Terjerat Cinta Nona Muda

Terjerat Cinta Nona Muda
Serangan Jantung


__ADS_3

Devara yang hatinya sedang bergemuruh langsung melangkahkan kakinya ke arah pengawal yang berada di dekat mereka. Devara ingin melampiaskan kemarahannya. Tanpa komando Devara langsung memukuli pengawal itu dengan membabi buta. Sementara pengawal yang tak bersalah itu hanya bisa menerima setiap pukulan dan tendangan dari tuan mudanya yang labil.


“Aaaaa…”pelayan-pelayan wanita yang melihat Devara menganiaya pengawalnya hanya bisa menjerit ketakutan.


Karena ini adalah pertama kalinya Devara seperti orang kesurupan yang terus menganiaya pengawalnya hanya untuk melampiaskan kemarahan di dalam hatinya. Para pelayan bergerombol menyaksikan pemandangan mengerikan itu tanpa bisa melakukan apa-apa.


Arga juga tidak berniat menghentikan pertarungan yang tidak seimbang itu karena menyadari Devara sedang dikuasai amarahnya. Percuma melawan Devara yang memang jago beladiri. Jika dihentikan hanya akan membuat mereka berdua berkelahi tanpa ada akhirnya.


Suara ribut-ribut yang dibuat oleh teriakan para pelayan wanita membuat Agatha heran. Agatha yang sedang bersama Madam O berjalan menuju sumber suara keributan.


“Ada kejadian apa Madam?”tanya Agatha pada Madam O yang berjalan di sampingnya.


“Saya juga tidak tahu nyonya. Mari kita kesana”ajak Madam O


Madam O yang penasaran mengajak Agatha melihat keadaan. Mereka berjalan memecah kerumunan para pelayan. Pelayan-pelayan yang melihat majikannya datang segera memberi jalan pada Agatha.


Agatha dan Madam O tampak membelalakkan matanya melihat sang cucu yang sedang menganiaya seorang pengawal. Devara memukuli pengawal tak bersalah itu dengan membabi buta.


“DEVARA..APA-APAAN SEMUA INI! HENTIKAN SEKARANG JUGA”teriak Agatha dengan suara lantang


Devara yang mendengar suara lantang sang nenek seperti disadarkan dari tindakan kekerasan yang dilakukan. Devara menatap sang pengawal yang berada di bawah tubuhnya yang dipenuhi luka akibat perbuatannya.


Devara dengan nafas terengah-engah segera beranjak dari tubuh besar pengawalnya yang sejak tadi tak melawan sedikitpun meski sudah dipukuli Devara. Melihat Devara yang sudah menghentikan pukulannya, Arga segera memerintahkan pengawal yang lain untuk menolong pengawal tadi untuk diobati.


Pengawal tadi dipapah oleh dua pnegawal yang lain dan dibawa menjauh dari Devara. Agatha berjalan ke arah Devara dengan menahan amarahnya. Madam O segera memerintahkan semua pelayan kembali ke tempat masing-masing.


“Apa yang kalian lakukan disini? Cepat kembali bekerja”perintah Madam O


Satu per satu pelayan undur diri sambil menundukkan kepalanya memberi hormat pada Madam O dan kembali ke dalam rumah. Mereka tampak berbisik-bisik satu sama lain. Tentu saja membicarakan majikannya yang seperti orang kesurupan. Memukuli pengawal yang tak berdosa tadi.


Devara mengepalkan tangannya dengan nafas yang naik turun menandakan amarahnya yang perlahan mereda. Agatha yang sudah berdiri di depan Devara tampak sangat marah. Tiba-tiba,


“Plakkkk”


Agatha menampar pipi Devara dengan keras hingga wajah tampan Devara menoleh ke samping. Devara menatap sang nenek yang sudah berani menamparnya dengan tatapan penuh kemarahan.


“Kenapa melihat nenek seperti itu? Apa kau juga mau memukul nenek?”tanya Agatha


Madam O yang baru kali ini melihat Agatha marah, hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar.


