Terjerat Cinta Nona Muda

Terjerat Cinta Nona Muda
Maafkan Aku!


__ADS_3

“Apa yang terjadi pada Ella? Kenapa dia terbaring di sana?”tanya Catherine sambil mengusap airmatanya dan menoleh pada Willy.


“Dialah alasan kenapa aku tak bisa menyusulmu ke Paris”ucap Willy sambil menatap ke arah ruangan ICU itu.


Willy mulai menceritakan kronologis kejadian yang menimpa Ella pada Catherine.


“Setelah kejadian waktu itu, aku sebenarnya ingin sekali menyusulmu dan menjelaskan kesalahpahaman di antara kita. Tapi tiba-tiba Ella pingsan. Aku bingung. Di satu sisi aku ingin menyusulmu tapi di satu sisi Ella membutuhkan pertolonganku. Belum lagi Darren yang terus menangis melihat mamanya yang pingsan. Sehingga mau tidak mau aku harus mengantar Ella ke Rumah Sakit. Aku pikir, dia hanya pingsan biasa karena terlalu syok dengan kejadian di antara kita. Tapi rupanya aku salah”


Catherine mengerutkan dahinya mendengar penuturan Willy.


“Ada apa sebenarnya?”tanya Catherine


“Setelah diperiksa, aku baru tahu kalo sebenarnya…”


Catherine menatap Willy dengan tajam. Dapat ditangkap oleh Catherine gurat-gurat kekhawatiran di mata Willy. Willy pun menatap ke arah Ella dengan tatapan penuh kesedihan.


“Ella mengidap kanker otak stadium akhir”ucap Willy dengan sedih


Suaranya pun bergetar kala menceritakan penyakit yang diidap oleh wanita yang selama ini mendampingi dirinya dan telah memberinya seorang putra. Bahkan tanpa sadar airmata Willy kembali menggenang di pelupuk matanya. Hatinya langsung diliputi kesedihan yang mendalam. Willy membalik tubuhnya berlawanan arah dengan ruangan tempat Ella dirawat, sambil mengusap airmatanya. Entah kenapa Willy merasa sangat rapuh melihat Ella yang tergolek lemah tak berdaya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sementara Catherine yang mendengar penjelasan Willy, tampak membelalakkan matanya.


“What? Kan..ker otak katamu?”ucap Catherine dengan terbata-bata.


Catherine menggelengkan kepalanya.


“Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Kau bercanda kan? Ini semua taktik kalian berdua supaya aku memaafkan kalian berdua?”tanya Catherine tak percaya.


Willy segera menoleh ke arah Catherine. Matanya menatap tajam ke arah Catherine. Tangannya pun terkepal erat menahan emosi di dalam hatinya. Mendadak hati Willy langsung emosi mendengar ucapan Catherine yang mengira semua yang terjadi pada Ella adalah akal-akalan mereka berdua.


“Apa kau tak bisa lihat? Dia sedang berjuang hidup di sana. Dan kau bilang ini hanya akal-akalanku saja?”sentak Willy penuh emosi sambil menunjuk ke arah Ella yang masih tak sadarkan diri.


Catherine kaget melihat Willy yang melotot sambil memarahi dirinya. Baru kali ini Catherine dibentak dengan keras oleh Willy. Bahkan suara berat Willy terdengar menggema di ruangan isolasi khusus pasien yang dirawat di  ICU.


Willy yang sadar sudah memarahi Catherine pun merasa bersalah.


“Maaf. Bukan maksudku memarahimu. Aku hanya terlalu emosi mendengar ucapanmu tadi. Maaf sayang”bujuk Willy meminta maaf sambil memegang kedua bahu Catherine.


Catherine mengusap lengan Willy dan menatap ke arah lelaki yang masih berstatus suaminya itu.


“Apa aku boleh menjenguknya?”tanya Catherine


“Tentu saja”jawab Willy dengan nada suara yang lebih tenang.


Catherine langsung mengusap airmatanya dan diantar Willy menuju ruangan ICU tempat Ella dirawat. Sebelumnya Catherine memakai pakaian khusus untuk memasuki ruangan steril tempat Ella dirawat.


Catherine masuk ruangan ICU diantar Willy. Perlahan-lahan Catherine berjalan mendekati Ella yang saat ini sedang tidak sadarkan diri. Catherine menatap alat-alat medis di sekitar Ella dengan perasaan yang campur aduk.


