
Sampai di ruang keluarga yang terletak tak jauh dari kamar Catherine, Caroline melihat Arga yang berdiri mematung di depan kamar Catherine.
“Arga?”panggil Caroline
Arga yang sejak tadi menunggu di depan kamar Catherine, dengan tangannya yang berada di depan pintu kamar hendak mengetuk pintu itu namun tangan itu tak juga mengetuknya. Arga kaget begitu melihat Caroline yang memanggilnya.
“Nyonya”ucap Arga sambil menundukkan kepalanya memberi hormat pada Caroline
Caroline berjalan mendekati Arga.
“Apa kau ingin bertemu Cathy?”
“Tidak nyonya..Saya permisi dulu”jawab Arga lalu berjalan meninggalkan Caroline.
Caroline menatap punggung Arga dengan tatapan sendu seolah ikut merasakan kesedihan Arga. Caroline segera mengetuk pintu kamar Catherine.
“Tok..tok..tok..”
“Sayang..apa mommy boleh masuk sekarang?”tanya Caroline
Pintu dibuka dari dalam memperlihatkan wajah cantik pemilik kamar yang sudah memakai pakaian harian dengan riasan wajah naturalnya. Catherine mempersilahkan mommy nya masuk.
“Masuklah mom”ajak Catherine pada Caroline
Sebelum menutup pintu, Catherine terlihat menyembulkan kepalanya keluar kamar sambil menoleh ke kanan dan ke kiri seperti mencari seseorang. Caroline yang seakan paham kelakuan putri kesayangannya akhirnya yang membuka mulut.
“Dia sudah pergi”ucap Caroline
“Syukurlah”balas Catherine lalu mulai menutup kamar.
Catherine menarik tangan mommy nya dan mengajaknya duduk di kursi sofa yang ada di kamar mewah itu. Keduanya duduk di sofa dengan Catherine yang menyandarkan kepalanya pada sang mommy.
“Kamu kenapa sayang? Kenapa kau tak mau menemui Arga?”tanya Caroline sambil mengelus pucuk kepala Catherine.
“Aku tak mau bicara dengan kak Arga”jawab Catherine ketus
“Kenapa dia mesti disini sih mom?”tanya Catherine penasaran
“Papamu yang memintanya”jawab Caroline
“Sayang?”
“Iya mom”
“Apa kau mau menerima perjodohan ini?”tanya Caroline
__ADS_1
Catherine tampak berpikir sejenak. Kemudian menatap sang mommy.
“Mommy tenang saja. Aku akan lanjutkan atau batalkan perjodohan ini, semua keputusan ada di tanganku”
“Baiklah jika itu maumu. Tapi berjanjilah pada mommy, bahwa kau akan bahagia. Jika setelah malam ini, kau ingin membatalkan perjodohan ini, mommy pasti akan membantumu. Mommy akan bicara pada papamu untuk membatalkannya”
“Tentu saja mom”jawab Catherine sambil tersenyum
Caroline kemudian memeluk tubuh putri kesayangannya. Mereka berdua saling berpelukan.
“Mommy hanya ingin kau bahagia”
“Aku tahu mom”
Caroline melepaskan pelukannya lalu membelai rambut panjang sang putri.
“Percayalah, mommy akan selalu mendukung apapun keputusanmu”
“Thanks mom”
Sementara itu, Arga yang tak jadi menemui Catherine segera berangkat ke hotel tempat perhelatan perjodohan antara wanitanya dan lelaki pilihan Brandon. Arga memeriksa semua persiapan dengan sangat teliti. Meskipun dalam hati Arga merasa sangat sedih, karena harus membiarkan wanitanya dijodohkan dengan lelaki lain, namun Arga tak bisa berbuat apa-apa.
Arga menyadari sepenuhnya bahwa dirinya dan Catherine berada dalam kehidupan yang sangat jauh berbeda. Tak mungkin baginya bersanding dengan wanita yang sangat dicintainya itu. Apalagi Arga sudah melukai hati Catherine dengan sandiwara cintanya beberapa waktu lalu. Seakan tak ada lagi jalan yang bisa ditempuh Arga untuk meraih hati Catherine kembali. Terlebih sikap dan tatapan mata Catherine yang sangat berbeda padanya. Arga hanya bisa melihat kebencian di mata wanitanya.
Setelah memeriksa semuanya, Arga duduk sambil menikmati kopi hangat yang dibawakan salah satu anak buahnya.
“Semua sudah siap uncle”
“Bagus..tuan Brandon pasti puas dengan hasil kerjamu”ucap uncle Jack sambil menepuk bahu Arga
“Kalo begitu, aku ke kantor dulu. Nanti aku kemari lagi”
“Baik uncle”jawab Arga pada orang kepercayaan tuan Brandon
Arga menatap ruangan yang sudah disulap menjadi ruang perjamuan makan malam dua keluarga besar yang sebentar lagi akan menjadi besan. Pikiran Arga mengelana tak tentu arah. Arga meneguk gelas kopinya sambil mengenang kenangan empat tahun yang lalu.
