Terjerat Cinta Nona Muda

Terjerat Cinta Nona Muda
Kemarahan Willy


__ADS_3

Catherine masih juga terpaku di depan pintu ruang ganti. Jantungnya berdetak tak karuan setelah tadi tanpa sengaja, saat membuka pintu ruang ganti, Catherine melihat dengan jelas tubuh kekar Willy yang sedang polos karena bertepatan dengan Willy yang melepas handuk yang membungkus dari pinggang ke bawah.


Catherine spontan berteriak dengan lantang, karena bagaimanapun juga, Catherine belum terbiasa melihat penampakan lelaki telan*ang. Meskipun semalam dia juga sudah melihat tubuh Willy seluruhnya saat akan melewati malam pertama mereka yang ternyata gagal total. Tetapi pemandangan itu bukanlah pemandangan yang biasa dilihatnya sehingga Catherine merasakan tubuhnya seakan terbakar. Dan spontan saja dirinya berteriak. Membuat Willy yang berada di dalam ruang ganti juga kaget melihat Catherine yang berteriak dengan suara yang memekakkan telinga.


Willy semakin mempercepat gerakannya untuk berpakaian. Sementara Catherine memilih duduk di tepi ranjang sambil menunggu Willy keluar. Catherine mencoba menenangkan hatinya yang gelisah.


Willy melangkahkan kakinya keluar dari ruang ganti. Keduanya bertatapan begitu Willy membuka pintu ruang ganti. Catherine memberanikan diri menghampiri Willy meskipun wajahnya masih memerah menahan malu. Catherine bahkan berjalan ke arah Willy dengan tatapan mata yang tidak fokus. Bola mata indahnya bergerak ke sana kemari karena masih juga malu setelah ketahuan melihat tubuh polos lelaki yang sudah menjadi suaminya.


“Will, Kita harus bicara”pinta Catherine begitu berhadapan dengan Willy


“Apa yang ingin kau bicarakan?”tanya Willy sambil mendekat ke arah Catherine.


“Kenapa dia malah semakin mendekat?”gumam Catherine dalam hati melihat Willy yang berjalan semakin dekat.


Karena masih canggung, Catherine segera menunjuk kursi sofa.


“Ki-kita bicara di situ dulu”ajak Catherine sambil berjalan ke arah kursi sofa besar di kamar presidential suite itu.


Willy berjalan di belakang Catherine, mengikuti langkah kaki Catherine. Kini keduanya sudah duduk di kursi sofa saling berhadapan. Catherine menghela nafasnya panjang dan mengumpulkan seluruh keberaniannya karena Catherine tak ingin masalah semalam semakin berlarut-larut.


“Kenapa kau meninggalkan aku semalam?”tanya Catherine dengan tatapan tajam ke arah Willy


“Kenapa kau melakukan itu padaku Will? Kau bilang kau mencintaiku, tapi apa yang kau lakukan semalam sama sekali tak menunjukkan ucapanmu”Catherine memberondong Willy dengan pertanyaan yang sejak semalam mengusik pikirannya.


Willy mengerutkan dahinya karena mendengar pertanyaan Catherine yang menyalahkan dirinya. Seolah kejadian semalam adalah kesalahannya.


“Kenapa kau malah menyalahkan aku? Seharusnya aku yang marah padamu. Apa kau tahu perasaanku? Hatiku sakit Cath. Dan kau malah menyalahkanku? Apa tidak salah?”tanya Willy dengan menahan amarahnya yang kembali tersulut dengan pertanyaan Catherine.


Catherine menatap dengan tatapan tak percaya pada Willy.


“Memang apa salahku? Aku tak melakukan apapun. Justru kau yang sudah meninggalkan aku ketika kita hampir melakukannya”seru Catherine tegas


“Kau tak sadar dengan kesalahanmu? Bisa-bisanya kau tidak mengingatnya. Apa harus aku ingatkan supaya kau mengingatnya?”sindir Willy


“Aku tak mengerti maksudmu. Memang apa yang sudah kulakukan?”tanya Catherine lagi karena dirinya memang benar-benar tidak mengingat apa yang sudah diucapkan di sela-sela pergulatan mereka semalam.


