Tangguh

Tangguh
Bab 51 Sukses menggambar jejak bibir.


__ADS_3

“Pantai yang kalian ingin kelola sekarang sudah ada.” Ucap Nata dengan tersenyum.


“Kenapa tidak bilang dari awal kalau keluarga akang yang memilikinya ?” Tanya Sabrina


“Iya jangan-jangan akang memang sudah kenal lebih dulu dengan pemilik penginapan itu.”


“Tempo hari aku memang belum bisa menceritakan seluruhnya, karena semua surat masih berada di tangan Pengacara.”


“Kami mohon pamit yaa, silahkan kalian diskusi dulu deh, kami pamit agar kalian bertiga tidak merasa terganggu diskusinya.” Ucap Pak H. Mumuh, lalu bangkit dari tempat duduknya diikuti oleh istrinya.


“Mohon maaf Pak Haji, nanti kami akan ngobrol lebih panjang lagi, untuk mengurus semua alih nama atas semua surat tanah tersebut.” Ucap Nata.


“Iya, silahkan Pak Nata berunding dengan kedua istrinya. Sudah mulai sore juga, kami memang harus pulang.” Jawab Pak H. Mumuh.


“Baiklah, Pak Haji dan Ibu, kami ucapkan terima kasih atas kedatangannya.”


“Sama-Sama, Semoga menjadi keluarga Sakinah mawadah warohmah.” Jawab Pak H. Mumuh


“Pak Nata, Sabrina dan Jessy Ibu pulang dulu yaa, nak.” Bu Hajah pun turut berpamitan kepada Jessy dan Sabrina.


“Baik Bu Hajah.” Jawab Jessy dan Sabrina. Kemudian Pak H. Mumuh berserta istrinya keluar dari ruang rapat itu, menuju ke dalam lift.


“Assalamualaikum.” Ucap Pak H. Mumuh dan Istrinya saat mereka sudah masuk kedalam lift.


“Waalaikumsalam.” Jawab Nata dan kedua istrinya itu. Pintu lift pun tertutup, kini dilantai empat itu hanya tinggal mereka bertiga.


“Kita pulang juga yuk.”


“Tunggu dulu, jawab pertanyaan kami yang tadi kang.” Tahan Sabrina.


“Iya jangan membuat kami penasaran dan merasa dipermainkan oleh akang.” Jessy juga menatap tajam ke arah Nata.


“Nanti aku jelaskan semuanya, setelah kita selesai Sholat Maghrib, yaa sayang, lagi pula sudah dari pagi ktia memakai pakaian pengantin, gerah banget.” Ucap Nata seraya merangkul kedua istrinya itu, lalu mengecup pipi mereka bergantian.


“Janji yaa, kita nanti bicarakan lagi.” Tukas Sabrina.

__ADS_1


“Iya dong. Sekarang tolong bawa surat-surat yang diatas meja rapat itu, besok lusa kita segera urus semuanya ke Pak H. Mumuh.” Ucap Nata dengan tegas. Jessy lalu mengambil semua dokumen yang berada di atas meja rapat tadi, lalu bersama Nata dan Sabrina menuju ke lantai satu, berpamitan kepada Charlie yang masih bertugas mengawasi untuk membereskan semua peralatan sesudah selesai berlangsungnya acara perhelatan mereka di Gedung Kantor Pusat Bank NSP itu. Kini Nata menyetir sendiri Rubicon Merah untuk menuju kembali ke rumah mereka, disampingnya duduk Sabrina sedangkan di jok penumpang belakang, nampak Jessy sedang duduk dan asik memeriksa beberapa notifikasi pada layar Ponselnya.


“Charlie tadi terlihat sangat bertanggung jawab sekali atas semua tugas yang kita berikan, masa orientasi dia sudah selesai, besok dia sudah mulai bekerja semestinya sesuai dengan Job Desk yang sudah kita berikan.”


“Bukan hanya dia kang, kita dan semua Staf juga jajaran direksi, baik yang berada di kantor pusat maupun di kantor cabang sudah mulai efektif lagi bekerja.” Jawab Sabrina.


“Kalau aku nanti memberikan bonus bulanan kepada Charlie, apakah kalian setuju ?” Tanya Nata, sambil mengemudikan mobilnya.


“Kami sih ikut saja pada semua keputusan, yang menurut akang yang terbaik. Iya kan begitu Sab. ?” Jawab Jessy yang duduk di jok penumpang belakang.


“Iya maksudku supaya Charlie nanti kinerjanya semakin lebih giat dan bersemangat lagi.” Ucap Nata.


“Kalau karyawan dan direksi bagaimana ?” tanya Sabrina.


“Untuk Erna dan kakaknya Yadi juga, kita berikan bonus  khusus.” Tambah Jessy.


“Iya benar Jess untuk Erna dan Yadi aku akan memberikan bonus berupa kendaraan roda dua, karena aku perhatikan Yadi masih menggunakan angkot saat dia pergi ke kampusnya. Sedangkan untuk Para Karyawan dan Jajaran Direksi mereka juga akan aku berikan kenaikan gaji lebih besar 10% daripada gaji yang mereka terima


sebelumnya. Sama seperti Charlie, agar semua karyawan dan direksi semakin lebih giat dan bersemangat lagi, itu sudah aku perhitungkan sesuai dengan beban operasional Bank kita, kan kita masih banyak pos dana cadangan untuk mengatasi beban operasional bank kita.” Jawab Nata.


