Tangguh

Tangguh
Bab 16 Jessy dan Sabrina mulai cemburu.


__ADS_3

Tiga puluh menit kemudian Sabrina kembali ke Ruko itu, dia dengan tergesa gesa turun dari Mobil Sedan Mercedes miliknya itu setelah memarkir di halaman depan ruko, dia berjalan cepat dengan membawa sebuah map yang isisinya merupakan data-data Bank yang akan dibeli oleh perusahaan mereka.


“Bagaimana sayang ? berhasil ?” tanya Nata.


“Alhamdulillah kang, berhasil, makanya aku cepat segera kembali kemari. Tadi juga di jalan aku sudah menghubungi kantor Notaris kita, Pak H, Mumuh sudah siap membantu kita untuk alih nama kepemilikan Bank.”


“Bagus dong, nanti kita tunggu kabar dari Jessy ya, setelah itu kita makan siang bareng, kamu belum makan kan ?”


“Belum dong, kan lebih enak dan nikmat kalau kita makan berjamaah, kata akang juga.”


“Tuh dia datang, keren juga tuh mobilnya Jessy.” Pekik Nata saat melihat seseorang turun dari mobil Porche berwarna merah.


“Itu mobil hadiah dari mantannya yang orang Jerman kang, setelah putus dia kembali ke negaranya, dan memberikan mobil itu kepada Jessy.”


“Paling males pakai mobil itu, kalau bukan karena akang, aku ga akan pakai deh.” Gerutu Jessy saat tiba-tiba curhat dan duduk di sofa dan bersandar melepaskan lelahnya.


“Ehhh bukannya laporan si borokokok mah, malah ngomel-ngomel ga jelas.” Tegur Nata sambil menghampiri  Jessy dan turut duduk disamping Jessy yang cemberut.


“Apaan sih borokokok ga ngerti, pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar dong.”


“Hihihi sewot nih Gadis Nipon, lagi dapet  yaa ?”


“Bayangin kang, sudah jalanan macet, mobil ceper, harus masuk ke lahan becek, disuitin sama orang-orang ga jelas di jalan. Huh. Bagaimana tidak kesal coba.”


“Minum dulu lah, supaya tenang.” Sabrina membawa tiga botol air mineral dari Show case, lalu dibagikan kepada Jessy dan Nata.


“Makasih yaa bestie.” Jessy segera membuka tutup kemasan air mineral itu dan menegaknya sampai habis. Sesudah itu lalu dia menyerahkan sebuah map berisi data-data aset yang dijual.


“Kang boss yang baik, ini laporan saya. Ada data tanah kosong dan bangunan yang akan dijual, tadi aku sudah nego dengan dua pemilik aset tersebut. Tinggal di eksekusi sama akang, ada catatan nego dari hasil pertemuan tadi pagi, Jessy juga sudah koordinasi dengan Notaris kita untuk jadwal pertemuan balik nama asetnya itu.” Cerocos Jessy seperti kereta api yang panjang.


“Terima kasih yaa Jessy. Sekarang kita makan siang yuk. Tunjuk saja makanan yang kalian suka, yang mahal juga boleh, sebagai balas jasa atas jerih payah kalian dari pagi sampai siang ini.” Jessy lalu memandang wajah Nata, kemudian mulai lunak tersenyum sangat manis.


“Nah gitu dong senyum, jangan seperti Kuchisake-onna, hihihi.”


“Ihhh sialan kamu Sab. hahaha.”


“Parkir dulu mobil kalian sendiri yaa ke basement.”


“Kenapa ga mau pakai mobil kami kang ?” tanya Jessy dan Sabrina.


“Karena mobil kalian ga bisa off road. Apalagi punya kamu Jess, Mobil egois hanya untuk berdua saja. Hehehe.”


“Terus kita naik apa makan diluar ?”


“Banyak taxi online, gitu saja kok repot.”


“OK aku telpon taxi nya deh.”


“Ga usah, taxinya sudah ada di basement kok, nunggu kalian dari tadi.”


“Di basement ?” tanya Jessy dan Sabrina bersamaan.


“Iya. Cepat masukkan dulu mobil kalian, aku mau ngunci pintu kaca ruko nih.”

__ADS_1


“OK siap kang boss.” Jessy dan Sabrina lalu menuju ke halaman parkir ruko itu. Sedangkan Nata menutup dan


mengunci  pintu kaca depan ruko itu, lalu melangkah menuju ke basement. Sesudah itu memasuki mobil double cabin warna hitam yang baru saja dibelinya. Sabrina memperhatikan dari mobil sedan yang sedang dikendarainya itu, demikian juga dengan Jessy yang memarkirkan Porsche Merah itu disamping mobil Merecedes milik Sabrina.


