
Olive menutup ponselnya, karena dirinya ingin segera membasuh tubuhnya dengan air shower.
"Yah... ditutup lagi!" ucap Bara sembari meletakkan kembali ponselnya didalam saku jasnya.
Dan setelah beberapa saat Bara menunggu kedua orang tuanya, Excel dan Vera akhirnya turun dari kamarnya.
"Asekk, Mama dan Papa udah siap!" seru Bara saat tahu Excel dan Vera sudah rapi.
*
*
*
*
Setelah beberapa menit akhirnya mobil Bara dan kedua orang tuanya, tiba di pelataran rumah keluarga Mario. Bara menghentikan mobilnya di parkiran rumah Mario dan Monic.
"Sepertinya mereka sudah tiba!" seru Monic yang melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah mereka.
"Panggil Olive! Calon suaminya sudah tiba" seru Mario.
"Baiklah" jawab Monic sembari berlalu menyusul Olive yang masih berada di dalam kamarnya.
Sementara Monic memanggil Olive turun dari kamarnya. Mario tampak menyambut kedatangan Excel dan Vera.
"Selamat datang di rumah kami, Excel, Vera dan Bara! Wow kamu kelihatan gagah sekali!" ucap Mario yang memuji calon menantunya itu.Bara terlihat malu-malu kucing.
"Terima kasih Om!" jawab Bara.
"Ayo silahkan masuk!" ajak Mario kepada calon besannya itu, yang juga kakak ipar bosnya sendiri, Vera.
Mario mempersilahkan mereka untuk duduk, sementara itu Bara tampak gelisah, karena dirinya tidak melihat Olive sama sekali, Bara memberanikan diri untuk bertanya kepada Mario, dimana Olive berada.
"Olive nya kemana Om?" tanya Bara sembari melihat ke kanan dan ke kiri.
"Oh...dia masih ada di kamarnya, sebentar lagi dia akan turun" jawab Mario
"Anak jaman sekarang udah nggak sabaran, jadi mohon dimaklumi!" seru Excel
"Oh iya... santai saja, mari diminum tehnya!" ucap Mario menyuguhkan minuman untuk keluarga Bara.
Bara terlihat tak sabar lagi ingin bertemu dengan Olive, dirinya terlihat gugup dengan ekspresi yang terlihat harap-harap cemas.
Sementara itu Monic telah sampai di kamar Olive. Monic melihat Olive yang masih duduk di depan meja riasnya. Lantas Monic segera menghampiri Olive yang masih berada di tempatnya.
"Sayang! Ayo mereka sudah datang!" seru Monic.
"Sudah datang? Cepat sekali?" jawab Olive yang tampak sedang melihat arah jam dinding yang masih menunjukan pukul delapan kurang sepuluh menit.
"Sudah! Ayo keluar! Calon suamimu pasti sedang menunggumu!" seru Monic mengajak Olive untuk segera turun.
Olive menghela nafasnya dan mencoba merilekskan pikrannya sebelum menemui keluarga Bara. Kali ini hatinya benar-benar gugup, bagaimana tidak teman yang biasa bercanda dengannya, akhirnya akan menikahinya sebentar lagi.
"Baiklah Ma! Ayo kita turun!" balas Olive sembari mengikuti sang Mama pergi.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Olive turun di temani Monic di samping putri kesayangannya itu.
"Itu mereka datang!" ucapan Mario sontak membuat Bara dengan segera menengok ke arah anak tangga. Bara dibuat terperangah saat melihat kecantikan Olive. Selama ini Olive jarang berdandan, kalau pun dandan paling cuma minta tolong diantar pulang.
Olive turun dengan begitu anggunnya Dilihatnya sang calon suami yang tampak memperhatikannya tanpa berkedip, pandangan mata Bara begitu tajam pada sosok gadis yang kini tengah turun bersama Monic.
Olive berjalan didampingi sang Mama.
"Olive ini Om Excel dan Tante Vera!" seru Mario.
Olive mencium tangan keduanya dan berkata.
"Senang bertemu dengan Om dan Tante!" ucap Olive dengan ramah.
"Kamu cantik sekali sayang!" ucap Vera sembari meraih dagu sang calon menantu. Olive terlihat begitu malu. Sementara Bara hanya terdiam dan gugup, bukan tanpa alasan dirinya terlihat gugup, karena baru kali ini dirinya melihat Olive yang tampak berbeda dari keseharian nya. hari ini Olive begitu cantik dan anggun.
"Heh...tadi katanya mencari Olive! Ini sekarang dia ada disini!" ucap Excel sembari menyikut tangan Bara.
"Eh...iya Pa!" jawab Bara sembari mengulum senyumnya.
Olive duduk di antara Mario dan Monic, sementara pandangan Bara tidak lepas dari wajah Olive yang terlihat menggemaskan itu. Mata mereka saling berbicara.
"Ngapain si Elu lihatin gue"
"Elu cantik hari ini"
"Gombal"
"Beneran sumpah, pingin gue gigit aja"
"Hmm pingin banget gigit bibir Elu yang merekah itu"
"Alay!"
"Tunggu sampai saatnya nanti kita bertemu di ranjang pengantin"
"Ih...messum!"
"Pasti Elu bakalan suka dengan kemesuman ku"
"Nggak akan!"
"Pastinya...Elu akan ketagihan"
"Bara!...udah ah"
Olive tampak begitu malu memandang wajah Bara yang berkata secara batin kepadanya. Hingga sebuah panggilan yang tidak disadari oleh Olive, tiba-tiba mengagetkannya.
"Bagaimana Liv?... Olive?" Monic menyentuh pundak Olive yang terfokus pada Bara yang tengah merayunya.
