
Pukul tiga Sore Nata bersama Jessy dan Sabrina sudah kembali ke Ruko yang dijadikan sebagai rumah tinggal sekaligus Kantor sementara mereka.
“uuuhhh gerah banget, kalau mandi enak nih, bakalan seger badan.” Ucap Jessy saat turun dari Mobilnya Nata itu.
“Aku juga pengen mandi, bareng yaa bestie.”
“OK Sab.”
“Aku ga diajak nih ?” Tanya Nata sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Boleh kalau mau barengan, hihihi.” Jawab Jessy dan Sabrina sambil terkekeh.
“Asik mandi bareng istriku yang cantik-cantik.” Ucap Nata yang kini menaiki lift menuju ke lantai tiga bersama istrinya.
“Ehh Jess lucu juga tadi Lusi sewaktu memanggil Chalie Papa. hehehe.”
“Iya nanti kalau punya anak akang mau dipanggil apa ?”
“Panggil Abah saja, supaya anak kita tahu bahwa bapaknya orang Sunda, Titasik. Hehehe.”
“Wow keren, kalau sebutannya ibu apa tuh yang senada dengan Abah ?”
“Ambu, kalian adalah Ambu dari selusin anakku nanti dari Sabrina enam dari Jessy enam.”
“Waduh banyak, semoga kita mampu dan diberi rizky anak yang banyak yaa bestie.”
“Aamiin, iya Sab. semoga rahim kita kuat dan bisa memberikan anak yang banyak untuk akang kita.”
“Yuk bikin anak di whirpool.” Ajak Nata lalu mulai melucuti bajunya.
“Akang sama Jessy dulu yaa, lututku masih terasa lemas waktu tadi pagi pulang dari Tasik.”
“Ohh ok deh, tapi mandinya tetap bareng kan ?”
“Iya dong, selanjutnya terserah kalian berdua, hehehe.”
“Thanks yaa bestie, kamu pengertian banget.”
“Anywhere, bukan karena pengertian tapi memang lututku sedang gempor Jess. Hihihi.”
“Yaa sudah nanti sambil dipijat di dalam whirpool deh.” Ucap Nata, sambil membantu membuka seluruh pakaian kedua istrinya itu. Lalu kedua tubuh indah istrinya Nata yang sudah polos itu kini dibalut oleh bath rope di dalam kamarnya. Sedangkan Nata menggunakan handuk untuk membalut pinggangnya itu. Merekapun masuk ke dalam ruangan yang sudah dimodifikasi oleh Nata menjadi sebuah kamar mandi besar yang berisi whirpool dan sauna.
Sabrina dan Jessy mulai meloloskan bath rope miliknya di gantungkan pada hanger yang berada di ruangan itu, Nata juga demikian, kemudian mereka masuk kedalam whirpool yang berbentuk oval itu.
“Mau pakai air hangat atau air dingin ?" tanya Nata.
“Air dingin saja kang, supaya segar.” Jawab Jessy.
__ADS_1
“Benar kang, kalau pakai air hangat malah tambah gerah.” Sabrina pun tersenyum sambil membelai sepasang gunung kembar miliknya yang putih mulus kenyal padat berisi itu dengan mata terpejam dan bersandar pada dinding whirpool tersebut. Sedangkan Jessy dan Nata saling bertatapan mata, lalu bagai magnet tubuh keduanya kini saling merapat dan saling membelai. Lenguhan Jessy mulai terdengar lirih, Sabrina hanya tersenyum saat mendengar lenguhan dari Jessy itu tanpa sedikitpun membuka matanya. Bunyi kecipak air dan ombak didalam whirpool itu semakin terasa saat Jessy mulai menaiki tubuhnya Nata, memeluk tubuhnya Nata dan mengerang semakin keras, tanpa memperdulikan Sabrina yang memang sedang menikmati pijatan air yang segar dan dingin didalam whirpool tersebut. Memang selalu begitu jika Jessy sedang memadu kasih, selalu berisik dan histeris. Lebih heboh daripada suara lenguhan Sabrina. Nata lalu membungkam mulut Jessy itu dengan ******* bibirnya. Kini hanya terasa ombak dan getaran yang lebih dasyat didalam whirpool itu.
