
Setelah menempuh perjalanan selama hampir enam belas jam, Catherine sampai juga di negara kelahirannya. Sesampainya di bandara, Catherine langsung diantar ke rumah sakit tempat Agatha dirawat.
Sebenarnya Catherine merasa kelelahan dan sedikit jetlag setelah enam belas jam perjalanan dari London ke Indonesia. Namun Catherine menahannya karena ingin segera menjenguk sang nenek.
Catherine langsung diantar pengawal ke kamar VVIP tempat Agatha dirawat. Kamar VVIP khusus keluarga Alexander dijaga oleh beberapa pengawal. Tidak sembarang orang bisa memasuki lantai khusus itu. Para perawat dan dokter yang akan memeriksa Agatha pun harus melewati serangkaian pemeriksaan dari para penagwal.
Catherine dengan langkah terburu-buru, segera masuk ke dalam kamar VVIP. Begitu membuka pintu, tatapan matanya langsung beradu dengan lelaki yang sudah lama tidak ditemuinya. Lelaki menyebalkan yang dulu selalu diganggunya.
“Catherine”gumam Arga dalam hati
Arga kaget melihat wanita yang sangat dicintainya telah berada di dekatnya. Berdiri tak jauh dari dirinya. Hati Arga langsung diliputi dengan kebahagiaan. Betapa Arga sangat merindukan wanita itu. Wanita yang sangat dicintainya.
Catherine segera melepas kacamata hitamnya yang sejak tadi menutupi matanya. Arga dapat melihat dengan jelas manik mata indah Catherine. Keduanya bertatapan selama beberapa saat sebelum Catherine memutus tatapan mereka.
Arga dengan ekspresi wajah datarnya segera menyambut kedatangan nona mudanya yang tiba-tiba datang ke Indonesia.
“Nona”sapa Arga dengan ekspresi wajahnya yang selalu datar dan dingin.
“Apa kabar kak?”sapa Catherine sambil tersenyum tipis.
Catherine langsung berjalan ke arah ranjang sang nenek. Wanita tua yang terlihat lemah setelah menjalani operasi itu kini sedang tertidur pulas. Nampak beberapa peralatan medis terpasang di tubuh renta Agatha. Peralatan yang berfungsi membantu memonitor keadaan Agatha.
Catherine terlihat sedih menatap wanita tua yang disayangi nampak tak berdaya. Catherine duduk di samping Agatha dan meraih tangannya lalu menggenggamnya. Arga berdiri di samping Catherine. Ikut menatap nyonya besarnya yang sedang berisitirahat.
“Bagaimana keadaan nenek, kak?”tanya Catherine sambil mengusap punggung tangan Agatha.
“Nyonya besar sudah melewati masa kritis dan sekarang tinggal pemulihannya saja”ujar Arga sambil menatap wanita renta yang sedang dikelilingi alat-alat medis yang melingkar di tubuhnya.
“Kenapa nenek tiba-tiba terkena serangan jantung kak?”tanya Catherine penasaran
“Nyonya sakit setelah melihat tuan muda berkelahi dengan tuan muda Daniel”jelas Arga terus terang
Catherine mengerutkan dahinya mendengar penjelasan Arga.
“Apa? Dev dan Daniel berkelahi?”tanya Catherine penasaran
Catherine bahkan menoleh ke arah Arga menuntut penjelasan. Arga menganggukkan kepalanya.
“Tapi bagaimana mungkin mereka berkelahi? Kalo mereka berkelahi dengan orang lain, aku percaya. Karena kadang mereka melakukan itu. Tapi mereka tidak pernah berkelahi satu sama lain sebelumnya. Ini benar-benar aneh”ucap Catherine tak percaya.
“Sepertinya tuan muda sudah salah paham dengan tuan muda Daniel. Karena tuan muda sangat marah. Bahkan tuan muda Daniel dilarang memasuki kediaman Alexander”jelas Arga
“What? Dev melarang Daniel masuk ke rumah?”
__ADS_1
Catherine menghela nafasanya dengan kasar.
“Sebenarnya ada masalah apa antara mereka berdua? Apa kakak tidak menyelidiki masalah ini?”tanya Catherine
“Saya sudah menyelidikinya tetapi tuan muda sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasan saya”
“Dasar bocah nakal! Kakak berikan laporan penyelidikan kakak padaku. Biar aku yang menjelaskan pada bocah keras kepala itu”perintah Catherine
“Baik nona”sahut Catherine
Keduanya kemudian berbincang ringan membahas masalah antara Devara dan Daniel sambil duduk di sofa yang ada di kamar VVIP itu. Catherine menerima laporan penyelidikan Arga sambil membahasnya dengan Arga. Sesekali Arga menatap wanita yang sangat dirindukannya itu yang kini tampak lebih kurus.
Catherine menatap berkas laporan yang berada di tangannya dan membacanya dengan penuh perhatian. Dia tak menyadari jika kini Arga sedang menatap dirinya dengan lembut. Arga menatap wajah cantik Catherine dan menikmati pemandangan indah di depan matanya. Betapa Arga sangat merindukan wanita itu. Wanita yang sejak mengucapkan perpisahan pada dirinya di pesta pertunangan waktu itu, memilih menjauhi dirinya dan menjaga jarak dengan dirinya.
Tanpa sengaja Catherine menoleh ke arah Arga. Membuat mereka saling bertatapan selama beberapa detik. Catherine yang tak ingin berlama-lama bertatapan dengan Arga, langsung mengalihkan pandangannya.
“Kenapa kau kelihatan kurus?”gumam Arga dalam hati
Keduanya kemudian kembali membahas masalah Devara dan Daniel. Di tengah pembicaraan mereka, Devara dan Madam O datang. Devara kaget melihat sang kakak yang harusnya berada di Inggris, tiba-tiba sudah berada di Indonesia.
