Tangguh

Tangguh
Bab 50 Perundingan atas kesalah pahaman.


__ADS_3

“Pak Haji, bolehkah saya minta bantuannya lagi ?” Tanya Nata.


“Pak Nata tidak perlu sungkan kalau meminta bantuan saya, apa sih yang sekarang dipikirkan ? dari satu jam tadi kok mukanya jadi kusut begini ?”


“Maaf Pak Haji, ini karena saya sedang dalam keadaan kalut dan bingung.” Jawab Nata, lalu Nata menceritakan kisah hidupnya secara singkat kepada Pak H. Mumuh di masjid tempat tadi mereka sholat dzuhur.


Saat jemaah masjid yang lain sudah keluar dari masjid, namun Nata masih bersama Pak H. Mumuh di dalam masjid itu. Di barisan paling belakang masjid itu nampak Sabrina dan Jessy yang sedang mengobrol juga dengan istrinya Pak Haji Mumuh. Sabrina dan Jessy terlihat sangat akrab ngobrol dengan Bu Hajah itu.


“Baiklah Pak Nata, saya paham, kita hadapi bersama pengacara dari almarhum Ayah dan Ibumu itu.” Ucap Pak H. Mumuh dengan suara yang lembut dan penuh dengan percaya diri, mencerminkan bahwa Sang Notaris senior itu sangat bijaksana dan siap membantu Nata untuk memecahkan persoalan yang kini sedang dihadapi oleh Nata.


“Pak Haji, sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena Pak Haji bersedia membantu saya, mari sekarang kita ke bawah ke ruangan kerja kami, disana kita bisa ngobrol sambil menunggu tamu yang akan data dari Tasikmalaya.” Ajak Nata kepada Pak H. Mumuh, Nata juga mengajak kedua istrinya yang baru selesai merapihkan makeup ditemani oleh istrinya Pak H. Mumuh. Setelah mereka turun ke lantai empat dengan menggunakan lift, Pak H. Mumuh dan istrinya disuguhi dengan pemandangan yang sangat indah, artistik, sangat nyaman, desain interior di lantai empat itu terasa sekali sentuhan tradisionalnya, namun digabungkan dengan teknologi yang modern. Dinding di lantai empat itu menyerupai susunan bambu kuning yang berjajar rapi menjadi pot dari beberapa tanaman hias, cahaya lampu LED yang ada disetiap titik membuat suasana seperti bagai siang hari, namun didalam ruangan di semua lantai itu terasa sangat sejuk, bagai menghirup udara di pengunungan.


“Bikin betah nih kantor, bagus desain interiornya.” Puji Pak H. Mumuh saat memandang ke sekeliling ruang tunggu di kantornya Nata itu.


“Kalau pak Haji berkenan, kami sudah menyiapkan juga ruang kerja untuk Pak Haji, di sebelah ruangan saya ini.” Ucap Nata sambil menunjuk ke sebuah pintu ruangan.


“Iya benar, pak Haji kan sudah menjadi ketua dewan penasehat hukum kami. Kapan saja Pak Haji boleh kemari, ruangan sudah kami siapkan untuk Pak Haji, tidak akan kami pakai untuk orang lain, khusus hanya untuk Dewan penasehat saja.” Ucap Sabrina.


“Waduh saya menjadi sangat tersanjung mendenganya. Boleh saya saja istri saya kesana ?”


“Silahkan Pak Haji.” Jawab Nata lalu mengantar pak Haji menuju ke ruangannya.


“Tapi sebelum pak Haji masuk ke ruangan ini,  pindai dulu sidik jarinya, jempol kiri atau kanan nanti yang akan jadi kunci masuk ke ruangan ini.” Ucap Jessy lalu mengarahkan Pak H. Mumuh untuk memindai sidik jari jempol kiri dan kanannya.