Catherine segera duduk dan perlahan-lahan menggenggam tangan Ella. Tangan yang sangat lemah itu kelihatan kurus. Membuat Catherine kembali terisak melihat wanita yang menjadi simpanan suaminya sekaligus sahabatnya selama ini terbaring tak berdaya.


Catherine mengusap punggung tangan Ella perlahan. Tangan yang terasa dingin itu diusapnya beberapa kali.


“Hei wanita lemah!”sapa Catherine pada Ella


“Bangunlah! Aku sudah disini sekarang”ucap Catherine sambil beruraian airmata.


“Hei! Cepatlah bangun! Bukan begini yang seharusnya terjadi. Harusnya kita berdebat dan saling berjambakan seperti yang dulu kita rencanakan, bukan?”tanya Catherine pada Ella yang masih diam membisu.

__ADS_1


Sesekali Catherine mengusap airmatanya yang mengalir. Willy hanya bisa melihat Catherine yang mengajak bicara Ella dengan perasaan yang campur aduk.


“Kau ingat! Dulu kita sepakat, jika bertemu dengan wanita yang menjadi istri William, akan kita ajak berkelahi. Kau ingat? Aku akan memborgol tangannya ke belakang dan kau akan menjambak rambutnya”kenang Catherine sambil terkekeh mengingat rencana konspirasi antara dirinya dan Ella yang akan menganiaya istri sah William supaya mau melepaskan William.


Siapa sangka ternyata istri sah William alias Willy adalah Catherine dan Ella adalah wanita yang menjadi simpanan Willy selama ini.


“Hei wanita lemah! Ayo bangun! Jangan seperti ini terus!”seru Catherine yang mulai tak sabaran melihat Ella yang tak merespon ucapannya.


Catherine yang mulai emosi, berdiri dari posisi duduknya dan mulai menggoncangkan tubuh Ella.


“Bangun Ella! Kenapa kau terus seperti ini! Ayo cepat bangun!”seru Catherine dengan hati yang sedih


Willy yang melihat Catherine menggoncang tubuh Ella merasa kaget dan langsung memegang tubuh Catherine.


“Apa yang kau lakukan Cathy? Apa kau ingin membunuhnya? Lepaskan Ella!”sentak Willy emosi


Willy langsung meraih tubuh Catherine dan mengajaknya agak menjauh dari Ella. Catherine menangis histeris. Willy langsung mendekap tubuh Catherine yang bergetar hebat.


“Kenapa dia tidak mau bangun? Bagaimana mungkin aku bisa mengakhiri pernikahan kita jika dia saja tak mau bangun?”tanya Catherine dengan menangis pilu.


Sebenarnya kedatangan Catherine ke Inggris selain untuk segera mengakhiri pernikahannya dengan Willy juga karena Catherine ingin menyatukan Ella dengan Willy. Dengan begitu, tidak akan ada orang yang tersakiti lagi dengan hubungan rumit antara dirinya, Ella dan Willy. Catherine juga sudah rela jika Willy bersama dengan Ella. Terlebih keduanya sudah dikaruniai Darren, putra semata wayangnya.


Namun kenyataan yang ada, Ella justru sedang berjuang hidup melawan maut. Dengan bantuan peralatan medis yang menopang hidupnya. Kondisi memprihatinkan yang dialami Ella membuat hati Catherine sangat terkoyak dan sedih.


“Tek”


Dalam keadaan sangat kalut, Willy melihat jari telunjuk Ella yang tiba-tiba bergerak.


“Ella?”


“Ada apa Wil?”tanya Catherine


Willy masih diam tak menjawab pertanyaan Catherine dan menatap jemari Ella yang tadi terlihat bergerak.


“Tek”


Jemari Ella kembali bergerak. Willy semakin membelalakkan matanya karena kali ini dirinya benar-benar melihat jemari Ella bergerak. Willy segera duduk di samping ranjang Ella dan menggenggam tangannya.


“Ella..apa kau bisa mendengar suaraku? Jika kau bisa mendengarku tolong gerakkan jarimu”pinta Willy


Catherine semakin bingung dengan kelakuan suaminya.


“Ada apa Wil? Katakan padaku ada apa?”pinta Catherine


Willy menoleh pada Catherine dengan wajah penuh kegembiraan.


“Tadi aku lihat jari Ella bergerak”


“Benarkah?”tanya Catherine tak percaya


Catherine juga mendekatkan tubuhnya pada Ella.