“Mobil siapa kang ?“ tanya Jessy dan Sabrina bersamaan, mereka masih berada di luar mobil saat bertanya, sambil memperhatikan mobil baru itu dengan teliti.


“Mobil kita dong, Ayo naik.” Jawab Nata lalu menyuruh Jessy dan Sabrina untuk naik ke dalam mobil baru itu.


“Kapan belinya ?” tanya Jessy dan Sabrina bersamaan dengan semakin heran.


“Tadi sewaktu kalian pergi keluar.” Nata pun lalu mulai mengemudikan mobil double cabin hitam itu keluar dari basement, lalu turun lagi untuk mengunci rolling door Basement Ruko itu.


“Macam beli combro saja, akan kita itu.”


“Iya tuh.”Jawab Jessy. Sambil memperhatikan interior mobil yang masih terasa harum  pabrik dan sebagian jok masih terbungkus plastik. Nata lalu masuk dan mengemudikan mobil ke arah Bandung selatan.


“Kita mau kemana kang.” tanya Sabrina lalu memperketat safety beltnya. Jessy juga memasang safety belt di jok penumpang belakang.


“Mau makan siang, di tempat off road, hehehe.”


“Issh mentang-mentang mobilnya sudah punya yang bagai amphibi.” Protes Sabrina.


“Iya, belanja ga bilang-bilang juga sama kita.” Tambah Jessy.


“Lha kan kalian sedang aku kasih tugas, aku juga menyelesaikan tugasku sendiri juga dong.”


“Aku jadi curiga nih, pasti yang datang salesnya itu, ceweq cantik.”


“Awas saja kalau macam-macam.” Ancam Sabrina.


“siapa mereka namanya kang ?” tanya Jessy.


“Hmm namanya Yanti  dan satu lagi namanya Soffie.”


“Pasti mereka cantik-cantik tuh Sab.” Jessy semakin menambah panas suasana, padahal dia juga sudah merasa panas hatinya, walaupun AC di dalam mobil itu sudah di atur dengan sangat sejuk.


“OK nanti aku kenalkan kalian kepada mereka deh.”


“Idiih buat apa ? ga mau banget.” Pekik Sabrina tambah kesal.


Lalu kabin didalam mobil itu kini sunyi senyap. Sabrina dan Jessy seakan sedang berpuasa bicara. Nata bukannya tidak peka dengan kondisi tersebut, namun dia ingin tahu sampai sejauh mana Sabrina dan Jessy cemburu. Satu jam kemudian mereka sampai disebuah rumah makan khas Sunda di Ciwidey. Suasana pedesaan sangat terlihat kental di rumah makan itu. Bahkan Nata memesan tempat makan khusus yang terpisah dari gedung utama di rumah makan itu, tempat itu dikelilingi sawah yang sudah menguning padinya. Suara gamelan dari sound system rumah makan itu terdengar begitu pas menyatu dengan alam di pedesaan itu. Nata lalu memesan semua jenis hidangan yang dimasak di rumah makan Sunda itu, untuk mereka bertiga. Mereka duduk lesehan sambil bersandar di dinding bambu, lantai  yang  mereka duduki pun terbuat dari bahan bambu yang dinamakan palupuh awi.


Suasana pedesaan yang  sejuk  dan bukan berasal dari AC itu membuat Nata mulai mengantuk saat menunggu


pesanan makanan datang. Nata sudah mulai tertidur saat ponsel yang diletakan di meja makan lesehan itu berdering. Sabrina tidak bisa membaca nama sang penelepon yang memang belum disimpan oleh Nata itu. Lalu Jessy yang duduk di seberang Nata dengan perlahan menghampiri dan membangunkan Nata.


“Kang, itu ponselnya bunyi.”


“Hmmm dari siapa ?” tanya Nata yang masih belum membuka matanya dengan enggan itu.


“Ga ada namanya tuh.”


“Jawab saja sama kamu deh. Jess.” Jessy pun lalu menekan warna hijau di ponsel milik Nata itu. Lalu menjawab suara diseberang sana. Sabrina yang duduk di sebelah Jessy lalu mendekatkan telingnya untuk memastikan siapa yang sedang berbicara dengan Jessy itu.

__ADS_1


“Hallo selamat siang Pak Nata.”


