Tangguh

Tangguh
Bab 46 Kolaborasi dua pengusaha.


__ADS_3

Sore hari itu mereka tidak hanya kedatangan utusan dari Putri sebagai WO sekaligus EO atas acara yang akan diselenggarakan sekitar tiga hari lagi. Putri datang bersama suaminya, juga Istri pertama dan istri kedua dari suaminya itu. Sabrina dan Jessy nampak begitu akrab saat berbincang bincang dengan Ane, Mira dan Putri, demikian juga dengan Nata yang akhirnya dapat berkenalan dengan Andi, seorang pengusaha yang sukses dibidang pembangunan property, pabrikasi permesinan dan juga usaha kopinya. Andi bahkan berminat menjadi nasabah dari Bank yang hari Senin besok akan mulai dikelola oleh Nata.


Nata juga kemudian memaparkan tentang sistim operasional Bank yang akan dikelolanya nanti kepada Andi. Juga secara terbuka mengungkapkan konsep rencana yang nanti akan dikerjakan sesudah bank tersebut mulai dikelola oleh Nata bersama Jessy dan Sabrina. Kemudian Nata, Jessy dan Sabrina mulai mencoba semua baju yang dibawa oleh Putri, masing masing tiga stell baju pengantin untuk Nata, Sabrina dan Jessy  yang merupakan pesanan khusus yang diperuntukkan bagi Nata, Sabrina dan Jessy  yang akan melaksanakan syukuran pernikahan mereka itu.


“Sebelumnya kami akan memberitahukan bahwa kami sebernarnya sudah menikah di tanah suci, bersama Jesy dan Sabrina. Mungkin sekarang tinggal pengukuhan dari catatan sipil untuk mencatat tentang status kami sekarang, ini surat keterangan dari penghulu yang menikahkan kami di tanah suci.”  Ucap Nata kepada Andi dan Ketiga Istrinya itu setelah mereka mencoba semua pakaian yang dibawa oleh Putri dan stafnya itu.


“Ohh Selamat dong, Alhamdulillah kalau kalian sudah menikah. Semoga menjadi keluarga yang Sakinah Mawadah Warohmah.” Ucap Andi mewakili ketiga istrinya itu.


“Aamiin yaa robbal ‘alamiin.” Jawab Nata, Sabrina dan Jessy serempak.


“Kami membawa kopi hasil produksi dari pabri kopi milik kami. Ini silahkan diterima.” Ucap Andi kepada Nata yang disambut oleh Nata dengan ucapan terima kasih atas sampel produk yang diberikan oleh Andi.


“Terima kasih kang Andi, waduh pakai repot-repot segala. Bagaimana kalau sambil ngopi kita mencicipi juga Surabi dari Mang Engkus yaa?” Ucap Nata lalu memberikan beberapa bungkus kopi yang sudah siap seduh itu kepada Sabrina.


“Wah mau dong, aku juga penasaran pengen nyicipin surabinya itu yang katanya sekarang sangat terkenal.” Ucap Ane.


“Iya teh, mohon ditunggu sebentar, kami sudah memesannya kok tadi.” Ucap Sabrina, lalu keluar dari Ruko dengan membawa beberapa bungkus kopi, lalu Sabrina memanggil Erna yang terlihat dari depan ruko mereka itu sedang menunggu beberapa pembeli Surabi.


“Yaa Sis, sebentar lagi surabi pesanannya selesai.”


“Bisa minta tolong seduhkan kopi ini, juga buatkan bandrek untuk tamu kami, ehhmm lima gelas saja deh.”


“Baik sis, segera akan saya seduhkan kopi dan siapkan bandreknya.” Jawab Erna. Kemudian Sabrina masuk kembali kedalam Ruko tersebut.


“Sab, nanti kita rutin ikut pengajian bersama Teh Putri, Teh Ane dan teh Mira.” ucap Jessy saat Sabrina duduk kembali disamping Jessy di ruang tamu ruko tersebut.


“Wah mau banget dong, kapan itu ?” tanya Sabrina.


“Kami setiap hari Jumat, selagi suami kami pada sholat jumat, sering berkumpul untuk melaksanakan pengajian rutin sampai waktunya Ashar tiba.” Jawab Mira.


“Iya tapi kang Andi kan kalau Jumat masih ada di Jakarta.” Ucap Ane.


“Ohh jadi Teteh dan Akang ini ketemuanya hanya seminggu sekali ?” tanya Nata dengan heran.


“Enggak juga sih, kami bergiliran menemani akang selama akang bekerja di Jakarta. Dua orang jaga rumah, seorang tetap mengawal Akang kami agar tidak digoda oleh gadis-gadis cantik di Ibu kota hehehe.” Jawab Putri.

__ADS_1


“Ahh mana mungkin aku tergoda sama gadis cantik, selain kalian bertiga.” Protes Andi yang mendengar celoteh dari Putri, istri ketiganya itu.


“Iya tuh Teteh bertiga ini sangat cantik sekali dan terlihat sangat mirip, pada awalnya kami mengira kalian kembar tiga. Hehehe.” Kekeh Sabrina.


“Ehhh ngomong-ngomong anak-anak siapa yang menunggu Kang ?” tanya Nata.


“Ada baby sitter dan dua pasang kakek neneknya, tadinya mau kami ajak kemari, tapi dilarang oleh Kakek dan Nenek mereka.” Jawab Andi sambil tersenyum.


“Assalamualaikum, ini pesanannya.” Ucap Erna yang sedang membawa nampan ditemani oleh kakaknya yang juga membawakan nampan berisi gelas minuman pesanan mereka.


“Waalaikumsalam.” Jawab semua yang berada di kamar tamu tersebut.


