
Suasana antara keduanya menjadi sedikit canggung. Tiba-tiba hp Catherine berdering. Tampak di layar hp nya nama Willy yang sedang menelponnya. Arga sempat melihat nama orang yang menelpon Catherine. Hatinya semakin dipenuhi kemarahan karena cemburu.
Catherine menerima panggilan telepon Willy agak menjauh dari Arga.
“Halo”
“Bagaimana keadaan nenek?”tanya Willy to the point
Willy dan Catherine berbincang selama beberapa saat. Beberapa kali Catherine melirik pada Arga begitu juga sebaliknya. Lelaki dingin itu tetap berdiri di tempatnya sambil menunggu wanita yang dicintainya menerima telepon dari suaminya yang berada jauh di Inggris.
Tiba-tiba, dari arah belakang Catherine datang seorang pelayan yang sedang mendorong meja troli. Catherine yang tidak fokus, tidak memperhatikan pelayan yang berjalan mendekati dirinya. Ketika hampir saja Catherine menabrak meja troli, Arga yang melihat kejadian itu langsung menarik kuat tubuh Catherine hingga membuat tubuh Catherine berputar dan menabrak tubuh Arga. Catherine membelalakkan matanya karena kini dirinya berada dalam dekapan Arga.
“Nona baik-baik saja?”tanya Arga sambil menatap Catherine yang berada di pelukannya.
Willy yang mendengar dengan jelas suara Arga, langsung panik.
“Arga?”gumam Willy dalam hati
Bahkan dirinya langsung berdiri dari kursi kerjanya begitu mendengar suara Arga.
“Cathy..kau kenapa? Cepat jawab! Kau kenapa?”tanya Willy kuatir
“Maaf nona..saya yang salah..tidak melihat Anda. Tolong maafkan kecerobohan saya”pinta pelayan yang mendorong meja troli tadi.
Wajahnya langsung ketakutan begitu melihat yang hampir ditabraknya adalah pemilik restoran XX. Pelayan itu takut jika dirinya akan dipecat.
“Aku baik-baik saja. Tenang saja. Aku yang tadi tidak memperhatikan. Teruskan pekerjaanmu”jawab Catherine pada pelayan itu.
Pelayan itu dengan perasaan lega langsung kembali bekerja.
“Cathy..kenapa kau tak menjawab? Ada apa di sana?”tanya Willy dengan panik
“Aku baik-baik saja. Tadi aku hampir tertabrak meja troli. Sudah ya, jangan kuatir. Sebentar lagi aku pulang”jawab Catherine mencoba menenangkan Willy
Beberapa saat kemudian, sambungan telepon mereka berakhir. Ingin rasanya Willy terbang ke Indonesia, begitu mendengar suara Arga yang ternyata juga berada di Indonesia. Itu artinya Arga bersama dengan Catherine saat ini. Hal itu tentu saja membuat Willy kebakaran jenggot. Karena istrinya yang dicintai sedang bersama lelaki yang jelas-jelas dicintai oleh Catherine. Willy kuatir Catherine akan jatuh dalam pelukan Arga.
“Brakkkkk”
Willy mengepalkan tangannya dengan kuat lalu memukul meja kerjanya dengan keras melampiaskan kekesalan dalam hatinya.
“Sialan!”umpat Willy jengkel.
Catherine yang baru saja menerima telepon Willy, menatap lelaki berwajah datar dan dingin yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh arti.
__ADS_1
Catherine sampai mengernyitkan dahinya melihat ekspresi wajah Arga yang seperti sedang cemburu. Persis seperti dulu saat mereka masih dekat dulu. Ekspresi wajah yang ternyata dirindukan Catherine.
“Apa yang sedang aku lakukan? Kenapa aku sampai berpikir kak Arga cemburu pada Willy? Sadarlah Catherine.. Sadarlah!”gumam Catherine dalam hati
Catherine berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Arga tak pernah memiliki perasaan padanya. Catherine berusaha sekuat tenaga menyangkal perasaannya sendiri. Karena setiap berada di dekat Arga, Catherine selalu mengingat pengkhianatan Arga pada dirinya. Membuat Catherine percaya jika Arga tak pernah memiliki perasaan pada dirinya.
Catherine memilih kembali ke ruangan mereka. Terlihat di sana Jessica yang sedang menunggu mereka seorang diri. Entah kenapa, wajah cantik Jessica terlihat muram. Senyum yang sejak tadi merekah menghiasi wajah cantik itu perlahan sirna. Membuat suasana makan malam itu menjadi lebih canggung dari sebelumnya.
Jessica menjadi lebih pendiam. Membuat Catherine dipenuhi tanda tanya.
“Kamu kenapa Jes?”tanya Catherine
Jessica yang sedang melamun, terlihat kaget mendengar pertanyaan Catherine.
“Hah? Iya..Ada apa?”tanya Jessica karena dirinya memang tak mendengar pertanyaan Catherine
“Aku tanya kamu kenapa?”
“Oh..aku? Aku baik-baik saja”jawab Jessica sambil memaksakan dirinya tersenyum
Arga yang duduk di samping Jessica tampak acuh. Dia terus menghabiskan makanannya. Dan setelah makanannya habis, Arga segera mengusap mulutnya menggunakan napkin.
“Apa nona sudah selesai? Kita pulang sekarang”ajak Arga dengan wajah datarnya
“Kakak antar Jessica saja. Aku akan pulang bersama pengawal”pinta Catherine
“Tidak nona. Dia bisa pulang sendiri, bukan begitu?”tanya Arga sambil menatap Jessica yang sedang menahan amarahnya.
