
Di sebuah ruang kerja di penthouse keluarga Alexander, Brandon menatap berkas berisi informasi dari anak buahnya. Informasi tentang seorang gadis yang saat ini didekati oleh putra kesayangannya. Sejak kejadian di alun-alun kota, ketika Ayra dengan beraninya menjewer telinga sang putra, membuat Brandon sangat penasaran dengan sosok gadis yang sudah berani berurusan dengan penerus keluarga Alexander itu.
Brandon tampak berbincang-bincang dengan salah satu anak buahnya. Dia tak menyadari jika kini sang istri sudah memasuki ruang kerja tersebut. Caroline mendekati meja kerja sang suami. Dilihatnya berkas yang berserakan. Caroline tampak mengernyitkan dahinya.
Brandon yang menerima telepon anak buahnya sambil berjalan ke arah jendela, kaget begitu menoleh ke belakang, sang istri sudah berdiri di samping meja kerjanya sambil tersenyum pada dirinya.
“Makan malam sudah siap”
Brandon menganggukkan kepalanya, dan membalik tubuhnya berlawanan dengan sang istri.
“Terus kabari aku perkembangan Devara”bisik Brandon.
Sesaat kemudian, Brandon sudah mengakhiri sambungan teleponnya. Dia berjalan ke arah sang istri dan mengajaknya untuk makan malam.
“Kita makan malam sekarang?”tanya Brandon
Caroline menahan lengan sang suami sehingga Brandon menoleh pada sang istri penuh keheranan.
“Ada apa?”tanya Brandon
Caroline berjalan ke arah meja dan mengambil berkas tentang Ayra.
“Apa maksud ini semua? Untuk apa kau memata-matai gadis ini?”tanya Caroline yang juga mengenal Ayra dari anak buahnya.
Brandon yang sudah ketahuan memata-matai Ayra akhirnya terpaksa memberitahu istrinya. Dia mengajak Caroline duduk di kursi sofa.
“Aku akan jelaskan semauanya”pinta Brandon
Caroline mau tidak mau menuruti suaminya untuk duduk di kursi sofa mendengarkan penjelasan suaminya.
“Kau pasti juga sudah tau gadis ini kan?”tanya Brandon
Caroline menganggukkan kepalanya.
“Aku memang sengaja menyuruh anak buahku untuk mencari informasi tentang gadis ini. Awalnya aku hanya penasaran karena gadis ini berani berurusan dengan Dev. Kau tahu kan, baru kali ini ada gadis yang berani melawan Dev. Aku pikir aku harus tahu siapa dia”ucap Brandon
“Iya..aku juga berpikir begitu. Tapi kenapa kau sampai mencari informasi tentang keluarga dan latar belakang gadis itu sampai sedetail ini”tanya Caroline
Meskipun dirinya juga mencari informasi tentang Ayra namun tidak sedetail informasi yang dimiliki suaminya.
“Aku dengar Dev mulai mendekati gadis itu. Arga juga membenarkan jika sekarang Dev mulai tertarik dengan gadis itu. Aku hanya ingin tahu siapa sebenarnya gadis ini. Itu saja”jawab Brandon jujur
“Bukan karena kau ingin memisahkan mereka kan? Karena gadis itu tak sederajat dengan keluarga kita. Bukankah itu yang selalu kau katakan? Dengar sayang, aku tahu benar kau seperti apa. Tapi aku tak mau kau melakukan kesalahan yang sama pada Dev. Bagiku cukup sekali aku tak bisa menjaga Catherine dari egomu. Karena tidak bisa bersama dengan lelaki yang dicintainya. Aku tak akan biarkan kau mencampuri kehidupan Devara juga. Aku akan pastikan Dev bisa menjalani kehidupannya sesuai dengan keinginannya”gertak Caroline dengan tatapan tajam pada sang suami.
“Tapi sayang..”
Caroline semakin mempertajam tatapannya.
