
Di Amerika,
“Apa mereka masih di Paris?”tanya Brandon pada Jack, asistennya.
“Iya”jawab Jack singkat
“Apa perlu kita jemput mereka?”tanya Jack pada tuannya.
“Biarkan saja mereka. Setidaknya Arga bisa mengobati luka hati putriku”jawab Brandon
“Bagaimana dengan Willy?”tanya Brandon lagi
Brandon menatap berkas laporan mengenai perkembangan Catherine yang diserahkan Jack padanya.
“Dia masih merawat wanita itu”
Brandon menghela nafasnya perlahan. Selama beberapa hari ini, dirinya disibukkan mengurusi permasalahan putri sulungnya.
Di tengah pembicaraannya dengan Jack, Caroline masuk menginterupsi keduanya. Melihat wanitanya memasuki ruangan kerjanya, Brandon segera mengakhiri pembicaraan dengan Jack dan menyuruhnya keluar.
“Keluarlah”
Jack menundukkan kepalanya pada Brandon dan Caroline.
“Ada apa sayang?”tanya Brandon pada istrinya
“Apa kau sudah meminta pengacara kita mengurus perceraian Catherine?”tanya Caroline
Brandon kembali menghela nafasnya perlahan. Dia beranjak dari kursi kerjanya dan berjalan menghampiri istri tercintanya yang selama beberapa hari ini mendiamkan dirinya.
“Sayang, dengarkan aku..Kita harus memberi waktu pada Catherine untuk menyelesaikan masalahnya. Jika kita mencampuri masalahnya, dia pasti akan marah pada kita”jawab Brandon dengan lembut.
“Sekarang kau bisa berkata begitu. Apa kau tak ingat kau sendiri yang sudah mencampuri urusan pribadi putrimu sendiri? Sampai-sampai kau membuat lelaki yang sangat mencintai dia harus mengarang sandiwara hanya untuk memuaskan egomu itu”gerutu Caroline menumpahkan semua kekesalan dalam hatinya selama ini.
“Iya..iya..aku mengaku salah. Bisakah kau memaafkan aku? Kau sudah mendiamkan aku beberapa hari ini. Kau bahkan tak memberikan hakku sebagai seorang suami. Ayolah sayang! Hentikan kemarahanmu sekarang juga!”pinta Brandon dengan wajah memelas.
“Semua itu belum setimpal dengan apa yang sudah kau lakukan pada Arga dan Catherine”gerutu Caroline.
Kali ini dia ingin membalas pada Brandon yang sudah membuat putrinya harus menderita karena egonya selama ini. Karena keinginan Brandon mendapatkan menantu yang sepadan dengan dirinya, bukan menantu yang diinginkan dan dicintai putrinya sendiri. Padahal Arga dan Catherine saling mencintai namun Brandon dengan teganya meminta Arga menjauhi putrinya.
“Sayang..aku sudah mengaku salah. Jangan menghukumku terus! Aku minta maaf”bujuk Brandon
“Aku akan memaafkanmu jika kau biarkan Catherine memilih dengan siapa dia akan melanjutkan hidupnya. Jika nanti Catherine meminta bercerai dari Willy dan ingin bersama dengan Arga, maka kali ini kau tak boleh menghalangi mereka lagi. Cukup sekali kau pisahkan mereka! Aku tak mau putriku menderita lagi”pinta Caroline dengan wajah sendu.
“Baiklah! Aku janji akan mengikuti apapun keinginan Catherine. Hapuslah airmatamu! Aku tak kuat melihatnya”pinta Brandon pada wanita yang sangat dicintainya itu.
__ADS_1
Brandon pun mengusap airmata Caroline yang menetes saking sedihnya membayangkan penderitaan Catherine selama ini.
Caroline memeluk tubuh suaminya yang meskipun sudah tidak muda lagi, namun masih tetap kekar. Keduanya saling berpelukan dan akhirnya mereka pun berbaikan.
*
*
*
*
Setelah seminggu berada di Paris, akhirnya Catherine kembali ke Inggris. Kali ini niatnya sudah mantap. Dia ingin segera mengakhiri pernikahannya dengan Willy. Dengan begitu dirinya bisa segera kembali pada Arga, lelaki yang sangat dicintainya, yang ternyata juga mencintainya.
“Benar, kau tak mau aku antar?”tanya Arga sekali lagi
Sudah kesekian kalinya Arga menanyai Catherine untuk memastikan kembali tentang keputusannya yang ingin pergi sendiri mengatasi masalahnya dengan Willy.
“Sudah berapa kali aku bilang kak..aku akan pergi sendiri. Kakak pulang saja ke Indonesia. Sudah terlalu lama Devara sendiri. Bisa-bisa dia merobohkan sekolah. Kakak tunggu saja, beberapa hari lagi aku akan pulang. Aku pasti akan kembali pada kakak”jawab Catherine sambil tersenyum
Ada perasaan tak rela di hati Arga melihat wanitanya akan kembali pada suaminya. Meskipun Catherine terus meyakinkan dirinya namun Arga merasa kepulangan Catherine kali ini ke Inggris akan lebih lama dari perkiraan.
