
Catherine mengambil piring kedua milik Arga dan meletakkannya di meja makan. Sementara Arga mulai merapikan dapur miliknya.
“Ayo kak, kita makan dulu”ajak Catherine sambil menarik tangan Arga yang masih memakai apron
“Sebentar nona, saya mau mencuci pancinya dulu”tolak Arga pelan
“Ehm..ehm..ehm”
Catherine menggerakkan jari telunjukkan ke kanan dan ke kiri tanda menolak permintaan Arga. Catherine justru berdiri di belakang Arga.
“Aku tak menerima penolakan apapun. Kakak harus makan bersamaku”ucap Catherine sambil melepaskan apron Arga.
Arga menghela nafasnya pelan dan memilih pasrah saja dengan yang dilakukan Catherine. Setelah meletakkan apron di meja marmer di dapur, Catherine kembali menarik tubuh besar Arga menuju meja makan. Mereka duduk saling berhadapan.
Catherine mulai memasukkan spagetti ke dalam mulutnya. Mata Catherine langsung terbelalak tak percaya.
“Kak, ini enaaak bangeeeet”puji Catherine sambil mengepalkan kedua tangannya di depan dada dan mengoyang-goyangkannya.
Catherine terlihat sangat menggemaskan sekali. Membuat Arga tanpa sadar menarik sudut bibirnya melihat kelakuan manja dan menggemaskan seorang Catherine Alexander.
Keduanya menyantap makan malam itu sambil berbincang ringan. Dan tentu saja Catherine yang lebih mendominasi pembicaraan. Sedangkan Arga hanya menjawab sekenanya.
Saking semangatnya menyantap spagetti buatan Arga, ada sedikit sisa saus yang menempel di ujung bibir mungil Catherine.
“Nona”panggil Arga
“Iya kak”sahut Catherine sambil mendongakkan kepalanya menatap Arga
“Ada sisa saus di mulut nona”ucap Arga sambil menunjuk bagian bibir kanan Catherine.
“Ah..benarkah? Disini?”tanya Catherine sambil membersihkan bibir kirinya.
“Bukan nona. Yang kanan”
“Ah..iya. Disini?”tanya Catherine membersihkan bibir kanannya namun sisa saus itu tak juga bersih
Karena gemas, akhirnya Arga mengusap sisa saus di ujung bibir kanan Catherine dengan jarinya. Perlakuan lembut Arga membuat Catherine membelalakkan matanya saat lelaki yang dicintainya itu menyentuh bibirnya.
Arga yang sadar sudah menyentuh bibir Catherine juga jadi salah tingkah. Apalagi saat tanpa sengaja, jari Arga menyentuh bibir lembut Catherine. Membuat jantung keduanya berdetak sangat kencang.
Arga segera berdiri dari posisi duduknya dan memilih merapikan piring-piring yang kotor.
“Sa..saya rapikan piring-piringnya dulu”ucap Arga dengan terbata-bata.
“I..iya kak”jawab Catherine dengan terbata juga
__ADS_1
Keduanya sama-sama salah tingkah.
“Apa yang aku lakukan? Kenapa aku menyentuh bibirnya?”gerutu Arga dalam hati sambil mencuci piring kotor itu.
“Jantungku rasanya mau copot”gumam Catherine dalam hati sambil memegang dadanya yang bergemuruh hebat setelah perlakuan kecil yang dilakukan Arga pada dirinya.
Catherine menatap punggung lebar Arga yang sedang mencuci piring-piring kotor sambil tersenyum.
“Kelak dia akan menjadi suami hebat. Calon suamiku. Dasar! Dia buat aku ga bisa jauh dari dia”gumam Catherine dalam hati
“Aku bantu ya kak”ucap Catherine sambil berjalan menghampiri Arga.
Catherine berdiri di samping Arga yang sedang mencuci piring.
“Nona duduk saja. Ini sebentar lagi selesai”
“Ga mau. Aku mau bantu”tolak Catherine dengan suara manjanya.
Akhirnya Arga memilih tak mendebat nona mudanya yang keras kepala. Mereka berbagi tugas. Arga yang mencuci piring, sementara Catherine yang meletakkan di tempat cucian piring sementara.
“Pranggg”
Saat akan meletakkan piring ke tempatnya, karena masih bersabun, piring menjadi licin. Piring pun meluncur jatuh dari pegangan Catherine. Membuat piring tersebut jatuh berkeping-keping.
“Aduh”
“Nona kenapa?”tanya Arga kuatir mendengar Catherine mengaduh kesakitan
Jari Catherine berdarah setelah tersayat oleh pecahan piring yang ada di lantai. Arga yang melihat darah di jari tangan Catherine segera meraih jari Catherine lalu menyesap darah yang keluar. Catherine membelalakkan matanya melihat Arga menyesap darah yang keluar dari jarinya. Jantungnya seakan berlompatan keluar mendapat perhatian dari lelaki balok es yang dicintainya. Perlahan Catherine menarik sudut bibirnya sambil menatap lembut Arga tanpa berkedip sedikitpun.
