Tangguh

Tangguh
Bab 78 Bebenah di Ruko.


__ADS_3

Setelah selesai sholat Ashar, Sabrina dan Jessy turun dari lantai tiga, kemudian bergabung kembali dengan lima orang anak buahnya, Jessy dan Sabrina turun dari lantai tiga dengan membawa beberapa pigura.


“Ada tugas tambahan untuk kamu Winda, tolong kamu cetak beberapa foto yang sudah aku scan sebelumnya.”


“Dicetak dimana Bu Boss ?”


“Pakai printer banner yang berada di Basement, Gulungan kain Vinyl sebagai media cetaknya sudah ada disana, sudah aku sesuaikan dengan  ukuran printer banner indoornya,  Lalu nanti kalian berlima pasang semua hasil cetaknya pada Bingkai atau pigura yang sudah aku siapkan. Ini catatan ukuran fotonya.” Ucap Jessy menjelaskan kepada Winda dan empat orang karyawati lainnya.


“Siap Bu Boss.” Jawab Winda yang memang sudah mahir dalam urusan digital printing tersebut.


Tiga puluh menit kemudian semua foto sudah di cetak, termasuk beberapa foto saat resepsi pernikahan Nata, Sabrina dan Jessy. Kelima orang karyawati itu kini disibukkan dengan pekerjaan tambahannya. Dengan sangat berhati-hati mereka mulai menempelkan semua foto sesuai dengan ukuran bingkai yang sudah disediakan oleh Jessy. Sabrina dan Jessy memperhatikan semua pekerjaan mereka tersebut dengan seksama. Sabrina dan Jessy nampak sangat puas atas hasil pekerjaan dari kelima orang karyawatinya itu.


“Sudah selesai Bu Boss, ini semua mau dibawa juga ke rumah baru ?” Tanya Winda.


“Iya sekarang kalian packing, hati-hati jangan sampai tergores walaupun itu bukan kaca yang mudah pecah.” Ucap Jessy kepada semua karyawatinya tersebut. Jessy menggunakan lembaran akrilik sebagai pengganti kaca, dengan tujuan agar tidak mudah pecah juga agar nanti bingkai tersebut awet dan tahan lama. Pemasangan bingkai foto dilakukan langsung di basement. Setelah selesai di bungkus dengan rapi beberapa bingkai foto itu lalu satu persatu dimasukkan kedalam mobil Rubicon merah milik Sabrina.


Tepat pukul lima sore, semua anak buah dari Jessy dan Sabrina itu sudah selesai bebenah mengepak semua barang dan melakukan pekerjaan tambahan yang diinstruksikan langsung oleh Jessy. Kelima anak buah merekapun mulai berpamitan.


“Nanti dulu, kalian jangan dulu pulang.” Cegah Sabrina lalu mengeluarkan beberapa buah amplop dari kantong tasnya.


“Ini sekedarnya untuk kalian agar bisa kalian bisa membeli tissue untuk menghapus keringat kalian yang sudah membantu kami disini, apakah kalian tidak akan menginap disini ?”


“Hehehe, Terima kasih Bu Boss, untuk saat ini mungkin belum bisa, mungkin besok lusa kami akan menginap disini. Maaf tadi kami hanya bercanda kok.” Jawab Winda mewakili keempat orang temannya.


“Ini sih lebih dari cukup untuk membeli tissue.” Ucap Ani yang dengan polosnya langsung mengintip isi amplop yang diterimanya itu.


“Dasar ga sopan, bikin malu saja kamu Ani.” Protes Tita.


“Sudah-sudah, ayo kita pulang, sebentar lagi hari mulai gelap. Kami pamit yaa bu Boss, mohon dimaklum Ani mah memang masih polos dan o’on hehehe.” ajak Winda, sambil terkekeh berpamitan kepada Jessy dan Sabrina.


“Iya hati-hati kalian dijalan. Besok jangan lupa kemari lagi yaa.”  Ucap Jessy.


“Siap Bu Boss. Assalamualaikum.”  Ucap kelima orang anak buahnya Jessy dan Sabrina itu.


“Waalaikumsalam.” Jawab Jessy dan Sabrina. Mereka pun diantar oleh Jessy dan Sabrina sampai mereka naik kendaraan roda empat yang dikemudikan oleh  Tita di pelataran parkir ruko tersebut.  Kini suasana ruko kembali sunyi, saat kelima orang anak buahnya Jessy dan Sabrina itu sudah pergi jauh meninggalkan ruko tersebut.


“Alhamdulillah yaa Jess, semua sudah di packing.” Ucap Sabrina dengan senyum penuh kepuasan.


“Iya, syukur Alhamdulillah, kita telpon akang kita yuk, apakah dia sudah bersiap pulang ke rumah ?”


