Tangguh

Tangguh
Bab 28 Jessy dan Sabrina bertemu sobat lama.


__ADS_3

“Assalamualaikum, Selamat siang,”


“Waalaikumsalam.” Jawab Nata yang sedang duduk di ruang tamu dekat pintu masuk Ruko tersebut, sambil  mengerutkan keningnya, karena tidak kenal dengan orang yang baru saja masuk ke dalam Rukonya itu.


“Maaf mengganggu, saya pemilik rumah kosong yang ada di sebelah Ruko ini, kata penjual Surabi katanya saya disuruh kemari ?”


“Ohh iya, kenalkan nama saya Nata, dari kemarin Mang Engkus sudah membicarakan tentang rumah itu, silahkan duduk.” Jawab Nata lalu mempersilahkan tamunya untuk duduk di kursi sofa seberang tempat duduknya itu.


“Nama saya Charlie, kebetulan hari ini saya menengok rumah peninggalan orang tua kami.”


“Ohh baik kang Charlie. Orang tua kang Charlie sudah meninggal ?”


“Iya baru enam bulan yang lalu Bapak saya meninggal karena sakit Jantung, jangan panggil Kang atuh, panggil saja nama saya langsung Charlie, Pak. Nata.”


“Hehe anda juga jangan panggil saya Bapak, panggil saja Kang Nata, karena kita sama-sama orang Sunda.”


“Ohh siap, kang Nata.”


“Mau minum apa ?”


“Tidak perlu repot repot kang Nata, saya tidak akan lama kok disini.”


“Santai saja lah, memangnya sedang ada keperluan lain ? Sibuk yaa ?”


“Tidak juga kang, saya tidak sibuk, karena sampai sekarang saya belum bekerja lagi setelah dua tahun yang lalu terkena PHK  massal, akibat dari Pandemi selama dua tahun itu.”


“Ohhh Maaf, memangnya dulu kerja dimana ?”


“Saya kerja di Bank Swasta, bagian akunting perbankannya.”


“Kalau saya tawari perkerjaan di Bank mau ?”


“Mau banget kang, dengan senang hati.”


“Baiklah nanti kirimkan CV dan lamaranya lalu nanti menghadap staf saya, yang sekaligus calon istri saya.”


“Siap kang, kapan saja bisa menghadap kembali ?”


“Secepatnya, karena kami akan memindahkan kantor Pusat dari Jakarta ke Bandung, ini silahkan diminum dulu.” Ucap Nata setelah membuka Show case cooler yang tidak jauh dari tempatnya duduk.


“Terima kasih Kang Nata.”


“Tunggu sebentar yaa, saya panggilkan dulu orangnya.”


“Baik kang.”


Nata lalu masuk ke ruang kerja Sabrina yang sedang sibuk menyusun jadwal untuk persiapan launching Bank.


“Sabrina, ada calon pegawai tuh namanya Charlie, dia lulusan akuntansi perbankan, pernah bekerja di Bank juga, coba kamu tanya dan wawancara sebentar, dia ternyata yang punya rumah kosong disebelah Ruko kita ini.”


“Charlie, ok siap kang.” Jawab Sabrina lalu bangkit dari tempat duduknya. Kemudian Nata masuk ke ruangan kerjanya Jessy.


“Kamu juga lagi sibuk sayang ?” tanya Nata sambil duduk dekat Jessy.


“Ihhh tumben nyamperin aku yang sedang kerja, ada apa kang ?”


“Ada gadis Jepang yang cantik dan sedang tekun bekerja. Hehehe.”


“Nah mulai deh ngegombal.”


“Nanti malam kita jalan bertiga yuk, malam ini bulan purnama.” Ajak Nata.


“Mau kemana gitu nanti malam ?”

__ADS_1


“Kita makan di restoran terapung di tengah danau.” Ucap  Nata lalu mulai membicarakan tentang pekerjaan bersama Jessy di ruang kerjanya Jessy. Sementara itu Sabrina nampak terkejut saat orang yang ditemuinya itu ternyata sangat dikenalnya.


“Charlie, ngapain disini ?”


“Ehh Sabrina, kamu juga ngapain disini ? jangan-jangan kamu yang akan mewawancarai aku disini  yaa ?”


