Tangguh

Tangguh
Bab 63 Sabrina Kangen.


__ADS_3

“Assamualaikum Sabrina sayang, maaf tadi aku sedang mandi sore.”


“Waalaikumsalam, tadi juga waktu akang kirim foto-foto ke grup keluarga aku sedang masak untuk makan malam bersama Erna. Jessy mana kang ? Boleh Video Call ?”


“Boleh dong, tapi Jessy sedang memasak bersama Bi Endah dan Bi Eha di dapur.”


“Coba akang kesana kang, aku alihkan dengan mode video yaa.”


“Iya.” Nata lalu mengganti mode voice dengan video call.


“Tapi tunggu jangan dulu kesana, aku ingin lihat kamar akang dulu.”


“Ini kamarku, aku baru saja selesai sholat Ashar sama Jessy, terus dia pergi ke dapur.”


“Wah rapi kamarnya, Nanti aku juga boleh kesitu yaa kang ?”


“Boleh dong.” Jawab Nata sambil berjalan menuju ke arah dapur.


“Kapan ke Pantainya kang ?”


“Besok setelah selesai sholat Subuh. Tuh Jessy.”


“Sabrina kang ?”


“Iya.” Jawab Nata sambil mengarahkan kamera dan layarnya ke arah Jessy.


“Bestie aku kangen banget.”


“Hahaha belum juga 24 jam sudah kangen lagi kamu Sab. Nih kenalkan Chief dari Tasikmalaya Bi Endah dan Bi Eha.”


“Hallo Bi, kenalkan saya Sabrina istrinya kang Nata juga.” Ucap Sabrina sambil melambaikan tangannya ke arah kamera.


“Waduh meuni gareulis pisan garwana Den Nata teh, ieu mah siga artis ti Amerika, nya Ceu Eha ?” Tanya Bi Endah yang usianya lebih muda daripada Bi Eha.


“Enya ihhh meuni geulis, bisaan den Nata mah.” Jawab Bi Eha turut memuji Sabrina yang dilayar ponsel terlihat mengenakan hijab juga seperti Jessy.


“Saya bukan dari USA bi, tapi Papa saya dari Kanada.hihihi.”


“Ohhh iya neng, kenapa atuh tidak ikut kesini bareng neng Jessy ?”


“Belum boleh Bi, karena saya sedang mengandung dua minggu. Kata dokter hindari dulu bepergian jauh dan bekerja terlalu lelah.”


“Alhamdulillah atuh Neng.” Jawab Bi Eha dan Bi Endah bersamaan.


“Bestie aku mau masak dulu yaa, nanti malam kita lanjutkan lagi video callnya, aku kembalikan lagi nih ke akang.”


“Iya Bestie, nanti bawa oleh-oleh untukku dan keponakanmu yaa sayang.”


“Siap Sabrina sayang. I love you.” Jessy lalu mengembalikan ponsel itu kepada Nata.


“Love you too bestie. Kang, kalau Mang Dudung Mang Sobri dan Mang Undang yang mana ?”


“Ohh mereka sedang didepan rumah, sedang mencuci mobil kuning dan motor trailku tadi. Aku bawa kesana yaa.”


“Iya kang Thanks yaa my hubby.” Jawab Sabrina dengan amat senangnya.


“Ehh kang, sudah berapa ronde ? hihihi.”


“Mau tahu aja kamu.”


“Ihhh bilang dong please.”


“Tiga ronde, hehehe.”


“Hah rakus juga tuh Jessy yaa. hihihi.”


“Dua ronde di rumah satu ronde di kebun teh, by accident. Hehehe”


“What do you mean ?”


“iya gara-gara terjatuh di kebun teh, keterusan deh.”


“Hahaha. Modus akang yaa ?”


“Ihhh bukan, Jessy tuh yang ngebet banget, tanya saja nanti.”


“Iya deh, aku percaya, ehhh mana Mamang kamu itu.”


“Tuh lihat itu yang sedang nyuci motor trail Mang Dudung, yang sedang nyuci mobil kuning Mang Undang dan Mang Sobri.”


“Wah kompak yaa mereka.”

__ADS_1


“Sudah terbiasa kompak sejak aku masih bocah dimari. Mang aya salam yeuh ti Artis Hollywood.” Ucap Nata saat sudah semakin dekat dengan Mang Dudung Mang Undang dan Mang Sobri, merekapun segera menghentikan sementara acara mencuci kendaraanya.


“Hello Mamang semua, kenalkan aku Sabrina.” Ucap Sabrina menyapa sambil melambaikan tangannya.