“Kenapa kau memukuli pengawal tadi? Apa salah pengawal itu? Cepat katakan! Nenek ingin mendengar penjelasanmu”pinta Agatha


“Nenek tahu kau itu pemarah tapi nenek tak pernah mengajarimu untuk melawan orang yang lebih lemah dari dirimu. Nenek sungguh kecewa padamu Dev”ucap Agatha dengan menahan sesak dalam dadanya.


Melihat cucu kesayangannya yang bisa berbuat sebrutal itu, membuat Agatha sangat sedih. Devara yang melihat gurat kekecewaan di mata neneknya pun merasa bersalah.


“Sebenarnya ini ada apa Dev? Katakan pada nenek?”pinta Agatha dengan suara yang lebih lembut

__ADS_1


“Ini bukan urusan nenek. Sebaiknya nenek tidak ikut campur”ucap Devara dengan ketus


Agatha semakin sedih melihat cucunya itu dikuasai amarah. Tatapan mata Devara juga tak seperti biasanya. Agatha yakin bahwa kali ini masalah yang dihadapi Devara sangatlah serius.


Di tengah pembicaraan Agatha dan Devara, tiba-tiba Daniel datang. Devara yang tak ingin bertemu dengan Daniel memilih meninggalkan neneknya dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Daniel segera keluar dari mobilnya dan berlari mengejar Devara. Daniel terus berlari dan ketika berada di dekat Devara, Daniel langsung meraih tangan Devara.


“Dev..tunggu sebentar! Dengarkan aku sebentar saja”pinta Daniel


Devara menoleh pada Daniel, sahabat baiknya dengan tatapan membunuhnya. Tatapan mata yang sangat dingin yang selalu diperlihatkan Devara saat melawan rival-rivalnya.


Agatha, Madam O dan Arga mengikuti mereka berdua ke dalam rumah.


“Arga, ada masalah apa antara Dev dan Daniel?”tanya Agatha pada Arga


“Maaf nyonya, saya juga tidak tahu ada masalah apa antara tuan muda dan tuan muda Daniel”jawab Arga


Devara menepis dengan kasar tangan Daniel dan segera melayangkan bogem mentahnya kembali pada Daniel.


Agatha, Madam O dan Arga yang melihat kedua sahabat baik yang sudah seperti keluarga itu berkelahi tampak terkejut.


“Arga..cepat lerai mereka!”pinta Madam O


“Devara, hentikan!”pekik Agatha


Agatha kaget melihat kedua “cucu” kesayangannya berkelahi di depan matanya. Arga segera berlari ke arah Devara dan memeluk tubuh Devara dari belakang. Beberapa pengawal juga ikut membantu Arga. Mereka datang lalu memisahkan Daniel dan Devara.


“Semua itu hanya salah paham Dev. Percayalah padaku!”seru Daniel mencoba membela diri.


“Lepaskan aku kak! Aku ingin menghabisi lelaki breng*sek itu! Lepaskan”perintah Devara sambil menggerakkan tubuhnya mencoba melepaskan diri dari Arga yang terus memegangi tubuhnya.


Devara ingin melampiaskan kemarahannya dan berkelahi dengan Daniel yang sudah mengkhianati persahabatan mereka.


Agatha segera berjalan ke tengah-tengah antara Devara dan Daniel. Dilihatnya Devara yang dipenuhi kemarahan. Sementara Daniel wajahnya juga penuh dengan luka. Agatha yakin masalah ini berhubungan dengan Daniel. Itu sebabnya mereka berkelahi seperti itu.


“Sudah..henti..kan..”ucap Agatha dengan suara terbata-bata


Entah mengapa dadanya terasa sangat sesak. Dan Agatha pun kesulitan untuk bernafas.


“Hah..hah..dadaku”Agatha memegangi dadanya


“Nyonya”pekik Madam O sambil meraih tubuh Agatha yang terkulai ke lantai.


Devara dan Daniel kaget setengah mati melihat Agatha yang tak berdaya terkulai lemas di lantai sambil memegangi dadanya.