“Tok..tok..tok”


Pintu diketuk dari luar. Membuat pembicaraan suami istri yang sedang bersitegang itupun terpaksa disudahi sebentar. Catherine yang memilih membuka pintu. Ternyata itu adalah salah satu bodyguardnya yang memberitahu keduanya bahwa mereka harus segera berangkat ke bandara untuk melakukan perjalanan honeymoon mereka yang sudah disiapkan oleh Brandon Alexander, sang papa.


Keduanya akhirnya berangkat saat itu juga. Tanpa sempat menyelesaikan permasalahan yang terjadi di antara keduanya. Sepanjang perjalanan menuju Maldives, lokasi honeymoon mereka, keduanya memilih diam. Tak ada satupun dari mereka yang memulai pembicaraan.


Raut wajah keduanya sangat tidak bersahabat. Membuat para bodyguard dan pelayan yang melayani mereka di pesawat pribadi keluarga Alexander bertanya-tanya. Karena keduanya tidak tampak seperti pasangan pengantin baru yang berbahagia.

__ADS_1


Wajah keduanya terus ditekuk dan memilih menghabiskan waktu dengan beristirahat. Catherine memilih tidur sementara Willy memantau pekerjaannya. Sesekali Willy menghubungi Ella melalui chat untuk mengabarkan kepergiannya ke Maldives.


Perjalanan menuju Maldives dari London terasa sangat menyita waktu. Dua belas jam perjalanan itu dilalui keduanya dengan perasaan kesal satu sama lain. Membuat perjalanan terasa lebih lama dari biasanya.


Sesampainya di Maldives, di resort yang sengaja disewa untuk pasangan pengantin baru itu untuk berbulan madu, keduanya langsung beristirahat di kamar. Catherine yang kelelahan setelah menempuh perjalanan selama dua belas jam, memilih tidur. Sementara Willy menikmati pemandangan indah yang terhampar melalui balkon resortnya. Pemandangan indah yang memperlihatkan keindahan perairan tenang dengan airnya yang jernih.


Willy melangkahkan kakinya lalu duduk di kursi santai yang tersedia di balkon resort tersebut. Willy sempat menoleh sebentar ke arah ranjang yang menampakkan sosok wanita yang dicintainya. Akhirnya Willy kembali ke dalam kamar dan berjalan menuju ranjang. Dia duduk di tepi ranjang di samping Catherine yang sudah tertidur dengan pulas. Ditatapnya wanita yang sangat dicintainya yang adalah cinta pertamanya.


“Padahal aku selalu membayangkan menikmati bulan madu di sini bersamamu? Kenapa kau harus menyebut nama lelaki itu Cath? Kenapa?”gumam Willy dalam hati.


Diusapnya perlahan wajah cantik istrinya. Willy membetulkan anak rambut yang menutupi wajah Catherine.


“Padahal aku sangat mencintaimu”ucap Willy dengan lirih.


Merasa ada yang menyentuh wajahnya, membuat Catherine membuka matanya perlahan. Samar-samar dilihatnya wajah suaminya yang sedang duduk di sampingnya. Menatapnya dengan tatapan sendu.


Willy salah tingkah melihat Catherine yang terbangun karena ulahnya. Mereka bertatapan dalam diam. Merasa tak kuat jika bertatapan dengan Catherine, Willy memilih bangun dari posisinya semula. Willy merasakan sesuatu menahan tangannya. Saat Willy menoleh, dilihatnya Catherine yang menahan dirinya.


“Kau mau kemana?”tanya Catherine dengan suara lembut


Mendengar suara lembut Catherine, membuat Willy mengurungkan niatnya lalu duduk kembali di tepi ranjang.


“Will, aku mau kita selesaikan masalah kita sekarang juga. Aku tak mau terus-terusan memikirkan masalah ini. Karena kita baru saja menikah. Kau mau kan?”pinta Catherine


Kali ini Catherine bisa lebih mengatur nada bicaranya. Tidak seperti ketika sebelum berangkat di Maldives.


Catherine menganggukkan kepalanya perlahan.


