
Albert duduk di samping ranjang Jessica sambil mengamati wajah cantik gadis yang sudah mencuri perhatiannya. Albert mengulas senyum tipis di wajah tampannya kala mengamati setiap detail wajah cantik Jessica yang masih terlelap.
“She’s so beautiful”gumam Albert dalam hati
Tiba-tiba jemari Jessica bergerak dengan perlahan. Mata Jessica juga perlahan-lahan terbuka. Albert yang melihat pergerakan dari Jessica segera mendekati Jessica untuk melihat lebih dekat. Sementara itu Jessica yang masih lemah, pandangan matanya yang awalnya kabur, perlahan-lahan semakin jelas.
“Kau sudah sadar?”tanya Albert
Jessica masih diam, karena pandangan matanya yang belum jelas sempurna. Setelah melihat penampakan Albert di depannya barulah Jessica membuka mulutnya.
“Dimana aku sekarang?”tanya Jessica dengan lemah
“Kau di rumah sakit sekarang”jawab Albert
“Rumah sakit?”tanya Jessica sambil mengernyitkan dahinya.
“Iya. Rumah sakit. Tadi di rumah kau pingsan. Apa kau tidak ingat?”tanya Albert sambil memeriksa keadaan Jessica.
“Aku pingsan?”tanya Jessica bingung
Jessica mulai mengingat kembali kejadian beberapa waktu lalu saat dirinya masih di rumah. Kenangan terakhir yang diingatnya adalah dia melihat Albert dan Joanne di taman depan, kemudian tiba-tiba dia tak mengingat lagi kejadian berikutnya.
“Apa ada yang sakit?”tanya Albert
Jessica hanya menggeleng. Karena merasa tubuhnya sudah lebih baik, Jessica berusaha duduk bersandar. Albert dengan sigap langsung membantu Jessica untuk duduk.
“Apa kau yakin tak ada yang sakit?”tanya Albert lagi untuk memastikan
“Aku baik-baik saja”jawab Jessica sambil tersenyum.
“Syukurlah”ucap Albert lega
Jessica menatap sekelilingnya. Dia tak melihat satupun keluarganya.
“Kau mencari siapa?”tanya Albert melihat Jessica yang clingukan.
“Apa hanya kita berdua di sini? Aku tak melihat papa mama ataupun Joanne”ucap Jessica
“Papa mamamu baru saja pulang mengambil beberapa keperluanmu. Sementara Joanne, dia ada di sofa”tunjuk Albert ke arah kursi sofa.
Jessica mengikuti arah tangan Albert. Dilihatnya sang adik yang sedang tertidur di kursi sofa.
Suasana hening sejenak merebak di dalam ruang rawat inap Jessica. Gadis periang yang selalu ceria itu, mendadak menjadi pendiam. Tak ada senyum indah di wajahnya. Jessica juga tampak sedang berpikir.
__ADS_1
“Apa yang kau pikirkan?”tanya Albert
Jessica yang sedang melamun, terlihat kaget saat menyadari Albert mengetahui dirinya sedang memikirkan sesuatu.
“Ah tidak..aku tidak memikirkan apa-apa”kelit Jessica bohong.
Albert mengulas senyum tipis di wajah tampannya.
“Walaupun kita baru kenal, tapi aku tahu kau sedang berbohong sekarang”ucap Albert
Jessica yang kaget dengan ucapan Albert sampai menoleh pada lelaki tampan berwajah blasteran Indo Amerika yang sangat tampan itu.
“Bagaimana kau bisa tahu aku sedang berbohong?”tanya Jessica penasaran
Albert hanya diam namun senyum terus tersungging di wajah tampannya.
Jessica menghela nafasnya perlahan. Ada sesuatu yang masih terasa berat menekan dadanya membuat nafasnya terasa sangat berat. Dadanya juga masih terasa sesak. Jessica bahkan memejamkan matanya sambil mengepalkan tangannya. Mencoba menguatkan diri.
Albert yang melihat gelagat Jessica, tampak meletakkan tangannya di atas tangan Jessica yang terkepal kuat. Jessica spontan membuka matanya begitu merasakan tangan hangat Albert di atas tangannya.
“Percayalah..kau pasti bisa melalui semua ini. Kau wanita yang kuat. Kau harus tahu itu”puji Albert
Mendengar pujian Albert, sontak membuat gemuruh perasaan Jessica semakin tak terbendung. Airmata Jessica kembali terurai mendengar ucapan lembut lelaki yang baru dikenalnya beberapa waktu lalu. Lelaki yang dikenalnya sebagai dokter Catherine dan Thania.
Albert memeluk tubuh Jessica sambil mengusap pelan punggung gadis cantik yang sedang berduka itu.
“Menangislah! Keluarkan semua beban dalam hatimu. Menangislah jika itu bisa membuatmu lega”ucap Albert dengan lembut.
