
Sesampainya di kantin rumah sakit, Arga memesankan beberapa makanan untuk Jessica dan dirinya. Sambil menikmati makanannya, sesekali Arga melirik wanita cantik yang duduk di depannya. Wanita cantik yang sudah resmi menjadi tunangannya dan sebentar lagi menjadi istrinya.
Jessica yang merasakan tatapan tak biasa dari Arga mencoba mengalihkan pandangannya. Jessica berpura-pura tak menggubris tatapan Arga pada dirinya.
“Aku tak akan melepaskan kakak”ucap Jessica tiba-tiba
Membuat Arga bingung sampai membelalakkan matanya mendengar ucapan Jessica yang mendadak.
“Walaupun aku tahu Thania adalah putri kakak, tapi aku tak keberatan untuk menerimanya menjadi putriku juga. Kita bersama akan merawat Thania dan menjadi keluarga yang utuh. Dia tidak akan kehilangan sosok ayahnya. Jadi kakak tidak usah khawatirkan aku”sambung Jessica.
Jessica awalnya sempat syok mendengar kenyataan bahwa Thania adalah putri kandung Arga. Namun karena rasa cintanya pada Arga sudah terlanjur kuat, sehingga Jessica memilih membiarkan masalah itu. Dia akan tetap menerima Thania menjadi bagian keluarganya kelak bersama Arga. Jessica bertekad menjadi ibu sambung yang baik bagi si kecil Thania.
Jessica yang meskipun terluka karena dengan kenyataan Arga dan Catherine memiliki seorang putri, itu artinya Arga pernah “bercinta” dengan Catherine. Namun Jessica yang terlanjur cinta mati pada Arga, tak ingin kehilangan Arga. Jessica memilih menerima kenyataan itu sebagai bagian masa lalu Arga. Walaupun rasanya sangat menyakitkan.
Hati wanita mana yang tidak akan terluka jika tahu tunangannya, calon suaminya ternyata memiliki seorang anak dengan wanita lain yang tak lain adalah cinta pertamanya. Itu juga yang dirasakan Jessica saat ini. Namun ketimbang kehilangan Arga, Jessica lebih memilih menerima Thania.
“Maafkan aku”ucap Arga
Jessica mendongakkan kepalanya menatap lelaki tampan yang duduk di depannya. Jessica menatap Arga dengan tatapan penuh arti. Mencoba menyelami apa yang dirasakan lelaki itu.
Jessica menggenggam tangan Arga dan tersenyum padanya.
“Aku tahu saat ini hati kakak pasti sangat bimbang. Tapi aku akan selalu berada di sampingmu sampai kapanpun juga. Aku akan tetap berada di sini menemani kakak sampai nona Catherine dan nona Thania sembuh. Jadi kakak tak usah memikirkan aku. Aku tak apa”sambung Jessica
Arga yang mendengar ucapan tulus dari Jessica merasa sangat senang. Arga membalas genggaman tangan Jessica.
“Terimakasih sudah menemaniku sampai sekarang”sahut Arga
Keduanya saling berpegangan tangan.
“Untuk saat ini, aku hanya akan fokus pada penyembuhan Cathy dan Thania”gumam Arga dalam hati.
“Aku akan selalu menggenggam tanganmu dan bersamamu”gumam Jessica dalam hati sambil tersenyum pada Arga.
*
*
*
*
__ADS_1
Selama beberapa hari, Arga terus menunggui Catherine dan Thania hingga keduanya benar-benar sadar. Karena setelah operasi, baik Catherine maupun Thania, keduanya sama-sama belum sadarkan diri. Dokter pun tak bisa berbuat banyak. Mereka hanya bisa memantau terus perkembangan kesehatan keduanya.
Arga menunggui keduanya tanpa istirahat. Kadang kelakuan Arga ini membuat Caroline sedih melihat Arga yang sangat mengkhawatirkan putri dan cucunya tanpa memperdulikan kesehatannya. Untung saja ada Jessica yang selalu berada di samping Arga.
Dengan telaten, Jessica selalu mengingatkan Arga untuk makan dan istirahat. Kadang keduanya bergantian menjaga Catherine dan Thania. Bagi Arga, kesembuhan Catherine dan Thania lebih penting dari apapun. Karena itu, meskipun dirinya sangat kelelahan, namun Arga memilih menunggui keduanya.
Brandon dan Devara juga bergantian menjaga Catherine dan Thania. Kali ini keluarga Alexander benar-benar mendapatkan ujian yang sangat berat. Baik Catherine maupun si kecil Thania tak kunjung sadar dari komanya.
“Sadarlah cintaku! Sadarlah sayangku! Kumohon!”gumam Arga dalam hati sambil menggenggam tangan Catherine
Air mata Arga sudah di pucuk mata. Hatinya sangat sedih melihat keadaan Catherine yang tak kunjung sadar dari komanya. Arga menggenggam tangan Catherine sangat erat.
