Tangguh

Tangguh
Bab 67 Impian Jessy dan Sabrina ingin punya Album Foto.


__ADS_3

Setelah selesai Sholat Dzuhur Nata dan Jessy lalu menghampiri Sabrina yang sudah berada di ruang makan lantai satu.


”Ayo kita makan siang dulu, aku sengaja menunggu akang dan kamu bestie, aku tadi pagi masak bersama Erna, sekarang Erna masih di kantor.”


“Wow kalian bikin capcay ?” Ucap Nata saat membuka tudung saji di meja makan.


“Iya, sengaja aku dan Erna bikin ini untuk menyambut Akang dan Jessy pulang dari Tasikmalaya, Aku juga bikin tofu yang berasal dari susu sapi dan kuning telur.” Jawab Sabrina.


“Wah keren kamu bestie, jadi jago masak nih.” Puji Jessy.


“Ini juga semua resep dari Erna, dia yang ngajarin aku masak, hehehe.”


“Banyak banget capcay-nya.”


“Justru tadi lebih banyak lagi kang, sudah aku bagi-bagikan kepada Emaknya Erna, bikin nasi bungkus ada sekitar dua puluh bungkus, Erna yang membagikannya sambil pergi menuju ke kantor.”


“Busyet, kamu belanjanya banyak dong ?” Tanya Jessy dengan terkejut.


“Hehe yang belanja Ojol, aku dan Erna hanya ngorder saja.” kekeh Sabrina.


“Aku ada ide, bagaimana jika kita bersedekah setiap hari, untuk membagikan nasi bungkus, yang pernah aku lihat sih setiap hari Jumat saja. Tapi jangan kalian berdua yang memasaknya, tunjuk saja katering yang sanggup untuk melakukan hal itu. Jadi kita bisa makan juga dengan menu yang setiap hari berubah sesuai dengan menu yang disajikan oleh pihak katering, bagaimana kalian setuju ?”


“Setuju kang, untuk distribusi kita bisa mengunakan jasa Ojol.” Jawab Sabrina.


“Aku juga setuju kang. Semoga niat kita segera terwujud, juga dapat membantu orang lain yang membutuhkan.” Tambah Jessy.


“Aamiin yaa robbal ‘alamiin.” Ucap Nata dan Sabrina. Mereka pun mulai makan bersama dengan lahapnya.


“Kang tuh Ponselnya berdering.” Ucap Jessy saat mereka baru saja selesai makan. Nata pun lalu meraih ponsel miliknya dibacanya ternyata Charlie yang menghubungi.


“Assalamualaikum kang, akang ga akan ke kantor ?”


“Tidak Charlie, karena saya baru saja datang dari Tasikmalaya.”


“Ohh iya tadi Sabrina juga sudah mengatakan hal itu, tadi Dewan Direksi dan Beberapa kepala cabang sudah berkumpul disini.”


“Astagfirullah, saya sampai lupa, tolong di re-schedulle saja yaa, diundur hari Selasa, besok.”


“Baik kang, akan saya sampaikan ke WA-Grup kantor.”


“Ohh iya Charlie kamu bisa ke rumahku sekarang ?”


“Siap bisa kang, tapi nanti sore setelah saya selesai mengumumkan dan menyelesaikan beberapa tugas di kantor, tadi juga Bang Arwan sudah mengirimkan laporan Progress pembangunan kampus.”


“Iya terima kasih, baiklah saya tunggu nanti sore disini.”


“Siap kang Boss. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.” Jawab Nata lalu menutup pembicaraan ponselnya itu.


“Kenapa kang ?”


“Saya lupa, harusnya hari Senin tadi pagi memimpin meeting bersama para Dewan Direksi dan Para Kepala cabang.”


“Saya sudah bilang kepada mereka bahwa akang masih dalam perjalanan menuju ke Bandung.” Ucap Sabrina.


“Iya jadi meetingnya diundur besok pagi, untuk menentukan posisi Charlie sebagai Kepala Cabang Utama di Jakarta. Kasihan para Kepala Cabang yang lain yang sudah datang jauh menuju ke Bandung. Aku juga lupa untuk memberitahukan hal ini, kan kehadiranku bisa diwakilkan oleh kamu Sabrina. Hmm Sabrina, tolong berikan reward kepada yang tadi datang, aku akan mengganti akomodasi selama mereka ada di Kota Bandung, biaya menginap mereka akan aku tanggulangi deh selama dua hari dua malam.”


“Baik kang, aku akan minta daftar absensinya ke Charlie.” Jawab Sabrina.


“Sekarang, kita bongkar dulu deh oleh-olehnya.” Ajak Jessy.

__ADS_1


“Oleh-oleh apa sih ?” Tanya Sabrina.


