Terjerat Cinta Nona Muda

Terjerat Cinta Nona Muda
EXTRA PART (2) : Pingsan


__ADS_3

Albert memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Mobil sport warna merah itu bergerak dengan sangat lincah memecah kemacetan jalanan yang dipenuhi kendaraan karena hari sudah menjelang malam. Membuat semua orang tak sabar untuk segera pulang ke rumah masing-masing.


Dengan konsentrasi tinggi, Albert mengendarai mobilnya untuk kembali ke kediaman Jessica. Sesampainya di pekarangan rumah Jessica, Albert segera keluar dari mobilnya dengan terburu-buru. Nampak para pekerja yang sedang membongkar dekorasi pernikahan di rumah itu. Para pelayan juga hilir mudik membersihkan area yang tadi pagi sempat dijadikan tempat pelaksanaan pernikahan.


Begitu sampai di depan pintu, Albert segera menyapa seorang pelayan yang kebetulan melintas.


“Maaf, bisa saya bertemu dengan Jessica?”tanya Albert


Belum sampai pelayan itu menjawab pertanyaan Albert, Joanne yang kebetulan baru turun ke lantai satu dan melihat penampakan Albert, segera menghampiri lelaki tampan berwajah blasteran Indo-Amerika itu.


“Kak Albert?”sapa Joanne


“Jojo? Kebetulan sekali kau di sini”ucap Albert lega dengan wajah sumringah


“Kakak kenapa kemari lagi?”tanya Joanne sambil mengernyitkan dahinya.


“Tadi Jessica membalas pesanku, tapi begitu aku telpon, dia tak mau mengangkatnya”jelas Albert


“Oh ya? Tapi sampai sekarang kakak masih belum mau keluar kamar”ucap Joanne dengan sendu


“Begitukah?”tanya Albert


Joanne hanya menganggukkan kepalanya.


Keduanya kemudian berjalan menuju kursi taman. Tak dihiraukan para pekerja dekorasi dan para pelayan yang berjalan hilir mudik di sekitar mereka.


“Kakak pasti sangat terpukul saat ini. Kejadian ini adalah pukulan paling berat bagi kakak”ucap Joanne dengan sendu


Joanne yang sangat mengenal sang kakak, merasa sangat yakin jika Jessica sedang sangat terpuruk saat ini.


“Andai saja kakak tidak gegabah menerima pertunangan itu, pasti kejadian ini tak akan terjadi”keluh Joanne


Meskipun Joanne sangat mendukung cinta Jessica pada Arga, namun sejak mengetahui hubungan Arga dan Catherine, apalagi mengetahui mereka berdua sudah dikaruniai seorang putri, Joanne tak lagi mendukung Arga menjadi kakak iparnya.


Namun karena Jessica sangat mencintai Arga dan mau menerima masa lalu Arga, membuat Joanne pun mau tak mau akhirnya menerima keputusan sang kakak untuk menikah dengan Arga. Meskipun dalam lubuk hatinya yang terdalam Joanne merasa tak rela jika sang kakak harus hidup bersama dengan lelaki yang sudah memiliki anak seperti Arga. Apalagi selama bertunangan dengan Jessica, sikap Arga tak sepenuhnya menunjukkan cinta yang sebesar cinta Jessica pada Arga. Cinta sebelah pihak Jessica membuat Joanne tak rela jika sang kakak harus hidup seperti itu. Mencintai tanpa dicintai. Kehidupan seperti itu sangatlah menyakitkan. Karena bagi Joanne, lebih baik dicintai daripada mencintai tanpa dicintai.


Albert dan Joanne berbincang cukup lama. Tanpa mereka sadari, saat ini Jessica yang sedang menghirup udara segar di luar, tengah berdiri di balkon kamarnya yang menghadap ke arah taman depan.


“Baiklah..aku pulang sekarang. Kabari aku jika ada perkembangan Jessica”ucap Albert sambil berdiri dari kursi tamannya.