Jessica memaksakan tersenyum.
“Iya..aku bawa mobil sendiri”jawab Jessica
“Mari nona”ajak Arga
“Jess kau mau ikut bersama dengan kami? Tidak baik seorang gadis pulang sendiri”ajak Catherine mencoba ramah
“Kalian pulang duluan saja. Aku masih ada keperluan setelah ini”jawab Jessica
“Mari nona. Kita pergi sekarang”ajak Arga sambil berdiri dari kursinya
“Iiih..kenapa kak Arga ga peka sama sekali sih?”gerutu Catherine dalam hati.
Akhirnya Catherine berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
“Kami pulang dulu. Bye”pamit Catherine
“Bye”sahut Jessica
Akhirnya Arga dan Catherine pulang lebih dulu. Jessica memilih tetap di sana dengan mengatakan dirinya masih ada keperluan. Jessica yang melihat Arga memperlakukan Catherine dengan sangat lembut, merasa tersisih dan cemburu melihat kedekatan Arga dan Catherine. Karena sejak mereka kencan buta, baru kali ini Arga terlihat sangat perhatian. Tatapan matanya pada Catherine juga sangat lembut dan penuh cinta. Karena itu Jessica merasa sangat kesal sekaligus cemburu pada Catherine.
Jessica yang tadi sempat melihat adegan Catherine yang diselamatkan oleh Arga, mengepalkan tangannya. Tanpa sadar, butir airmatanya pun menetes. Sambil terisak, Jessica menertawakan dirinya sendiri.
“Kau sungguh menyedihkan Jess. Jelas-jelas wanitanya sudah kembali dan kau masih berusaha mengejar lelaki dingin itu. Kau memang menyedihkan”gumam Jessica sambil terus terisak.
Di dalam mobil, Catherine yang kesal pada Arga karena merasa Arga sama sekali tidak peka kepada Jessica.
“Kakak gimana sih? Seharusnya kakak mengantar Jessica pulang. Bukankah dia teman kencan buta kakak”geram Catherine
Arga yang mendengar pertanyaan Catherine, menahan diri untuk tidak terpancing dengan kekesalan Catherine. Arga tetap diam tanpa membalas pertanyaan Catherine.
Catherine semakin kesal karena Arga justru mendiamkan dirinya.
“Kenapa kakak diam?”gerutu Catherine
Sepanjang perjalanan pulang, Catherine yang didiamkan oleh Arga mendengus kesal. Wajahnya ditekuk saking jengkelnya karena Arga tak menggubris pertanyaannya.
“Dasar lelaki menyebalkan!”gerutu Catherine dalam hati
Catherine menatap ke arah jendela dan menikmati pemandangan kota XX, kota kelahirannya yang sudah lama ditinggalkannya sejak kuliah dan menikah lalu tinggal di Inggris.
“Kota ini masih sama seperti terakhir kali aku disini. Tidak banyak berubah”gumam Catherine dengan suara lirih
Tiba-tiba terbesit dalam pikiran Catherine kenangan masa lalunya bersama Arga. Saat dirinya pulang dari Amerika, libur masa kuliah. Arga yang selalu menjemputnya ke bandara. Kala itu, Catherine yang tengah berbahagia bisa pulang ke Indonesia, bertemu pujaan hatinya, pasti akan berlari begitu melihat Arga yang sedang menunggunya. Catherine dengan wajah sumringahnya akan berlari lalu memeluk tubuh besar Arga dengan bersemangat. Dan saat itu, Arga akan membiarkan dirinya bergelayut manja meskipun ekspresi wajah Arga selalu saja sama. Datar dan dingin. Meskipun dalam hati, Arga selalu menantikan saat-saat seperti itu. Karena dirinya juga sangat bahagia.
Sepanjang perjalanan, Catherine yang duduk di samping Arga, akan mengoceh terus menceritakan semua yang dialaminya di sana. Catherine akan bercerita dengan menggebu-gebu.
Selama libur kuliah, sesekali Catherine akan mengajak Arga bermain game bersama. Catherine selalu mengajak Arga kemanapun, menghabiskan waktu bersama. Begitu banyak kenangan indah yang terjadi antara keduanya. Hingga kenangan itu satu per satu muncul dalam pikiran Catherine.
Di saat yang sama, Arga ternyata juga membayangkan hal yang sama dengan Catherine. Arga yang sedang menyetir, sesekali melirik kursi di sampingnya yang dulu selalu diduduki Catherine.
Arga menghela nafasnya perlahan sambil sesekali melirik ke arah kursi tengah yang menampakkan sosok Catherine yang sedang melamun sambil menatap pemandangan kota XX di luar jendela mobil.
Sesampainya di kediaman Alexander, Catherine langsung masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya. Meninggalkan Arga yang mematung di samping pintu sopir. arga menatap kepergian Catherine dengan hatiyang sedih karena wanita itu sama sekali tidak menoleh pada dirinya.
"Benarkah kau sudah melupakan aku?"gumam Arga dalam hati
Karena di rumah, hanya ada Catherine, maka Arga memilih tetap berada di rumah kediaman Alexander, ketimbang kembali ke apartemennya. Arga kuatir jika Catherine sendirian di rumah sebesar itu. Karena meskipun ada begitu banyak pelayan dan pengawal, namun Arga tetap tidak merasa tenang meninggalkan Catherine seorang diri.
__ADS_1