Diam-diam Sabrina merasa terpancing libidonya saat tadi mendengar suaranya Jessy itu. Sabrina mulai membuka kedua kelopak matanya, bola matanya yang biru itu kini melihat Jessy yang sedang sangat menikmati gerakan tubuhnya yang langsing namun gemulai itu. Dilihatnya kedua tangan Jessy semakin erat memeluk Nata, akhirnya
Jessy kepala terkulai di bahunya Nata, dengan napas masih memburu. Rupanya Bestienya itu sudah mencapai puncaknya, namun Nata nampaknya belum. Karena Sabrina masih merasakan ombak dari tubuhnya Nata yang masih bergerak dibawah himpitan tubuhnya Jessy. Dengan perlahan Sabrina menggeser tubuhnya untuk mendekati Nata yang masih terhimpit tubuh Jessy, Sabrina mulai membelai halus lengannya Nata. Nata pun mulai menolehkan kepalanya memandang Sabrina.
“Hmmm kamu mau juga Sab ? tadi kamu bilang masih gempor lututnya. Hehehe.” Kekeh Nata seakan tahu apa yang sedang diinginkan istrinya itu.
“Iya tapi akang yang diatas, Boleh ga Jessy ?” Tanya Sabrina yang juga sedang menatapnya lemas.
“Hehehe boleh dong, bestie ku sayang, aku juga mau istirahat dulu sebentar.” Jawab Jessy lalu turun dari tubuhnya Nata. Nata kemudian merapatkan tubuhnya kepada Sabrina, tatapan mata sayu dari kedua bola mata birunya Sabrina itu seakan ikut berbicara agar Nata tidak membuang-buang waktu untuk segera bergantian mencumbu Sabrina. Kini Nata dan Sabrina duduk berhadapan, tubuh Sabrina masih bersandar pada dinding whirpool itu, Sabrina lalu memejamkan matanya, namun kedua belah tangannya membantu Nata untuk lebih merapat ke tubuhnya.
“Uuhhhhggg kang cepat lakukan,” Rengek Sabrina.
Nata pun lalu ******* dan mulai masuk kedalam tubuhnya Sabrina. Membuat Sabrina terpekik senang, diapun segera menyambut gerakannya Nata dengan sangat lembut dan penuh perasaan.
“I Love you hunny.”
“I love you to much much much.” Jawab Nata lalu kembali mengulum bibir tipisnya Sabrina itu dengan gemasnya.
Jessy malah turun dari whirpool itu, lalu dengan beralaskan bath rope miliknya dia merebahkan diri dan masuk ke dalam bilik sauna kemudian tiduran di lantai kayu sauna. Beberapa saat kemudian Nata dan Sabrina mulai mandi, membilas tubuhnya di bawah guyuran air shower.
“Jessy kemana Sab ?”
“Entahlah, mungkin sudah masuk ke kamarnya.”
“Sudahlah sana, akang duluan ke Mushola, biar aku yang mencarinya.” Jawab Sabrina lalu melanjutkan mandi dan mengambil air wudhu. Setelah itu Sabrina memerika seluruh sudut ruangan itu, termasuk bilik sauna. Ternyata Jessy memang sedang ketiduran disana.
“Hei Bestie bangun, aku kira kamu sudah ke kamar.”
“Ohhh maaf aku ketiduran, bestie.” Jawab Jessy.
“Ayo kamu mandi dulu, aku sih sudah mandi junub tadi.” Ucap Sabrina.
“Iya, kamu duluan saja Sab, bilang kepada Kang Nata nanti aku menyusul.” Jawab Jessy lalu melangkah menuju ke shower untuk mandi.” Setelah Jessy selesai mandi, dia segera menyusul Nata dan Sabrina yang sudah menunggunya di Mushola.
“Maaf kang saya ketiduran tadi di sauna.” Ucap Jessy. Lalu segera mengenakan mukenanya dibantu oleh Sabrina.
“Iya tidak apa-apa Jess.”
Mereka lalu sholat Ashar berjamaah di ruangan mushola itu. Setelah selesai Sholat Nata berkata kepada kedua istrinya.
“Kita lupa tidak makan siang yaa ?”
