Tangguh

Tangguh
Bab 11 Sama-sama terkejut.


__ADS_3

“Terima kasih atas semua bantuannya Pak Haji. Besok atau lusa kami akan segera kembali untuk menyelesaikan semua persyaratan itu.” ucap Nata. Lalu mereka berpamintan saat menjelang jam makan siang. Nata bertiga dengan Sabrina dan Jessy sebelum menuju ke tempat masing-masing, mereka makan siang dulu di sebuah fast food. Setelah selesai makan siang Jessy pun diantar ke sebuah komplek pertokoan di wilayah Bandung Timur. Mereka berjanji bahwa nanti sore akang kembali bertemu di Ruko setelah menyelesaikan untuk membereskan semua perabotan dan perlengkapan yang akan dibawa ke Ruko nanti.


“Yakin Jessy tidak butuh bantuan ku Sab ?” tanya Nata saat mereka tinggal berdua didalam mobil sedan mercedes keluaran terbaru itu.


“Tenang saja kang, Jessy sudah biasa melakukkannya sendiri kok. Tidak perlu khawatir tentang itu.” Sabrina menjawab untuk menenangkan Nata yang nampak sangat khawatir terhadap Gadis cantik keturunan Jepang itu.


Lalu Nata dan Sabrina pun sampai ke unit apartemen. Sabrina mulai membereskan beberapa baju dan peralatan penting, kemudian  dimasukkan ke dalam traverler bagnya, demikian juga Nata mulai memasukkan pakaian yang memang baru sedikit, kemudian dimasukkan kedalam ransel yang baru dibelinya. Kini ruangan unit kamarnya Nata sudah kembali lenggang, seperti awal dia masuk ke unit kamar apartemen itu tiga hari yang lalu. Unit kamar apartemen yang merupakan jembatan atas perkenalan pertama dia dengan Sabrina dan Jessy. Nata pun lalu tersenyum sendiri saat mengingat perkenalan singkat mereka itu. kemudian dia mengunci unit apartemen itu. Kunci dan kartu akses yang akan dikembalikan kepada Sabrina, sang pemilik dan pengelola jasa penyewaan apartement itu. Dengan langkah perlahan Nata mulai melangkah menuju unit kamar milik Sabrina itu. Lalu mengetuk pintunya.


”Wait a minute please.” Pekik Sabrina dari dalam kamar.


“All right i will waiting here.” Jawab Nata. Dua menit kemudian Sabrina sudah membuka pintu dan terlihat akan mengeluarkan dua buah traveler bagnya dari unit apartemen itu.


“Kita mau langsung ke Ruko ?” tanya Sabrina.


“Iya dong, memangnya kamu berniat untuk kemana dulu ?”


“Silahkan masuk kemari sebentar kang.”


“OK.” Lalu dengan tanpa curiga apapun Nata memasuki unit kamar apartemen milik Sabrina itu, yang baru saja dia lihat selama ini. Ternyata sangat rapi dan bersih. Meskipun banyak pernak pernik perabotan dan asesoris di unit miliknya itu, ternyata Sabrina sangat pandai menata ruangan demi ruangan apartemennya itu.


“Wow sangat rapi dan bersih, mencerminkan pribadi dari penghuni kamarnya nih.” Puji Nata.


”Haha, kan supaya betah didalam unit apartemen.” Tiba-tiba Sabrina memeluk dengan erat tubuh Nata. Lalu menangis tersedu-sedu didadanya Nata.


”Its everything gone be ok ? ada apa Sabrina ?”


“Aku akui secara pribadi aku lebih rapuh dari  pada Jessy kang. Jessy mungkin lebih kuat dan lebih bisa menyembunyikan perasaannya dibandingkan denganku. Aku sangat bahagia mengenal mu kang. please dont leave me.”


“Sab, tidak ada niat sedikitpun meninggalkanmu, bagiku pribadi kalian itu sangat unik, karakter kalian itu sulit aku cari pembandingnya, kalian sangat saling melengkapi satu sama lain.” Nata pun mulai membelai rambut merah Sabrina yang tebal dan panjang itu, rambut yang diikat ekor kuda. Nata pun mulai mengusap air mata yang jatuh dari kelopak mata Sabrina di pipi yang merah merona itu.


“Are you really love me ?”


“Sure, of course. Dont be confusius about thats.”


“Thanks babe.” Lalu Sabrina mencium dengan lembut bibirnya Nata itu. Nata pun membalas ciuman itu dengan penuh kasih sayang, bukan nafsu yang muncul dari benaknya saat ini. Lalu Nata mulai mengendurkan pelukannya.


