
“Ini semua kebun teh peninggalan dari Kakek buyut saya.” Ucap Nata sambil menunjuk ke arah bawah bukit dari tempat Nata dan Jessy berdiri.
“Wow seluas ini ?”
“Iya, pada awalnya diwariskan kepada Kakek dan saudara-saudaranya, tapi hanya Kakek yang sudah menikah dan mempunyai keturunan, selanjutnya di wariskan kepada Ayah saya yang anak tunggal, setelah itu diwariskan lagi kepada saya, coba kamu petik satu pucuknya dan cium wangi pucuk daun teh itu.”
“OK aku coba yaa.”
“Sebentar bilang dulu sama yang punya dan yang menanam lebih awal.” Ucap Nata sambil menahan tawa.
“Nama Kakek Buyut akang siapa namanya ?” tanya Jessy dengan polosnya.
“Sastra Wiradinata.” Jawab Nata sambil tersenyum
“Kakek Buyut Sastra Wiradinata, saya mohon ijin untuk memetik daun teh ini.”
“Mangga neng.” Jawab Nata lalu tertawa terbahak bahak.
“Ihhh akang, ngerjain aku yaa ?”
“Hehehe iya sayang.”
“Jahat iihhh.” Ucap Jessy sambil cemberut lalu memukul pelan dadanya Nata, namun Nata yang sigap menangkap tangannya Jessy itu, namun tubuhnya terdorong oleh hentakan dari tenaganya Jessy, akhirnya mereka terjatuh dan bergulingan di samping kebun teh yang berumput tebal itu.
“Aawww. Tuh jadi kita jadi jatuh.” Ucap Jessy yang menindih tubuhnya Nata.
“Hehehe, maaf aku hanya reflek menangkap tanganmu, kita mau terus tiduran seperti ini ?”
“Iya biarin.”
“Nanti ada orang yang lewat lho.”
“Ga mungkin orang lewat sore hari, ga akan ada yang memetik teh sore hari begini.” Ucap Jessy kini malah merebahkan kepalanya di dadanya Nata.
“Sudah dong sayang, aku minta ampun deh.”
“Sebentar, aku sedang mendengarkan detak jantung akang.”
“Hemm kamu wangi banget sayang.”
“Ihhh akang, kok makin kencang detak jantungnya.”
“Tentu saja, karena pas sekali tuh yang dibawah mendindih tubuhku.” Jawab Nata sambil tersenyum.
“Aku obatin deh.”
“Jangan Jess, jangan mmmppphhh.” Ucap Nata yang kini dibungkam mulutnya dengan bibirnya Jessy. Keduanya lalu hanyut dalam gelora asmara di kebun teh yang sangat sunyi dan sepi di sore hari itu. Dengan bebasnya kini Jessy berteriak-teriak seolah mengungkapkan rasa yang terpendam sangat begitu lama. Rok panjang milik Jessy sudah porak poranda demikian juga dengan celananya Nata. Sesudah itu napas mereka terengah-enggah, bulir bulir keringat menetes di wajah dan sekujur tubuh mereka.
“Terima kasih yaa akang.” Ucap Jessy lalu membenahi kembali pakaiannya, Nata tidak menjawabnya hanya tersenyum saja, kemudian Jessy mengeluarkan peralatan kosmetik dari tas kecil yang selalu dibawanya. Dengan bercermin di kaca spion sepeda motor trail itu, Jessy mematut-matut dirinya yang berada di bayangan cermin itu.
“Kamu kalau lagi pengen, ga lihat-lihat tempat.”
__ADS_1
“Hehehe akang juga akhirnya ikut juga.” Kekeh Jessy.
“Sudah selesai dandannya ? ayo lekas kita pulang, kita harus segera mandi nih sudah mau adzan Ashar.”
“Iya sudah kang, jangan marah dong..”
“Aku ga marah, kan kita sama-sama enak. Hehehe. Kita lewat jalan raya saja jangan lewat jalan kebun lagi.”
“Iya licin banget tadi juga waktu naik kemari, Jangan lupa kita ambil gambar dulu di kebun teh, untuk dikirimkan ke Sabrina kang.”