“Nah sekarang kita nikmati Surabi, kopi dan Bandrek.” Ucap Nata mempersilahkan tamunya itu  untuk mencicipi Surabi dengan aneka topping yang berbeda beda.


“Ini kopinya belum pakai gula kan ?” tanya Andi.


“Tidak pak kami siapkan terpisah, gulanya.” Jawab Kakaknya Erna itu.


“Wah kang Andi ini rupanya pecinta kopi sejati yaa.” Ucap Nata.


Kemudian semua yang ada di ruangan tamu di ruko itu menikmati semua makanan dan minuman yang tersaji di meja tamu itu. Berbagai komentar dan pujian tercetus dari para tamunya itu saat menikmati surabi buatan Mang Engkus itu.


“Ini ada yang unik, seperti penggabungan makanan western dengan tradisional dan yang ini penggabungan dari makanan jepang juga.” Ucap Ane saat mencicipi dua topping yang berbeda dari surabi yang sudah dimakannya itu.


“Benar teh, ini kreasi kami yang kami berikan resepnya secara gratis kepada Mang Engkus, dan ternyata menjadi favorit para kawula muda yang makan surabi disini.” Ucap Jessy.


“Waah mau dong bungkus, untuk kakek dan neneknya anak-anak di rumah.” Ucap Mira.


“Baiklah teh, kalau memang teteh suka kami akan membungkuskan untuk dibawa ke rumah.” Jawab Sabrina.


“Ihh kamu bikin malu saja.” protes Andi kepada Mira.


“Ehhh tidak apa-apa kok kang, santai saja.” ucap Nata.


“Maksudnya jangan sedikit lah, hehehe.” Ucap Andi.

__ADS_1


“Hahaha, kang Andi bisa aja.” Ucap Nata sambil tertawa, diiringi oleh suara tertawa semua orang yang ada didalam ruko itu.


“Kapan dong mampir lagi ke kedai Kopi Pekat ?” Tanya Andi.


“Insya Allah kang, jika ada waktu senggang kami akan kesana lagi, suasana kedainya memang sangat nyaman, makanan dan minumannya juga mantap sekali tuh.” Jawab Nata.


“Hmm aku ada ide, bagaimana jika nanti makanan dan minuman pada acara syukuran ada berbagai booth tenant dari makanan dan minuman khas dari kedai kopi maupun dari surabi mang Engkus.” Usul Sabrina.


“Boleh tuh, minta petunjuk dulu kepada penyelenggaranya dong, Teh Putri yang punya WO dan EO nya.” Ucap Nata yang menyetujui saran dari Sabrina itu.


“Iya memang konsep kami begitu kok, kedai kami juga kan memiliki katering yang menunya diadopsi dari kedai kopi milik kami, sekarang tinggal menambahkan menu surabi, bajigur dan bandeknya.” Jawab Putri.


“Wah pasti bakal seru dan unik yaa.” ucap Jessy.


“Kami juga tertarik dengan Surabi buatan Mang Engkus, bagaimana kalau nanti kami ajak Mang Engkus untuk menyajikan juga di kedai kopi milik kami, sekalian kami juga akan menginfestasikan dengan memberikan bantuan peralatan penyeduh kopi kepada Mang Engkus juga mensuplai semua kopi dari pabrik kopi kami.” Tambah Andi yang mulai tertarik dengan semua usul dari Sabrina dan Jessy tersebut.


“Aku juga tertarik dengan bisnis yang sedang kang Andi geluti. Aku mau belajar banyak kepada Kang Andi.” Ucap Nata dengan merendah.


“Hahaha, terbalik, harusnya aku yang belajar kepada sang lulusan dari sekolah luar negeri ini, aku hanya lulusan pasca sarjana lokal, yang hanya memiliki pengalaman sedikit dibandingkan dengan kamu Nata.” Ucap Andi yang selalu low profile itu.


“Ahh kang Andi ini pandai sekali memutar balikkan fakta, justru dari pengalaman Kang Andi itu saya ingin belajar lebih dalam, apalah artinya saya yang baru kembali setahun ke tanah air ini. Masih merasa gelap dan belum mengetahui seluk beluk dunia bisnis di Indonesia.” Ucap Nata.


“Baiklah kita saling berdiskusi untuk saling bertukar pengalaman kalau begitu. Kapan saja silahkan, saya akan selalu bersedia untuk berbagi ilmu.” Jawab Andi.


“Alhamdulillah, secepatnya nanti saya akang menghadap Akang deh, setelah acara launching bank dan syukuran pernikahan kami selesai.”


“Wah dua orang pakar property sedang serius berkolaborasi nih. Hihihi.” Ucap Sabrina.


Pembicaraan pun semakin akrab dan hangat diantar dua keluarga unik tersebut. Lalu pada pukul lima sore Andi beserta ketiga orang istrinya berpamitan, dengan diantar oleh Nata,


Sabrina dan Jessy  sampai pelataran parkir. Tak lupa Jessy dan Sabrina memberikan beberapa bungkus Surabi untuk dibawa pulang oleh Ketiga Istrinya Andi tersebut.


“Waduh banyak amat begini.” Ucap Putri.


“Supaya cukup teh untuk dicicipi oleh kakek dan neneknya anak-anak. Juga untuk anak buah teteh juga.” Ucap Jessy.

__ADS_1


“Baiklah, terima kasih banyak yaa. Sampai ketemu lagi nanti di gedung.” Jawab Putri. Lalu masuk kedalam mobil menyusul Ane dan Mira yang sudah duduk di dalam mobil. Nata, Sabrina dan Jessy  lalu melambaikan tangan saat mobil yang ditumpangi oleh Andi beserta tiga orang istrinya itu berlalu meninggalkan pelataran parkir ruko itu.


__ADS_2