“Hahaha, benar,  tepat sekali.”


“Aku kira kamu masih kerja di Bank Swasta Internasional  itu.”


“Sudah tidak lagi, sekarang aku kerja dengan calon suamiku disini, bagaimana kabar istrimu ?”


“Baik istriku sedang hamil, tapi ekonomi aku yang saat ini kurang baik, Sab.”


“Tenang, anggap saja wawancara sudah selesai, hanya formalitas saja, kamu nanti jadi bawahannya Jessy di Bank kami yaa.”


“Hah Jessy juga ada disini ?” Tanya Charlie semakin terkejut.


“Iya tuh, teman sekelas dikampusmu juga ada disini. Hehehe.”


“Waduh, aku malu dulu aku yang comblangin dia sama orang Jerman, ternyata kandas akhirnya.”


“Tenang saja Charle, Jessy-nya sudah move on kok, santai aja, aku panggil Jessy  yaa.”


“Jangan Sab, mungkin dia lagi sibuk.”


“Ahhh sibuk sudah biasa, yang luar biasa adalah bertemu dengan sobat lama. Hehe.”


“Kamu makin cantik saja Sabrina.”


“Heeitt jangan memuji sembarangan, aku sudah ada yang punya hihihi.” Jawab Sabrina sambil memperlihatkan cincin pertunangan di jari manisnya.


”Wah benar-benar kamu. Ck ck ck ck.”


“Tunggu yaa, aku panggil akang Nata sama  Jessy lagi, agar lebih  cepat kemari bertemu dengan mu."


Sabrina lalu bergegas menuju ke ruangan Nata, tapi ternyata Nata tidak ada di ruang kerjanya. Lalu Sabrina menuju ke ruangan Jessy, benar saja Nata nampak sedang serius menyampaikan pekerjaan yang akan


dihadapi nanti oleh Jessy.


“Jess siapa tebak yang datang ?”


“Apa sih Sab ? datang tiba-tiba suruh nebak.” Tanya Jessy keheranan, demikian juga dengan Nata.


“Memangngya kamu kenal dengan dia Sab. ? Sudah beres wawancaranya ?“


“Psst akang diam saja dulu.” Ucap Sabrina sambil menyentuh bibirnya Nata dengan telunjuknya. Namun Nata dengan jahil malah menjilat jari yang menempel di bibirnya itu.


”iiihhh malah dijilat. Sini kalau mau cium saja. Muuuuuaccchhhh.” Balas Sabrina lalu mencium bibir Nata sampai Nata gelagapan, karena sulit bernapas.


“Nah loe rasain, makanya akang jangan jahil. hehehe.” Kekeh Jessy, lalu bangkit menuju ke ruang tamu.


“Sab. sudah aahhh, sesak nih.”


“Hihihi. Enak cium akang.”


“Kamu memangnya kenal sama Charlie ?”


“iya dong, apalagi Jessy teman sekelas di kampusnya.”


“Ohhh.” Jawab Nata yang hanya membulatkan bibirnya itu lalu dengan penasaran melangkah bergabung bersama Charlie dan Jessy yang nampak sangat akrab itu.


“Akang kok ga ngasih tau yang datang Charlie ?” tanya Jessy saat melihat Nata datang bersama Sabrina bergabung di ruang tamu itu.

__ADS_1


“Lha aku kan ga tau kalau kalian sudah saling mengenal, terus kalian juga tadi kan sedang asik mengerjakan tugas di ruangan masing-masing.”


“Sebentar-sebentar, jadi Kang Nata ini calon suami kalian berdua ? Kok bisa ?” tanya Charlie kemudian.


“Bisa dong, kan kami sama-sama sayang dan cinta sama akang kita yaa Sab. ?”


“Iya benar Jess, memangnya ga boleh ? Apakah ada yang melarang ?” tanya Sabrina kepada Charlie.


“Hehe ga ada sih. Well selamat yaa untuk kalian berdua, aku sungguh tidak menyangka akan bertemu kembali, disini pula, di dekat rumah peninggalan orang tuaku yang mau kami jual. Hehehe.”


