Tangguh

Tangguh
Bab 82 Amanda demen Opa Korea.


__ADS_3

Pada tengah malam Nata, Sabrina dan Jessy terbangun, perut mereka terdengar berbunyi seolah sedang protes untuk minta diisi.


“Kang aku lapar.” Ucap Sabrina.


“Aku juga kang lapar kang.” rengek Jessy juga yang merasa perutnya sedang keroncongan.


“Sama sayang, kita juga sampai lupa untuk makan malam, melupakan tamu kita juga di kamar tidur tamu sana.”


“Ihhh iya tuh kang, tapi kok Amanda sepertinya tidak bergeming tuh dari tadi, tidak terdengar juga suara dari kamarnya dan tidak berusaha untuk menelepon kita.”


“Ayo kita bangun, kita pesan makanan deh, semoga masih ada layanan pesan antar yang 24 jam.” Ajak Nata lalu mulai mengenakan celana training. Jessy dan Sabrina juga mulai mengenakan piyama kimononya. Nata lalu mulai menggerakan jemarinya untuk memesan makanan melalui ponsel.


“Kang sambil menunggu order makanan, bagaimana kalau kita bakar sosis di taman belakang dekat kolam renang ?” Ucap Jessy.


“Aduh kasihan amat, kalian pasti sedang kelaparan banget yaa. OK deh silahkan. Aku siapkan pembakaran dan arangnya disana.” Jawab Nata lalu segera menyiapkan pembakaran dan menyalakan api di dekat kolam renang. Suasana malam itu menjadi terasa hangat saat bara api mulai menyala di perapian yang sudah dinyalakan oleh Nata. Satu persatu Sosis sudah mulai dibakar oleh Nata. Wangi dari pembakaran sosis itu mulai tercium keseluruh penjuru rumah tersebut, termasuk kedalam kamarnya Amanda. Amanda lalu terbangun dari tidurnya yang lelap dan mulai keluar dari kamarnya.


“Wah kalian sedang barbeque party nih ?”


“Ehh iya Amanda ayo sini bergabung, kita makan malam.” Ajak Sabrina yang tengah sibuk melumuri sosis setengah matang dengan bumbu barbeque, juga mayonase dan saus tomat.


“Hehe aku sudah lama tidak makan malam say. Takut jadi gendut.” Jawab Amanda lalu dia duduk di Gazebo bersama Jessy dan Sabrina, Amanda juga bahkan membantu melumuri sosis panggang itu dengan bumbu barbeque, juga mayonase dan saus tomat seperti yang sedang dilakukan oleh Jessy dan Sabrina.


“Tidak akan gendut lah kalau hanya sesekali saja, nanti di Tasikmalaya kita malah akan bakar ikan di tepi pantai.” Ucap Sabrina.


“Wah seru juga tuh, apalagi kalau bisa memancing ikan disana.”


“Jangan disamakan dengan Pantai Utara, Pantai Selatan ombaknya tinggi tinggi lho Amanda.”


“Iya juga, langsung samudera Hindia yang luas itu yaa.”


“Lebih aman memancing di TPI, sambil membantu para nelayan agar ikannya laku kita beli, hehehe.” Jawab Jessy pula.


Ting Tong. Suara bell rumah berbunyi. Bertepatan dengan selesainya mereka membakar sosis.


“Siapa tuh malam malam memencet bell ?” Tanya Amanda.


“Aku yang pesan makanan untuk makan malam.” Jawab Nata, lalu bergegas menuju ke arah pintu utama rumah tersebut.


“Ohhh kalian pesan makanan juga untuk makan malam, aku kira dengan makan sosis bakar ini sudah cukup.” Ucap Amanda.


“Kami kan sedang mengandung, jadi perlu asupan lebih banyak untuk anak yang berada didalam kandungan kami.” Jawab Sabrina sambil mengelus perutnya yang belum membuncit.


“Ohh benar juga. Biar aku bantu untuk membereskan pembakaran ini.” Ucap Amanda.


“Jangan dulu Amanda, awas masih panas lho, biarkan saja aman kok.” Tukas Jessy yang melarang agar Amanda jangan dulu merapihkan tempat pembakaran itu.


“Iya, lebih baik kita bawa semua, sosis yang sudah kita bakar ini ke meja makan.” Ucap Sabrina.


“OK deh.” Amanda pun akhirnya turut membantu Sabrina dan Jessy untuk membawa sosis yang sudah mereka bakar itu. Semilir wangi dari sosis yang dibakar itu membuat Amanda pada akhirnya mulai ingin mencicipi sosis yang sudah dibakar itu.


