
Setelah dari pemakaman Ella, Catherine dan Willy pergi ke apartemen Ella untuk mengemasi barang-barang Darren. Catherine duduk di kursi tengah sambil mengusap kepala Darren yang tertidur pulas di pangkuan Catherine.
Catherine menatap sayu pada bocah cilik yang sekarang menjadi anak piatu. Anak yang masih polos tanpa dosa yang sudah ditinggal mati mamanya. Catherine ikut bersedih untuk Darren.
“Jadilah anak yang kuat, mamamu akan selalu menjagamu dari atas sana”ucap Catherine sambil mengusap pelan kepala Darren.
Willy yang mengemudikan mobil menatap sekilas melalui spion mobil.
“Kita akan mengasuh dia bersama-sama”ucap Willy sambil menatap lurus ke arah jalanan di depannya.
Catherine spontan mengangkat kepalanya menatap ke arah Willy yang sedang fokus menyetir.
“Apa apartemen Ella masih jauh?”tanya Catherine mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Sudah dekat. Sebentar lagi”jawab Willy
Catherine menganggukan kepalanya kemudian kembali mengusap kepala Darren.
Sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai di apartemen Ella. Willy menggendong Darren sepanjang perjalanan menuju apartemen. Catherine menatap dari belakang betapa Willy sangat menyayangi putranya.
Sesampainya di apartemen Ella, Willy segera masuk dan menidurkan Darren di kamarnya. Catherine yang baru pertama kali ke apartemen Ella, menatap sekelilingnya. Dilihatnya beberapa barang milik Ella. Selama ini Ella memang tidak pernah mengajak Catherine berkunjung ke apartemennya. Mereka selalu bertemu di luar. Entah itu di butik Ella, atau ke kafe di dekat butik Ella. Karena itu, pertama kali menginjakkan kakinya di apartemen Ella membuat Catherine merasakan sedikit emosional. Karena di apartemen mewah yang dibelikan Willy, sangat menunjukkan betapa sederhananya pribadi Ella.
Wanita lemah lembut itu tidak mengisi apartemennya dengan furnitur mahal. Dia lebih banyak mengisi apartemennya dengan foto-foto kebersamaan antara Ella, Darren dan Willy. Nampak jelas di mata Catherine betapa Ella sangat menyayangi keluarga kecilnya. Dan semua itu berhasil membuat Catherine sangat terharu. Meskipun status dirinya yang hanya wanita simpanan namun Ella ikhlas menerima dan terus berjuang seorang diri membesarkan putra semata wayangnya.
Ketegaran dan kebesaran hati Ella, membuat Catherine mulai merindukan sosok wanita tegar itu. Hingga tanpa terasa airmatanya pun kembali menetes. Willy yang baru keluar dari kamar Darren, menatap Catherine yang mengusap airmatanya.
“Kamu kenapa?”tanya Willy
Catherine yang tak menyadari keberadaan Willy yang sudah berada di belakangnya, membalik tubuh dan mengusap airmatanya.
“Ah..tidak. Tiba-tiba saja aku merindukan dia (Ella)”ucap Catherine
Willy mengedarkan pandangannya menatap sekelilingnya.
“Sekarang apartemen ini terasa sangat sepi”ucap Willy dengan sendu.
Keduanya kemudian duduk berdua di mini bar yang ada di apartemen itu. Catherine berinisiatif membuatkan segelas teh hangat untuk keduanya.
“Kau mau minum teh?”tanya Catherine
“Boleh juga”jawab Willy
Catherine membuat teh hangat untuk mereka berdua dibantu Willy. Keduanya duduk berdua sambil mengenang mendiang Ella.
__ADS_1
“Bagaimana kau bisa mengenal Ella?”tanya Willy tiba-tiba
Catherine menoleh sekilas pada Willy kemudian menyeruput teh hangat di tangannya.
“Waktu itu aku hampir menabrak Darren”ucap Catherine
Willy yang sedang menyeruput tehnya hampir saja tersedak.
“Jadi yang waktu itu hampir menabrak Darren dan Ella itu kamu?”tanya Willy sambil menatap Catherine
“Iya. Waktu itu bola Darren menggelinding di depan mobilku. Untung saja aku bisa mengerem mobilku tepat waktu. Jadi mereka tidak sampai tertabrak. Sejak saat itu aku berteman dengan Ella dan Darren”jawab Catherine
“Kenapa kau tak pernah menceritakan kalo kau hampir kecelakaan?”tanya Willy kuatir
“Kau lupa kalo kau selalu pulang larut malam dan kita juga tak pernah bicara? Jadi untuk apa aku menceritakannya padamu”jawab Catherine apa adanya
Mendadak hati Willy diliputi rasa bersalah. Karena kenyataan dirinya memang mengacuhkan Catherine selama mereka menikah. Kehidupan pernikahan yang dilalui keduanya sangat jauh dari bahagia. Meskipun Willy tahu usaha Catherine untuk menyenangkan hatinya dan berusaha melayani dirinya layaknya seorang istri pada suami. Namun Willy yang masih belum sepenuhnya memaafkan kesalahan Catherine, memilih mengacuhkan wanitanya.
“Maafkan aku Cathy. Dulu aku sudah mengacuhkanmu. Maaf”ucap Willy meminta maaf
Willy meminta maaf sambil menggenggam erat tangan Catherine. Namun Catherine yang merasa risih dengan perlakuan Willy, menarik perlahan tangannya yang digenggam Willy.
Tiba-tiba hp Catherine berdering. Catherine segera mencari hpnya yang berada di tasnya. Melihat nama Arga di layar hpnya, Catherine segera mengangkat telepon dari Arga sambil menjauh dari Willy. Catherine menerima telepon Arga di balkon apartemen.