“Ayo kamu ikut ke basement deh Sab.” Ajak Jessy, dengan menarik tangannya Sabrina.


“Ihhh pelan-pelan dong, jangan sampai aku jadi jatuh bestie.” Pekik Sabrina yang terlihat protes atas sikap dari Jessy itu.


“Ohhh maaf, aku terlalu bersemangat yaa ? Kang ayo bantuin juga dong.”


“Iya-iya sabar, tenang dong.” Jawab Nata sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


Nata segera mengambil kunci mobil Rubicon Kuning itu dari tempat penyimpanan kunci. Setelah berada di dalam basement Nata juga mendorong troller menuju ke mobil. Satu persatu barang dari mobil mulai dipindahkah ke dalam troller. Kemudian Jessy mulai memekik.


“Ini dia coba kamu pakai deh bestie, aku sengaja pilihkan untukmu yang ini.”


“Sepatu kayu ?” Tanya Sabrina dengan heran.


“Ini namanya kelom geulis bestie, coba pakai, aku tahu ukuran kaki kamu memang se-ukuran dengan kakiku. Setelah itu nanti kamu pakai ini juga dan ini.”


“Payung kertas ?”


“Ini payung geulis bestie, dari Tasikmalaya juga. Kok kamu ga tahu sih ?”


“Hehe, memang aku ga tahu by the way bagus juga.” Kekeh Sabrina.


“Sudah, jangan dicoba disini dong, kita bawa ke kamar dan coba disana, nanti keburu datang Charlie lho.”


“Iya nih kang semangat sekali nih Jessy mau dandanin aku, hihihi.”


“Ohhh iya nih ikan asin jambal roti nya, pesanan kamu.”


“Idih banyak amat bestie, ini mah bisa dimakan untuk satu RT. hahaha.”


“Berbagi juga dong dengan Emaknya Erna dan Lusy juga.” Jawab Jessy dengan entengnya.


“Sama sama bestie, ayo sudah diturunkan semua, mari kita bawa ke lift.”


“Aku simpan di dapur dulu ikan asinnya deh.”


Merekapun naik ke lantai tiga, setelah menunggu Sabrina menyimpan ikan asin tersebut di dapur. Lalu Jessy bagaikan seorang penata gaya yang handal mendandani Sabrina dengan kelom geulis, baju serta tas juga payung yang dibawanya dari Tasikmalaya. Nata terus memperhatikan tingkah laku kedua istrinya yang nampak sangat lucu itu. Jessy sendiri justru setelah mengenakan kelom geulis dia malah mengenakan baju kimono khas Jepang. Mereka berdua tertawa cekikikan saat melihat di cermin atas semua dandanan dan baju yang mereka kenakan.


“Kang Foto dulu kami berdua dong.”


“OK deh aku foto turis Jepang dan Kanada yang sedang terdampar di Tasikmalaya. Hehehe.”


“Jangan hanya dengan kamera ponsel, itu pakai kamera yang kemarin juga dong.” Protes Jessy.


“Iya-iya dasar bawel. Hehehe.” Nata pun segera mengeluarkan kamera prisma digitalnya. Nata lalu mengambil gambar dari beberapa pose kedua istrinya yang sedang bergaya bagaikan perawagati papan atas, bukan perawati papan tulis lho. Memang kedua istrinya itu sudah sangat cantik sih, apalagi jika sudah didandani seperti ini. Jessy dan Sabrina nampak tertawa cekikian saat mereka diambil gambarnya oleh Nata.


“Satu lagi bestie, aku akan menunjukkan sesuatu untukmu.” Ucap Jessy.


“Apalagi nih ?” Tanya Sabrina dengan terheran heran lagi.


“Ini foto mertua kita, almarhum Ayah dan Ibunya Kang Nata.” Ucap Jessy sambil menunjukkan foto berbingkai pigura yang sudah terlihat kusam itu.


“Wah kamu hebat bestie, bisa bawa foto itu kemari, Ternyata Ayahnya kang Nata nampak gagah, pantas saja sekarang kang Nata juga gagah dan ganteng, ibunya juga sangat cantik.”


“Aku mau scan semua foto ini, lalu akan aku cetak untuk dipajang di ruang keluarga kita nanti dilantai satu. Nanti akan diletakkan disamping foto saat resepsi pernikahan kita Sab.”


“Keren banget Jess. Kok bisa dan boleh dibawa sih ?”


“Iya tadi dia maksa untuk bawa foto-foto itu, aku ijinkan saja deh dari pada dia nanti nangis bombay di rumah, bisa berabe. Hehehe.”