“Semoga semua karyawan dan direksi semakin betah dan nyaman setelah Bank milik kita beroperasional kembali.” Ucap Sabrina.


“Banyak juga yang ngirim karangan bunga untuk kita.” Ucap Sabrina.


“Iya tidak menyangka akan semeriah ini.” Tambah Jessy yang sedang membuka kaca mobil.


“Alhamdulillah semua itu merupakan do’a dan dukungan kepada kita.” Jawab Nata lalu memarkirkan kendaraan kedalam basement ruko mereka itu. Nata, Sabrina dan Jessy lalu turun dari Mobil Rubicon Merah yang masih terhias dengan pita dan karangan bunga itu.


“Jess, tolong besok panggil dealer sepeda kemari untuk mengirimkan dua unit sepeda motor matic, langsung sepeda motornya nanti atas nama Erna dan Yadi, sesuai dengan data KTP yang sudah mereka berikan kepada kita.” Ucap Nata saat mereka mulai naik ke lantai tiga menuju ke kamar tidur mereka.


“Warna apa yang berapa CC ?” tanya Jessy.


“Pancing saja sama kamu pakai quis, tanya sama mereka berdua, gitu saja kok repot.”


“Ohh iya ok deh, aku mau buat quis pakai google form deh, hehehe.” Jawab Jessy sambil tersenyum.

__ADS_1


“Bestie sore ini sepertinya enak deh kalau beredam, kan bisa meredakan kaki pegal-pegal karena tadi seharian kita berdiri menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.” Ucap Sabrina, lalu mulai mencopot satu persatu pakain yang dikenakannya di kamar tidur mereka.


“Aku boleh ikutan dong ?” Tanya Nata sambil menatap Sabrina menantikan persetujuan.


“Hmmm gimana Jess ? yang ada malah badan kita nanti semaki pegal-pegal deh kalau sama akang, hehehe.”


“Iya tuh, benar Bestie.” Jawab Jessy sambil turut meloloskan juga semua pakaian yang dikenakannya.


“Wah jahat, aku ga diajak.” Ucap Nata pura-pura cemberut, Nata kini hanya mengenakan celana pendek dan kaos singletnya.


“Kalau ga diajak sama kalian, nanti aku ga akan ceritakan deh tentang tanah di tepi pantai itu.” Lanjut Nata dengan nada ancaman.


“Hmm boleh deh ikut, asal sambil cerita tentang lahan di tepi pantai itu nanti. Iya kan begitu Sab. ?”


“Nah kalau begitu boleh. Hehehe.” Ucap Sabrina lalu mulai mengenakan bath rope-nya demikian juga dengan Jessy.


“Asik, aku duluan yaa.” Ucap Nata bagaikan anak kecil yang mendapatkan permen gratis, bukan main girangnya dia saat berlari menuju ke ruang sauna dan whir pool itu.


“Duh senangnya akan kita Jess.”


“Hehehe iya tuh, ngomong-ngomong nanti kita jadi membalas atas tanda yang sudah diberikan sama akan kita itu Sab. ?”


“Tentu jadi dong Jess, tenang saja kita siasati saja akang kita itu, hahaha.”


“Wooii cepat kemari, sudah siap nih airnya.” Pekik Nata dari ruang sauna sana, memberitahukan bahwa mesin whir pool sudah dinyalakan dan air hangatnya sudah terisi penuh.


“Iya sabar dong, tunggu saja disitu.” Jawab Jessy.


“Hihihi, seneng banget dia padahal mau kita kerjain balik.” Cicit Sabrina dengan gigi putihnya yang sangat cemerlang itu.


“Psst jangan bikin dia curiga Sab.” bisik Jessy saat mereka sudah sampai di pintu ruangan sauna ini. Nampak dilihat oleh mereka, Nata sudah beredam didalam whirpool.


“Coba kalian cium airnya deh, wangi, aku tambahkan parfum aroma terapi di dalamnya.”


“Ohhh iya harum banget, makasih yaa akang sayang.” Jawab Sabrina lalu mengedipkan sebelah matanya kepada Jessy, dia lalu melepaskan bath rope nya dan masuk kedalam whir pool, diikuti oleh Jessy yang juga sudah melepaskan bath rope nya itu. Tubuh indah kedua istrinya yang sudah memasuki whir pool membuat Nata semakin bersemangat. Dia kini menggeserkan tubuhnya untuk berada diantara kedua istrinya.

__ADS_1


Sabrina dan Jessy seketika bergelinjang tubuhnya saat kedua tangannya Nata kini sudah mulai bergerilya di kedua tubuh istrinya itu. Jessy lalu mengedipkan sebelah matanya kepada Sabrina, agar secara bersamaan mulai membalas atas kelakukan suami mereka itu kemarin. Sedangkan Nata nampak mulai memejamkan matanya, saat


kedua istrinya itu kini semakin binal, ketika mereka bertiga didalam whirlpool itu. Suara yang sangat riuh dan gaduh mulai terdengar di ruang sauna itu. Sampai pada akhirnya mereka bertiga lemas karena kelelahan. Sabrina dan Jessy sangat puas, lebih tersenyum puas lagi saat melihat sekujur tubuhnya Nata kini terdapat banyak jejak merah berkat aksi dari Sabrina dan Jessy itu. Semua itu tidak disadari oleh Nata yang kini terbaring lemas di dalam whir pool.


__ADS_2