Suara tangis Jessica membahana ke seluruh ruang rawat inap itu. Suara tangis yang sangat menyayat hati. Membuat siapapun yang mendengarnya bisa tahu jika si pemilik hati sedang sangat sedih saat ini.
Joanne yang tertidur bahkan sampai terbangun mendengar suara rintihan hati sang kakak. Namun Joanne memilih pura-pura tertidur supaya tidak mengganggu sang kakak. Joanne bahkan sampai ikut menangis dan menitikkan airmata, mendengar suara tangisan Jessica. Seakan Jaonne bisa ikut merasakan kesedihan sang kakak yang batal menikah dengan lelaki yang sangat dicintainya.
Jessica menangis dengan tersedu-sedu selama beberapa saat. Setelah menumpahkan semua beban dalam hatinya, Jessica pun merasa lebih baik. Jessica mengusap sisa airmata di matanya.
“Terimakasih. Maaf jasmu jadi basah karena aku”ucap Jessica meminta maaf
“Tenang saja. Sebentar lagi juga kering”jawab Albert dengan entengnya.
“Apa kau sudah merasa lebih tenang sekarang?”tanya Albert memastikan
“Aku sudah lebih baik sekarang. Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku”ucap Jessica sambil tersenyum
“Never mind. Aku senang jika kau sudah merasa lebih baik”jawab Albert
__ADS_1
Albert dan Jessica pun berbincang sejenak setelah Jessica benar-benar sudah tenang.
“Apa kau sangat mencintai Arga sampai kau sesedih ini?”tanya Albert memberanikan diri
Jessica menganggukkan kepalanya perlahan.
“Apa kau menyesal sudah melepaskan dia pada Catherine?”tanya Albert
Jessica menggelengkan kepalanya perlahan.
“Aku tak pernah menyesali keputusan yang sudah kubuat. Karena aku tahu mereka saling mencintai. Aku yang sudah bodoh karena terlalu memaksakan diri berada di antara mereka selama ini”ucap Jessica sambil mengusap sisa airmata di pipinya.
“Memang benar kata orang. Cinta hanya membuat kita menjadi orang bodoh. Hanya karena kak Arga tetap mau menikahiku membuatku mempercayai dia akan mencintaiku setelah kami menikah nanti, seperti selama ini aku selalu mencintainya. Padahal aku tahu dengan jelas di hatinya hanya ada nona Catherine. Tapi aku terus membohongi diriku sendiri. Berharap dengan pernikahan kami, aku bisa membuat dia juga mencintaiku. Aku bodoh sekali kan?”tanya Jessica sambil tertawa kecil menertawakan kebodohan dirinya.
“Tak ada yang salah dengan cinta. Bukan kita yang memilih cinta tapi cintalah yang memilih kita. Kapan cinta datang? Kapan cinta pergi? Kepada siapa cinta itu bersemi? Semua itu di luar kuasa kita. Jadi jangan menyalahkan cinta”ucap Albert
Jessica yang mendengarkan kata bijak dari Albert merasa sangat tersentuh.
“Kau seperti seorang expert dalam percintaan. Jangan bilang kau juga merangkap menjadi dokter cinta bagi pasienmu?”goda Jessica sambil tersenyum
Albert tertawa mendengar godaan Jessica. Keduanya tertawa bersama. Albert tertawa sambil memperhatikan wajah Jessica yang terlihat lebih cantik ketika tertawa.
“Kau semakin cantik jika tertawa seperti ini”puji Albert sambil menatap lekat wajah Jessica
“Apa aku cantik?”tanya Jessica sambil tersenyum
“Tentu saja. Kau sangat cantik”puji Albert lembut
Jessica hanya tersenyum. Senyum manis yang selama seharian ini meredup karena kesedihan yang menyelimuti hatinya.
“Kalau aku, apa aku juga cantik kak?”tanya Joanne yang tiba-tiba ikut nimbrung bersama Albert dan Jessica
“Tentu saja, kau juga cantik”jawab Albert
Albert dan Jessica sama-sama menatap ke arah Joanne yang kini berjalan ke arah mereka dan duduk di ranjang bersama sang kakak. Joanne langsung memeluk sang kakak.
“Kakak sudah baikan?”tanya Joanne kuatir
Jessica menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan membalas pelukan sang adik.
“Kakak baik-baik saja”jawab Jessica
Ketiganya kemudian berbincang bertiga sambil sesekali tertawa dan bercanda bersama. Albert terus menatap lekat wajah Jessica yang terlihat lebih cerah. Joanne yang menangkap tatapan mesra Albert sesekali melirik sang kakak dan Albert secara bergantian.
__ADS_1
“Semoga kak Albert bisa membantu kak Jessi melupakan kak Arga”pinta Joanne dalam hati