
Arga kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan semua urusan dan pekerjaannya yang ada di Amerika. Dan sesampainya di Indonesia, Arga langsung dihadapkan pada masalah yang serius yang berkaitan dengan tuan mudanya, Devara Alexander.
Devara yang hari itu sedang malas melakukan apapun hanya bermalas-malasan di kamarnya yang luar biasa luas. Sambil bermain game di hpnya. Devara yang sedang bersantai di rumahnya, mendapat telepon dari Nadine.
“Dev..apa kau sedang sibuk sekarang?”tanya Nadine di sambungan telepon
“Ga sih”jawab Devara singkat
“Bagus..aku mau minta tolong, kau bisa membantuku?”tanya Nadine
“Ada apa?”tanya Devara dengan malas.
“Aku barusan dapet telepon dari Gina. Dia mau aku kerumahnya sekarang. Dia bilang dia membutuhkan aku. Tapi aku tak bisa kesana sekarang, karena aku harus menjemput kakakku ke bandara. Kau bisa kan menggantikan aku?”pinta Nadine
Devara yang sedang gabut, tanpa pikir panjang segera mengiyakan permintaan Nadine.
“Baiklah! Aku akan ke sana”jawab Devara
“Thanks Dev..Aku tau aku bisa mengandalkanmu. Kalo begitu aku pergi ke bandara sekarang. Terimakasih Dev”ucap Nadine tulus.
“Hemmm”Devara berdehem
Sesaat kemudian Devara menutup teleponnya.
Devara segera meraih kunci motornya dan keluar dari kamarnya. Di perjalanan menuju tangga, Devara berpapasan dengan Arga.
“Ah..kebetulan sekali kakak di sini. Aku ke rumah Gina dulu kak”pamit Devara dengan terburu-buru.
“Apa perlu saya temani tuan muda?”tanya Arga
“Ga usah. Aku naik motor aja”sahut Devara cepat sambil menunjukkan kunci motornya.
Arga menganggukkan kepalanya memberi hormat pada Devara. Arga menatap salah seorang bodyguard, dan menggerakkan jarinya memberi tanda supaya bodyguard itu mendekat.
“Bawa beberapa pengawal untuk mengikuti tuan muda”perintah Arga
Bodyguard itu menganggukkan kepalanya.
“Baik tuan”jawab sang bodyguard
Bodyguard itupun undur diri setelah memberi hormat pada atasannya. Dia pergi bersama beberapa pengawal yang lain untuk mengikuti Devara. Sejak kecil Devara memang tak suka jika diawasi oleh pengawal. Karena itu, Brandon hanya bisa memerintahkan bodyguardnya mengawasi Devara dari jauh. Dan Devara pun tahu itu. Asalkan para bodyguard itu tidak mengganggu pergerakannya. Dari para bodyguard itu juga orangtua Devara mengetahui segala sepak terjang sang putra yang dijuluki sang trouble maker di sekolah.
Devara melajukan motor besarnya menyusuri keramaian lalu lintas jalanan. Devara mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi layaknya pembalap motoGP. Devara sangat terampil mengemudikan motor besarnya menembus kemacetan jalanan yang saat ini sangat ramai dengan kendaraan.
Sesampainya di rumah Gina, Devara segera memarkirkan motor besarnya di garasi. Setelah melepas helmnya, Devara tampak heran melihat mobil milik Daniel ada di garasi rumah Gina.
“Daniel juga di sini rupanya”gumam Devara dalam hati.
Begitu memasuki rumah Gina, seorang pelayan segera mempersilahkan Devara ke kamar Gina. Karena Gina sudah berpesan pada pelayannya jika temannya datang, supaya segera diantar ke kamarnya. Berhubung Devara sudah sering berkunjung ke rumah Gina, tanpa pikir panjang pelayan itu langsung mengantar Devara sesuai perintah majikannya.
Sampai di depan kamar Gina, pelayan itu langsung pamit undur diri. Devara memegang gagang pintu, dan membukanya perlahan. Begitu masuk ke dalam kamar, Devara langsung membelalakkan matanya begitu melihat pemandangan yang membakar hatinya.
