPI Neng.” Ucap Abah Rahmat.
“Masih Jam delapan pagi, tahu begitu tadi aku langsung ke TPI, pakai mobil. Jess.”
“Iya kang, baru kepikiran tadi waktu akang menanyakan menu, bagaimana kalau kita ke sekarang pergi minimarket juga kang ?”
“Mau beli apa lagi ?” Tanya Nata.
“Beli Nori dan beras ketan, nanti dicampur dengan beras biasa, sebagai pengganti beras Jepang.”
“Beras ketan mah di rumah Abah juga ada, biasa dipakai Ambu untuk membuat rengginang.” Jawab Abah.
__ADS_1
“Ohh begitu Abah, yaa sudah tinggal beli nori, mayonese, saus tiram dan saus tomat, saja kalau begitu. Nanti Abah sama Ambu juga nyicipin juga yaa masakan buatan ku.” Ucap Jessy.
“Siap Neng, hehehe.” Kekeh Abah.