“Baiklah. Kita mulai dari mana?”tanya Willy


“Kau bilang kejadian malam pertama adalah salahku. Tapi aku tak merasa sudah melakukan kesalahan padamu. Jadi katakan padaku, apa salahku?”tanya Catherine


“Benarkah kau sama sekali tak ingat apa yang kau ucapkan malam itu?”tanya Willy


Willy mencoba menelisik kejujuran di mata Catherine. Sementara Catherine yang memang tidak mengingat apapun menggelengkan kepalanya perlahan.


“Apa kau tak ingat sudah menyebut nama lelaki lain saat aku hampir memilikimu malam itu?”selidik Willy sambil menatap tajam ke arah Catherine


“Lelaki lain?”gumam Catherine sambil mengenyitkan dahinya.


“Iya..Malam itu kau menyebut nama ..”


Willy menggantung ucapannya sendiri. Membuat Catherine menunggu-nunggu kelanjutan ucapan Willy dengan harap-harap cemas.

__ADS_1


“Kak Arga”


Degh..


Catherine membelalakkan matanya mendengar ucapan Willy. Waktu seakan berhenti berputar, saat Willy menyebut nama kak Arga.


“Tidak mungkin! Ini tidak mungkin”gumam Catherine dalam hati.


“A-Apa? Apa maksudmu? Aku tak mengerti”ucap Catherine tak mengerti


“Malam itu saat kita hampir melakukannya, jelas-jelas aku mendengar kau menyebut nama kak Arga. Apa kau sama sekali tak ingat itu?”tanya Willy menahan amarahnya.


Catherine menatap Willy dengan tatapan tak percaya. Mana mungkin dirinya menyebut nama Arga. Karena bagi Catherine yang sekarang, cintanya pada Arga sudah mati. Jadi mana mungkin dirinya menyebut nama lelaki itu.


“Kau pasti salah dengar”ucap Catherine mencoba mengelak


Willy yang sejak tadi sudah menahan amarahnya semakin tersulut melihat Catherine yang masih juga mengelak kebenaran yang sudah diucapkannya.


“Apa kau pikir aku mengarang semua cerita ini? Apa untungnya untukku?”gerutu Willy


“Entahlah”


“Jadi lelaki itu yang selama ini ada di hatimu, hah?”gertak Willy


Catherine terdiam. Dia bingung harus bereaksi bagaimana saat melihat Willy semakin menyudutkan dirinya.


“Apa kau bisa membayangkan yang aku rasakan? Wanita yang aku cintai, yang sudah aku nikahi, di malam pertama yang harusnya menjadi momen teristimewa bagi kita, justru hancur karena kau sudah mengacaukan semuanya. Hatiku sakit Cath”teriak Willy mengeluarkan semua beban dalam hatinya selama dua hari ini.


“A-aku..aku..”


Suara Catherine tercekat. Seperti ada yang menahannya keluar. Karena baru kali ini sejak mereka berpacaran, bertunangan dan menikah, Willy terlihat begitu terluka dan marah sebesar itu pada dirinya.


“Aarrgghhh”


Willy berteriak dengan sangat lantang meluapkan amarahnya yang seakan melesak keluar dari hatinya. Meledak saat itu juga. Membuat Catheriene kaget. Bahkan saking kagetnya, membuat Catherine terperanjat saat tiba-tiba Willy berteriak dengan keras.


Catherine yang merasa bersalah tanpa sadar menitikkan airmata. Karena Willy yang sedang marah terlihat begitu menakutkan namun juga terlihat lemah.


Catherine berjalan menghampiri Willy. Catherine ingin menghibur lelaki itu. Catherine menggapai tangan Willy, namun Willy menepis tangannya dengan kasar. Tak patah arang, Catherine langsung memeluk tubuh kekar Willy dengan erat. Membuat lelaki itu terdiam menerima perlakuan hangat dari Catherine.


Catherine dapat mendengar dengan jelas detak jantung Willy yang tak beraturan.


“Maafkan aku! Aku tak bermaksud menyakitimu. Aku bahkan tak mengingat semua itu”ucap Catherine jujur

__ADS_1


Keduanya akhirnya berpelukan selama beberapa saat. Merasakan kehangatan dan kehadiran satu sama lain. Berusaha menyelesaikan masalah mereka berdua bersama-sama. Karena bagaimanapun keduanya adalah pasangan suami istri yang sah di mata Tuhan dan negara.


“Maafkan aku”ucap Catherine dalam dekapan Willy


__ADS_2