“Wah canggih sekali pengamanannya.” Puji Pak Haji Mumuh lalu bersama istrinya masuk ke dalam ruangan yang sangat bernuansa literasi. Karena disekeliling dinding itu berderet buku-buku tentang Hukum dan Kenotariatan. Sangat cocok sekali bagi Pak H. Mumuh yang berprofesi sebagis Notaris itu.


“Wah ini sih seperti disuruh kembali meneruskan jenjang studi ke S3, hehehe.”


“Iya Pak lengkap sekali semua bukunya, ruangannya juga sangat nyaman dan luas.” tambah Bu H. Mumuh istrinya sang Notaris senior itu. Lalu mereka duduk di kursi Sofa empuk di ruang kerja dewan penasehat hukum itu. Nata beserta Jessy dan Sabrina juga turut duduk di ruangan itu. Jessy dan Sabrina sudah dua kali berganti baju, namun tetap mengenakan baju pengantin seperti juga dengan Nata. Ponsel milik Nata lalu berdering, Nata segera menjawab panggilan telepon dari Charlie yang masih berada di Gedung Kantor Pusat Bank NSP itu.


“Assalamualaikum kang.”


“Waalaikumsalam, bagaimana Charlie ?”


“Ini ada tamu dua orang dari Tasikmalaya katanya mau menemui kang Boss.”


“Antarkan saja ke ruang kerja saya di lantai empat.”


“Siap Kang Boss.” Jawab Charlie lalu menutup teleponnya.


“Mereka sudah datang kang ?” Tanya Sabrina dan Jessy.


“Iya tuh ada dua orang, akang perintahkan Charlie untuk mengatarnya ke ruang kerja kita, tepatnya di ruang meeting.”


“Cepat juga dari Tasikmalaya sampai ke Bandung.” Komentar Jessy.


“Kantor dan rumah mereka di Bandung juga, bukan di Tasikmalaya.” Jawab Nata.


“Siapa namanya ? Mungkin saya kenal.” Tanya Pak H. Mumuh.


“Namanya Agus Syarifudin SH.” Jawab Nata.


“Ohh dia, baiklah kita hadapi, bu tunggu disini yaa. Aku sama Pak Nata akan menemui mereka.” Ucap Pak Haji kepada istrinya.


“Bapak kenal sama dia ?” tanya Istrinya itu.

__ADS_1


“Kenal dekat sih tidak, tapi hanya tahu saja waktu kumpul dengan Asosiasi Advokad Indonesia di Bandung.”


“Tenang saja bu, saya temani Bu Hajjah disini dengan Jessy.” Ucap Sabrina.


Nata dan Pak H. Mumuh lalu masuk ke ruangan Kerjanya Nata, disebelah ruang kerjanya Nata itu ada tempat rapat kecil untuk dijadikan tempat meeting bagi para staf maupun Direksi yang berada di Kantor Pusat Bank NSP itu.


Tok, Tok,  Tok Suara pintu yang terbuka itu terdengar diketuk oleh Charlie.


“Masuk.” Ucap Nata dengan lantang.


Charlie lalu masuk dan duduk di kursi sebelahnya Nata, terlebih dahulu mengangguk hormat kepada Pak H. Mumuh.


“Silahkan duduk, mau minum apa ?” Tanya Nata kepada dua orang tamunya itu.


“Maaf tidak perlu repot-repot, kami hanya ingin menyampaikan amanah dari Almarhum Orang Tua Kang Nata.”


“Kalau mau menyampaikan amanah silahkan melalui Penasehat hukum saya yang ada


disebelah kanan saya ini.” Ucap Nata.


“Oh Pak Haji Penasehat Hukumnya Kang Nata ?” Tanya Agus dengan sikap herannya itu.


“Benar Gus, apa kabar ?” Tanya Pak H. Mumuh.


“Alhamdulillah, baik Pak Haji, bagaimana dengan pak Haji ?”


“Alhamdulillah seperti yang sedang anda lihat sekarang. Silahkan sampaikan amanat apa saja yang akan dibicarakan saat ini."