“Boleh kan aku cicipi sosisnya, warna dan harumnya sangat menggoda lidah nih. Hehehe.”


“Silahkan, kami sengaja bakar banyak kok.” Jawab Jessy. Jessy dan Sabrina lalu menyajikan makanan yang sudah dipesan oleh Nata diatas meja makan.


“Wah kalian pesan ayam bakar juga ?”  Tanya Amanda.

__ADS_1


“Iya mau kan ?” Jawab  Sabrina lalu menyiapkan piring untuk Amanda.


“Jangan pakai nasi deh. Tadi juga sudah agak kenyang tuh makan beberapa sosis.” Tolak Amanda, sehingga Sabrina membatalkan untuk mengisi piring dengan nasi untuk Amanda.


Nata, nampak tersenyum mendengarkan hal itu, dia lalu melanjutkan makan malamnya yang terlambat itu bersama Sabrina dan Jessy. Lalapan yang dihidangkan diatas meja makan dan Ayam bakar itu kini habis tanpa ada sisa, begitu pula dengan nasi yang disediakan didalam mangkuk besar itu.


“Kalau seminggu tinggal bersama kalian disini, bisa membuat aku cepat gemuk deh, hehehe.” Kekeh Amanda.


“Takut amat sih jadi gemuk. Tuh lihat Sabrina dan Jessy saja santai-santai saja, padahal setiap hari seperti ini makannya.” Ucap Nata.


“Iya Amanda, nikmati saja, jika tubuh mulai gemuk tinggal memperbanyak olah raga saja.” Tambah Sabrina.


“Nah itulah disitulah letak permasalahannya, betapa sulitnya untuk berolah raga, aku kan orangnya paling malas untuk berolah raga. Hihihi.” Jawab Amanda sambil terkekeh.


“Kalau aku sih tidak perduli lagi kalau nanti akan gendut dan perut membuncit, karena aku dan Sabrina lebih menyanyangi bayi dalam kandungan kami.” Ucap Jessy.


“Iya kalian berdua kan sudah menikah, sedangkan aku ? Pacar saja belum punya.” Jawab Amanda dengan raut wajah yang sendu.


“Nanti lebih sering dong datang ke kantor kami, mau ga kalau aku kenalkan kepada seseorang, dia masih lajang dan sangat berprestasi di kantor kami.” Ajak Sabrina sambil memeluk Amanda.


“Mau dong, bagaimana ganteng ga dia, orang pribumi juga ?” Seketika wajah Amanda kembali ceria mendengar ajakan dari Sabrina tersebut.


“Nanti kamu nilai sendiri deh orangnya, kami akan atur jadwalnya untuk mempertemukan kalian deh.” Jawab Sabrina yang menguasai data base dan status atas semua karyawan di kantornya itu.


“Siapa sih Sab ?” Tanya Jessy juga dengan penasaran.


“Ahhh kamu kepo deh Jess, tenang saja nanti juga kamu bakal tahu kok, hehehe.” Jawab Sabrina.


“Aku tahu orangnya, dia baik, rajin dan jujur, hmmm ganteng juga.” Ucap Nata yang tiba-tiba ikut nimbrung dalam topik obrolan itu.


“Opps OK deh. Aku mau duduk dulu sambil merapihkan pembakaran yaa.” Ucap Nata berpamitan kepada Sabrina, Jessy dan Amanda yang masih duduk di kursi meja makan itu.


“Pasti mau sambil merokok yaa ?” Tanya Jessy.


“Hehehe iya, tahu aja kamu Jess.” Kekeh Nata, lalu berjalan sambil meraih rokok bersama pemantiknya yang disimpan dekat lemari makanan.


“Sab, kamu punya foto orang itu ga ?” Tanya Amanda yang semakin penasaran.


“Hemm kamu serius, tapi awas janji, jangan sampai mengecewakan lho.” Ucap Sabrina.


“Swear deh Sabrina.” Jawab Amanda dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.


“Ini dia orangnya, ehh mana yaa.” ucap Sabrina saat memeriksa galeri di ponselnya.


“Aku juga ingin lihat dong.” Jessy yang penasaran nampak turut berdiri dibelakang Sabrina.


“Nah ini dia.” Jawab Sabrina menujukkan foto tersebut.


“Ehh kok mirip Opa-Opa Korea ? Cakep juga tuh.” Tukas Amanda.


“Kamu suka sama pria model begini ?” tanya Sabrina dengan dahi berkerut.


“Hehe, iya Sab. Dulu aku sempat mengidolakan pria seperti itu, tapi aku jadi patah hati deh, saat pria tersebut ternyata lebih menyukai gadis Korea juga. Nash sejak saat itulah aku semakin fokus untuk bekerja, melupakan kebutuhan pribadiku sendiri.”