__ADS_1
“Daniel”pekik Devara dengan suara lantang
“Devara” gumam Gina dan Daniel dalam hati
Daniel dan Gina spontan membalik badannya begitu mendengar suara teriakan Devara yang terdengar sangat lantang. Devara yang marah langsung berjalan menghampiri Daniel dengan tangan yang terkepal kuat.
“Bugh..bugh”
Devara yang sedang marah langsung melayangkan bogem mentahnya ke arah Daniel. Gina yang kaget melihat Devara memukul Daniel tampak menutup mulutnya. Gina terkejut setengah mati melihat Devara yang memukul Daniel dengan membabi buta.
Daniel berusaha menenangkan sahabat baiknya yang salah paham pada dirinya dan Gina. Daniel menahan tangan Devara yang hendak memukulnya lagi.
“Dev..aku bisa jelaskan”pinta Daniel dengan sebelah tangannya yang menahan tangan Devara.
“Aku tak butuh penjelasanmu. Apa yang kulihat barusan sudah lebih dari cukup. Kau memang breng*sek”umpat Devara dengan kemarahan yang menguasai hatinya.
Devara menjadi gelap mata, setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri, Daniel yang berciuman dengan Gina. Padahal Daniel juga tau Gina sangat dekat dengan Devara. Devara sangat marah, merasa terkhianati oleh Daniel, sahabat baiknya.
“Ini tak seperti yang kau pikirkan”ucap Daniel berusaha menenangkan Devara.
“Dev..tolong hentikan”pinta Gina dengan suara yang terisak karena merasa bersalah pada Devara.
“Bisa-bisanya kalian lakukan ini di belakangku. Kalian memang kurang ajar!”umpat Devara mengeluarkan semua kemarahan di dalam hatinya
Devara kembali melayangkan bogem mentahnya hingga Daniel tersungkur di lantai. Merasa ucapannya tidak akan didengar, Daniel pun memberikan perlawanan. Kedua sahabat baik yang sudah seperti saudara kembar itu akhirnya malah berkelahi di kamar Gina.
Gina yang melihat dua lelaki yang sedang berkelahi di kamarnya hanya bisa melihat keduanya baku hantam. Beberapa kali Gina berusaha meredam kemarahan Devara dengan cara memegang lengannya. Namun dengan cepat Devara menepis tangan Gina, dan kembali berkelahi dengan Daniel. Gina terus menangis di pojokan.
Gina yang sebenarnya ingin menyingkirkan Nadine dari samping Daniel, sengaja membuat skenario seolah dirinya sedang bersedih. Gina sengaja mengundang Daniel untuk datang. Dan ketika Daniel berusaha menghiburnya, Gina akan menciumnya begitu Nadine masuk ke dalam kamarnya.
Semua rencana itu sudah tersusun sangat rapi. Gina bahkan yakin seratus persen, rencananya bakal berjalan lancar. Namun rupanya semua justru hancur berantakan, karena bukan Nadine yang datang, tetapi justru Devara yang datang. Lelaki yang dicintainya yang datang di saat yang tidak tepat.
Sejak dulu Gina sudah mencintai Devara tetapi Gina juga menaruh hati pada sosok Daniel yang lembut namun karismatik. Gina yang serakah ingin menguasai kedua lelaki yang dijuluki duo prince sekolah. Devara yang bad boy dan Daniel yang lembut.
“Awas kau Nadine! Aku akan membuat perhitungan denganmu!”umpat Gina dalam hati
Gina ingin membalas dendam pada Nadine yang sudah mengacaukan rencananya.
“Bugh..bugh”
Devara dan Daniel terus berkelahi. Namun karena Devara lebih jago beladiri maka perkelahian yang tidak seimbang itu tentu saja dimenangkan oleh Devara.
“Kau memang breng*sek. Bisa-bisanya kalian berciuman”seru Devara di sela-sela memukul Daniel yang berada di bawahnya.