Flashback on
Empa tahun lalu,
Setelah berangkat ke Amerika, dan mendeklarasikan Arga sebagai pacarnya, Catherine mulai memperlakukan Arga sebagai pacarnya. Catherine selalu menghubungi Arga atau lebih tepatnya mengganggunya. Bagaimana tidak, jika kekasihmu menghubungi hampir setiap waktu. Menelpon dan melakukan video call setiap saat. Belum lagi kiriman chat yang sangat banyak.
“Apa benar dia menyukaiku? Apa ini bisa dikatakan normal? Dia benar-benar sudah gila..Dia menerorku. Dasar gadis gila!”gumam Arga dalam hati sambil memperhatikan chat yang dikirimkan Catherine padanya.
Arga menggelengkan kepalanya melihat kelakuan gila Catherine yang terus meneror kehidupannya. Bahkan Arga tak bisa menikmati kehidupannya di kampus karena terus “diawasi” Catherine. Pernah Arga dimarahi oleh dosen yang mengajar karena hp nya berbunyi saat sang dosen sedang mengajar di kelas. Karena Catherine yang menelponnya di tengah jam kuliah.
__ADS_1
“Are you okey Arga?”tanya Megan, teman satu kampus Arga
“I’m fine”jawab Arga dengan ramah
“But you looks so tired”
“Tentu saja aku lelah..jika setiap malam aku harus meladeni gadis gila itu”gumam Arga dalam hati.
Arga berjalan keluar kampus bersama teman-temannya. Mereka terlihat sangat akrab. Sesekali mereka bercanda dan tertawa bersama. Hal yang sangat jarang dilakukan Arga selama menjadi bodyguard nona muda manja Catherine Alexander. Bahkan sisi hangat seorang Arga Wisnutama selama menjadi bodyguard Catherine sama sekali tak pernah dinampakkan. Sehingga orang yang belum mengenal Arga pasti beranggapan bahwa Arga adalah lelaki dingin yang tak berperasaan. Padahal kenyataannya, lelaki muda itu sangatlah hangat.
Dan perubahan sikap Arga itu, ditangkap oleh dua pasang mata yang sejak tadi mengawasinya dari jauh melalui kacamata hitam yang dikenakannya.
“Bahkan kau bisa tersenyum begitu lebar saat bersama teman-temanmu. Kenapa senyum itu terasa mahal untukku?”gumam seseorang yang sejak tadi mengikuti Arga dan teman-temannya.
Gadis cantik itu terus mengikuti Arga dan saat hampir ketahuan, gadis itu segera bersembunyi takut ketahuan.
“Kau mau sembunyi sampai kapan? Kau pikir aku tak tahu kau mengawasiku? Baiklah! Kita lihat saja, sampai kapan kau akan sembunyi dan mengawasiku dari jauh”gumam Arga dalam hati sambil menarik salah satu sudut bibirnya karena otak cerdas dan insting Arga yang sangat kuat membuat dia menyadari jika saat ini dirinya tengah diintai dari jauh oleh sang majikan. Gadis gila yang terus meneror hidupnya.
Tiba-tiba seorang gadis cantik datang ke tengah kumpulan teman-teman Arga dan memeluk mereka satu per satu. Termasuk juga memeluk Arga.
Catherine yang sejak tadi mengikuti Arga, begitu syok melihat ada seorang gadis cantik yang memeluk kekasihnya. Catherine tanpa sadar melepas kacamata hitam yang dikenakannya dan menatap tajam ke arah Arga dan gadis cantik yang kini tampak berbincang dengan akrab.
“Bisa-bisanya dia memeluk pacarku. Aku harus memberinya pelajaran. Jangan panggil namaku Catherine Alexander jika aku tak bisa mengalahkan dia”gerutu Catherine dalam hati.
Catherine yang sedang dikuasai api cemburu, segera keluar tempat persembunyiannya sambil mengenakan kacamata hitamnya lalu berjalan dengan anggun bak model catwalk ke arah Arga. Catherine sengaja mengibaskan rambut panjangnya, sehingga membuat cowok-cowok yang ada di kampus Arga terpesona dengan kecantikannya.
Catherine berhasil membuat keributan kecil sepanjang jalan yang dilewatinya. Ada yang bersiul dan bahkan ada yang mengajaknya kenalan.
“I’m sorry. Maybe next time”jawab Catherine dengan angkuh
Catherine berjalan dengan langkah pasti ke arah Arga cs. Arga yang mendengar keributan kecil yang dibuat Catherine menoleh ke arah sumber suara. Teman-teman Arga pun menoleh melihat keributan kecil tadi.
“Who’s that girl?”
“Maybe she’s a model”
“I don’t think so. Maybe she’s an artis”
“Yess..that’s probably right”
“Look! She’s so gorgeous”
“Yeah..you right”
“She’s a goddess”
__ADS_1
Teman-teman Arga berspekulasi masing-masing tentang Catherine. Mereka mengira Catherine adalah model karena langkah kakinya yang sangat anggun. Bahkan ada yang mengira Catherine adalah seorang artis karena dia terlihat seperti seorang Dewi karena kecantikannya.