Namun Arga menguatkan hatinya untuk merelakan kepergian Catherine. Apalagi kali ini, dia tahu Catherine masih mencintainya. Apalagi wanita itu sudah menjadi miliknya, maka Arga berusaha mengikhlaskan kepergian Catherine.
Keduanya berpisah di bandara. Catherine kembali ke Inggris sementara Arga kembali ke Indonesia.
“Sayang---”
“Aku bukan sayangmu. Aku ingin bertemu, kau dimana sekarang?”tanya Catherine dengan nada ketus
Suara ketus Catherine membuat perasaan Willy campur aduk. Dirinya yang sejak kepergian Catherine terus dihantui rasa bersalah. Ingin rasanya Willy menyusul Catherine yang pergi ke Paris. Namun sebuah kejadian tak terduga terjadi dan mengharuskan Willy tetap di Inggris.
“Aku di rumah sakit. Kau dimana? Biar aku kesana sekarang”tanya Willy ingin menjemput istrinya
“Tak perlu. Aku saja yang ke rumah sakit. Kita bertemu setengah jam lagi”pinta Catherine
Catherine segera memacu mobilnya menuju Rumah Sakit tempat Willy bekerja. Tekadnya sudah bulat. Dia ingin segera mengakhiri pernikahannya dengan Willy. Pernikahan yang berlandaskan kebohongan yang sudah menyakiti perasaannya.
Sesampainya di Rumah Sakit, Willy yang sedang berjaga menyambut istrinya di pintu depan rumah sakit. Perasaan Willy diliputi kebahagiaan melihat wanita yang dicintainya telah hadir kembali dihadapannya. Meskipun kemudian, Willy harus menelan kenyataan pahit kala melihat ekspresi dingin Catherine. Tak ada lagi senyum di wajah cantik itu untuk Willy yang sudah mengkhianatinya dengan sahabatnya sendiri.
Catherine tanpa melepas kacamata hitamnya berjalan menghampiri Willy. Dia terlihat sangat dingin pada Willy.
“Kita bicara di ruang kerjamu”ajak Catherine begitu berada di dekat Willy
Willy hanya bisa menuruti keinginan istrinya itu. Keduanya langsung berjalan menuju ruang kerja Willy untuk bicara empat mata. Sesekali Willy melirik wanita cantik di sampingnya yang sangat ia rindukan. Tak dihiraukan tatapan pasien dan perawat yang menatap keduanya. Karena di rumah sakit itu, Willy adalah idola para perawat, dokter wanita dan para pasien di rumah sakit milik keluarga Willy.
__ADS_1
Sesampainya di ruang kerja, Catherine langsung duduk di kursi.
"Kau mau minum apa?" tanya Willy untuk mencairkan keadaan
Catherine melepas kacamata hitamnya dan menatap tajam ke arah Willy.
"Kita langsung saja ke pokok persoalan" pinta Catherine
“Sayang, aku bisa jelaskan kesalahpahaman---”
Willy belum menyelesaikan kata-katanya, namun Catherine langsung menyela.
“What? Apa aku tak salah dengar? Kau bilang kesalahpahaman?” sindir Catherine sambil tertawa sinis
“Dengarkan aku dulu, sayang”
Willy mencoba merayu Catherine dengan menggenggam tangannya tapi Catherine langsung menepis tangan Willy dengan kasar.
“Lepaskan tanganku!”pinta Catherine dengan tatapan dingin
Willy pun mau tidak mau melepaskan genggaman tangannya.
“Aku mau kita bercerai”
Duarrrrr
Seakan petir menyambar di siang bolong. Willy langsung terbelalak mendengar permintaan cerai dari Catherine.
Catherine melirik sepintas pada Willy, lalu beranjak dari kursinya. Dia tidak ingin berlama-lama berada satu ruangan dengan lelaki yang sudah mengkhianati dan berbohong kepadanya.
Melihat Catherine yang hendak pergi, Willy langsung berlari mengejarnya dan meraih tangan Catherine. Membuat wanita itu menoleh pada Willy.
"Lepaskan tanganku!" pinta Catherine sambil mengibaskan tangan Willy
“Sebelum pergi, aku ingin kau bertemu dengan seseorang terlebih dahulu”pinta Willy
Catherine sebenarnya tidak ingin menuruti permintaan Willy.
“Aku mohon. Temui dia sekali saja”pinta Willy sekali lagi
Akhirnya melihat Willy yang memohon padanya, Catherine pun menyanggupi. Willy mengantar Catherine ke suatu ruangan untuk bertemu seseorang.
Sesampainya di ruang ICU, Catherine terkejut setengah mati melihat seseorang yang dirawat di sana. Dengan begitu banyak peralatan medis yang membantunya tetap hidup. Catherine menutup mulutnya saking tidak percaya. Bahkan airmatanya pun menetes tak terbendung lagi.
“Ini tidak mungkin”ucap Catherine tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
Mendadak hatinya sedih setelah disuguhi pemandangan mengenaskan di depan matanya. Catherine meletakkan tangannya seolah ingin memegang orang yang sedang dirawat itu. Catherine terus menangis dengan sedih.