“Iya kak, terima kasih atas perhatian kak Albert pada kak Jessi”ucap Joanne tulus


Albert hanya mengulas senyum tipis di bibirnya. Dan saat tanpa sengaja matanya menatap balkon kamar Jessica, dilihatnya gadis cantik itu yang sedang berdiri menghadap ke arahnya. Keduanya saling bertatapan.


“Jessi?”tanya Albert


Joanne yang mendengar Albert memanggil nama Jessica, langsung menoleh dan menatap ke arah yang sama seperti arah tatapan mata Albert.


“Kakak? Benar..itu kakak”ucap Joanne dengan senyum cerah yang merekah di bibirnya melihat sang kakak yang terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


Albert juga tersenyum melihat Jessica yang menatap ke arahnya.


“Ugh..kepalaku? Kenapa ini?”keluh Jessica sambil memegangi kepalanya.


Albert yang melihat gelagat aneh Jessica tampak mengernyitkan dahinya.


Tiba-tiba tanpa terduga, Jessica merasakan kepalanya terasa sangat berat. Tubuhnya terasa sangat lemas dan sesaat kemudian pandangan matanya mendadak gelap.


“Brughhh”


Jessica pingsan tak sadarkan diri.


Albert dan Joanne yang sedari tadi melihat Jessica, tampak membelalakkan matanya melihat Jessica yang tiba-tiba jatuh. Tanpa dikomando, keduanya langsung berlari ke dalam rumah untuk melihat keadaan Jessica.


Albert yang berlari dengan terburu-buru, bahkan tak melihat Hanna dan Jerry yang berpapasan dengan keduanya di tangga. Hanna dan Jerry tampak kebingungan melihat Albert yang berlari dengan kencang menuju lantai dua.


“Ada apa ini Jojo? Kenapa kau berlari seperti itu?”tanya Hanna sambil menarik tangan Joanne yang melintas di depannya dengan terburu-buru.


“Kakak..kakak pingsan ma. Kita harus segera melihat keadaannya”ucap Joanne dengan penuh kecemasan.


“Apa?”pekik Hanna tak percaya


Hanna dan Jerry segera mengikuti Joanne berlari ke arah kamar Jessica. Sesampainya di depan kamar, dilihatnya Albert yang sedang berusaha membuka pintu dengan paksa. Namun karena pintu kamar Jessica dikunci dari dalam, Albert kesulitan membukanya.


“Dobrak saja pintunya!”seru Jerry memberi ijin


Albert menganggukkan kepalanya. Albert segera mengambil ancang-ancang, kemudian dengan sekuat tenaga mendorong pintu kamar Jessica. Awalnya Albert kesulitan mendobrak pintu itu, namun di percobaan ketiga, barulah Albert berhasil mendobrak pintu kamar Jessica.


Pintu kamar terbuka akibat dobrakan Albert. Semua orang pun segera merangsek masuk ke dalam kamar. Nampak sosok Jessica yang terkulai lemas tak sadarkan diri di lantai.


“Jessi!”panggil Hanna dengan histeris


Albert segera menghampiri Jessica dan mengangkat tubuh mungil Jessica. Direbahkannya tubuh Jessica di ranjang.


“Cepat panggilkan dokter!”seru Jerry panik


“Saya dokter, om”ucap Albert dengan tenang sambil memeriksa keadaan Jessica.


“Saya ambil dulu peralatan saya di mobil”ucap Albert


Albert pun segera berlari menuju mobilnya dan mengambil peralatan medisnya untuk memeriksa keadaan Jessica. Albert segera kembali ke kamar Jessica dan dengan cekatan memeriksa keadaan Jessica.


“Bagaimana keadaan Jessica?”tanya Hanna dengan cemas


Airmatanya sudah dipelupuk mata melihat putri sulungnya yang tak sadarkan diri. Joanne yang melihat sang mama ketakutan, segera menghampiri sang mama dan memeluknya untuk menenangkannya.


“Mama tenang saja..kakak pasti baik-baik saja”ucap Joanne mencoba menenangkan sang mama


Hanna hanya sanggup menganggukkan kepalanya. Hatinya sangat sedih melihat keadaan putri sulungnya yang tak berdaya seperti itu.

