
Sejak kedatangan Arga untuk melamarnya, akhirnya acara lamaran antara Arga dan Jessica dapat berjalan dengan lancar. Acara lamaran yang hanya dihadiri keluarga inti dan kerabat dekat kedua keluarga diselenggarakan dengan sangat sederhana. Arga hanya mengajak Madam O, beberapa keluarga Alexander, Nadine dan Daniel serta beberapa keluarga dekatnya saja. Tak tampak di sana kehadiran Catherine. Catherine dan keluarga kecilnya tidak menghadiri acara lamaran Arga dengan Jessica karena Catherine belum sanggup melihat Arga bersanding dengan wanita lain.
Arga dan Jessica terlihat sangat serasi di acara lamaran mereka. Arga terlihat tampan dalam balutan setelan jas hitam dipadu dengan kemeja putih. Sementara Jessica terlihat sangat cantik dalam balutan night gown warna peach sleveless dengan beberapa aksen swarovski berbentuk bunga di bagian pinggangnya.
Madam O menghadiahkan sebuah kalung emas turun temurun di keluarganya pada Jessica.
“Terimakasih tante”ucap Jessica setelah Madam O melingkarkan kalung itu di leher Jessica.
“Mulai sekarang, panggil aku mama”pinta Madam O
“Iya mama”sahut Jessica
Madam O dan Jessica pun berpelukan selama beberapa saat. Arga yang melihat sang ibu bersama dengan wanita pilihannya hanya bisa tersenyum penuh arti.
“Semoga kau wanita terbaik yang bisa mendampingiku”gumam Arga dalam hati.
Di Amerika,
Catherine yang tak bisa dan tak mau menghadiri pesta pertunangan Arga hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi lelaki yang sangat dicintainya itu.
“Aku doakan semoga kau bahagia kak”pinta Catherine dalam hati sambil menatap si kecil Thania yang masih pulas tertidur.
“Kita akan mulai hidup yang baru ya sayang. Mommy, kamu dan papa akan hidup bahagia mulai dari sekarang”gumam Catherine sambil mengelus pucuk kepala sang putri.
*
*
*
*
Sejak pertunangan Arga, Catherine mulai merubah sikapnya pada Willy. Catherine mulai lebih lembut pada sang suami. Dan hari ini, dia memilih memasak di apartemen mewahnya. Catherine ingin memulai lagi kehidupan yang baru bersama Willy.
“Baiklah..sudah waktunya aku berbaikan dengan Willy”gumam Catherine dalam hati.
Catherine berencana berbaikan dengan Willy. Dan langkah pertama yang dilakukannya adalah membuatkan makan siang untuk Willy. Selama beberapa saat, Catherine berkutat di dapur untuk menyiapkan sendiri makan siang untuk suaminya, Willy.
Catherine membuat makan siang dibantu oleh beberapa chef yang memang dimintanya mengajari memasak makanan kesukaan Willy. Catherine tersenyum bahagia melihat dan merasakan hasil usahanya sendiri.
“Not bad”puji Catherine setelah merasakan masakannya sendiri.
__ADS_1
“Apa nyonya akan membawa makan siangnya sekarang?”tanya seorang nanny pada Catherine.
Catherine yang sedang menyiapkan semua bekal makan siang yang akan dibawanya ke rumah sakit tempat Willy bekerja.
Setelah semua siap, Catherine pun berangkat ke tempat kerja Willy. Catherine berangkat bersama Thania dan seorang nanny yang bertugas menjaga Thania. Catherine sengaja menyetir mobilnya sendiri.
Sepanjang perjalanan, Catherine terus tersenyum membayangkan betapa terkejutnya Willy melihat dirinya dan Thania berkunjung di jam istirahat makan siang.
“Dia pasti akan terkejut melihat kami berdua”gumam Catherine dalam hati.
Catherine tampak menikmati perjalanan menuju tempat kerja Willy yang walaupun harus melewati jalanan yang macet karena bertepatan dengan jam makan siang namun tak menyurutkan keinginan Catherine memberi kejutan pada Willy.
Sesampainya di rumah sakit, Catherine langsung menuju ruang kerja sang suami yang dia kenal betul tempatnya. Sambil menggendong Thania kecil, Catherine tampak tersenyum bahagia.
“Sebentar lagi kita akan bertemu dengan papa, apa kamu senang sayang?”tanya Catherine.
Thania kecil tampak mengangguk.
“Anak pintar”puji Catherine.