“Iya pakai ponsel kamu saja Jess.”


“OK Bestie.” Jawab Jessy lalu duduk di sofa ruang tamu bersama Sabrina, kemudian mulai menelepon Nata.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam, kamu masih di Ruko Jess ?”

__ADS_1


“Iya kang, akang masih di Kantor ?”


“Iya aku nanti pulang sesudah Maghrib, masih ada pekerjaan dengan Yadi di Kantor. Kalian ga apa-apa kan pulang duluan ke rumah ?”


“Iya kang, nanti jangan lupa sambil bawa makanan yaa untuk makan malam kita. Karena aku dan Sabrina belum sempat masak.”


“OK, kamu dan Sabrina mau dibawakan apa ?”


“Aku mau ayam bakar kang.” Ucap Sabrina.


“Iya sama deh, aku juga mau ayam bakar.” Ucap Jessy.


“OK nanti aku bawakan, pakai nasi juga ?”


“Tidak perlu, kita kan masih banyak nasi di rumah, banyakin lalapannya saja kang jangan lupa sambalnya.”


“OK deh, nanti aku pesankan, ada lagi ?.” Jawab Nata diseberang sana.


“Cukup kang, aku sama Sabrina mau mandi dulu disini. Sudah dulu yaa, jangan lama-lama dikantor. Assalamualaikum.” Ucap Jessy.


“Iya, Waalaikumsalam.” Jawab Nata. Lalu pembicaraan telepon pun ditutup oleh Jessy dan Nata.


“Nanti kita bawa dua mobil kesana Jess ?”


“Iya kamu bawa si Merah jangkung, aku yang bawa si Kuning. Hehehe.”


“Ihh kamu melow banget, nyantai saja, besok juga si Silver nyusul kok. Hahaha.”


Jessy dan Sabrina pun lalu naik ke lantai tiga, mereka mandi bersama di kamar mandi ruang tidur yang penuh dengan kenangan itu.


“Jess kamu masih ingat ga ? kamar tidur ini menjadi saksi, bahwa untuk pertama kalinya diserahkan tubuh kita berdua yang belum pernah terjamah, kepada suami tercinta kita.”


“Ingat dong, nanti kita juga sewaktu-waktu akan kemari lagi kok, kamu jangan nangis dong bestie.”


“Hehe, aku jadi cengeng yaa kalau sedang hamil begini.” Jawab Sabrina lalu menghapus tetesan air mata yang keluar dari bola mata birunya yang indah itu.


“Ayo kita pulang ke rumah baru.”


“Ayo.” Jawab Sabrina lalu mereka berdua turun dari lantai tiga dengan membawa dua traveler bag, menuju ke basement. Dua unit Rubicon lalu keluar dari bangunan ruko tersebut Rubicon Kuning berada didepan, diikuti oleh Rubicon Merah. Kedua kendaraan itu kemudian mulai menyusuri jalan raya menuju ke Komplek Perumahan Setra Duta.


Pada saat yang sama, Nata dan Yadi sedang bersiap untuk Sholat Maghrib setelah seharian mereka menyelesaikan konsep Proposal Pembangunan Resort dan Tempat Wisata sekaligus sebagai konservasi pelestarian lingkungan hidup di Cipatujah Tasikmalaya yang merupakan rangkaian dari pembangunan kampus di KBB. Tiga puluh menit kemudian Nata sudah berada di dalam mobil Rubicon Double Cabin Hitamnya. Nata baru saja mengambil pesanan ayam bakar dari sebuah rumah makan yang menjual menu ayam bakar sebagai menu utamanya. Harum dari ayam bakar yang masih panas itu tercium oleh Nata, karena bungkusan makanan tersebut disimpan di jok penumpang depan, persis disampingnya Nata yang sedang mengemudikan mobil menuju ke rumah baru.


Tidak lama kemudian Nata sudah mulai memasuki komplek perumahan tersebut, Nata lalu memarkirkan kendaraannya di dalam basement rumah tersebut, dilihatnya Rubicon Kuning dan Merah sudah berbaris rapi didalam basement rumah tersebut bersama Ferrari Merah.


“Assalamualaikum.” Ucap Nata, dengan menenteng tas samsonite di tangan kanan dan kantong belanjaan di tangan kirinya, saat dia masuk ke dalam rumah dari basement. Tidak terdengar balasan ucapan salam itu dari kedua istrinya.


“Heemm mungkin mereka masih di dalam Mushola.” Guman Nata lalu meletakkan kantong belanjaan diatas meja makan, kemudian dia memasuki kamar tidur, yang ternyata gelap gulita. Nata lalu mencoba menyalakan lampu kamar tidur tersebut.