“Ohh iya.” Nata lalu mengeluarkan Ponsel dari tas pinggang yang tergantung di stang motor trail itu. Setelah mereka mengambil gambar di kebun teh tersebut, kemudian mengirim ke WA grup keluarga, Nata lalu menyimpan kembali ponselnya dan melilitkan kembali tas pinggangnya. Kemudian Jessy naik ke atas motor trail itu, memeluk lagi tubuh Nata yang masih basah dengan keringat. Sepanjang jalan Jessy nampak tersenyum puas, sangat puas. Nata memperhatikan senyuman dari kaca spion motor trail itu.
“Kenapa senyam senyum terus ?”
“Eeehh enggak apa-apa, nanti malam kita jangan kemana mana yaa kang, badanku terasa pegal-pegal nih.”
“Kamu mau dipijat ?”
“Iya mau, tapi dipijatnya sama akang saja.” jawab Jessy sambil tersipu malu.
“Ohhh mau nambah jatah nanti malam, bilang saja sama akang, tidak usah malu-malu.”
“Ihhh akang.” Ucap Jessy sambil mencubit pinggang Nata dengan sangat gemas.
“Aduh, sakit Jess.” Pekik Nata.
“Biarin, akang sih godain aku terus.” Ucap Jessy lalu memeluk dan membelai pinggang Nata yang tadi dicubitnya.
“Sudah enggak sakit lagi dong kalau sudah dielus dan dipeluk sama istriku tercinta.”
“Ihhh lebay, mau dicubit lagi nih.”
“Jangan Jess kita sudah masuk jalan raya, bisa bahaya. Banyak truk besar lewat kemari.”
“Enggak kok akangku sayang, kita mau berapa hari disini kang ?”
“Terserah kamu, aku akan nemenin kamu selama disini.”
“Sungguh ?”
“Iya dong. Apa sih yang tidak untuk Jessy Nakamura, ehhh Jessy Natadisastra sekarang mah. Hehehe.”
“Dasar, Sutan Titasik raja gombal akang mah. Hehehe.”
“Ehh kang kok jadi semakin jauh, tadi kelihatan rumah kita dekat, sekarang malah terlihat jadi semakin jauh.”
“Kan aku sudah bilang juga tadi begitu, tapi tenang saja jalan raya disini bagus, tidak berlubang, semua mulus seperti kulitmu yang halus itu.”
“Idih akang ngegombal melulu, nanti aku jadi muntah kekenyangan sama gombalan akang.”
“Hahaha. Bisa aja kamu Jessyku cantik.”
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian mereka sudah sampai di rumah masa kecilnya Nata itu. nampak Mang Dudung bersama Mang Sobri dan Mang Undang baru saja kembali dari Masjid. Mereka bertiga mengenakan kain sarung.
”Den biar diparkir di situ saja, sekalian akan saya cuci kalau sudah dingin mesinnya.” Ucap Mang Dudung.
“OK Mang, terima kasih, tadinya saya ingin sholat berjamaah juga di masjid, tapi tadi pulang jalannya memutar jauh. Karena ngeri banget jalan di perkebunan licin dan berlumut.”
“Ohh pantesan saja, tadi ada pesan dari pak Ustadz di Masjid menanyakan Aden.”
“Apa katanya mang ada yang penting ?”
“Tidak, dia hanya mengucapkan terima kasih, terus melaporkan bahwa zakat mal dari den Nata sudah disampaikan ke Pontren, waktu itu langsung juga sesudah selesai sholat Iedul Adha.”
“Alhamdulillah, semoga baroqah dan pesantren yang di pimpin oleh Pak Ustadz Somad lancar dan semakin maju juga semakin banyak santrinya.”
“Aamiin.” Jawab Mang Dudung.
“Saya mau mandi dulu yaa Mang, gatal-gatal kena rumput bercampur keringat tadi di atas bukit sana.”
“Iya den, silahkan, kalau mau pakai air hangat, water heater-nya sudah dipasang sesuai dengan saran dari Aden.”
“OK terima kasih mang, ayo Jessy sayang kita mandi.” Ajak Nata mengajak Jessy yang sedang mengamati kebun bunga dan buah buahan di samping rumah peninggalan orang tuanya Nata itu.