“Hehehe iya malah kenyang di whir pool.” Jawab Jessy dan Sabrina sambil tersipu malu.
“Yaa sudah, kalian tidak perlu memasak, beli makanan siap santap saja.”
__ADS_1
“OK Kang boss.” Jawab Jessy dan Sabrina serempak.
Jessy lalu mencari ponselnya, setelah ditemukan dia lalu memesan makanan secara online. Dengan masih mengenakan mukena mereka turun menuju ke lantai satu dan menunggu di ruang tamu. Nata juga masih mengenakan kain sarungnya, sambil membaca beberapa notifikasi dari Ponselnya.
“Sab, kapan teh Putri ngasih tahu progres acara Lounching dan Syukuran pernikahan kita ?” Tanya Nata.
“Ini aku baru saja membacanya kang, aku share ke grup keluarga kita yaa.” Jawab Sabrina.
“Alhamdulillah, jadi mereka sekarang sedang di Kantor Pusat dan mulai mendekor gedung ?”
“Iya kang, sebentar lagi juga akan datang utusannya teh Putri membawakan baju pengantinnya kemari.” Jessy kini yang memberikan keterangan kepada Nata.
“Ok masih ada waktu tiga hari menuju hari yang ditetapkan, besok jangan lupa untuk mengundang beberapa orang kepala cabang bank milik kita juga beberapa jajaran staf juga direksinya. Kita tugaskan Charlie untuk menyiapkan ruangan rapatnya.”
“OK kang siap.” Jawab Sabrina.
“Kalau begitu kita harus berganti baju, karena sebentar lagi kita akan kedatangan tamu utusannya teh Putri sebagai WO + EO kita kang.”
“Iya, tolong bawakan saja baju dan celanaku kemari, aku mau ganti baju diruang kerjaku saja tidak perlu baju resmi, yang casual saja sayang.”
“Iya baik akangku sayang.” Jawab Jessy dan Sabrina. Lalu Jessy dan Sabrina naik ke lantai tiga dengan menggunakan lift.
Pada saat bersamaan seorang kurir membunyikan bell ruko itu. Nata segera menghampirinya setelah mengecek siapa yang datang dari layar CCTV ruko tersebut.
“Selamat Sore pak, ijin menyampaikan pesanan barangnya.”
“Ohh iya silahkan, bisa minta tolong diletakkan di meja makan.” Pinta Nata sambil menunjuk ke arah meja makan, Nata lalu masuk ke ruang kerjanya untuk mengambil beberapa lembar uang dari laci meja kerjanya.
“Sudah saya letakkan di meja makan Pak, saya mohon ijin pamit.” Ucap Kurir itu dengan sangat sopan.
“Tunggu dulu, ini sebagai ucapan terima kasih kami, tolong diterima yaa.” Ucap Nata lalu memberikan beberapa lembar uang berwarna biru kepada sang kurir itu.
“Waduh terima kasih, banyak sekali ini pak.”
“Tidak apa-apa, hati-hati di jalan yaa.” Ucap Nata lalu mengantarkan kurirnya sampai depan pintu ruko itu. Nata lalu melihat kesibukan dari Pondok Kopi Surabinya Mang Engkus. Terlihat Erna dan Emaknya Erna menganggukkan kepalanya kepada Nata. Nata lalu melambaikan tangannya dan tersenyum kepada kedua orang yang sedang sibuk berjualan tersebut. Jessy dan Sabrina terlihat keluar dari lift dan menghampiri Nata.
“Kang makanannya sudah siap nih.” Ucap Sabrina.
“Iya mari kita makan bareng, ehhh nanti kamu ajak Keluarganya Mang Engkus juga dalam acara kita nanti. Terus Erna dan kakaknya kita jadikan pager bagus dan pager ayu.” Saran Nata.
“OK baik, nanti akan aku kasih tahu Ernanya kang.” Jawab Jessy.
“Hmm kalau, sales mobil yang cantik itu boleh kami hubungi juga kang ?” Tanya Sabrina.
“Hahaha, boleh-boleh, biar dia broken heart yaa ?”
“No, i hope she never broken heart because she is gold digger. Hahaha.” Nata dan Jessy pun turut tertawa saat Sabrina mengatakan hal itu.
__ADS_1