Melihat sahabat baiknya sudah tak berdaya, Devara yang masih dikuasai kabut amarah, berdiri dari atas tubuh Daniel. Wajah tampan Daniel dipenuhi luka lebam akibat pukulan Devara. Darah juga nampak mengucur dari sudut bibir Daniel yang tadi dipukul Devara.
Devara segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar Gina. Melihat Devara yang hendak pergi, Gina segera meraih tangan Devara. Namun Devara menepis dengan kasar tangan Gina tanpa sepatah katapun sambil menatap tajam kearahnya. Tatapan mata membunuh Devara membuat Gina bergidik ngeri. Karena ini adalah pertama kalinya Devara menatapnya dengan tatapan membunuh seperti itu.
“Dev”panggil Gina dengan lirih
Devara tak menghiraukan panggilan Gina dan berjalan keluar dari rumah Gina dengan terburu-buru. Devara mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Kemarahan yang menggelora di dalam hatinya membuat Devara memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Daniel yang sudah babak belur, merasa harus menjelaskan kesalahpahaman antara dirinya dan Devara. Daniel dengan sisa tenaga yang dimilikinya segera bangun dan beranjak dari tempatnya.
Sebelum keluar kamar, Daniel menatap ke arah Gina. Daniel juga merasa sangat marah pada Gina karena sudah menjebak dirinya. Membuat Devara salahpaham kepada dirinya.
“Semua ini adalah salahmu. Kau harus menjelaskan semuanya pada Devara. Jika tidak, aku tak akan memaafkanmu sampai kapanpun”gertak Daniel
“Sialan! Kini aku harus menghadapi Daniel dan Devara”gerutu Gina dalam hati
“Nadine..aku membencimu! Aku sangat membencimu! Aku akan membuat hidupmu menderita seperti yang aku alami sekarang”umpat Gina dalam hati pada Nadine
Daniel segera menyusul Devara. Daniel segera menyalakan mesin mobilnya dan mengendarai mobilnya memecah keramaian jalanan. Tujuan utama Daniel kali ini adalah kediaman keluarga Alexander. Daniel yakin sahabatnya itu akan kembali ke kediamannya.
Daniel menghubungi seseorang di sela-sela menyetir.
“Kak, apa Dev sudah pulang?”tanya Daniel pada Arga
“Belum tuan muda”jawab Arga
“Kalo Dev sudah pulang, hubungi aku secepatnya”pinta Daniel
“Baik tuan muda”balas Arga.
Sebelum sambungan telepon mereka terputus, Arga melihat Devara yang baru saja sampai di kediamannya.
“Tuan muda baru saja sampai. Saya sambungkan pada tuan muda”
“Terimakasih kak”balas Daniel
Arga segera menghampiri Devara yang baru saja turun dari motor besarnya. Arga menatap penuh keheranan, melihat wajah Devara yang sedikit lebam.
“Maaf tuan muda, tuan Daniel ingin bicara”ucap Arga sambil menyodorkan hp nya.
Devara yang sedang sangat marah, mendengar nama Daniel disebut langsung murka. Tanpa diduga, Devara lansgung meraih hp Arga dan membantingnya di lantai dengan sangat keras.
“Brakkkk”
Hp yang tak bersalah itupun hancur berkeping-keping. Arga hanya diam membisu. Dia yakin Devara sedang bermasalah dengan Daniel.
“Tut..tut..tut”
Sambungan telepon Daniel terputus. Daniel langsung memukul setir mobilnya dengan keras karena dia yakin kali ini Devara sangat marah pada dirinya.
“Sialan!”umpat Daniel sambil meremas setir mobilnya dengan kuat
Devara mengarahkan telunjuknya di depan wajah Arga dengan tatapan mata yang dipenuhi kemarahan.
“Jangan biarkan lelaki itu masuk kemari! Aku tak ingin bertemu dengan dia lagi! Kakak mengerti?”perintah Devara
Arga dengan wajah datarnya hanya menganggukkan kepalanya.
“Baik tuan muda. Saya mengerti”jawab Arga
__ADS_1