Arga tidak sadar, ada sepasang mata yang melihat perlakuan manisnya pada Catherine. Jessica memegang dadanya yang mendadak terasa sesak melihat lelakinya mengkhawatirkan wanita lain di depan matanya.
Jessica yang tak kuat melihat itu semua akhirnya berlari keluar dari ruangan ICU dan terus berlari hingga ke taman rumah sakit.
“Kenapa kau begitu bodoh Jessi?”gerutu Jessica sambil mengusap air matanya yang tak lagi sanggup ditahannya.
Sedetik kemudian, Jessica pun menangis dengan tersedu-sedu di taman rumah sakit. Tanpa menghiraukan tatapan mata orang-orang yang lalu lalang melihat dirinya.
Setelah sedikit tenang, Jessica menyeka sisa air matanya. Tiba-tiba sebuah sapu tangan terulur di depan Jessica. Jessica spontan mendongakkan kepalanya melihat seseorang yang menyodorkan sebuah sapu tangan untuk dirinya.
“Dokter?”panggil Jessica begitu mengenali orang yang telah menyodorkan sapu tangan pada dirinya, tak lain adalah dokter Albert.
“Hapuslah air matamu itu!”pinta sang dokter.
“Terimakasih dok”sahut Jessica
Dokter Albert adalah dokter berkebangsaan Indonesia yang bekerja di rumah sakit itu. Pria tampan berdarah campuran Indonesia-Amerika itu adalah dokter yang merawat Thania.
“Apa hatimu sudah mendingan setelah menangis tadi?”tanya Albert
“Dokter melihatku menangis?”tanya Jessica
Albert hanya tersenyum dan merentangkan tangannya ke belakang sambil menatap ke arah langit.
“Setidaknya dengan menangis, hati kita tidak lagi terhimpit”jawab Albert
“Dokter benar”balas Jessica
“Bagaimana perkembangan kesehatan nona Catherine dan nona Thania?”tanya Jessica.
__ADS_1
“Mereka harusnya sadar setelah 3 x 24 jam pasca operasi”ucap Albert
“Bagaimana jika mereka tidak sadar dok?”tanya Jessica penasaran
Wajah dokter mendadak serius sambil memperbaiki posisi tubuhnya. Pandangan dokter pun lurus ke depan. Dokter tampak menghela nafasnya perlahan.
“Mereka akan koma untuk waktu yang lama”jawab Albert.
Degh..
“Koma?”gumam Jessica dalam hati
“Aku kasihan pada lelaki yang selalu bersama dengan nona Catherine”ucap Albert.
“Maksud dokter kak Arga?”tanya Jessica
“Iya. Aku lihat dia sangat hancur melihat keduanya belum kunjung sadar. Aku bisa lihat betapa dia sangat mencintai keduanya”ucap dokter Albert
“Dia tunanganku”ucap Jessica dengan lirih sambil menundukkan wajahnya.
“Benarkah? Maaf! Aku tidak tahu. Aku pikir bodyguard itu kini sudah menjadi suami Catherine”ucap Albert keceplosan
“Bodyguard? Dari mana dokter tahu kak Arga dulu bodyguard nona Catherine”tanya Jessica.
Albert merutuki kebodohannya sendiri. Akhirnya mau tidak mau dia harus menceritakan masa lalunya pada Jessica.
“Aku dan Catherine dulu pernah belajar di kampus yang sama. Tapi kami mengambil jurusan yang berbeda. Aku pun sangsi Catherine masih mengingatku. Dan seingatku, lelaki itu selalu bersamanya. Aku ingat, dulu dia pernah memukulku saat pertemuan pertama kami”ucap dokter Albert mengenang masa lalunya bersama Catherine dan Arga.
“Sepertinya kak Arga sudah tidak mengenali Anda”ucap Jessica
“Kau benar. Dia sama sekali tak mengenaliku. Bagaimana bisa dia mengenali aku jika dimatanya saja hanya ada Catherine dan putrinya”sindir Albert
Jessica yang merasa tersinggung dengan ucapan dokter Albert akhirnya memilih kembali ke ruangan tempat Catherine dan Thania. Jessica pun berdiri dari duduknya.
“Kau mau kemana?”tanya Albert melihat Jessica yang beranjak dari duduknya.
“Aku akan kembali ke sana. Aku akan menemani kak Arga. Permisi dokter! Terimakasih untuk sapu tangannya”ucap Jessica pamit dengan nada suara yang sedikit ketus.
Albert hanya menatap punggung gadis cantik yang sudah dibuatnya tersinggung itu.
“Dasar gadis bodoh! Jelas-jelas lelaki itu tak mencintainya tetapi dia tetap saja mau disampingnya”gumam Albert dalam hati
__ADS_1
Ternyata dokter Albert memang sengaja memanas-manasi Jessica. Karena Albert melihat betapa besar cinta Arga untuk Catherine dan putrinya. Albert kasihan melihat Jessica yang ada namun tiada di mata Arga. Albert merasa bersimpati pada gadis cantik yang selalu menemani Arga itu.