“Kakak?”
Catherine langsung menoleh pada adik kesayangannya itu. Catherine berdiri lalu menghampiri Devara.
“Kapan kakak sampai?”tanya Devara
Catherine yang sudah mendengarkan semua penjelasan Arga, tanpa pikir panjang langsung menjewer telinga adiknya itu dengan kasar.
“Aaauuwww”pekik Devara kesakitan
“Lepaskan kak”pinta Devara sambil tangannya menarik tangan Catherine yang sudah menjewer telinganya.
Devara menatap sang kakak dengan tatapan tajam.
“Kakak apa-apaan sih? Kenapa menjewer telingaku?”seru Devara tak terima sambil mengusap telinganya yang memerah.
“Kau itu yang apa-apaan..lihat yang sudah kau lakukan pada nenek. Gara-gera kelakuanmu nenek kena serangan jantung. Sebenarnya apa masalahmu Dev? Daniel hanya menemani gadis itu, kenapa kau marah-marah ga jelas seperti itu?”tanya Catherine
Suara ribut-ribut di kamar VVIP itu membuat Madam O kuatir nyonya besarnya mendengarnya.
“Nona..tuan muda..tolong kecilkan suara Anda. Nyonya besar sedang istirahat. Tolong jangan membuat keributan disini”tegur Madam O
Catherine yang sadar sudah membuat keributan langsung menoleh ke arah ranjang sang nenek. Catherine sedikit menurunkan intonasi suaranya supaya tidak mengganggu istirahat sang nenek.
__ADS_1
“Maaf Madam”ucap Catherine dengan menurunkan suaranya
“Kakak tak usah turut campur masalahku dengan Daniel. Kakak tidak tahu apa-apa. Jadi jangan sok tahu dengan masalahku”sindir Devara dengan tatapan tajam.
“Bocah nakal”gerutu Catherine menahan amarahnya.
Kakak beradik yang hubungannya jarang akur itu terus berdebat. Catherine kesal karena adiknya yang sangat keras kepala. Membuat dirinya kewalahan harus berdebat dengan Devara. Devara yang memang tak pernah suka urusan pribadinya dicampuri oleh siapapun, merasa sangat kesal dan tak terima. Mereka berdebat selama beberapa saat. Sementara Arga dan Madam O hanya bisa menjadi pendengar setia kedua bersaudara yang selisih umurnya lumayan jauh itu. Mereka memilih diam karena menyadari kedua majikannya itu sama-sama keras kepala.
“Apa kakak ga capek? Sebaiknya kakak pulang saja sana, biar aku dan Madam O yang menjaga nenek”pinta Devara melihat wajah lelah sang kakak
“Kak, tolong antar kakakku pulang”pinta Devara pada Arga
Arga menatap sesaat pada Catherine. Arga pun dapat melihat gurat-gurat kelelahan di wajah cantik Catherine.
“Baik tuan muda”sahut Arga sambil menundukkan kepalanya
Catherine menatap Arga dengan tatapan kesal karena Arga mengiyakan perintah Devara tanpa meminta persetujuannya.
“Mari nona..saya antar Anda pulang”ajak Arga
“Siapa bilang aku mau pulang. Aku mau disini menjaga nenek”protes Catherine tak terima
“Benar nona, sebaiknya nona pulang. Anda kelihatan lelah. Pasti capek setelah menempuh perjalanan jauh. Biar saya dan tuan muda yang menjaga nyonya besar. Jika ada apa-apa, nanti saya akan menghubungi nona”bujuk Madam O
Catherine menghela nafasnya dengan kasar karena merasa tidak diinginkan di ruangan itu.
“Baiklah. Aku pulang dulu. Jaga nenek ya Dev”pinta Catherine pada sang adik
“Tentu saja. Sudah pulang sana”usir Devara
“Haishhh”gerutu Catherine sambil tangannya melayang di udara seolah hendak memukul Devara.
Catherine mengambil tasnya yang tergeletak di kursi sofa. Setelah berpamitan dengan Madam O, Catherine dan Arga pun pulang ke rumah. Sebelum masuk lift, tiba-tiba dengan langkah terburu-buru Madam O segera mendekati sang putra.
Catherine menatap penuh keheranan melihat Madam O terlihat sangat terburu-buru. Karena tak ingin kedengaran Catherine, Madam O terlihat berbisik pada Arga.
“Ibu baru ingat, jangan lupa hari ini kau harus menemui Jessica. Kau tidak lupa kan?”bisik Madam O
Arga menatap dengan kesal pada ibunya yang sudah mengingatkan dirinya akan kencan buta yang sudah diatur ibunya. Padahal Arga sudah menolak dengan halus permintaan ibunya itu. Setidaknya tidak sekarang. Di saat nyonya besar masih belum sepenuhnya pulih. Tetapi Madam O bersikeras putranya itu harus segera mengakhiri masa lajangnya.
Setelah menyampaikan pesannya, Madam O segera pamit dan kembali ke kamar VVIP setelah menundukkan kepalanya memberi hormat pada nona mudanya.
Madam O dan Arga tidak sadar jika pembicaraan rahasia mereka terdengar di telinga Catherine. Karena kebetulan Catherine berdiri tak jauh dari Arga.
__ADS_1
“Kencan buta?”gumam Catherine dalam hati sambil sesekali menatap punggung lelaki tampan yang kini berdiri di depannya selama di lift.
Entah kenapa, Catherine merasa penasaran dengan kencan buta Arga. Lelaki yang dulu selalu diganggunya. Lelaki yang meskipun selalu disangkalnya namun nyatanya lelaki itu sangat berarti dalam hidupnya.