
Pintu lift mulai terbuka, mereka langsung melihat seseorang yang berada di ruang tunggu, terlihat seorang gadis cantik sedang asik duduk sambil memainkan ponselnya di ruang tunggu itu. Nampaknya gadis tersebut tidak melihat kedatangan dari Nata, Sabrina dan Jessy yang langsung masuk ke dalam ruang kerjanya. Setelah menyimpan tas kerjanya, Nata lalu mengajak Sabrina dan Jessy untuk menemui tamunya itu.
“Good morning Amanda, sudah lama menunggu kami yaa ?”
“Good morning, lumayan ada sekitar 30 menit deh.” Jawab Amanda lalu bangkit dan menyalami Nata, Sabrina dan Jessy.
“Heem bagaimana kalau kita ngobrolnya di ruang meeting kecil saja.” ajak Sabrina.
“Ohhh boleh sekalian saya ingin berbincang bincang dengan kalian.” Jawab Amanda. Mereka pun lalu pindah ke ruang meeting yang letaknya bersebelahan dengan ruang kerja Nata, Sabrina dan Jessy.
“Saya pesankan minuman dan makanan untuk menemani kita ngobrol disini yaa.” ucap Jessy menawarkan.
”Ohh baik, terima kasih, hhmm ....”
“Panggil saja saya Jessy.” Tukas Jessy memotong kalimatnya Amanda.
“Iya tidak perlu sungkan panggil juga nama saya langsung, Sabrina.” Tambah Sabrina.
“OK baiklah Sabrina dan Jessy juga Nata, maksud kedatangan saya kemari adalah, saya sangat tertarik dan berniat untuk menjadi tenaga pengajar di Kampus yang sedang kalian bangun. Tempo hari sekitar tiga hari yang lalu saya secara tidak sengaja mampir ke lokasi Proyek pembangunan Kampus. Lalu saya meminta informasi dari penduduk di sekitar proyek tersebut, mereka menyebutkan bahwa akan dibangun komplek Kampus di lokasi itu.” Ucap Amanda mencoba untuk membuka pembicaraan.
“Ohhh boleh saja, tapi pembangunannya masih lama, baru juga selesai membangun pondasi, kemungkinan pembangunan komplek kampus itu akan selesai sekitar sepuluh bulan lagi. Mengapa tiba-tiba berniat untuk menjadi tenaga pengajar di kampus kami ?” Tanya Nata.
“Begini Nat, kamu kan tahu sendiri, bidang usaha yang sedang saya geluti memang tidak terlalu menyita waktu, jadi masih banyak waktu luang. Saya ingin menyumbangkan sedikit ilmu yang saya miliki untuk para mahasiswa, dari dulu saya memang berniat untuk menjadi guru atau dosen. Mungkin saat ini waktunya untuk mewujudkan cita-cita dan keinginan saya itu. Nah kebetulan sekali kamu yang sedang mendirikan Kampus, aku sangat mengenal kamu Nat, baik sewaktu kita kuliah bareng di USA maupun pada saat kita sama-sama magang di sebuah kantor disana. Justru saya sekarang bertanya kepada kamu, kenapa tidak sejak awal aku dilibatkan juga dalam rencana pendirian tempat belajar mengajar tersebut ?” Ucap Amanda menjelaskan dengan panjang lebar tentang keinginannya yang sangat kuat untuk mengamalkan ilmu yang dimilikinya itu.
“Iya maaf, Amanda, kami berniat untuk mempublikasikan setelah bangunan kampus itu berdiri, namun jika kamu akan memulai untuk bekerja sama dengan kami silahkan saja, aku juga tahu potensi serta kemampuanmu dibidang manajemen pendidikan, kamu memang sangat handal dalam membuat struktur organisasi. Sekarang mari kita duduk bersama untuk menyusun semua rencana tersebut. Sabrina dan Jessy juga pasti sangat membutuhkan sumbangsih pemikiran kamu.”