__ADS_1


“Sebaiknya kita bawa Jessica ke rumah sakit sekarang karena peralatan saya kurang memadai. Saya khawatir ada pendarahan dalam”pinta Albert


“Baiklah”sahut Jerry


Jessica pun dibopong Albert menuju mobil Jerry. Albert mengendarai mobilnya sendiri. Hanna terus mengusap kepala sang putri yang berada dalam pangkuannya.


“Sayang..sadarlah! Jangan buat mama takut!”ucap Hanna dengan berlinangan airmata.


“Sudahlah jangan menangis! Kau membuat suasana menjadi semakin panik saja!”keluh Jerry sambil mengendarai mobil


“Tolong jangan menyalahkan mama pa..kita semua panik. Tapi jangan semakin memperburuk keadaan. Sekarang sebaiknya kita segera ke rumah sakit”pinta Joanne


Sesampainya di rumah sakit, Albert yang sudah sampai terlebih dahulu sudah bersama dengan dokter dan beberapa perawat sambil mendorong brankar. Jessica pun segera dibawa ke ruang gawat darurat.


Semua anggota keluarga Jerry menunggu dengan harap-harap cemas. Joanne tampak memeluk tubuh sang mama yang terus menangis sepanjang perjalanan. Jerry juga nampak mondar-mandir di depan ruang gawat darurat.


Setelah melalui beberapa pemeriksaan akhirnya Jessica diantar menuju ruang rawat inap rumah sakit.


“Bagaimana keadaan putriku?”tanya Jerry pada Albert setelah mengantar Jessica ke ruang rawat inap


“Dia baik-baik saja, om. Hanya kelelahan dan sedikit stress saja. Sebentar lagi dia akan siuman”ucap Albert


“Syukurlah”sahut Jerry


“Boleh kami menemani dia di dalam?”tanya Hanna


“Silahkan tante, tapi tolong jangan berisik. Pasien butuh istirahat”pinta Albert


“Kami mengerti”sahut Hanna


Hanna, Jerry, Joanne dan Albert masuk ke dalam ruang rawat inap. Di dalamnya terlihat Jessica yang sedang terlelap dengan selang infus di salah satu tangannya.


Hanna segera menghampiri ranjang Jessica dan meraih tangan sang putri. Diciumnya tangan putri sulungnya yang terlihat masih lemas.


“Kenapa nasibmu semalang ini sayang? Mama sedih melihatmu seperti ini. Cepatlah bangun sayang!”pinta Hanna sambil beruraian airmata


Hati Hanna sangat sedih melihat keadaan putri sulungnya yang sedang tak berdaya seperti itu. Musibah seakan datang silih berganti dalam kehidupan Jessica. Dalam waktu singkat, musibah itu datang menerpa kehidupan gadis cantik yang sangat periang dan selalu ceria itu.


Pernikahan yang batal, ditambah kini harus terbaring lemah di rumah sakit.


“Sudahlah jangan menangis! Kau tak ingat apa kata dokter, biarkan dia istirahat!”pinta Jerry


“Aku tahu. Aku hanya tak habis pikir kenapa hidup putri kita semalang ini. Dulu Tommy. Sekarang Arga. Kenapa putri kita selalu dirundung masalah dengan lelaki?”keluh Hanna sambil mengusap wajah sang putri yang masih tertidur dengan pulas.


Karena tergesa-gesa ke rumah sakit, keluarga Jerry sama sekali tidak membawa persiapan apa-apa, sehingga Jerry dan Hanna pulang dulu ke rumah untuk membawa beberapa keperluan Jessica. Sementara itu Joanne yang diminta menjaga sang kakak.


Albert juga selalu setia menemani Jessica. Ditunggunya gadis cantik yang selalu membuat hatinya tidak karuan sampai siuman.


“Apa kisah percintaanmu selalu gagal sepertiku?”gumam Albert dalam hati

__ADS_1


Ditatapnya wajah cantik yang akhir-akhir ini mengusik kehidupannya. Wajah cantik yang selalu menyembunyikan kesedihan dan masalahnya dibalik senyum ceria dan tawa riangnya itu.


“Dasar gadis bodoh!”gerutu Albert dalam hati


__ADS_2