“Kita jangan sampai keduluan Jessy datang ke ruko kita itu sayang, serius aku tidak ingin dia menunggu kita, lalu bekerja sendiri menurunkan barang-barang bawaanya.” Nata pun mengingatkan Sabrina.


“Iya maaf kang, aku terbawa suasana, mari kita pergi sekarang.”


“Ini kartu akses dan kunci unit apartemen ku.”


“OK kang, nanti akan aku berikan kartu akses baru untuk mu, akang boleh kapan saya sesuka hati akang datang kemari. Aku anggap ini juga milik akang sekarang, milik kita bersama.”


“Baiklah, ayo kita berangkat sekarang. Ini aku bawa satu traveler bagmu itu.”


“Terima kasih kang. Muach.” Ucap Sabrina lalu mengecup pipi Nata dengan lembutnya.

__ADS_1


”Sama-sama sayang.”


Kemudian mereka bergegas menuju ke basement apartemen itu dengan menggunakan lift selama di dalam lift Sabrina terus menatap tajam Nata. Nata pun menjadi salah tingkah saat ditatap seperti itu. Tatapan Sabrina sangat jelas sekali sesuai dengan ucapannya, sinar matanya yang berbola mata biru itu nampak sangat teduh dan meneduhkan hati Nata, menunjukkan rasa sayang dan cinta terhadap Nata. Tatapan itu terganggu saat pintu lift mulai terbuka, merekapun lalu keluar dari lift menuju mobil sedan itu terparkir di basement. Nata lalu memasukkan dua buah travel bag itu ke dalam bagasi mobil. Sedangkan ranselnya di simpan di atas jok belakang penumpang, karena sudah tidak muat lagi untuk masuk kedalam bagasi mobil sedan itu. Sepanjang jalanan menuju ke Ruko Sabrina diam membisu namun tetap menatap wajah Nata yang sedang fokus menyetir mobil itu. Sampai lah mereka dalam beberapa menit kemudian di Ruko itu. Nata lalu membuka rolling door garasi basement ruko, juga membuka pintu kedua setelah rolling door itu. Kemudian memasuki basement yang bisa menampung enam unit mobil sekaligus di dalam garasi basement Ruko itu. Nata lalu menutup kembali


rolling door garasi basement itu. Kemudian menghampiri Sabrina yang nampak sedang melamun dan masih duduk di jok penumpang depan.


“Kenapa lagi Sabrina ? ayo segera turun kita bereskan semua barang-barang yang kamu bawa itu ke kamar kita di lantai tiga.”


“Kang, kapan kita menikah ?” Nata lalu mengajak Sabrina turun, membantu melepaskan Seat belt yang masih melilit di tubuh Sabrina itu. Kini Nata yang memeluk dengan erat tubuh Gadis cantik bule jankung itu, tinggi mereka memang sebanding. Kemudian Nata mengecup bibir yang merah merona itu. Sabrina segera membalas


dengan lumatannya yang buas, namun Nata mampu mengontrol dirinya agar tidak terhanyut.


“Sabrina sayang, secepatnya kita akan menikah, setelah urusan pendirian perusahan kita selesai. Tagih segera janjiku, ingatkan segera aku, jika aku melupakannya.”


“Terima kasih kang, akang sangat baik kepada ku juga kepada Jessy yang sudah aku anggap seperti saudara kandung sendiri.”


“Iya jangan terlalu banyak melamun, aku akan selalu berada disampingmu Sab.” Kemudian seolah mendapatkan tenaga baru, kini Sabrina membantu menurunkan traveler bag itu dari dalam bagasi mobil. Kemudian dia melangkah mendahului Nata yang sedang menurunkan ranselnya. Nata pun segera menyusul langkahnya Sabrina menuju ke ruangan toko di lantai satu. Sambil menunggu kedatangan Jessy mereka menyediakan makanan dan minuman. Sabrina lalu mengeluarkan peralatan dapurnya. Setelah adonan selesai dibuatnya.


“Wahh kamu mau buat wafel pancake ?”


“Benar kang, tepat sekali tebakanmu. Tempo hari aku pernah berjanji untuk membuat wafel pancake ini khusus untuk akang. Semua bahan sudah kami beli kemarin di toserba.”


“Adonan buatanmu saja sudah wangi, apalagi nanti kalau sudah matang.”


“Iya diistirahatkan dulu sebentar agar adonannya mengembang. Akang mau isian apa ? coklat atau keju ?”


“Aku lebih suka keju sayang.”


Saat mereka sedang di dapur, terdengar suara klakson mobil terparkir di halaman parkir ruko itu. Nata segera menghampiri, dia melihat sebuah truck kontainer terparkir melintang menutupi seluruh lahan parkir di depan ruko itu. Lebih terkejut lagi saat seseorang yang dikenalnya turun dari kabin pengemudi dan menghampiri pitu kaca ruko itu.