“Bagaimana nona? Apa masih sakit?”tanya Arga kuatir.
Catherine menggelengkan kepalanya pelan.
“Udah ga sakit kok kak”jawab Catherine
Arga yang masih diliputi rasa kuatir akhirnya berdiri dan menarik tangan Catherine untuk diobati.
“Kita obati dulu supaya tidak infeksi”
“Ga usah kak. Aku ga papa”
“Nona jangan membantah”pinta Arga dengan tatapan dinginnya
Membuat Catherine terpaksa menuruti keinginan bodyguardnya itu. Tatapan dingin Arga justru menghangatkan hati Catherine melihat Arga yang begitu perhatian pada dirinya.
__ADS_1
Catherine duduk di sofa. Sementara Arga berjalan ke arah kotak P3K, untuk mengambil obat merah, plester dan kapas. Arga meletakkan ketiga benda yang tadi diambilnya dari kotak P3K dan meletakkannya di atas meja.
“Mana jari tangan nona tadi?”pinta Arga
Catherine mengulurkan jarinya yang sedikit tersayat tadi ke arah Arga. Arga mengobati luka Catherine dengan sangat hati-hati. Sesekali Catherine meringis merasakan lukanya yang diberi obat merah. Lukanya terasa perih. Arga yang melihat Catherine meringis, kemudian meniup perlahan jari Catherine yang terluka.
Catherine benar-benar tersentuh dengan perhatian Arga. Dia menatapnya dengan penuh cinta tanpa berkedip. Setelah memberikan obat merah, Arga membalut luka itu dengan plester.
“Terimakasih kak”ucap Catherine tulus
“Iya nona. Sama-sama”jawab Arga
Arga kemudian merapikan kembali obat P3K yang dibawanya tadi. Saat hendak mengembalikan obat P3K kembali ke kotak P3K, tiba-tiba
“Kak”panggil Catherine
Catherine menarik tangan Arga hingga lelaki itu menoleh padanya dan dalam sekejap mata, bibir keduanya bertemu. Catherine mencium bibir Arga.
“Mmuachhh”
Mendapat serangan mendadak dari gadis manja yang dicintainya membuat Arga membeku. Matanya terbelalak sempurna. Namun bibirnya tak membalas ciuman mesra dari Catherine.
“Nona hentikan!”pinta Arga sambil memegang kedua lengan Catherine untuk melepaskan ciuman bibir diantara keduanya.
Catherine menggigit bibir bawahnya. Entah setan apa yang merasuki gadis manja yang periang itu, hingga berani mencium mesra lelaki balok es yang meskipun menyebalkan tapi sangat dicintainya itu.
“Apa yang nona lakukan?”tanya Arga sambil mengerutkan dahinya.
“Itu tadi ucapan terima kasihku untuk kakak”ucap Catherine santai
“Gadis gila ini semakin hari semakin berani saja”gumam Arga sambil menatap manik mata indah Catherine yang sedang tersenyum tanpa dosa pada dirinya.
Arga kemudian mengembalikan obat ke kotak P3K. Dilihatnya Catherine yang sedang menatap rak buku miliknya. Tanpa sepengetahuan Catherine, Arga menyentuh bibirnya sendiri. Senyum tipis terukir di wajah tampannya. Andai dirinya tak dapat menahan dirinya, sudah pasti Arga membalas ciuman bibir mesra dari Catherine. Apalagi gadis itu terus memejamkan matanya kala mencium dirinya. Namun Arga sekuat tenaga, menahan dirinya untuk tidak goyah dengan pesona nona mudanya itu. Gadis yang beranjak ABG itu kini terlihat semakin menarik. Sangat cantik. Siapapun pasti akan terpikat dengan pesona gadis cantik itu. Tak terkecuali Arga.
Arga memilih berjalan ke arah dapur dan membuat susu hangat untuk dirinya dan Catherine. Sementara Catherine terlihat asyik membaca salah satu buku milik Arga. Setelah susu hangat itu jadi, Arga segera membawanya ke ruang tamu.
“Kakak buat apa?”tanya Catherine begitu Arga menghampirinya.
Arga menyerahkan gelas berisi susu hangat itu pada Catherine.
“Terimakasih kak”ucap Catherine
Arga duduk di samping Catherine sambil menyeruput susu hangat miliknya. Dilihatnya Catherine yang sedang meniup pelan susu hangat yang terasa masih panas itu. Saat Arga menatap bibir merah muda Catherine yang sedang memanyunkan bibirnya untuk meniup susu hangat di gelas yang dipegangnya, membuat jantung Arga berdegup tak karuan. Pikiran Arga travelling mengelana tak tentu arah. Terbayang dalam pikirannya betapa lembutnya bibir tipis itu. Arga sampai menelan salivanya dengan susah payah.
“Apa yang sedang aku pikirkan?”tanya Arga merutuki pikirannya sendiri yang malah membayangkan bibir lembut Catherine.
__ADS_1