Tangguh

Tangguh
Bab 58 Bertemu manusia langka.


__ADS_3

Keesokan harinya, waktu berjalan seperti biasanya, kesibukan rutin pun mulai dirasakan oleh Nata, Sabrina maupun Jessy. Nata seperti rencana sebelumnya hanya sebentar menghadiri pertemuan di lokasi proyek pembangunan Kampus. Selanjutnya Charlie yang berperan untuk mewakili owner proyek pembangunan kampus tersebut. Nata pada pukul sembilan sudah berada kembali di Kantor, membaca laporan dari semua Direksi maupun semua kantor cabang pada Jajaran Bank NSP, benar saja seperti yang telah dituturkan oleh Charlie kemarin, ternyata banyak Nasabah baru yang membuka rekening di Bank tersebut. Baik perseorangan maupun badan usaha. Mulai dari pengusaha kecil sampai pengusaha besar. Padahal suku bunga yang diterapkan di Bank NSP tersebut bersaing hampir sama dengan Bank lainnya yang juga menerapkan metode syariah, namun entah mengapa ternyata hampir setiap hari ada saja ratusan nasabah baru dari berbagai kantor Cabang maupun kantor Pusat Bank NSP yang mendaftar sebagai nasabah baru.


Beruntung sekali mereka sejak awal sudah membuat stock banyak formulir maupun kartu ATM baru yang diperuntukkan bagi nasabah. Jessy yang kewalahan terus menambah order barang cetakan pada percetakan penerbit formulir dan Kartu ATM baru. Kesibukan Sabrina juga demikian, meskipun dia sudah dibantu oleh beberapa orang bawahannya yaitu Direktur Personalia, tetap saja harus mengecek ulang beberapa personel, baik itu karyawan baru maupun karyawan lama di Bank NSP tersebut. Sampai akhirnya pada saat jam makan siang, Nata mengingatkan kedua istrinya untuk beristirahat dulu.


“Sudah, kalau pekerjaan itu pasti tidak akan ada habisnya, lebih baik kita istirahat dulu sayang. Kita makan di tempat enak yuk.” Ajak Nata kepada Jessy dan Sabrina yang ruanganya bersebelahan dengan ruangan kerja Nata.


“Hehehe, abisnya penasaran kang.” Jawab Sabrina.


“Iya kita lanjutkan rasa penasaran diatas piring yang ada hidangan lezatnya. Kalian mau makan apa, ayo aku traktir sekenyangnya deh.”


“Hmmm apa yaa Sab ? kamu ada ide ?”


“Bagaimana kalau Italian food, mau ?”


“Boleh tuh, pasti kamu pengen yang ada mozarellanya ya Sab ? Aku sih mau juga.”


“Ho’oh benar banget Jess.”


“Ayo, aku antar kalian makan disana sepuasnya.”


“Yang di jalan Braga kang.” ucap Sabrina.


“Tunjukkan saja tempatnya, aku yang nyetir deh.” Jawab Nata, lalu mereka bertiga keluar dari Kantor dengan mengendarai mobil Mercedes Silver.


“Kang, apakah tidak terpikir punya driver ?” Tanya Jessy saat mereka sudah berada di jalan raya.


“Belum sih, nanti saja kalau aku sudah hapal semua jalan di Kota Bandung, hehehe.”


“Uhhh dasar, masih takut kesasar yaa di Kota Bandung ?” Tanya Sabrina.


“Iya sih aku lebih hapal jalanan di Los Angeles, dari pada di Bandung, sama di Tasikmalaya juga begitu, sudah banyak perubahan, jadi belum lancar lagi.”


“Ohhh jadi nanti ke Cipatujah mau ke Tasikmalaya juga kang ?” Tanya Jessy.


“Belum tahu tuh, belum ada kabar dari Pak H. Mumuh Notaris kita.”


“Wah kalau ke Tasikmalaya ke rumah akang tempat dilahirkan aku juga pengen ikut, tapi tidak sekarang deh.” Keluh Sabrina.


“Disana keluarga dari Ayah dan Ibu masih ada kang ?”


“Ada, Bibi, Mamang, Uwa, saudara dari Almarhum Ayah dan Ibuku, kalau Kakek dan Nenek sudah meninggal.” Jawab Nata, dengan wajah mencerminkan kesedihan saat menuturkannya.


“I’m so sorry, opps Innalilahi wa inna ilahihi rojiun.” Ucap Sabrina mengoreksi ucapannya.


”It’s ok, semua yang datang pasti akan kembali ke sisi Nya.” Jawab Nata mencoba tersenyum getir, kenangan semasa kecilnya kembali terbayang di pelupuk matanya.