“Jangan buat aku mengulangi ucapanku. Jika kau tetap pada pendirianmu, maka kau akan berhadapan denganku”gertak Caroline sekali lagi dengan penegasan di tiap kata yang diucapkannya.
Caroline langsung beranjak dari duduknya dengan ekspresi wajah menahan emosi. Brandon yang melihat kemarahan di mata sang istri akhirnya mengalah. Brandon menarik tangan sang istri sehingga Caroline menoleh pada dirinya.
“Jangan marah!”bujuk Brandon sambil menarik tubuh Caroline hingga wanita itu jatuh dalam pelukannya.
“Baiklah! Aku akan menuruti keinginanmu. Tapi aku minta biarkan aku tetap tahu apapun yang terjadi pada Dev. Aku janji aku hanya memantau saja. Tapi semua keputusan dengan kehidupannya aku akan biarkan dia yang memutuskan. Aku takkan memaksakan keinginanku pada Dev. Aku ingin dia bisa bertanggungjawab pada setiap keputusan dalam hidupnya. Bagaimana?”jelas Brandon
Caroline melepaskan dekapan Brandon dan menatap wajah tampan sang suami. Caroline menatapnya dengan lembut.
“Baiklah! Aku setuju. Selama Dev tidak meminta bantuan dan pendapat kita, biarkan dia jalani kehidupan sesuai keinginannya. Setidaknya dia akan belajar bahwa setiap keputusan yang dia ambil, dia harus siap dengan semua konsekuesinya. Dengan begitu dia akan belajar bertanggungjawab dengan kehidupannya. Termasuk masalah gadis ini, kita lihat saja sejauh mana perasaan dan ketertarikan Devara pada gadis itu”ucap Caroline
“Oke”sahut Brandon
__ADS_1
“Kita makan malam sekarang?”ajak Brandon
Caroline menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis pada sang suami. Keduanya keluar dari ruang kerja sambil bergandengan tangan.
Begitu keluar dari ruang kerja, Catherine yang melihat kedua orangtuanya datang ke ruang makan, terlihat ikut senang melihat keromantisan orang tuanya.
“Mommy dan papa kelihatan seneng banget. Ada apa mom?”tanya Catherine yang sudah duduk di ruang makan bersama Darren.
Caroline mendekati Darren dan mencium pipi bocah cilik itu lalu mencium kening sang putri.
“Tidak ada apa-apa” kelit Caroline
“Bukankah mommy dan papa memang selalu seperti ini?”tanya Brandon.
“Iya sih, tapi sepertinya hari ini ada sesuatu yang terjadi. Karena mommy dan papa kelihatan romantis banget, gandengan tangan segala”ucap Catherine
Caroline segera duduk di samping Catherine, sementara Brandon duduk di kursi tengah meja makan itu.
“Bagaimana kabar cucu grandma?”tanya Caroline sambil mengusap perut buncit sang putri.
“Baby baik-baik saja grandma”sahut Catherine dengan suara dibuat semanja mungkin.
“Mommy?”
Darren menarik tangan Catherine.
“Iya sayang. Ada apa?”tanya Catherine
“I’ve finish my meal. Can I go to the bedroom, mom?”tanya Darren
“Oke..kamu mau ditemani mommy apa nanny?”tanya Catherine
“Oke..mommy selesaikan ini dulu ya?”bujuk Catherine
Caroline menatap sang putri yang sangat sayang pada Darren. Caroline tersenyum melihat interaksi keduanya. Meskipun bukan lahir dari rahimnya, namun Catherine sangat menyayangi Darren. Catherine sudah menganggap Darren seperti putranya sendiri.
“Apa Willy akan makan malam bersama kita?”tanya Brandon
Meskipun dengan begitu banyak kesalahan yang sudah dilakukan Willy pada putrinya, namun Brandon masih menganggap Willy adalah menantu kesayangannya. Sehingga Brandon masih berharap Catherine dan Willy bersatu kembali.
“Sayang”
Catherine menatap tajam pada sang suami. Catherine selalu protes jika suaminya itu selalu berusaha mendekatkan Willy pada Catherine.