“Baik Pak Haji, Saya kemari berdua dengan rekan satu profesi saya, kenalkan ini kang Wawan, lalu maksud kedatangan kami selain menyampaikan amanah, kami juga mengucapkan selamat atas sudah menikahnya Kang Nata yang sebenarnya itu adalah klien kami juga.”


“Iya terima kasih Kang Agus.” Jawab Nata lalu menjabat tangannya Agus dan Wawan, diikuti oleh Pak H. Mumuh dan Charlie yang masih berada di ruangan itu. Nata lalu mengedipkan sebelah matanya kepada Charlie yang langsung paham dengan situasi yang sedang berlangsung di ruang meeting itu.


“Vi må lære arrogante advokater som dette en lekse, så vi ikke gir opp.” Ucap Nata dengan bahasa Norwegia yang dimengerti oleh Sabrina yang juga paham berbagai bahasa.


“Hvorfor snakker du slik?” Tanya Sabrina.


“Så de vet ikke alt vi snakker om.” Jawab Nata.


“ohh, hehehe.” Kekeh Sabrina, lalu Nata masuk lagi kedalam ruang meeting itu.


“Charlie, bagaimana tamunya sudah mulai berunding  dengan kang Nata ?”


“Iya mereka sedang ngobrol serius, aku mau menyuruh seseorang untuk menyiapkan minuman dan makanan ringan untuk mereka, buka saja CCTV kan bisa dilihat dari ponsel. Kang Nata barusan ngomong apasih ?”


“Ada deh, jangan kepo yaa, BTW terima kasih yaa Charlie.” Jawab Sabrina lalu kembali masuk ke ruangan dewan penasehat untuk kembali bergabung dengan Jessy dan istrinya Pak H. Mumuh itu.


“Sama-sama.”


Jawab Charlie lalu turun ke lantai satu. Disana Charlie lalu memerintahkan dua orang OB untuk membuatkan dan menyerahkan minuman serta makanan kecil untuk tamunya Boss besar mereka itu. Nampak puluhan orang petugas katering juga petugas yang mendekor, mulai membongkar seluruh peralatan yang sudah selesai


dipakai.


Kembali ke ruangan meeting Nata yang ditemani oleh Pak H. Mumuh yang sedang berunding dengan Agus Syarifudin dan Wawan yang merupakan pengacara dari Almarhum Ayah dan Ibunya Nata itu kini mulai mencair, tidak lagi tegang seperti awal mereka datang ke kantornya Nata.


“Ohh jadi karena itu juga Pak Nata datang ke Bandung, karena tidak mau dinikahkan secara paksa dengan gadis pilihan dari keluarga Almarhum.”

__ADS_1


“Iya benar Pak Haji. Karena saya tidak mencintai gadis pilihan yang disodorkan oleh keluarga saya itu.” Jawab Nata.


“Tapi karena sekarang kang Nata sudah menikah, yang merupakan salah satu syarat dari Almarhum Ayah dan Ibunya Kang Nata, kami berdua harus segera menyampaikan kembali surat wasiat dari mereka, yang merupakan amanah yang harus segera kami sampaikan.” Ucap Agus menerangkan, lalu memberikan sebuah map yang dikeluarkan dari kantong yang dibawa oleh Agus itu.


“Ohh jadi Pak Nata itu boleh menerima semua harta warisan dari Almarhum Ayah dan ibunya dengan syarat harus sudah menikah ?” Tanya Pak H. Mumuh sesudah membaca dengan sangat seksama atas surat wasiat dari Almarhum kedua orang tuanya Nata itu.


“Benar sekali begitu Pak Haji.” Jawab Agus.


“Baiklah kita segera luruskan, saya akan bantu dan kita akan segera mengurus pengalihan aset atas nama Almarhum dari Ayah dan Ibunya Nata itu. Rupanya ini hanya salah paham saja, maaf yaa Pak Nata saya mencoba meluruskan duduk persoalannya.”


“Silahkan Pak Haji.” Jawab Nata, sedangkan Agus dan Wawan juga kini mendengarkan dan menyimak semua penuturan dari Pak H. Mumuh dengan penuh seksama.