“Kita parkir di dalam Mall saja kang, di depan masuk belok kiri, pakai valet parking saja, aku sudah kenal mereka semua.” Ucap Sabrina yang berada disamping Nata saat mengemudi.


“OK. Deh.” Nata lalu menepikan kendaraanya dan mulai masuk ke dalam mall braga city walk. Sabrina lalu turun lebih dulu saat mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti, lalu menemui seseorang yang dikenalnya. Kemudian berjalan kembali ke arah Nata dan Jessy yang sudah keluar dari mobil Mercedes tersebut.


“Nitip mobil gue yaa bro, mana kuncinya kang ? ini kenalkan Donny temanku, Donny ini suamiku Nata.” Ucap Sabrina lalu memperkenalkan Nata kepada Donny, yang berperawakan sangar dan badannya penuh dengan lukisan tatto itu.


”Wow ganteng banget cyiinn.” Ucap Donny yang ternyata suaranya sangat mengejutkan Nata, berbanding terbalik dengan penampilannya yang sangar itu. Nata berusaha untuk tidak tertawa namun Jessy malah tertawa terbahak bahak.


“Donny kamu tidak pernah berubah yaa.” Ucap Jessy yang rupanya kenal juga dengan mahluk antik itu.


“Eiykeh berubah ? mana bisa dong Jesnong, hehehe. Biar nanti mobilnya aku parkirkan di basement mall deh, selamat makan siang.” Ucap Donny lalu masuk kedalam mobil milik Sabrina itu kemudian mengilang di ke dalam basement dengan membawa mobil itu.


“Aneh-aneh ternyata temanmu itu Sab.” Komentar Nata saat mereka mulai menyeberang jalan.


“Ehh jangan salah kang, biar begitu juga dia punya salon banyak lho, ada salon khusus skin care, salon khusus tatto dan lain lain.”


“Terus dia ngapain jadi valet parking juga dimari ?” tanya Nata.


“Biasa, cari mangsa lah.... kenapa, akang minat ?” Goda Sabrina.


“Hiiiyyy amit-amit deh.” Ucap Nata dengan bergidig.


“Hahaha.... ngeri yaa kang ?” tanya Jessy.


“Iya ngeri banget, pasti knalpotnya sudah super racing banget tuh, hahaha.” Ucap Nata sambil terbahak bahak.


“Kok Knalpot sih ?” Tanya Sabrina dan Jessy dengan heran.


“Iya knalpot.” Jawab Nata sambil memegang bokongnya sendiri.


“Astagfirullah, baru kepikiran aku, Jess. Hihihi.”


“Iya ngeri amat yaa. hihihi.”


Sabrina lalu menghampiri resepsionis di restoran itu, lalu mulai berbicara dengan bahasa Inggris kepada resepsionis itu, kemudian kembali ditunjukkanlah tempat oleh resepsionis itu sebuah tempat yang sangat nyaman untuk mereka bertiga.

__ADS_1


“Aku sudah pesankan appetizer, main cours lunch dan desertnya, semuanya Italiano food. Untuk kita bertiga.”


“OK. Sip, ternyata disini banyak bule yaa.” Ucap Nata sambil memandang ke sekeliling restoran itu.


“Akang baru kesini sekarang ?” tanya Jessy.


“Iya tuh, baru banget kemari.”


“Disini tempat berkumpulnya pada turis, kalau ke kota Bandung, restoran ini sudah berdiri sejak jaman Belanda ada disini. Jangan khawatir makanan disini halal semua kok.” Ucap Sabrina menjelaskan.


“Ohhh aku baru tahu. Jadi semua masakan Eropa ada disini ?”


“Iya, kebanyakan western food.”


“Tadi resepsionis tidak heran saat melihat kamu pakai jilbab ?”


“Awalnya heran sih, tapi tadi sedikit aku jelaskan, karena aku sudah lama tinggal di Kota Bandung.”


“Hmm iya restorannya clasic banget, semua alat makan sudah ada di meja, lengkap dengan serbet lehernya. Jadi ingat waktu di restoran Amrik sana.” Ucap Nata lalu mulai memakai serbet lehernya saat appetizer datang dibawa oleh waiters ke meja makan tempat mereka duduk.


“Enjoy your food, silahkan makan.” Ucap seorang waiters itu dengan sangan sopan.


“Thank you.” Jawab Nata, Sabrina dan Jessy.


“Kamu tidak pesan whine atau minuman beralkohol lainnya kan  Sab.?” Tanya Nata.


“Tentu tidak dong kang, kan aku sama Jessy pakai hijab, mereka sudah mengerti kok dan aku sudah menggantinya dengan lemonade juice, selain air mineral yang sudah ada di meja makan ini.”