“Aku kan hanya tanya..jangan marah!”bujuk Brandon sambil menggenggam tangan Caroline
“Aku sudah selesai. Aku antar Darren ke kamarnya dulu. Selamat malam mom..pa”pamit Catherine sambil mengajak Darren keluar dari ruang makan.
“Iya sayang..beristirahatlah!”ucap Caroline
Baru beberapa langkah keluar dari ruang makan, tiba-tiba Catherine merasakan nyeri di perutnya.
“Auchhh”
Catherine spontan memegang perut besarnya dengan wajah menahan sakit.
“Mommy kenapa?”tanya Darren kuatir.
Sebenarnya sejak pagi Catherine sudah merasakan kontraksi. Namun karena interval kontraksi yang masih lumayan lama, Catherine tidak terlalu memikirkannya. Namun menjelang malam, kontraksi yang dirasakan semakin sering. Dan puncaknya adalah malam ini.
Catherine terus memegangi perutnya yang terasa sakit.
__ADS_1
“Apa aku akan melahirkan sekarang?”gumam Catherine dalam hati
“Mommy”seru Catherine memanggil mommy nya.
Caroline yang mendengar suara panggilan Catherine terlihat kaget. Dia bahkan bertatapan dengan sang suami.
“Cathy”
Caroline dan Brandon langsung menghentikan acara makan malam mereka dan keluar dari ruang makan. Begitu diluar ruang makan, dilihatnya sang putri yang duduk di kursi sofa dikelilingi beberapa pengawal dan pelayan. Caroline langsung mendekati sang putri.
“Cathy ada apa? Kenapa kamu kesakitan seperti ini?”tanya Caroline
Catherine mengatur nafasnya dan menggenggam tangan sang mommy.
“Sepertinya..aku akan melahirkan sekarang”ucap Catherine dengan terbata-bata menahan sakit.
“What? Kalian sudah memanggil ambulance?”seru Brandon panik
“Helicopter akan tiba lima menit lagi tuan”sahut Bryan, anak buah Brandon
“Cepat hubungi rumah sakit!”perintah Brandon
“Sudah tuan. Tuan Willy sudah menunggu kita di rumah sakit”sahut Bryan
Lima menit kemudian, helicopter pun tiba. Dengan dibantu beberapa pengawal, Catherine dibawa menuju helicopter. Caroline dan Brandon ikut juga di dalam helicopter yang membawa Catherine ke rumah sakit.
“Sayang..atur nafasmu”pinta Caroline
Seorang perawat terlihat memeriksa keadaan Catherine. Caroline menggenggam tangan sang putri yang mulai menggeliat kesakitan.
“Mommy…hubungi..kak Arga”pinta Catherine
“Iya sayang..mommy akan hubungi Arga. Kau tenang saja”jawab Caroline
“Telpon..kak Arga sekarang mom..tolong”pinta Catherine yang mulai merasakan kontraksi di perutnya semakin kuat.
Caroline langsung menghubungi Arga.
“Nyonya”sapa Arga begitu sambungan telepon tersambung.
“Dimana kamu sekarang Arga?”tanya Caroline
“Saya sudah sampai bandara nyonya. Sebentar lagi saya sampai di penthouse”jawab Arga
“Kau langsung menyusul ke rumah sakit. Sepertinya Catherine akan melahirkan sekarang”ucap Caroline
Arga kaget mendengar Catherine akan melahirkan.
“Ba..baik nyonya. Saya ke sana sekarang”sahut Arga
“Kita bertemu di rumah sakit”ucap Caroline.
“Baik nyonya”balas Arga
“Ada apa kak?”tanya Devara
“Nona dibawa ke rumah sakit. Sepertinya nona akan melahirkan”ucap Arga dengan sedikit panik
“Benarkah? Oke..kita ke rumah sakit sekarang”ajak Devara
“Tunggulah aku sayang. Aku akan menemanimu di sana”gumam Arga dalam hati
__ADS_1