“Saha den naha ieu mah Bule ?” tanya Mang Dudung.


“Sssttt, Garwa abdi oge atuh mang.”


“Ohhh punten.”


“Dihapunten Mang. Hihihi.”


“Waduh bahaya, artis hollywood bisa bahasa Sunda.” Ucap Mang Undang sambil tepok jidat.


“Aku tidak berbahaya lagi mang aku sudah jinak, tidak akan menggigit. Hahaha.” Jawab Sabrina dengan tertawa geli, yang mengerti bahasa Sunda namun masih sulit untuk menjawabnya kembali dalam bahasa Sunda.


“Itu satu lagi siapa namanya saya lupa, dari tadi masih diam saja.”


“Saya neng ? Saya Sobri pilotnya Almarhum Ibu sama Ayahnya Den Nata.”


“Suka pegang pesawat terbang juga kah ?”tanya Sabrina dengan polosnya.


“Hehehe tidak atuh neng, ini mah sebutan dari Sopir pribadi alias Sobri sendiri.”


“Hahaha ternyata lucu juga Kang Nata punya Mamang. Silahkan dilanjutkan lagi, maaf saya mengganggu pekerjaan Mamang semuanya.”


“Tidak apa-apa atuh Neng anggap saja memang sedang ngobrol dengan Artis hollywood. Hehehe.” Jawab Mang Dudung, Nata lalu kembali mengambil alih lagi Video Call itu.


“Kang sudah jauh dari mereka ?”


“Sudah, memangnya kenapa ?”


“I missed you so much.”


“Sama sayang, aku juga sangat kangen sama kamu.”


“My baby need big hugs too from daddy.”


“Tuh kan, kamu Sendiri yang pada awalnya mendorong ku untuk pergi bersama Jessy kemari, sekarang kamu sendiri yang rugi karena berjauhan juga dengan kami.”


“Is ok, nevermind. I hope my bestie always happy with you. But you must promised, dont telling her about this, because this is our secret.”


“Tentu dong sayang, aku ga akan ngasih tahu Jessy dong, kamu lihat sendiri dia sangat senang saat berada disini.”


“OK, I love you my sweety Sabrina.”


“Love you too much much much. Hahaha. Aku mau makan malam dulu yaa sama Erna, setelah itu baru sholat Maghrib.”


“Ernanya dimana  ?”


“Dibawah dong, ga mungkin ada dikamar kita saat kita Video call seperti ini. Ohh iya Charlie dan Lusi tadi titip salam, Lusi sangat berterima kasih atas promosi jabatannya Charlie sesuai usulan dari Kang Nata.”


“Iya sampaikan juga salam untuk mereka sekeluarga.”


“OK akang, kadeudeuh abdi, wilujeung enjoy. Betul begitu ucapannya ? hehehe.”


“Cie dasar artis  how lie wood, hahaha.”


“Awas lho aku cubit sampai perih kalau ketemu akang... sudah aah, my babby is hungry now. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam Sabrina ku sayang daddy love that babby too.”


“OK thanks, see u.” Pembicaraan pun ditutup oleh Sabrina. Nata menyisakan senyuman di bibirnya saat Video call itu diakhiri.


Beberapa saat kemudian Mang Dudung, Mang Undang dan Mang Sobri menghampiri Nata yang sedang duduk sambil membaca beberapa email dari layar ponselnya.


“Den katanya mau ikut ke masjid ?” Tanya Mang Sobri.


“Iya saya juga sudah siap dari tadi, nih sudah pakai sarung, saya ambil air wudhu dulu atuh mang.” Setelah mengambil air wudhu Nata lalu berpamitan kepada Jessy yang sedang asik memasak bersama Bi Endah dan Bi Eha di dapur.


“Jessy sayang, aku tidak bawa ponsel yaa, sedang aku charging di ruang tengah Nanti tolong cek kalau sudah penuh. Aku ke Masjid dulu. Assalamualaikum.”


“Iya kang, Waalaikumsalam.” Jawab Jessy dengan senyuman manisnya.


“Neng Jessy sama Den Nata meuni mesra pisan euy.” Ucap Bi Eha saat Nata sudah jauh dan hilang dari pandangan mereka yang sedang berada di dapur.


“Ahh ceu Eha mah seperti tidak pernah merasa muda, pasti dulu juga begitu sama suaminya.” Jawab Bi Endah.


“Hehehe iya juga. Maaf yaa Neng Jessy kami disini memang suka bercanda.”


“Tidak apa-apa bi, kami juga sering bercanda seperti itu kok kalau sedang dirumah. Hihihi.”