“Kang pokoknya akang tidak perlu khawatir deh, Wawancara sudah aman, aku yang menjamin semuanya.” Ucap Sabrina.


“Iya kang, tadi Sabrina katanya bilang, Charlie ini yang nanti akan membantuku di bidang Auditing Akuntansinya, memang dia jagonya kang.” tambah Jessy.


“OK aku percayakan kepada kalian berdua, yang penting  untukku nanti semua pekerjaan beres, lancar dan aman.”


“OK siap kang boss.”


“Nah kamu sudah dengar kan Charlie, sekarang segera meminta ijin dan bilang kepada istrimu, bahwa kamu kini sudah mendapatkan kembali pekerjaan yang tetap.”


“Tunggu dulu, Transaksi jual-beli rumahnya belum tuh.” Ucap Nata mengingatkan.


“Siap kang, nanti akan saya bawa sertifikat rumahnya yang asli untuk dibawa kemari, sambil membawa CV dan lamaran saya kemari.” Jawab Charlie.


“Jadi deal harganya segitu ?” Tanya Nata kembali.


“Kalau bisa dilebihkan sedikit lah kang, karena saya sangat membutuhkan untuk biaya persalainan istri saya nanti.” Jawab Charlie dengan nada memelas.


“OK kami lebihkan satu juta. Hehehe.”


“Idih si akang mulai bercanda. Hahaha.” Jessy pun turut nimbrung sambil tertawa.


“Sudahlah, jangan banyak tanya lagi Charlie, bukan kami ngusir, cepat bawa segera sertifikatnya kemari agar kamu segera dapat uang warisan, hehehe.” Kekeh Sabrina.


“Jaahh galaknya belum sembuh juga nih bule cantik. Hihihi. Baiklah kang saya pamit dulu, besok pagi saya kemari lagi sambil membawa semua berkasnya.”


“HRD itu kalau ga galak, bagaikan harimau ompong tau ga ? Hahaha.”


“Iya-iya ampun Macan. Kang saya nyerah, sudah di usir sama dua ceweq cantik ini nih.”


“Hehehe, iya Charlie, hati-hati di jalan yaa, salam untuk Nyonya rumahnya.”


“Siap kang. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.” Jawab Nata, Sabrina dan Jessy serempak lalu mereka mengantar sampai pintu kaca ruko itu.


“Ternyata kalian akrab banget sama Charlie.”


“Iya tentu dong kang, dulu dia yang sering kami kerjain, kami yang dugem, dia yang ngerjain tugas di tempat kost, hehehe.” Ucap Jessy


“Pantas saja dia yang paling pintar kalau begitu.” “Dia memang pintar kang, tapi kasihan nasibnya sering apes, iya kan Jess.”


“Benar Sab. malah sewaktu dia nikah, sebenarnya kami yang bikin skenario agar dia dan pacarnya segera dinikahkan, akhirnya dia dinikahkan di balai RW sama Hansip dan aparat yang bersangkutan, padahal dia itu memang sebelumnya sedang mengerjakan tugas-tugas kami di tempat kost. hehehe.” Kenang Sabrina sambil tersenyum.


“Wah benar-benar parah kalian, Gokil abiss, tapi dia masih awet dengan istrinya itu kan ? tentunya kalian juga kenal sama istrinya.” Ucap Nata sambil tepok jidat.


“Ya pasti dong kang, kami kenal banget juga sama istrinya, Charlie itu antara senang dan takut saat dinikahkan di Balai RW. Lucu dan seru deh kang, banyak cerita unik sewaktu jaman kami kuliah.” Ucap Jessy sambil


terkekeh-kekeh mengenang peristiwa itu.


“Ehhh tolong ingatkan, bilang juga nanti ke mang Engkus, agar dia bersiap minggu depan untuk beres-beres rumah disebelah ruko ini.”


“OK kang, Mang Engkusnya juga baru terlihat sedang beres-beres dagangannya tuh.” Jawab Sabrina.

__ADS_1


“Nanti balik namanya di Notaris jangan atas namaku, atas nama salah satu dari kalian berdua saja.”


“Siap Kang Boss.” Pekik dari kedua gadis cantik itu bersamaan.


__ADS_2