“Halo..bagaimana pemakamannya?”tanya Arga
Sejak kepulangan Catherine ke Inggris, Arga selalu menghubungi wanitanya untuk memastikan keadaan. Tak lupa pengawal diperintahkan untuk mengawasi pergerakan wanitanya itu. Karena Arga tak ingin kehilangan wanitanya lagi kali ini. Dan sikap posesif Arga, membuat Catherine diliputi bahagia karena itu menandakan Arga benar-benar sangat mencintainya. Karena itu, meskipun Arga tak berada di samping Catherine namun Arga selalu tahu apapun yang terjadi pada Catherine. Termasuk meninggalnya Ella dan perginya Catherine ke apartemen bersama Willy saat ini.
“Pemakamannya berjalan lancar”jawab Catherine
“Syukurlah! Sampai kapan kalian berdua di apartemen itu? Apa tidak sebaiknya kau pulang sekarang? Apa perlu aku suruh pengawal mengantarmu pulang sekarang?”tanya Arga
Catherine tersenyum mendengar lelaki yang dicintainya sangat mengkhawatirkan dirinya.
“Kakak tenang saja. Kami disini hanya sebentar. Setelah ini aku pulang ke mansion Willy untuk mengambil barang-barangku lalu aku akan tinggal di mansion papa”jawab Catherine mencoba menenangkan lelakinya.
“Apa kau yakin bisa membuat Willy menandatangani surat perceraian kalian?”tanya Arga kuatir
Catherine yang memahami kekhawatiran Arga berusaha meyakinkan lelaki yang sangat dicintainya itu.
“Untuk saat ini, mungkin aku akan memberi sedikit waktu pada Willy. Karena dia baru saja berkabung. Mungkin besok pagi aku akan bicarakan lagi masalah perceraian kami. Kakak tenang saja. Aku bisa mengatasi masalah ini. Kakak tunggu saja di sana. Oh ya, bagaimana keadaan adik kesayanganku? Dia tidak berbuat onar kan?”tanya Catherine
Catherine asyik berbincang dengan Arga. Sesekali mereka bercanda dan tertawa bersama. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan keduanya dengan tangan terkepal kuat.
__ADS_1
Willy yang sejak tadi menguping pembicaraan Catherine dan Arga, mendadak hatinya sangat panas mendengar wanita yang masih sah menjadi istrinya itu membicarakan masalah perceraian. Willy yakin lawan bicara Catherine saat ini adalah Arga, karena selama ini hanya Arga-lah yang dipanggil dengan sebutan kakak oleh Catherine. Terlebih melihat betapa bahagianya suara Catherine menerima panggilan telepon itu membuat Willy semakin yakin bahwa Catherine telah kembali pada Arga.
“Aku tak akan biarkan kalian bersama. Karena kau adalah milikku. Kau adalah istriku. Aku tak akan biarkan perceraian itu terjadi”gumam Willy dalam hati dengan tangan yang terkepal kuat.
"Apa kakak merindukanku?"tanya Catherine
" Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku merindukanmu"jawab Arga dengan tegas
Jawaban Arga membuat hati Catherine sangat bahagia. Catherine yang menyadari sudah berbicara lama dengan Arga, segera menyudahi pembicaraannya.
"Nanti aku akan menghubungi kakak kalo aku sudah sampai di mansion, okay?" ucap Catherine
"Hati-hati di sana. Ingatlah aku selalu menunggumu" balas Arga
"Iya aku tahu. I love you balok es-ku"goda Catherine
"I love you My Cathy" sahut Arga
Catherine tersipu malu mendengar balok es kesayangannya kini telah berubah sangat romantis. Membuat Catherine ingin segera mengakhiri pernikahannya dan kembali pada Arga.
Catherine menutup teleponnya dan berjalan masuk ke dalam apartemen. Melihat Catherine yang menyudahi pembicaraannya di telepon dan mulai berjalan masuk ke apartemen, Willy dengan langkah lebar segera berlari ke mini bar tempatnya semula. Dan berpura-pura seolah tak mengetahui apa-apa. Willy berpura-pura masih menikmati teh-nya yang mulai dingin.
Catherine berjalan mendekati Willy.
“Siapa tadi yang telepon?”tanya Willy pura-pura
“Ah..itu..tadi mama”jawab Catherine bohong sambil tersenyum.
"Maaf Will aku sudah membohongimu" gumam Catherine dalam hati
“Kau bahkan menyembunyikan lelaki itu dariku”gumam Willy dalam hati
“Bisa kita pulang sekarang? Aku mau istirahat di mansion”pinta Catherine.
“Kita kemasi dulu barang-barang Darren. Baru kita pulang. Kau bisa membantuku kan?”tanya Willy
Catherine menganggukkan kepalanya pelan tanda setuju. Keduanya berjalan berdua menuju kamar Darren dan mulai mengemasi barang-barang Darren. Semua pakaian, mainan dan barang-barang pribadi Ella ikut dibawa semua. Termasuk foto-foto yang berisi kenangan bersama Ella juga dibawa.
Selama mengemasi barang-barang Ella, hati Willy kembali diliputi kesedihan. Terlebih saat melihat foto-foto kebahagiaan antara dirinya dan Ella bersama Darren putranya. Senyum indah Ella di foto itu selalu mengingatkan Willy pada sosok wanita cantik yang lemah lembut yang selalu dapat menenangkan hatinya saat dia membutuhkan tempat bersandar.
Catherine yang menatap Willy sedang melamun sambil menatap foto Ella, berjalan mendekati suaminya itu dan mengusap bahunya.
“Dia wanita yang luar biasa, kan?”tanya Catherine
__ADS_1
“Iya. Dia sangat luar biasa”jawab Willy sambil menatap lekat foto Ella semasa hidup