Terjerat Cinta Nona Muda

Terjerat Cinta Nona Muda
Bye Mam


__ADS_3

Catherine yang tidak tega melihat Ella memilih berjalan ke salah satu sudut ruangan ICU. Catherine ingin memberikan ruang pada Willy dan Ella.


“Wil..liam”panggil Ella dengan airmata yang mengalir deras


Willy yang melihat Ella menangis, membuat hatinya ikut sedih. Karena sekali lagi dirinya melukai perasaan wanita lemah lembut itu. Wanita yang selalu disakiti oleh dirinya maupun keluarganya.


Rasa bersalah Willy pada Ella semakin menggunung kala mengetahui ternyata hidup wanita itu tidak akan lama lagi. Willy sedih karena merasa telah gagal menjaga Ella. Wanita yatim piatu yang selalu dilukai perasaannya oleh dirinya padahal selama ini Ella sudah setia mendampingi dirinya. Pun saat dirinya telah menikah dengan Catherine, Ella masih mau menerima dirinya.


“Ella..maafkan aku. Semua ini adalah salahku. Jika saja aku tahu kau sedang sakit, aku pasti akan mendatangkan dokter terhebat untukmu. Maafkan aku”ucap Willy dengan terisak.


Hati Willy begitu sakit melihat Ella terbaring tak berdaya melawan penyakitnya padahal dirinya adalah seorang dokter. Namun dia juga tak bisa berbuat apa-apa. Karena selama ini Ella selalu menutup rapat penyakitnya dari siapapun.


“Wil..ja..ga Dar..ren. Pu..tra..ki..ta”pinta Ella dengan berurauan airmata


“Kita akan menjaganya bersama-sama. Aku mohon bertahanlah!”pinta Willy


Tiba-tiba nafas Ella semakin berat dan tersengal-sengal. Membuat Willy semakin kuatir pada keadaan Ella.


“Ella..jangan banyak bicara! Dokter akan memeriksamu”pinta Willy mencoba menenangkan Ella


Dokter dan perawat yang sejak tadi sudah datang hanya bisa ikut menyaksikan dua manusia itu.


“Doctor, what are you doing? Come here and save my Ella”teriak Willy dengan berapi-api


Dokter dan perawat pun akhirnya mendekati Ella dan berusaha memeriksanya.


“Bertahanlah Ella. Aku mohon bertahanlah!”pinta Willy di belakang dokter dan perawat yang sedang sibuk merawat Ella.


Dokter memeriksa semua tanda vital pada tubuh Ella. Sesaat kemudian para dokter saling bertatapan seolah memikirkan hal yang sama.


Dokter kepala yang bertanggungjawab pada perawatan Ella selama di rumah sakit berjalan mendekati Willy dengan tatapan yang sayu.


“Sorry doc, we’ve done our best, but …”


Dokter kepala menggelengkan kepalanya tanda bahwa sudah tidak ada harapan lagi bagi Ella.


Willy yang emosi langsung merangsek kumpulan dokter yang tadi memeriksa Ella. Willy langsung duduk di samping Ella yang kembali bernafas dengan tersengal-sengal.


“Kalian semua tidak berguna! Aku akan pecat kalian semua”gertak Willy dengan penuh emosi.


Catherine yang sejak tadi melihat dari kejauhan semua yang terjadi hanya bisa mengusap airmatanya. Karena tanpa diberitahupun Catherine bisa mengetahui bahwa harapan hidup Ella sangatlah tipis. Bahkan para dokter pun sudah menyerahkan semuanya pada takdir Tuhan.

__ADS_1


“Ella sayang..maafkan aku. Dokter disini semuanya tidak berguna. Bertahanlah sayang..aku akan carikan dokter terbaik dan terhebat untuk menyembuhkanmu”ucap Willy dengan hati yang bergejolak hebat sambil menggenggam erat tangan Ella yang terasa semakin dingin.


“Wil..liam”ucap Ella sambil menatap sedih ke arah Willy


“Jangan banyak bicara sayang..aku mohon”pinta Willy


Entah kenapa perasaan Willy merasa tidak enak. Seakan wanita yang berada di depannya kini akan pergi jauh meninggalkan dirinya. Sementara Ella dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaganya berusaha mengungkapkan isi hatinya selama ini sebelum terlambat.


“A..ku”suara Ella semakin lemah


“Men..cin..ta..i..”sekuat tenaga Ella berusaha menyelesaikan perkataannya


“mu”


“Tiiiiiiiiiiiiiiiitttt”


Elektrokardiogram (EKG) yang terpasang di dekat Ella langsung berbunyi. Terlihat tanda garis lurus di sana. Mata pun Ella langsung terpejam. Kepalanya terkulai ke samping. Tangannya yang sejak tadi dipegang oleh Willy kini jatuh ke ranjang, lemah tak berdaya.


Degh..


Willy membelalakkan matanya tak percaya. Lidahnya seakan kelu. Tubuhnya bergetar hebat melihat wanita yang berbaring di depannya terkulai lemas.


“Ella..jangan bercanda! Ini tidak lucu”ucap Willy tak percaya


Dokter yang melihat kejadian itu segera menghampiri Ella dan memeriksanya. Willy menatap para dokter dengan penuh kecemasan. Sebagai dokter Willy menyadari apa yang terjadi pada Ella. Namun hati dan perasaannya bertarung hebat menolak kenyataan yang terpampang nyata di depan matanya.