“Jessy ?” guman Nata dengan tidak percaya.


“Kang buka dong pintunya !” Pekik Jessy yang minta dibukakan pintu ruko itu.


“iya-iya maaf aku sangat terkejut saat melihat ternyata kamu pengemudinya.”


“Hehehe surprize.“


“Truck kontainer itu tidak bisa parkir masuk kedalam basement, Jess.”


“Siapa juga yang mau memasukan mainanku ini kedalam basement, hehehe.”


“Gokil banget, mainannya segede itu.” Nata pun tepuk jidatnya sendiri.


“Pantesan saja tadi ga mau diantar kedalam. Rupanya ini kejutan untukku. Ckckckck.” Ucap Nata lalu menghampiri kendaraan berat itu.


“Harusnya tidak boleh kalau masih sore ke kawasan ini kang, tapi karena aku sudah ngotot minta ijin akhirnya aku tadi dikawal oleh pihak Dishub menuju kemari.”

__ADS_1


“Iya bikin macet jalan protokol dong neng. Dasar gokil.” Ucap Nata lalu mengacak-acak rambut Jessy yang hitam lebat itu.


“Ihhh susah ngerapihin rambutnya tau.” Protes Jessy.


“Mau bongkar muatan jam berapa ?”


“Nanti kalau sudah hari sudah gelap, kalau memaksa bongkar muatan sekarang nanti jadi tontonan warga dong.”


“OK kita istirahat dulu sambil makan sesuatu bikinan Sabrina tuh.”


“Hmm pasti wafel pancake deh.” Jessy pun segera menyerbu ke dapur menghampiri Sabrina yang baru selesai memasak satu cetakan wafel pancake nya.


“Yaahh kok keju sih ? yang coklat mana Sab.?”


“Itu buat akang kita, yang coklat kesukaanmu ini sedang dibuat. Sabar dong. Pasti kamu bawa si Jumbo yaa kemari ?”


“Hehehe iya.”


“Sejak kapan kamu punya mainan jumbo itu Jess ?”


“Hmmm ada sih sekitar enam tahun yang lalu. Kenapa kang ?”


“Ohhh artinya kamu sudah mahir dong mengoperasikannya.”


“Ohhh boleh tuh akang silahkan pakai mobil apa saja, aku bawa si Jumbo untuk drag race. Hehehe.”


“Selain Gogil ternyata songong juga yaah Japanes cute girl ini.”


“Hahaha”


“Jangan ladenin dia kang, nanti mobil kita jadi penyok-penyok, sekarang lebih baik cicipin dulu nih wafel pancake nya.” Sabrina pun menata dan menyajikan pancake itu dengan sangat cantik dan indah diatas sebuah piring kecil warna gelap, kontras dengan wafel pancake yang diberi topping keju dan potongan buah strowberry serta beberapa helai daun petterselli, cream saus pun mengelilingi wafel pancake itu.


“Wah dari tampilan sudah seperti di restoran bintang 5 nih. Mantap deh.”


“Rasanya lebih mantap lagi kang, coba deh.”


“Mmmhhh yummy, benar jess. Kenapa kamu ga jual saja menu ini kepada orang lain Sab.?”


“Aku tidak akan menjualnya kang, ini khusus aku buat untuk suami ku nanti.”


“Wow sangat beruntung dong suaminya jika punya istri yang bisa menyajikan masakan seenak ini. Kali ini aku dibuat terkejut dan terpukau oleh kalian berdua. Ternyata kalian berdua selain unik juga mempunyai bakat terpendam, ck ck ck. Luar biasa Salut deh.”


Nata pun menghabiskan suapan terakhirnya, lalu bangkit dan memeluk Sabrina dan Jessy yang masih menikmati wafel pancake itu. Dikecupnya pipi kedua gadis itu bergantian. Lalu Nata berlutut didepan mereka, kemudian mengeluarkan dua buah tempat perhiasan berbentuk hati dengan dibalut kain bludru berwarna merah.


Dengan wajah menengadah menatap wajah mereka bergantian Nata pun berbicara.


“Will you married me ?” Seketika Sabrina dan Jessy terhenyak dan terpaku, kedua gadis itu pun kini balas terkejut, tidak akan menyangka Nata akan segera melamarnya secepat itu. Sabrina lalu saling berbalas pandangan dengan Jessy. Namun kedua gadis itu secara serempak kemudian mengucapkannya.

__ADS_1


”Yes we do.” Bukan ‘yes i do’ lagi jawaban serempak mereka itu.


Dua buah cincin bertatahkan berlian itu lalu dibukanya bersamaan oleh Sabrina dan Jessy. Mereka berdua meneteskan air mata bahagia.


__ADS_2