__ADS_1


“Dilihat dari tatapan matanya Den Nata, Bibi nilai Den Nata sangat sayang sama Neng Jessy.” Ucap Bi Endah.


“Iya benar Bi, saya dan Sabrina sering membahas hal ini. Tatapan mata seseorang yang menunjukkan ketulusan hati sangat jarang terlihat oleh kami berdua, kami hanya bisa melihatnya dalam bola mata kang Nata.”


“Tadi Neng bilang bahwa Neng Jessy dan Neng Sabrina menikahnya di Tanah Suci ? bagaimana rasanya ? Sedangkan Bibi belum pernah kesana seumur hidup.”


“Yang kami rasakan bertiga saat ijab kabul disana, suasana terasa sangat khidmat, sakral kami berjanji sehidup semati dengan saksi kubah dari Ka’bah, juga ratusan jemaah umroh lainnya. Terasa sangat menyejukkan hati bi, walaupun kami berdua adalah wanita mualaf, yang baru dua tahun memeluk agama Islam saat itu. Nanti akan aku usulkan bibi berdua bersama suaminya untuk pergi Umroh bersama sama deh.”


“Selain saya da Bi Endah, Bi Neli juga dong Neng istrinya Mang Undang jangan lupa.”


“Iya tapi nanti perginya bergantian, kan rumah ini tidak boleh kosong.” Jawab Jessy.


“Ohh iya betul juga, harus bergantian perginya. Ehhh sudah Adzan Maghrib tuh, masak sudah selesai, Ayo kita sholat berjamaah.” Ucap Bi Eha dengan suara cemprennya mengingatkan.


“Kita Sholatnya di ruang tengah saja, bertiga.” Ajak Jessy.


“Iya Neng.” Jawab Bi Endah. Lalu mereka mengambil air wudhu kemudian menggelar tiga buah sajadah di ruang tengah, Bi Endah yang menjadi imam mereka, karena selain suaranya sangat merdu, hapalan surahnya juga lebih banyak daripada Bi Eha. Setelah selesai sholat Mahgrib Jessy dengan dibantu oleh Bi Endah dan Bi Eha mulai menyajikan makanan di atas bale-bale yang berada di atas kolam ikan. Mereka nanti akan makan sambi lesehan diatas kolam ikan. Gemericik suara air yang terus menerus mengalir dari mata air di atas bukit, membuat suasana menjadi semakin terasa menarik.


Lalu mereka menutup semua makanan yang sudah tersaji itu dengan tudung saji. Setelah itu bersamaan dengan terdengarnya Adzan Isya Jessy bersama Bi Endah dan Bi Eha kembali melaksanakan Sholat berjamaah di ruang tengah. Setelah itu mereka melipat semua perlengkapan sholatnya. Bi Eha dan Bi Endah juga masuk kekamarnya masing-masing, seperti Jessy yang kini berdandan untuk menyambut Nata yang akan pulang dari masjid bersama Mamang-mamang asuhnya itu. Pada saat Nata bersama para Mamangnya kembali, Jessy lalu mencium punggung tangannya Nata, dibalas dengan ciuman di keningnya Jessy oleh Nata. Jessy lalu menyimpan semua perlengkapan sholat milik Nata dikamarnya. Kemudian menyusul Nata yang sudah duduk lesehan berserta semua Mamangnya itu.


“Mang Undang, ajak kemari dong Bi Neli.” Ucap Nata.


“Waduh maaf Den anak kami yang bungsu sedang demam, jadi kami tidak bisa berkumpul bersama disini.”


“Sakit apa Mang ? Sudah dibawa berobat ke dokter ?”


“Tidak perlu Den, itu karena Demam setelah immunisasi di sekolahnya kemarin. Saya justru mau mohon ijin pamit karena tidak bisa makan malam bersama den, mohon maaf karena harus bergantian nungguin anak saya yang sedang demam.” Ucap Mang Undang.


“Kalau begitu bawa makanan dong untuk dirumah.”


“Sudah den, tadi bi Eha sudah antarkan makanan yang kami masak, untuk Mang Undang sekeluarga.”


“Ohhh bagus lah kalau begitu, kenapa tidak dari tadi bilangnya ? saya kan belum bertemu sama bi Neli, sedangkan besok subuh saya harus berangkat ke Cipatujah.”


”Hehehe, maaf Den saya malu dan khawatir nanti akan merepotkan Den Nata, itu sebabnya saya tidak bilang dari awal.”