Sesampainya di depan ruang kerja Willy, Catherine sengaja meminta sang nanny menunggu di ruang tunggu. Catherine ingin menikmati family time mereka bertiga.
“Aneh, kenapa ruangannya sepi”gumam Catherine begitu memasuki ruang kerja Willy yang terlihat sepi.
Catherine mencari keberadaan Willy di dalam ruangan luas itu namun Willy tak terlihat ada di sana. Catherine ingin memanggil nama Willy.
“Wil..”
Belum selesai Catherine memanggil nama suaminya, Catherine mendengar suara tak biasa dari ruang periksa pasien yang terletak tak jauh dari tempat Catherine.
Tiba-tiba pikiran buruk menghantui Catherine. Catherine pun memilih berjalan mengendap dan keluar dari ruang kerja Willy. Begitu berhasil keluar, Catherine segera menyerahkan Thania pada sang nanny.
“Bawa Thania ke mobil. Sebentar lagi aku turun”perintah Catherine.
Ekspresi wajah Catherine pun berubah setelah mendengar suara tak biasa tadi. Nanny pun membawa Thania kecil kembali ke mobil. Dengan perasaan yang kalut dan penuh tanda tanya, akhirnya Catherine memutuskan kembali masuk ke ruangan Willy.
Dengan perlahan Catherine memasuki ruang kerja Willy seperti sebelumnya namun kali ini dengan membawa sejuta pertanyaan dalam benaknya. Catherine mencoba mendekati ruang periksa Willy dengan langkah yang gemetar. Jantungnya berdegup sangat kencang. Sekuat tenaga Catherine memberanikan diri mendekat.
Setelah berada di balik tirai penutup ruang periksa, Catherine mencoba mengintip dari sela tirai. Terlihat disana sosok sang suami yang sedang bersama seorang pasien.
Degh..
__ADS_1
“Kenapa penampilan mereka seperti itu? Apa yang baru saja mereka lakukan?”gumam Catherine dalam hati.
Catherine semakin gelisah, karena yang dilihatnya sang suami sedang merapikan ikat pinggang yang membelit celana panjang warna hitam yang dikenakannya. Wanita yang bersamanya juga tampak merapikan kembali dress ketat yang dikenakan.
Hati Catherine semakin bergemuruh hebat. Pikiran-pikiran buruk semakin memenuhi pikirannya melihat penampilan sang suami yang berantakan begitu juga pasien wanita yang bersamanya.
Bahkan wanita cantik yang bersamanya tampak mengalungkan tangannya pada Willy.
“Thank you baby. Whenever you want me, I will come to you”ucap sang wanita dengan tatapan genit sambil mengecup bibir Willy.
Willy meraih tangan wanita itu dan melepaskannya dengan paksa.
“Lepaskan! Ini terakhir kalinya kita bertemu. Aku tak mau istriku dan keluarganya tahu tentang kita”ucap Willy
“Tenang saja. Dia tak akan tahu. Lagipula kau juga menikmati permainan ini kan, jujur saja?”tanya sang wanita yang mulai memakai sepatu high heelsnya.
“Kenapa tak kau ceraikan saja istrimu itu? Dan menikahlah denganku”tantang sang wanita.
“Apa kau sudah gila? Aku tak mungkin menceraikan dia”bentak Willy.
Catherine mendengarkan semua pembicaraan antara Willy dan wanita cantik itu dengan hati yang terluka. Airmata tampak mengalir dari mata indah Catherine. Karena sekali lagi dirinya melihat pengkhianatan sang suami. Dan yang lebih menyakitkan, Catherine melihat dan mendengar dengan mata kepalanya sendiri.
“Krekkkk”
Willy yang tak menyadari keberadaan Catherine, membuka tirai yang menutup ruang periksa pasien yang ada di ruangannya yang menjadi saksi bisu perselingkuhan Willy dengan salah satu pasiennya.
Degh..
Willy dan wanita yang bersamanya sama-sama kaget melihat Catherine sudah berdiri di depan mereka.
“Sayang?”panggil Willy
Catherine yang masih beruraian airmata mendekat ke arah Willy dengan beruraian airmata.
“Sayang, aku bisa jelaskan!”pinta Willy sambil mendekat ke arah Catherine.
“Plakkk”
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Willy. Catherine yang sudah sangat emosi menampar Willy dengan sangat keras hingga telapak tangannya pun terasa panas.
“I hate you Willy”seru Catherine dengan lantang dan pergi meninggalkan ruangan Willy sambil berlari.
__ADS_1