“Jadi sebenarnya maksud dari Pak Agus ini baik, untuk mencarikan pendamping hidup lebih cepat bagimu, namun rupanya kalian tidak berkoordinasi terlebih dahulu, sehingga Pak Nata ini menjadi tersinggung dan tidak mau dipaksa untuk menikah dengan gadis yang tidak dicintainya, apa benar begitu ?”


“Hehe, iya Pak Haji.” Ucap Nata diiringi anggukan kepala dari Agus dan Wawan yang duduk disebelahnya itu.


“Sekarang panggil kedua istrimu itu kemari, kenalkan kepada dua pengacara dari pihak Almarhum dari Ayah dan Ibu mu itu.”


“Baik Pak Haji.” Jawab Nata, lalu mengeluarkan ponselnya untuk memanggil kedua istrinya itu.


“Yaa kang ? Bagaimana ?” Tanya Jessy yang bersuara merdu itu.


“Kalian semua kemari, ajak juga Bu Hajah.”


“OK kang siap.” Jawab Jessy lalu menutup teleponnya.


Tak lama kemudian Jessy dan Sabrina masuk dengan Istrinya Pak Haji Mumuh itu kedalam ruang meeting. Jessy, Sabrina dan Bu Hajah lalu bersalaman memperkenalkan dirinya masing-masing.


“Wah Pantas saja Kang Nata tidak mau dijodohkan sama gadis lain, ternyata istrinya cantik sekali, dua orang pula. Hehehe.” Ucap Agus saat sudah duduk kembali di kursi itu.Semua orang didalam ruang meeting itu pun kini tertawa mendengar celoteh dari Agus sang pengacara dari Almarhum Ayah dan Ibunya Nata itu.


“Mohon ijin, ini minumannya pak.” Ucap seorang OB yang ditemani oleh kawannya yang membawa makanan dan minuman kedalam ruang meeting itu.


“Iya terima kasih yaa. Ayo silahkan diminum kopi dan kuenya.” Ucap Nata mempersilahkan semua tamunya untuk minum kopi dan mencicipi semua kue yang dibawa oleh dua orang OB itu.


“Sabrina dan Jessy kami akan menceritakan semuanya kepada kalian.” Ucap Nata.


“Maaf tidak perlu, kami sudah melihat dan mendengarkan semuanya dari layar CCTV kok, hehehe.” Potong Sabrina.


“Nah Kang Agus dan Kang Wawan, kalian berdua dengar sendiri, ternyata selain cantik kedua istriku ini sangat cerdas dan pintar.”


“Kami percaya, Kang Nata tidak salah pilih kok, hanya salah paham saja dengan kami. Hehehe.”


“Iya, saya mewakili kedua istri saya, secara pribadi saya mohon maaf atas kesalah pahaman itu, sekaligus berterima kasih atas bantuan dari Kang Agus dan Kang Wawan.”


“Sama-sama Kang Nata. Kami juga mau undur diri, karena masih ada pekerjaan lain. Insya Allah kita akan bertemu lagi dilain waktu.” Agus dan Wawan lalu berpamitan, mereka meninggalkan Gedung Kantor Pusat Bank NSP tersebut dengan perasaan yang lega, karena sudah berhasil menyelesaikan tugasnya.


“Pak Nata ini semua tanah warisan dari dari Almarhum Ayah dan Ibumu ?” Tanya Pak Haji Mumuh.


“Iya kenapa Pak ?”


“Luas sekali, apalagi yang di tepi pantai ini.”


“Tepi pantai ?” Tanya Jessy dan Sabrina.


“Iya yang letaknya di Pantai Cipatujah Tasikmalaya.” Ucap Pak H. Mumuh.

__ADS_1


“Akang !” Pekik Sabrina dan Jessy bersamaan. Nata hanya nyengir saja saat kedua


istrinya kini sedang melotot tajam kearahnya.


__ADS_2