__ADS_1


“Waalaikumsalam. Surprize.” Ucap Jessy dan Sabrina bersamaan. Nata seketika terhenyak, dia sangat terkejut, karena sama sekali tidak mengira Sabrina dan Jessy ternyata ada didalam kamar tidur mereka itu. Sepasang bola mata Nata juga tidak berkedip saat melihat Sabrina dan Jessy nampak sudah berdandan dengan sangat cantik, mereka berdua nampak bagaikan sepasang bidadari tak bersayap. Untuk beberapa saat Nata masih berdiri mematung memandang kedua istrinya itu tanpa berkedip.


“Cantik sekali kalian.” Puji Nata lalu melepaskan tas yang ditentengnya itu diatas tempat tidur, setengah dilemparkan olehnya.


“Terima kasih akangku sayang.” Jawab Jessy dan Sabrina, bersamaan.


“Akang suka ?” tanya Jessy sambil memutar tubuhnya, demikian juga Sabrina.


“Suka banget. Kapan kalian beli linggeri seperti ini ?”


“Ada deh, rahasia. Iya kan bestie ?” ucap Sabrina.


“Iya akang nikmati saja, kami hanya mengenakan ini untuk akang saja.”


“Hmmm nanti makan malam kalian pakai itu juga ?”


“Kapan saja, asal masih didalam rumah ini, hihihi.” Jawab Sabrina.


“Aku sih lebih suka jika kalian tidak pakai apa-apa, hehehe.”


“Ihhh senangnya main cepat akang mah.” Ucap Jessy.


“Yaa sudah kita makan dulu yuk. Tapi aku mau mandi dan ganti baju dulu. Ga enak masih keringatan nih.”


“Iya silahkan, biar kami siapkan dulu meja makannya, baju ganti sudah kami siapkan diatas tempat tidur.” Jawab Sabrina.


“OK terima kasih yaa, Sabrina dan Jessy ku yang cantik dan seksi. Muach Muach.”


“Idih main cium, mandi dulu sana akang.” Protes Jessy, Nata pun terkekeh-kekeh. Nata segera melucuti seluruh pakaian yang dikenakannya, sedangkan Jessy dan Sabrina lalu menutup tubuhnya yang mengenakan linggeri tersebut dengan kimono satin yang warnanya senada dengan linggeri mereka.


Setelah selesai makan malam, Sabrina dan Jessy memaksa Nata untuk menutup matanya. Dengan sehelai kain penutup mata, Jessy dan Sabrina membimbing langkah suami tercintanya itu menuju ruang keluarga.


“Nah sekarang akang boleh buka penutup matanya.” Ucap Jessy. Nata lalu membuka penutup matanya tersebut. Di dinding ruang keluarga itu kini sudah tersemat beberapa bingkai foto, mulai dari foto pada masa kecilnya Nata sampai dengan foto saat mereka mengadakan resepsi pernikahan. Terakhir Nata menatap lebih lama pada  sebuah foto berukuran besar yang menampilkan Nata yang diapit oleh Sabrina dan Jessy mengenakan pakaian adat Sunda.


“Wow bagus sekali, tapi masih ada yang kurang, foto kalian berdua pada masa kecil tidak ada.” Keluh Nata.


“Iya kang, kami memang tidak seberuntung akang yang memiliki foto-foto pada masa kecil. Yang aku tanyakan sekarang, apakah akang suka dengan semua foto-foto yang sudah diterapkan di dinding ini ?” Tanya Sabrina.


“Suka banget sayang. Terima kasih yaa, kalian berdua memang sangat perhatian banget deh.” Jawab Nata lalu memeluk tubuh kedua istrinya itu.


“Aku ada ide, sekarang kan sudah ada aplikasi untuk membuat foto wajah kita saat masih kecil, kita buat saja foto-foto rekayasa tersebut, seperti foto-foto saat kalian berdua masih kecil. Agar bisa melengkapi kekurangan yang ada di dinding ini. Apakah kalian setuju ?”


“Heemm boleh juga tuh. Baiklah kang, kalau aku sih setuju kang kang.”  Jawab Jessy.


“OK aku juga setuju, pasti lucu dan seru tuh.” Jawab Sabrina.


Kemudian mereka lalu duduk di sofa ruang keluarga tersebut, sambil menatap semua foto yang sudah menempel di dinding dan bercengkrama dengan suasana penuh kehangatan. Mereka betah berlama-lama duduk di sofa sambil ngobrol juga tentang semua kegiatan pada hari itu, juga membicarakan dan membahas tentang rencana-rencana masa depan, baik yang berkaitan dengan kegiatan di kantor maupun bagi keluarga mereka.

__ADS_1


__ADS_2