__ADS_1


“Tenang kang, aku akan bikin lebih indah lagi, lihat saja nanti hasilnya sesudah di print, boleh aku ganti bingkainya dengan yang baru kan ?”


“Boleh asalkan nanti di letakkan kembali ke tempat asalnya, harusnya kamu tadi meminta aku untuk membawa album foto juga.” Ucap Nata sambil tersenyum.


“Ada album foto juga ? yaah coba kalau dibawa pasti seru deh, kita bisa melihat album foto milik keluarga akang.”


“Aku bawa kok, nih.” Ucap Nata lalu mengeluarkan album foto yang disimpan didalam traveler bag.


“Ihh kapan masukkan kesitu, aku ga lihat.”


“Mana coba aku lihat juga dong.” Pekik Sabrina lalu duduk disamping Jessy, mereka lalu mulai membuka lembaran demi lembaran Album foto milik Nata. Kedua pasang mata yang indah itu memandang satu persatu foto yang tersimpan rapi di album foto milik Nata itu.


“Akang lucu banget sewaktu kecil.” Ucap Sabrina lagi.


“Iya bestie, sungguh beruntung akang memiliki foto-foto kenangan, tidak seperti kami, kami hanya memiliki satu foto saja itupun banyakan saat kami berfoto bersama di panti asuhan.” Kenang Jessy.


“Jangan berkecil hati, kalian berdua kan sekarang masing-masing sudah punya Album foto di Sosmed. Nanti semua anak kita akan aku buatkan album digital di internet, bisa melalui sosmed atau media penyimpan digital online.” Ucap Nata lalu memeluk kedua istrinya. Suara dering telepon lalu mengejutkan ketiga orang yang berada didalam kamar tidur.


”Charlie sudah ada dibawah tuh, ayo kita temui dia.” Ajak Nata.


“Yaa tunggu aku lagi di kamar.” Jawab Nata kepada Charle lalu Nata segera menuruni tangga, tidak menggunakan lift. Sabrina dan Jessy lalu berganti pakaian, sesudah itu menyusul Nata yang sedang asik ngobrol dengan Charlie di ruang tamu.


“Ini nanti sekalian bawa ke rumah, oleh-oleh dari Tasikmalaya.” Ucap Jessy.


“Kok baju perempuan semua untuk aku mana Jess ?”


“Ini nih untuk suaminya.” Jawab Sabrina yang muncul dari dapur sambil membawa kantong plastik berisi ikan jambal roti.


“Wah mantap nih Jambal Roti kesukaanku. Aku mau bikin sambal goreng asin jambal roti deh nanti.” Ucap Charlie dengan senangnya.


“Jessy besok jangan lupa untuk transfer uang kepada beberapa peserta meeting yaa, ini daftar nama orang-orangnya.” Ucap Nata lalu menyerahkan map yang berisi daftar nama-nama Direksi dan kepala cabang kantor.


“Siap kang Boss.” Jawab Jessy.


“Saya mau pamit kalau begitu yaa kang. Terima kasih atas oleh-olehnya dari Tasikmalaya.” Ucap Charlie.


“Iya Charlie salam juga untuk Lusy dan anakmu yaa.”


“Ga bilang terima kasih juga sama aku dan Jessy ?” Tanya Sabrina.


“Ohhh iya bu boss, terima kasih juga. Hehehe.” Jawab Charlie.


“Huh dasar, mau digerebeg lagi yaa ?” Ucap Jessy sambil tersenyum.


“Idih amit-amit cukup sekali saja seumur hidup deh, ampun. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.” Jawab Nata, Sabrina dan Jessy. Mereka pun mengantar Charlie sampai pintu ruko. Lalu Nata melihat Yadi sedang mengangguk kepadanya. Nata lalu melambaikan tangannya agar Yadi segera datang menghampiri.


“Yaa Kang ada yang bisa saya bantu ?”


“Kamu baru pulang dari kantor juga. Mana Erna ?”


“Ada kang, sedang membantu Emak menyiapkan dagangan.”


“Panggil kemari sebentar yaa. Kamu juga nanti kembali lagi kesini.”


“Siap Pak Boss.” Jawab Yadi kemudian berlalu menuju ke Warung Surabi Kopi.”


“Kok manggil Yadi juga kang ?” Tanya Sabrina, kemudian mereka duduk di ruang tamu kembali.


“Aku mau meminta bantuan dari Yadi untuk menyusun proposal pembangunan resort dan wisata edukasi, agar secepatnya nanti draft proposal tersebut diserahkan kepada pihak Konsultan.”

__ADS_1


“Ohh begitu.”


“Iya nanti juga aku akan tempatkan Yadi untuk mengawasi pembangunan di Tasikmalaya, mumpung dia masih muda dan masih bujangan.”


__ADS_2