“Iya benar Amanda, belum terlambat kok, Kampusnya juga baru dibangun, kampus kami belum beroperasional. Kedua tangan kami juga akan selalu terbuka untuk menyambut anda atau siapapun yang berniat untuk perduli dalam mendirikan sebuah lembaga pendidikan.” Tambah Sabrina, yang membuat perasaan dari Amanda menjadi lebih tenang lagi. Ini memang salah satu keahlian dari dari Sabrina sebagai Sarjana Psikologis yang mampu membuat lawan bicaranya menjadi lebih relax dan nyaman. Ungkapan tersebut juga membuat Nata merasa nyaman dan lebih bangga lagi terhadap Sabrina. Kemudian datanglah sepasang Office gilr yang mengantarkan pesanan makanan dan minuman untuk menemani perbincangan mereka di ruang meeting itu. Setelah makanan dan minuman itu tersaji Jessy lalu mempersilahkan Amanda untuk mencicipinya.
“Silahkan diminum.” Ajak Jessy.
__ADS_1
“Terima kasih.” Jawab Amanda.
Nata dan Sabrina lalu turut minum kopi dan teh yang sudah tersedia di meja meeting tersebut. Kini suasana yang hangat dan penuh keakraban terlihat. Sesekali mulai terdengar gelak tawa dari mereka yang berada di ruang meeting tersebut. Umur Amanda yang lebih tua empat tahuh daripada Nata tidak begitu terlihat saat membaur bercengkrama dengan kedua istrinya Nata tersebut. Amanda memang dulu satu kampus dengan Nata di USA dan sama-sama meraih gelar PhD. Setelah mereka di wisuda, Nata dan Amanda pun terpisahkan dengan kesibukannya masing-masing pada sebuah perusahaan.
Nata yang sangat handal dalam menangani bidang properti sedangkan Amanda sangat handal dalam bidang penyusunan dan pembenahan struktur organisasi dan managemen perusahaan. Sampai saat ini pun Amanda menjadi seorang konsultan di bidang Management Office. Beberapa perusahaan besar di Indonesia maupun di luar negeri sudah ditangani oleh Amanda. Karena sibuk dengan karier itulah membuat Amanda melupakan kebutuhan pribadinya. Padahal kalau dilihat secara paras wajah dan tubuh yang proporsional membuat semua orang pasti akan tertarik dengan kecantikan dan kemolekan tubuh Amanda tersebut. Pada usia 30 tahun Amanda masih saja menyendiri tanpa pasangan. Salah satu kawan dekat dari Amanda juga paling akrab adalah Nata. Oleh sebab itu Amanda tanpa ragu dan sungkan mendatangi kantornya Nata, dengan harapan agar bisa menyumbangkan ilmu bagi dunia pendidikan di Indonesia, khususnya di Bandung Raya. Hal tersebut diungkapkan juga oleh Amanda kepada Sabrina dan Jessy, saat obrolan mereka mulai menyerempet pada permasalahan pribadi.
“Pada awalnya aku dan Jessy merasa cemburu lho sama kamu, Amanda.” Ungkap Sabrina dengan perasaan menahan rasa malu, demikian juga dengan Jessy.
“Apa.... kalian cemburu sama aku ? Hahaha.” Amanda pun tertawa terbahak bahak.
“Iya sunggu, lho.” Tambah Jessy.
“Aku sudah mengangap Nata ini seperti adikku sendiri, apalagi dulu saat di kampus, belajar di negeri orang yang jauh dari saudara, Nata inilah yang selalu membantu aku dan terus memberikan semangat kepadaku. Jadi jangan sekali-kali lagi kalian cemburu terhadapku. Hihihi. Justru kalau kalian merasa tersakiti oleh Nata, bilang saja sama aku, biar nanti aku yang pertama kali akan menjewer kupingnya.” Kekeh Amanda.
“Hehe aku jadi malu deh. Jadi Akang dan Amanda ini sama-sama sudah mengangap saudara, seperti aku dan Jessy yang sejak jaman SMP bersepakat untuk mengikat diri kami menjadi saudara, tidak menyangka juga ternyata akang kami ini justru yang membuat kami berdua menjadi semakin kuat ikatan persaudaraannya.” Ucap Sabrina.
“Iya bersyukurlah kamu Sabrina dan Jessy, Nata itu orangnya sangat shaleh, baik, jujur juga jenius, beruntung sekali kalian dapat menjadi istrinya Nata ini. Ini bukan karena aku sedang berada di depan kamu lho Nat. This is the reality. Tidak ada yang dibuat-buat.” Ucap Amanda dengan berapi-api.