“Ehh iya kang. Mangga mang.”
“Mangga neng.” Jawab Mang Dudung yang sedang menuntun motor trail itu ke tempat pencucian kendaraan disamping garasi mobil. Nata sebelum masuk kekamar, meraih dulu dua helai handuk yang tadi dijemur di depan kamar tidurnya. Kemudian Nata menyusul Jessy yang sudah masuk kembali ke kamarnya. Setelah itu dia tidak lupa mengunci pintu kamar tidurnya.
”Sayang kamu sudah didalam kamar mandi ?”
“Iya kang.” jawab Jessy dari dalam kamar mandi. Nata lalu masuk ke dalam kamar mandi itu. dilihatnya Jessy sedang melepaskan satu persatu semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Untuk sejenak Nata menarik napas panjang saat melihat tubuh yang sangat indah milik Jessy itu.
“Ayo lekas akang juga buka bajunya, malah nonton aku yang sedang streptease, hihihi.”
“Aku sedang menikmati dan bersyukur karena sudah memilikimu sebagai istriku Jess.” Jawab Nata lalu dia pun mulai melucuti seluruh pakaiannya.
Pakaian kotor langsung yang tadi dikenakannya langsung dimasukkan ke dalam keranjang tempat pakaian kotor di dalam kamar mandi itu, termasuk juga pakain milik Jessy yang tergantung di hanger kamar mandi itu, kemudian menggantinya dengan handuk yang tadi di raih dari jemuran. Mereka mandi saling menyabuni. Kini mereka berdua berpacu dengan waktu, karena takut terlambat sholat Ashar. Setelah selesai mandi Nata keluar lebih dulu dari kamar mandi disusul oleh Jessy. Nata lalu menggelar sajadah dan mengenakan celana boxer yang masih bersih yang diambil dari dalam lemari pakaiannya. Nata pun lalu membantu Jessy mengeluarkan semua pakaian dari dalam traveler bag dan perlengkapan sholat yang tadi dilipat bersama sarung milik Nata.
“Terima kasih yaa akang.” Ucap Jessy yang baru keluar dari dalam kamar mandi saat dilihatnya semua pakai dan perlengkapan Sholat untuk dirinya sudah tersedia diatas sajadah yang sudah digelar oleh Nata.
“Iya sama-sama sayang, nanti waktunya Maghrib akang mau sholat di masjid yaa, kamu nanti sholat berjamaah sama Bi Endah dan Bi Eha.”
“Iya tapi jangan lama-lama di masjidnya kang.” rengek Jessy.
“Tidak lama kok Jessy sayang, kami biasanya pulang setelah sholat Isya, kemudian nanti kita makan malam bersama setelah itu ngobrol diatas bale-bale kolam ikan.”
“Baiklah, aku mau bantuin masak Bi Eha sama Bi Endah kalau begitu, sambil menunggu akang pulang.”
Nata dan Jessy lalu sholat Ashar di dalam kamar tidur mereka itu, yang merupakan kamarnya Nata pada saat masih bocah. Setelah selesai Sholat dan berdo’a seperti biasa Jessy mencium punggung tangannya Nata yang dibalas oleh Nata dengan kecupan di keningnya Jessy. Jessy dan Nata lalu bertukar senyuman dan saling mendekat. Cup. Kedua bibir itu menyatu sejenak.
“Aku mau ke dapur aahh, boleh yaa kang. mau lihat menu apa yang akan dimasak untuk makan malam, sekalian nanti aku tambahkan menu dariku, sesuai dengan bahan masakan yang tersedia didapur.”
“Iya silahkan saja sayang.”
__ADS_1
“Muach, aku ke dapur dulu yaa kang.” Ucap Jessy yang masih mengenakan mukenanya, setelah selesai mencecup suami tercintanya itu Jessy keluar dari kamar. Nata lalu meraih ponselnya. Dilihatnya notifikasi dari ponselnya itu Sabrina sudah menelepon sebanyak lima kali, mungkin saat mereka tadi sedang berada di dalam kamar mandi. Nata segera menelepon balik Sabrina.