“Iya selamat siang, maaf dengan siapa ?“ tanya  Jessy.


“Ohhh saya Yanti bu, sales yang tadi mengantarkan mobil untuk Pak Nata. Pak Nata nya ada bu ?”


“Ada tapi sedang istirahat, tidur.” Jawab Jessy dengan sejujurnya.


“Begini bu, tolong sampaikan besok saya akan kembali ke kantornya Pak Nata, untuk memberikan Faktur penjualan dan BPKB mobil yang tadi dibeli oleh Pak Nata.


“Iya nanti saya sampaikan.”


“Baik bu terima kasih, mohon maaf sudah mengganggu waktu istirahatnya.”


“Iya sama-sama.” Lalu Jessy pun menutup pembicaran.


“Dia besok mau datang ke ruko, besok kita jangan kemana-mana dulu sebelum ceweq itu datang. Sab.”  Sabrina pun menggangguk tanda setuju.


Rupanya Sabrina masih penasaran dengan ceweq yang tadi datang ke Ruko itu.


‘Tunggu saja besok akan aku buat ceweq itu tidak bisa berkutik dihadapanku.’ Guman Sabrina didalam hatinya. Nata lalu terbangun saat wangi masakan mulai digelar di atas meja oleh para pelayan rumah makan itu. Indra penciumannya itu langsung  kontak dengan perutnya yang sudah sangat lapar.


“Uhhhggh wangi banget, jangan lupa kita berdo’a dulu.” Ucap Nata lalu mencuci tangan dengan air kobokan di depan mejanya itu. Kedua tangannya lalu meraih tangan Jessy dan Sabrina yang berada di depannya. Sabrina dan Jessy yang awalnya ogah-ogahan akhirnya mau juga digenggam tangannya setelah Nata menatap wajah Sabrina dan Jessy bergantian. Kemudian Nata mengucapkan do’a makan dan mengucapkan rasa syukur atas semua nikmat yang telah diberikan oleh Sang Pencipta alam semesta itu. Jessy dan Sabrina pun mengaminkan atas semua do’a yang tadi diucapkan oleh Nata. Karena sudah lapar sekali,  lalu mereka bertiga menghabiskan semua hidangan lezat yang sudah tertata di atas meja lesehan itu dengan lahapnya. Setelah selesai makan lalu Nata bertanya.


“Tadi  siapa yang menelepon ? aku setengah sadar karena sangat mengantuk.”


“Tadi itu sales yang bernama Yanti, katanya besok akan datang kembali ke Ruko untuk menyerahkan BPKB dan faktur pembelian mobil.”


“Oohhhh terus apa lagi katanya ?”


“Hanya itu saja kang.”


“Kalian suka merasakan suasana alam disini ?” ucap Nata mengalihkan topik pembicaraan.


“hmm biasa aja.” Jawab Sabrina dan Jessy dengan tidak bersemangat saat menjawab pertanyaan dari Nata itu.


“Kalian kenapa sih ? marah yaa ?” tanya Nata.


“Tidak, hanya mengantuk saja seperti akang tadi.” Jawab Sabrina beralasan.


“Ohhh yaa sudah, kalian boleh tiduran disini kalau mau. Aku mau ke mushola dulu yaa, sudah jam satu siang nih, belum sholat dzuhur.”


“Aku ikut.” Rengek Sabrina.


“Aku juga kang. ikut.“


“Katanya ngantuk.”


“Kalau ga boleh, yaa ga apa-apa deh.”


“Boleh kok Sabrina dan Jessy ku sayang, aku ga pernah bilang tidak boleh kok untuk kalian.Yuk.” Nata lalu bangkit dan mengulurkan kedua tangannya, disambutlah tangan itu oleh Jessy dan Sabrina.


Senyuman Nata itu mampu memancing senyuman dari Jessy  dan Sabrina yang membalas senyumannya. Kemudian mereka mengambil air wudhu dan sholat berjamah di mushola, Jessy dan Sabrina pun meminjam mukena yang tersedia di mushola itu. Para mengunjung  rumah makan yang baru saja selesai  sholat terheran heran saat melihat Jessy dan Sabrina ternyata muslimah juga. Mereka lalu tersenyum dengan ramah saat Jessy dan Sabrina berpamitan minta ijin untuk melaksanakan sholat Dzuhur di Mushola itu. Mereka yang pada awalnya sangat heran melihat seorang gadis bule dan seorang yang berwajah oriental dan mata sipit ikut beribadah di mushola itu.

__ADS_1


__ADS_2