“Ohh kirain seperti yang di meja seberang kita itu.” ucap Nata sambil menunjuk dengan pandangan ke arah meja di seberang mereka.


“Akang mau ?” tanya Jessy dengan heran.


“Hahaha, tidak dong sayang, selama aku di luar negeri juga aku ga pernah menyentuh minuman keras, paling hanya coke, atau air soda doang.”


“Tapi akang dulu katanya dulu pernah makan daging babi di Chinese Town New York.” Tanya Sabrina.


“Iya itu karena ketidaktahuanku, itu juga hanya sekali kesana, akhirnya aku kapok deh.”


“Boleh kami angkat tuan piringnya ? akan kami ganti dengan menu utamanya.” Ucap seorang waiters yang diikuti oleh waiters lainnya yang membawa kereta dorong berisi hidangan utama pesanan mereka.”


“Ohh silahkan.” Jawab Nata, lalu beralih memegang alat makan lainnya di depannya, setelah itu Nata lalu mencicipi terlebih dulu makanan yang kini tersaji di depannya dengan diperhatikan oleh Jessy dan Sabrina.


“Hmmm enak banget, benar-benar halal ini, tidak terasa ada aroma daging babinya.”


“Kang, Italian Food itu nyaris vegetarian, beda sama Perancis.” Ucap Jessy


“Iya benar kang, lazagna vegetarian juga kalau akang mau bisa pesan disini.”


“Hehehe aku belum pernah ke Italy langsung, tapi kalau mafianya banyak tuh di Amrik, restorannya juga banyak, sebanyak mafia disana.”


“Akang pernah berhubungan atau transaksi dengan mereka ?”


“Pernah, waktu mereka membutuhkan property sebagai markas barunya, pada awalnya aku kira mereka itu bukan mafia, tapi saat transaksi dilaksanakan, masing-masing mengeluarkan senjata untuk berjaga-jaga, hehehe.”


“Ihhh ngeri amat.” Pekik Jessy dan Sabrina.


“Lebih ngeri tadi sih, lihat Donny, hehehe.”


“Idih akang masih ingat dia ? Hahaha.”


“Ingat dong, apalagi saat dia memegang tanganku, dia pura-pura mengambil kunci dari genggaman tangan sambil mengelus tangan, hiyyy. Amit-amit deh.” Ucap Nata kembali bergidig saat membayangkan hal itu.


“Hihihi, rejeki nomplok tuh kang.” kekeh Sabrina.


“Dia kayaknya ga doyan cewek yaa ?”


“Haha, sudah eneg mungkin karena sering pegang cewek di salonnya.” Jawab Jessy.


“Tapi biar begitu dia itu, setia kawan banget lho kang.”


“Kamu pernah ditolong sama dia Sab ?”


“Iya pernah sewaktu ada yang sewa apartemen, tapi ga mau bayar, atas rekomendasi dari dia juga sih, ehhh ternyata sehari kemudian penyewanya langsung bayar kontan, sejak saat itu aku ga berani lagi menyewakan tanpa ada uang jaminan atau uang muka dulu untuk menyewakan apartemen.”


“Hmm ngomong-ngomong tentang penyewaan apartemen, kamu harus lebih selektif lagi tuh kepada calon penyewa apartemen milikmu, jangan sampai tempat itu disalahgunakan.”


“Iya kang, aku bilang saja kamar sudah penuh, jika ada penyewa yang mencurigakan.”


“Tenang kang, ada aku juga sebagai detektif-nya kok, hehehe.” Ucap Jessy.


“Bagaimana caranya ?”

__ADS_1


“Aku menyamar saja sebagai petugas yang memperbaiki AC atau listrik, untuk menyelidiki penyewa aneh tersebut.”


“Ohhh cerdas juga dong, ternyata kalian memang sangat kompak. Hebat deh, salut aku.”


“Duh kenyang kang.” keluh Sabrina.


“Sedikit lagi tuh, aku suapin mau ?”


“Idih jangan kang, dia datang kolokannya tuh, hihihi.” Kekeh Jessy.


“Biarin dong Jess, ga apa-apa kolokan sama akang kita mah.”


“Kamu juga mau aku suapin sayang ?”


“Hehe, mau juga dong.” Jawab Jessy dengan malu-malu.


Kemudian Nata mulai menyuapi Sabrina dan Jessy secara bergantian sampai di piring mereka tidak ada lagi sisa makanan.


“Tuh habis juga, memang kalian berdua sama-sama manjanya kok. Hehehe.”


“Aku sama Jessy senang kok dimanjakan sama akang, iya kan Jess ?” Ucap Sabrina sambil mengedipkan matanya.