"Eh...iya Ma!" Olive tersadar dari lamunannya dan merasa sangat malu.
"Hmm...anak jaman sekarang memang sudah nggak sabaran sepertinya, lebih baik kita percepat saja tanggal pernikahan mereka" sahut Mario yang mengetahui jika putri mereka bermain mata dengan calon suami mereka.
"Yess... Saya sangat setuju Om, lebih cepat lebih baik, gimana kalau besok aja Om? Saya sudah siap lahir dan batin untuk menikahi Olive!" sahut Bara yang tiba-tiba diiringi oleh tawa kedua orang tua Olive.
__ADS_1
"Heh... semprul! Besok, besok... ngebet banget sih nih anak" ucap Excel sembari menarik lengan Bara karena merasa sangat malu dengan sikap anaknya.
"Ya nggak apa-apa dong Pa! Lebih cepat lebih baik, Mama pasti senang tuh Aku cariin mantu, biar nggak kesepian, sekarang kan Oma masih tinggal bersama Om Romi dan Tante Laura, iya kan Ma?" alasan Bara sembari menatap wajah sang Mama.
"Ha?...Kok Mama sih yang dikambinghitamkan, kamu yang pingin nikah kok Mama ikut-ikutan" jawab Vera mengerutkan keningnya.
Tampaknya Mario dan Monic melihat calon menantu mereka itu tidak sabar ingin segera menikah dengan Olive. Sehingga membuat mereka berdua akan memberikan keputusan untuk mempercepat acara pernikahan mereka beberapa hari lagi.
"Maafkan anakku yang semprul ini Mario! Ah ini Anak udah ngebet aja dari kemarin-kemarin" ucap Excel kepada Mario.
"Sudah lah, Excel... Vera! Tidak apa-apa, aku mengerti perasaan Bara, aku juga pernah merasakan hal yang sama seperti dia, saat akan menikah dengan istriku" balas Mario sembari mengingat saat-saat dirinya melamar Monic.
"Nah...Om Mario saja bisa mengerti pikiran Bara, ini Papa malah aku yang dimarahi" celetuk Bara
"Hmm...ya sudah, Papa dan Mama ikut kamu saja, sekarang hanya menunggu jawaban dari Nak Olive saja, apa dia setuju jika menikah dengan mu dalam waktu yang secepatnya!" ucap Excel menyerah menghadapi Bara yang sudah tidak sabar lagi buru-buru menikah.
Kemudian Mario bertanya kepada anak gadisnya itu.
"Olive! Bagaimana jika hari pernikahan mu dilaksanakan secepatnya, apa kamu setuju?" tanya Mario
Olive sejenak terdiam, dirinya sedikit berpikir sambil menatap Bara yang tampak harap-harap cemas. Olive menghela nafas panjang dan akhirnya Ia memutuskan untuk menyetujui permintaan Bara.
"Iya Pa! Olive setuju!" jawabnya malu-malu.
"Syukurlah! Kalau begitu acara pernikahan mereka kita adakan 3 hari mendatang" ucap Mario yang membuat Bara begitu gembira. Excel dan Vera pun ikut menyetujuinya.
Mendengar keputusan itu membuat Olive sangat malu, Ia permisi pergi dari tempatnya.
"Maaf! Saya keluar sebentar! Ayo Bar! Kita keluar, biar Mama dan Papa membicarakan rencana pernikahan kita lebih leluasa." ucap Olive sambil mengajak Bara untuk ngobrol diluar rumah.
Bara menyambut Olive dengan gembira. Kemudian mengikuti langkah Olive untuk pergi ke taman depan rumah.
Sesampainya di taman rumah, Olive berbicara kepada Bara.
"Ah...Elu gimana si Bar! Apa nggak terlalu cepat memajukan tanggal pernikahan kita, sekarang Elu masih baru aja melamar gue, tiba-tiba saja udah nikah tiga hari ke depan, apa Elu udah siap dengan semuanya, karena menurut gue ini terlalu cepat Bar! gue masih takut untuk...mpttt!" setelah panjang lebar Olive berbicara, akhirnya ia tidak bisa melanjutkannya kata-katanya, karena Bara udah nggak nahan untuk mencium bibir Olive.
Bara dengan cepat meraih bibir cantik itu saat Olive tak berhenti bicara, dan tentu saja Olive merasa sangat terkejut saat Bara tiba-tiba mencium bibirnya.
Namun entah kenapa Olive yang awalnya kaget dengan ciuman yang dilakukan oleh calon suaminya itu, tiba-tiba saja dirinya ikut menikmati alunan sentuhan dari Bara yang begitu lembut mengecup bibir Olive.
Olive menikmatinya.
"Ah... sial! Kenapa gue suka sekali Bara mencium bibir ini, ini ciuman pertama gue" gumam Olive saat ciuman itu semakin dalam.
Olive mengalungkan kedua tangannya pada leher Bara dan menikmati betapa Bara pintar sekali membawa Olive yang awalnya protes kepada Bara, sekarang justru dirinya sendiri yang ingin segera mempercepat pernikahan mereka.
"Hmm...gue tahu kenapa tiba-tiba Elu ingin mempercepat pernikahan kita, ternyata Elu benar, pernikahan kita harus dilaksanakan secepatnya, Gue udah nggak tahan ingin merasakan ciuman ini lagi Bar!" ucap Olive saat Bara melepaskan ciuman mereka.
Bara tersenyum smirk.
"Elu suka kan? Elu menikmatinya Olive, gue lihat itu!" bisik Bara sembari mengelus pipi Olive mesra.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥
__ADS_1
...Waduh waduh gaskan pernikahan mereka, Olive udah bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Bara 🤭... ditunggu ya bestie...sabar lah sabar! Entar kalian juga jadi saksi 🤭🏃...