“Ohhh kamu suka sama orang Korea, tapi dia asli pribumi lho, namanya juga sangat kental dengan bahasa Sunda.” Ucap Sabrina.

__ADS_1


“Hehehe aku tahu namanya, dia bahasa asingnya juga lancar lho, bisa menguasai bahasa Jepang, Inggris dan Jerman.” Tambah Jessy yang membuat Amanda semakin tertarik dengan pribadi dari foto pemuda yang diperlihatkan oleh Sabrina itu.


“Siapa sih namanya ?” Tanya Amanda dengan semakin penasaran.


“Tatang Supriatna. SE, ME. Dia salah satu Kepala cabang Bank NSP, domisilinya di Bogor.” Jawab Sabrina.


“Ehh dekat dong sama Jakarta. Kapan dong aku dikenalkan sama dia Sab. ?” Rengek Amanda.


“Idih Amanda ngebet banget, hihihi.” Tukas Jessy.


“Wah ini namanya cinta pada pandangan pertama mu dong Amanda, semoga saja nanti Tatang juga suka sama kamu, terus yang utama semoga juga dia tidak minder dengan penampilanmu. Hehehe.” Kekeh Sabrina.


“Nanti deh sepulang dari Tasikmalaya kita adakan meeting, aku akan undang kamu juga pada saat meeting itu.” Tambah Sabrina kemudian.


“Kok bisa yaa ada orang Sunda yang seperti Opa Korea, hihihi.” Kekeh Amanda.


“Kamu perhatikan deh, Kang Nata juga sekilas seperti Keano Reave tuh. Hanya saja kulitnya lebih eksostis, hehehe.”


“Hahaha. Iya juga, benar kamu kamu Sabrina.” Jawab Amanda. Jessy dan Sabrina pun tertawa terbahak bahak pada tengah malam itu. Membuat Nata sesaat memalingkan muka ke arah ruang makan tersebut.


“Keano Reave itu seperti apa sih ?” Tanya Jessy dengan bingung.


“Seperti akang kita lah Jess.” Jawab Sabrina dengan kesal.


“Aku mau lanjut tidur dulu yaa sambil membayangkan opa Korea yang tadi kamu tunjukkan.” Ucap Amanda berpamitan.


“OK silahkan Amanda.” Jawab Sabrina dan Jessy bersamaan. Setelah Amanda masuk kembali ke kamarnya, Jessy kembali menanyakan kepada Sabrina.


“Sab, aku ingin lihat dong fotonya Keano Reave.”


“Idih Jessy, kamu kan tinggal searching saja di google, lebih baik kita panggil akang kita deh, kita tanyakan, apakah dia mau melanjutkan tidur lagi atau tidak.”


“Haha, maaf, aku kok jadi bego begini yaa.” Jawab Jessy sambil menepuk jidatnya sendiri.


“Kamu bukan sedang bego Jess, kamu over dosis tuh, setelah tadi kelelahan sama akan kita. Hehehe.”


“Ahh kamu juga kan sama Sab. puas banget kan. Hihihi.”


“Ehh itunya Keano Reave sama besarnya dengan punya akang kita ga Sab.?” Tanya Jessy semakin absurt.


“Hadeh, mana aku tahu Jess. Kita kan dulu bertemu dan bisa melihat itu baru kali itu saja saat bersama akang kita. Ada-ada saja kamu itu.”


“Ada apa sih ? berisik amat, ngobrolin apa ?” tanya Nata.


“Itu tentang Keano Reave. Aduhh sakit Jess.” Pekik Sabrina karena lengannya telah dicubit Jessy dengan gemasnya.


“Psst, Jangan bilang-bilang, aku kan malu Sab.” Ucap Jessy dengan menutup telunjuknya kepada bibirnya sendiri.


“Ohhh ok deh, hihihi.” Kekeh Sabrina dengan mimik masih meringis menahan sakit.


“Kang kita bobo lagi yuk. Kan Akang sudah selesai tuh merokoknya.” Ajak Jessy sambil melendot kepada Nata.


“Iya sayang, ayo.” Jawab Nata lalu merangkul kedua istrinya menuju ke kamar tidur. Tanpa mereka sadari Amanda ternyata sedang mengintip dan melihat mereka dari jendela kamarnya, melihat Nata yang dengan sangat mesra merangkul Sabrina dan Jessy.


‘Hemmm coba saja nanti opa Koreaku semesra itu.’ Guman Amanda, lalu kembali menuju ke pembaringannya dan memeluk guling, membayangkan guling itu sebagai opa Korea yang didambakannya.

__ADS_1


__ADS_2