Para dokter lansgung berjibaku untuk menyelamatkan Ella. Keadaan di ruangan ICU tampak kacau. Para dokter dan perawat berseliweran berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan Ella. Namun semuanya sia-sia saja. Karena Ella telah menghembuskan nafas terakhirnya.


Dokter kepala berjalan mendekati Willy yang tampak sangat terguncang.


“Sorry doc…”


Willy yang syok langsung mendekati Ella yang sudah terbujur kaku dengan kedua mata yang terpejam.


“Ella..jangan tinggalkan aku! Jangan pergi Ella! Kau tak boleh pergi seperti ini! Aku mohon jangan tinggalkan aku! Ella..Ella”ucap Willy dengan terisak


Hatinya begitu hancur karena Ella kini telah pergi untuk selama-lamanya meninggalkan dirinya.


Willy memeluk tubuh kaku Ella dengan airmata yang tak lagi dapat dibendung. Willy benar-benar merasa kehilangan wanita yang begitu setia mendampingi dan mencintainya.


“Bangun Ella! Aku mohon bangunlah! Bangunlah Ella. Kau dengar aku kan? Bangun sekarang juga!”perintah Willy sambil memeluk tubuh Ella.

__ADS_1


Willy yang begitu terguncang sampai kedua kakinya terasa lemas. Tubuh Willy ambruk dan terduduk di lantai di samping ranjang Ella dengan airmata yang mengalir semakin deras. Catherine hanya bisa menangisi kepergian Ella dengan hati yang sangat berduka.


*


*


*


*


Upacara pemakaman Ella digelar dengan sangat sederhana. Tidak banyak orang yang hadir. Hanya beberapa orang yang dikenal Ella selama di Inggris, keluarga Willy, teman semasa kuliah, Willy dan Catherine yang tampak menggandeng Darren. Semua pelayat tampak berduka melihat pemakamam Ella yang dikenal sebagai pribadi yang ramah dan sangat lembut.


Ella yang selama di Inggris tidak memiliki banyak teman dan kolega. Di mata para pegawainya, Ella dikenal sebagai wanita single parent yang sangat disiplin dan pekerja keras. Mereka sama sekali tak mengenal sosok Willy yang ternyata adalah ayah dari Darren.


Papa dan Mama Willy tampak ikut berduka melihat wanita yang sejak dulu dibencinya kini sudah tidak ada lagi di dunia. Keduanya merasa bersalah, karena nyatanya Darren memang benar darah daging mereka. Terlihat dari wajah Darren yang sangat mirip dengan Willy saat masih kecil.


Catherine berusaha menyembunyikan kesedihan dalam hatinya dari balik kacamata hitamnya. Catherine tidak ingin menampakkan kesedihannya di depan Darren. Darren kecil yang masih tak mengetahui yang menimpa mamanya hanya bisa menatap peti mati mamanya yang perlahan-lahan masuk ke dalam tanah.


Dan dari semua yang hadir dalam pemakaman itu, hanya Willy saja lah yang paling berduka di antara mereka semua. Willy tak henti-hentinya menangisi kepergian Ella. Wanita lembut yang menempati ruang tersendiri dalam hatinya.


“Kau bahkan pergi tanpa aku sempat mengatakan semua isi hatiku”gumam Willy dalam hati sambil menatap peti mati yang semakin terkubur dalam tanah.


Setelah peti terkubur sepenuhnya di dalam tanah, Willy tampak terduduk di depan nisan Ella. Willy menundukkan kepalanya. Sesekali airmatanya menetes.


“Kau bisa tenang disana sekarang. Aku janji akan menjaga Darren, putra kita. Jaga kami dari atas sana”gumam Willy dalam hati sambil menatap langit seakan sedang berbicara dengan Ella.


Satu per satu para pelayat meninggalkan area pemakaman. Mereka meletakkan setangkai bunga mawar di atas pusara Ella sebagai bentuk penghormatan terakhir pada Ella. Di atas nisan juga nampak foto Ella yang tersenyum dengan indahnya.


Catherine menggandeng Darren untuk mendekati makam mamanya.


“Darren sayang, pamit sama mama dulu ya”pinta Catherine


Meskipun bocah cilik itu tak mengerti kenapa mamanya berada di sana, tapi Darren menuruti Catherine. Catherine berjongkok di samping pusara Ella sambil memeluk tubuh kecil Darren.


“Ella, kami pulang dulu. Kau tenanglah di sana. Kau sudah tak merasakan sakit lagi”ucap Catherine sambil memalingkan wajahnya dari pusara Ella karena kesedihan kembali menyeruak dalam hatinya.


Catherine mengusap airmatanya yang berlinang.


“Ayo Darren! Pamit dulu sama mama”pinta Catherine


“Bye mam..Darren cayang mama”ucap bocah cilik yang tak berdosa itu.

__ADS_1


Willy menatap putranya dengan hati yang semakin hancur berkeping-keping. Karena selama ini, dia jarang memperhatikan bocah cilik itu karena merasa sudah ada Ella yang merawat dan mengasuhnya. Hingga Willy lupa akan kewajibannya sebagai ayah dari Darren. Penyesalan memang selalu datang di akhir. Dan itulah yang dirasakan Willy saat ini.


__ADS_2