“Iya nih, sudah lama tidak mandi bareng lagi sama akang. Hihi.”


“Nanti kamu dimandikan sama akang tuh di pantai Cipatujah, hehehe.”


“Yaah sayang, kamu ga bisa ikut Bestie, pasti seru seperti dulu deh kalau bertiga.”


“Woles saja bestie, take your time and enjoyed.” Ucap Sabrina sambil meremas tangannya Nata dengan penuh arti. Tak lama kemudian waitres kembali datang merapikan sisa piring dan membawa desert untuk mereka bertiga.


“Duh padahal sudah kenyang, tapi masih ada desertnya nih.” Keluh Sabrina.


“Santai saja dulu sambil ngobrol, disini ga boleh merokok yaa ?” tanya Nata.


“Boleh kang, akang mau merokok ?” Jawab Jessy lalu balik bertanya.


“Iya tapi ga bawa rokoknya.”


“Ada tuh di kassa.” Jawab Sabrina lalu memanggil waiters dan memesan rokok yang biasa dihisap oleh Nata.


“Kalian tidak merokok ?”


“Sudah berhenti kang, sejak lima tahun yang lalu, apalagi sekarang kan, sedang ada janin.” Jawab Sabrina.


“Aku juga sama, sejak Sabrina berhenti merokok aku juga ikut berhenti. Hehehe.”


“Bagus lah kalau begitu, pantas saja napas kalian berdua sangat harum alami, tidak bau tembakau.”


“Hmm akang mau dicium ?” tanya Sabrina, berusaha mendekatkan diri.


“Jangan dong sayang, ini tempat umum.” Jawab Nata berusaha menghindar.


“Why not ? I’m your wife.” Goda Sabrina.


“Dia sedang mabuk mozarella kang, suka begitu tuh. hehehe.” Ucap Jessy ngasal.


“Hah, yang benar ?”


“Hehehe, bercanda kok kang, mana mungkin sih kami sudah pakai hijab seperti ini berbuat sesuatu di depan umum, meskipun dengan akang yang notabene suami sendiri.” Jawab Sabrina sambil terkekeh.


“Hihi lucu ihh akang, jadi gemas nih pengen nyubit.” Pekik Jessy, lalu mencubit pipinya Nata.


“Aduh, sakit Jess.”


“Biarin weew.” Jawab Jessy sambil menjulurkan lidahnya.


“Tahan dulu bestie, dua hari lagi tuh. hehehe.” Sabrina pun terkekeh kembali.


Setelah mereka menghabiskan hidangan pencuci mulut, Nata lalu membayar semua makanan yang sudah mereka makan, lalu mereka bertiga kembali ke mall tempat diparkirnya kendaraan, sekali lagi mereka bertemu dengan orang aneh bernama Donny itu. Donny pun segera mengeluarkan mobil dari basement mall itu. Lalu menyerahkan kembali mobil untuk dikemudikan oleh Nata. Sabrina lalu berterima kasih kepada Donny yang tidak mau menerima uang parkir maupun tips darinya. Jessy dan Sabrina lalu melambaikan tangan kepada Donny saat mobil tersebut menjauh dari mall.


“Kita ga usah balik lagi ke kantor deh, ga apa-apa kan ?” tanya Nata.


“Memangnya kenapa kang ?”


“Aku jadi mules, setelah bertemu dengan Donny, sumpah deh.” Ucap Nata sambil meringis.


“Hahaha. Baru dua kali bertemu apalagi kalau sering tuh.” Ucap Jessy sambil tertawa terbahak-bahak.


“Kalau sering, aku pasti harus dirawat di rumah sakit dong Jess, hihihi.” Jawab Nata seenaknya.


“Untung saja tidak ada yang tertinggal di kantor, yaa sudah kita pulang saja kang, nanti juga kita bisa lihat report di WA grup atau email.” Ucap Sabrina.

__ADS_1


Sesampainya di ruko Nata benar-benar langsung menghabiskan waktunya selama 15 menit di toilet. Setelah itu dia lalu naik ke lantai tiga dan melaksanakan sholat dzuhur bersama Sabrina. Nata lalu meminta ijin untuk tidur saja di dalam kamar kepada Sabrina dan Jessy, hal yang sungguh tidak lazim bagi Nata yang tidak pernah sama sekali tidur siang. Namun Sabrina dan Jessy tetap menemani suaminya itu tidur di kamarnya, meskipun sebenarnya Sabrina dan Jessy tidak mengantuk sama sekali. Mereka berdua hanya duduk berdua sambil memperhatikan Nata yang  terlihat sangat pulas tidur di siang hari itu.


__ADS_2