“Nenek”seru Devara panik

__ADS_1


Devara dengan sekuat tenaga melepaskan diri dari Arga dan berlari ke arah neneknya yang kini tak sadarkan diri.


“Panggil ambulance! Cepat!”teriak Devara panik


Semua orang menjadi panik melihat Agatha yang tiba-tiba tak sadarkan diri. Arga pun segera memanggil helicopter keluarga untuk segera mengantar Agatha ke rumah sakit keluarga Alexander.


Devara dan Daniel melupakan sejenak perselisihan di antara mereka dan mengesampingkan masalah mereka. Prioritas mereka kali ini adalah menyelamatkan Agatha. Nenek mereka berdua.


Devara dan Daniel ikut masuk ke dalam helicopter pribadi keluarga Alexander. Dalam waktu singkat mereka sudah sampai di Rumah sakit. Para dokter dan perawat yang sudah dihubungi lebih dahulu melalui sambungan telepon, begitu helicopter mendarat di rooftop Rumah sakit segera membawa Agatha menuju Instalasi Gawat Darurat untuk segera mendapatkan penanganan medis.


Devara, Daniel, Madam O dan Arga menunggu di luar ruang IGD dengan harap-harap cemas. Dokter mengatakan Agatha baru saja mengalami serangan jantung sehingga harus segera dioperasi.


Devara yang merasa bersalah pada sang nenek hanya bisa menundukkan kepalanya.


“Maafkan aku nek! Nenek harus bertahan! Aku mohon bertahanlah nek”pinta Devara dalam hati


Semua yang berada di luar ruang operasi menunggu dalam ketidakpastian. Madam O bahkan menangis mengingat kejadian ini adalah serangan jantung yang pertama kali dialami Agatha sepanjang hidupnya.


*


*


*


*


Di Amerika,


Di sebuah ruang kerja yang sangat luas bergaya modern minimalis, seorang lelaki paruh baya sedang menerima telepon dari bawahannya yang mengabarkan sebuah berita besar.


“APAAA? MAMA TERKENA SERANGAN JANTUNG?”pekik Brandon tak percaya dengan berita yang baru saja diterimanya.


Saking kagetnya, Brandon bahkan berdiri dari awalnya duduk di kursi kerjanya. Caroline yang duduk tak jauh dari suaminya, begitu mendengar berita mamanya terkena serangan jantung, terlihat sangat terkejut bahkan sampai menutup mulutnya sendiri dengan mata yang terbelalak.


"Mama"panggil Caroline dengan lirih


“Baiklah..kabari aku terus perkembangan mama. Aku pulang sekarang bersama istriku”ucap Brandon pada Madam O yang mengabarkan keadaan Agatha.


Brandon menatap istrinya yang sangat syok mendengar berita itu. Setelah menutup sambungan teleponnya, Caroline segera menghampiri suaminya. Dia ingin mendengar dengan jelas berita yang baru saja didengarnya.


“Mama serangan jantung?”tanya Caroline dengan airmata yang mulai mengalir


“Tenangkan dirimu! Sekarang dokter sedang mengoperasinya. Jangan khawatir! Dokter pasti akan berusaha yang terbaik untuk menyelamatkan mama”ucap Brandon berusaha menenangkan istri tercintanya


“Kita pulang sekarang! Aku ingin bersama mama sekarang”pinta Caroline


“Baiklah! Sudah jangan bersedih! Mama pasti bisa melewati ini semua. Sudah jangan menangis!”bujuk Brandon sambil mengusap airmata yang membasahi pipi wanita yang sangat dicintainya itu.

__ADS_1


“Bagaimana aku tidak sedih jika mamaku sedang sakit sementara aku tak ada di sampingnya sekarang”ucap Caroline menahan sedih.


Brandon menghela nafasnya perlahan. Karena percuma berdebat dengan istrinya di saat seperti ini. Brandon pun akhirnya memilih segera menghubungi asisten pribadinya Jack untuk mengatur kepulangannya ke Indonesia.


__ADS_2