“Ahh kamu itu tetap saja seperti dulu, masa sih kamu sebagai pemilik Bank mau ditraktir sama seorang Konsultan seperti aku ini. hihihi.”
“OK deh, biar sekarang aku yang traktir kamu makan siang, silahkan saja pilih mau makan siang dimana, asal jangan jauh dari kantor ini.”
“Hemm aku mau makan batagor, sudah lama aku menginginkan Batagor.” Ucap Amanda. Membuat terkejut Sabrina juga Jessy, ternyata Amanda hanya menginginkan untuk ditraktir makan Batagor.
“OK Deal, silahkan makan sekenyangnya deh. Ayo Sabrina dan Jessy kita antar Amanda untuk makan Batagor.” Ajak Nata.
“Asyik, aku akhirnya ditraktir sama Nata. Hihihi.”
Lalu tepat pukul sebelas siang mereka pergi berempat menuju ke sebuah rumah makan yang menu utamanya adalah Batagor.
__ADS_1
“Kamu kemari sendiri ?” Tanya Nata kepada Amanda saat mereka masih berada di basement menuju ke tempat kendaraan terparkir disana.
“Iya, belum ada yang mau nyopirin aku, tuh mobil aku disana.” Tunjuk Amanda pada sebuah Lamborgini Aventado berwarna hijau terang.
“Ohhh ternyata itu mobil mu, aku kira mobilnya nasabah Bank ini.”
“Hehe maching banget dengan warna bajunya.” Celoteh Jessy yang juga menyukai mobil sport sejenis itu.
“Yups i love green, look like my virgin heart, hihihi.” Cicit Amanda.
“Ayo silahkan naik.” ucap Nata mempersilahkan Amanda untuk menaiki Rubicon Doble Cabinnya Nata itu.
“Upps, aku di belakang saja deh, rok aku nanti sobek kalau harus duduk di jok depan.” Jawab Amanda membuat semua orang jadi tertawa mendengar komentar dari Amanda tersebut. Memang Amanda mengenakan baju dan rok panjang yang sangat ketat, membuat tubuhnya tercetak membentuk tubuh indah itu semakin terlihat glamor dan semakin seksi. Amanda pun lalu duduk disamping Sabrina, sedangkan Jessy berada di depan bersama Nata yang memegang kemudi.
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah makan tersebut, Amanda langsung memesan batagor, makanan yang sangat di idam-idamkan olehnya sejak datang dari USA. Sedangkan Nata justru meminta agar batagornya disajikan dalam sebuah mangkuk sebesar bakul, dengan bumbu yang masih terpisah, dengan tujuan agar mereka sesekali dapat menambah batagor tersebut langsung dari meja dihadapannya itu. Benar saja ternyata Amanda sangat lahap dalam menikmati batagor tersebut. Ternyata selain menjual batagor rumah makan itu juga menjual rujak, yang tentu saja langsung diserbu oleh Jessy. Jessy dan Sabrina lalu tak kalah lahapnya menyantap rujak tersebut.
“Kalian sedang hamil ?” tanya Amanda.
“Iya usia kandungan ku hampir dua bulan, sedangkan Jessy hampir sebulan.” Jawab Sabrina.
“Selain jenius ternyata kamu juga subur yaa Nat. Hehehe.” Kekeh Amanda.
“Alhamdulillah, Amanda. Aku sudah jadi calon Ayah, kamu kapan dong ?”
“Carikan dong Nat.” Rengek Amanda.
“Tuh Sabrina dan Jessy yang tahu lebih banyak, dia juga terbukti berhasil secara cepat mencarikan jodoh untuk Charlie dan Lusy dulu di kampusnya. Hehehe.”
Kemudian Jessy menceritakan kejadian saat dulu masih menjadi mahasiswa. Amanda pun terbahak-bahak setelah mendengarkan semua cerita itu.
__ADS_1
“Tapi aku enggak mau kalau nanti begitu ceritanya, seperti yang mereka alami. Apa kata dunia nanti? Hihihi.”