“Ella..bangunlah! Ini aku Catherine”pinta Catherine


“Ella..bangunlah! Lihatlah siapa yang sudah datang! Bukankah kau ingin bertemu dengan Catherine. Lihatlah! Dia di sini sekarang”pinta Willy sambil mengusap punggung tangan Ella dengan lembut.

__ADS_1


Sebuah keajaiban pun terjadi. Perlahan-lahan Ella mulai membuka matanya.


“Ella”


Catherine dan Willy memanggil nama Ella bergantian saking kagetnya melihat Ella yang mulai menggerakkan matanya yang selama beberapa hari ini terpejam.


Dengan susah payah, Ella berusaha mengumpulkan tenaganya dan melihat sekitarnya.


“Ca..thy”ucap Ella dengan terbata-bata


Catherine yang melihat Ella sudah bangun dari tidur panjangnya, terlihat syok sekaligus bahagia.


“Iya..ini aku Cathy”ucap Catherine dengan airmata yang kembali bercucuran


Willy beranjak dari tempat duduknya.


“Aku panggilkan dokter dulu”ucap Willy


Willy pun pergi meninggalkan Ella dan Catherine berdua di ruangan ICU itu.


Catherine segera duduk di samping Ella dan menggenggam tangan wanita yang juga sahabatnya itu. Ella yang melihat kehadiran Catherine tampak sedih dan meneteskan airmatanya.


“Ma..af..kan a..ku”ucap Ella dengan terbata-bata dengan alat bantu pernafasan yang masih terpasang.


“Jangan banyak bicara dulu. Kau harus sembuh dulu. Baru kita bicara”pinta Catherine


Ella menggelengkan kepalanya pelan masih dengan airmata yang mengalir deras. Membuat Catherine juga merasa tak tega. Keduanya sama-sama menangis.


“Wak..tu-ku ti..dak ba..nyak. To..long ma..af..kan a..ku”pinta Ella dengan perasaan yang sangat sedih.


Ella yang sejak lama sudah mengetahui bahwa masa hidupnya di dunia tidak lama, ingin benar-benar meminta maaf pada Catherine. Ella yang sejak awal tidak mengetahui jika William yang selama ini diceritakan pada Catherine, sebenarnya adalah Willy, suami Catherine.


Meskipun Ella juga tahu, Catherine belum sepenuhnya mencintai Willy. Namun Ella tahu jika Catherine sudah menjadi istri sah Willy dan berencana memperbaiki hubungan di antara keduanya yang sempat merenggang akibat kesalahan Catherine.


Ella menyadari dirinya hanyalah wanita asing dalam kehidupan William alias Willy. Yang hadir tanpa diharapkan. Yang kedatangannya justru membuat jarak antara Willy dan keluarganya terutama orangtuanya. Wanita yang dianggap tidak jelas asal usulnya namun telah merelakan dirinya mengandung benih dari Willy. Hingga putranya Darren lahir ke dunia.


“Simpan saja tenagamu! Kau harus sembuh Ella. Ingatlah Darren, dia sangat merindukanmu”pinta Catherine dengan terisak


Tangis Ella semakin menjadi-jadi begitu mengingat putra semata wayangnya yang akan hidup seorang diri jika dirinya telah tiada nanti.


“Ca..thy, to..long ja..ga Dar..ren. Un..tukku. Ku..mo..hon. Sa..ya..ngi dia se..per..ti pu..tra..mu sen..diri”ucap Ella dengan terbata-bata


Catherine semakin hancur mendengar ucapan Ella yang seakan mengucapkan kata-kata perpisahan padanya.


“Aku mohon berhentilah mengucapkan perkataan seolah kau akan pergi meninggalkan kami. Aku mohon berjuanglah! Demi Darren! Demi putramu”seru Catherine dengan emosi dengan airmata yang mengalir deras.


Di saat suasana ruangan ICU penuh haru, dengan tangisan dari Catherine dan Ella, Willy yang sudah sampai di ruangan Ella setelah memanggil dokter segera berlari ke arah Ella.


“Ella..bertahanlah! Sebentar lagi dokter datang”pinta Willy


Ella menahan tangan Willy.


“Ada apa?”tanya Willy


“Ma..af..kan a..ku!”ucap Ella dengan terbata-bata dengan hati yang berkecambuk hebat.

__ADS_1


__ADS_2