“Ahhh Mang Undang mah seperti kepada siapa saja, kok masih merasa sungkan sama saya sih ?” Ucap Nata dengan nada kecewa.


“Sekali lagi saya mohon maaf Den.”


“Tunggu sebentar jangan dulu pulang ke rumah Mang.”


“Yang ikut dulu ke kamar sebentar.” Ucap Nata sambil meraih tangannya Jessy.


“Iya kang.” Jawab Jessy lalu mengikuti Nata menuju kamar tidurnya. Saat berada didalam kamar dengan suara perlahan Nata lalu bertanya.


“Jessy sayang, bekal uang cash yang kita disimpan dimana ? yang kemarin malam kita siapkan sewaktu narik dari ATM di ruko kita.”


“Ohhh ada kang, ada lima amplop, masing-masing senilai sepuluh juta.”


“Yang tiga amplop serahkan masing masing kepada Mang Dudung, Mang Undang dan Mang Sobri, untuk istri mereka, itu memang sudah akang siapkan untuk mereka. Yang dua amplop lagi untuk orang Cipatujah besok.”


“Ohh baik kang.”


“Maukah kamu mewakili saya untuk menyerahkan kepada mereka ? agar mereka juga merasa disayangi olehmu.” Ucap Nata dengan memegang pipi istrinya itu dan menatap penuh harap.


“Iya dong kang, bagiku rasa sayang akang kepada mereka dan keluarganya, aku rasakan juga, sebuah hal yang belum pernah aku rasakan sebelumnya kang, jangan khawatir kang, aku juga sangat menghormati dan menyayangi mereka kang.”


“Terima kasih atas pengertiannmu Jessy ku sayang.” Ucap Nata lalu mengecup bibir tipisnya Jessy itu sebagai tanda ucapan terima kasihnya. Setelah itu Nata keluar dari dalam kamarnya bersama Jessy. Nampak Mang Undang masih menunggu dan ngobrol bersama Mang Dudung dan Mang Sobri di bale-bale kolam ikan itu. Sedangkan Bi Endah dan Bi Eha sedang menyiapkan minuman untuk makan malam di dapur.


“Mang Dudung, Mang Undang dan Mang Sobri, maaf tanpa mengurangi rasa hormat dan rasa sayang kami, ini sekedar perpanjangan rezeki dari Allah melalui tangan kami. Karena pada saat syukuran pernikahan kami Mamang dan Bibi tidak bisa hadir disana.”


“Apa ini den ?” tanya Mang Sobri dengan terheran heran.


“Kami mohon terimalah Mang, Jessy sayang berikan sekarang untuk Mang Dudung, Mang Undang dan Mang Sobri.”


“Iya kang, Mang Dudung, Mang Undang dan Mang Sobri, saya juga berterima kasih karena telah diterima dalam keluarga besar ini dengan penuh ketulusan.” Ucap Jessy dengan hormat membungkuk khas Jepangnya, lalu memberikan satu persatu amplop untuk Mang Dudung, Mang Undang dan Mang Sobri sekeluarga.


“Den saya mohon pamit sekarang boleh ?” tanya Mang Undang dengan ragu ragu.


“Boleh atuh mang, lain kali bilang dari awal, jadi saya bisa bertindak untuk segera mengantisipasinya, minimal nengok anaknya Mang. Sekarang sudah malam, kasihan anak mamang yang sedang istirahat jadi terganggu, Mamang mah ahhh seperti sama siapa saja. Sampaik Salam untuk Bi Neli yaa dari saya dan Jessy.”


“Iya Den, nanti akan saya sampaikan salam dari Den Nata dan Neng Jessy.” Jawab Mang Undang lalu pulang kerumahnya, dengan menggunakan pintu khusus dari belakang rumah Nata untuk mencapai rumahnya.


“Ayo kita makan sekarang, Bi Endah, Bi Eha, sudah kemari, jangan di dapur terus.” ajak Nata.


“Hehe iya den.” jawab Bi Endah dan Bi Eha yang tergopoh gopoh kemudian sama-sama mengambil tempat dan duduk lesehan di atas bale-bale kolam ikan itu.


“Ini yang buat pasti kamu yaa sayang ?” Tanya Nata saat melihat chicken katsu yang digoreng itu.


“Hehehe iya kang, tadi aku lihat ada daging ayam yang sudah di fillet di dalam lemari es, jadi aku bikinkan saja yang simple, jadilah Chicken Katsu.”

__ADS_1


“Tadi bibi berdua diajari cara mengolahnya, terima kasih yaa Neng Jessy.” Ucap Bi Endah.


“Sama-sama Bi.”


__ADS_2