
Shesa menaiki anak tangga dan menuju kamarnya, ia membuka pintu itu perlahan, dilihatnya sang suami yang tengah berdiri menghadap ke arah jendela. Perlahan Shesa berjalan menghampiri Vano yang tampak bersedih.
Shesa memeluk Vano dari belakang, ia menyandarkan kepalanya pada punggung Vano yang masih terlihat tegap menantang. Vano yang menyadari kedatangan sang istri, lantas ia membalikkan badannya.
"Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" Vano tiba-tiba menanyakan tentang keadaan putranya yang telah Ia hajar tadi. Meskipun dirinya telah membuat Ray jatuh tersungkur, namun sebagai seorang Ayah, Vano sesungguhnya tidak tega melihat Ray seperti itu, itu semua ia lakukan agar Ray bisa berfikir lebih dewasa lagi dan tidak mendahulukan egonya. Sehingga akan membuat orang-orang sekitarnya tersakiti dan kecewa.
"Ray sudah pergi!" jawab Shesa
"Pergi?" Vano terkejut
"Nabila membawa Ray, karena dia yakin saat ini Luna berada di rumah Pak Bayu, Ray akan segera membawa menantu kita pulang" jelas Shesa sembari menatap wajah Vano yang tampak sedih.
"Semoga saja anak itu bisa berubah" ucap Vano penuh harap.
"Aku yakin Ray pasti berubah, apalagi setelah dia tahu jika Luna kini sedang mengandung anaknya!" ucapan Shesa membuat Vano tersenyum bahagia.
"Kamu yakin dengan apa yang kamu bicarakan sayang, Luna hamil?" tanya Vano yang masih tidak percaya.
"Hmm...kita akan mempunyai cucu, iya cucu!" seru Shesa meyakinkan suaminya.
Vano terlihat sangat gembira dengan kabar bahagia ini, lantas ia memeluk Shesa dengan senangnya.
"Selamat sayang, kamu akan menjadi Oma" seru Vano sembari mencium kening istrinya.
"Dan kamu akan menjadi Opa" balas Shesa sembari mencubit hidung suaminya.
"Darimana kamu tahu jika menantu kita hamil?" tanya Vano penasaran.
"Tadi dokter Erick menelepon, jika Ia membawa Luna di malam saat pertama kali pergi dari rumah, Luna pingsan di pinggir jalan, Dokter Erick dan Helena menemukan Luna, mereka membawanya pulang dan memeriksa kesehatan Luna, hingga akhirnya mereka mengetahui bahwa Luna sedang mengandung" ungkap Shesa
"Berita ini sangat membahagiakan sekaligus menyedihkan, bagaimana tidak, kita harus kehilangan menantu kita disaat kita pulang dari Dubai, sementara dirinya tengah mengandung cucu kita, semoga saja Ray berhasil membujuk Luna untuk segera kembali pulang" ucap Vano penuh harap.
"Iya semoga terkabulkan" balas Shesa
******
Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam dari kota Surabaya, akhirnya Nabila beserta rombongan tiba di kampung halaman mereka.
"Kita sudah sampai" ucap Abian yang mengemudikan mobilnya, terlihat Ray senang sudah tiba di rumah Abian.
__ADS_1
"Ayo Ray, kita turun" seru Abian yang membantu Ray untuk turun dari mobil.
Ray melihat pemandangan sekitar yang masih tampak asri, dirinya benar-benar takjub melihat keindahan pemandangan alam di sekitar tempat tinggal Nabila.
"Disini sangat nyaman sekali, sejuk aku sungguh menyesal hampir saja aku meratakan tempat ini dengan tanah, betapa bodohnya aku" sesal Ray
"Sudahlah, ayo kita masuk ke dalam" seru Abian sembari mendampingi Ray yang masih terlihat mendekap perutnya yang kram akibat tinjuan sang Papa yang sangat kuat.
"Nah... Ray, sementara ini kamu bisa tidur bersama Abi, karena Tante tidak punya kamar lebih, jadi kamu bisa tidur bersamanya" seru Nabila
"Terima kasih Tante! Ray sangat berhutang Budi kepada Tante" ucap Ray
" Sudahlah, Tante malah senang ada kamu, biar Abi nggak kesepian, Abi... ajak Ray ke kamarmu, Mama akan bawakan obat dan makanan untuk Ray" seru Nabila
"Iya Ma!" jawab Abian
"Ayo Ray...kita ke kamar!" ajak Abian sembari menuntun Ray masuk ke dalam kamar Abian.
Setelah Ray masuk ke kamar Ray, dirinya disuguhi dengan pemandangan foto adiknya yang terpampang hampir di seluruh dinding kamar Abian.
Ray menatap ke seluruh ruangan kamar Abian yang terdapat foto Jasmine di mana-mana.
"Itu foto Jasmine semua?" tanya Ray sembari melihat ekspresi Abian yang tampak tersipu malu.
"Tergila-gila banget kamu sama adik ku" seru Ray sembari duduk di tempat tidur.
"Aku sudah lama mencintai nya, hanya saja aku pendam selama ini, karena aku takut bakal di tolak" ucap Abian
"Sekarang apa kamu masih takut untuk di tolak? Sepertinya kalian saling mencintai" sindir Ray
"Iya... sekarang aku udah nggak takut lagi bakal di tolak, karena kakaknya sudah merestui" seru Abian senang. dan Ray tampak tersenyum.
Kemudian Nabila datang ke kamar Abian dengan membawa obat dan makanan untuk mereka.
"Ray...Tante obati dulu lukamu, supaya nggak terlalu bengkak" ucap Nabila sembari memberikan kompres air hangat kepada Ray.
Kemudian Nabila mulai menekan-nekan lembut handuk hangat itu pada luka lebam pada wajah Ray.
"Awwww"
__ADS_1
"Maafkan Tante, sakit ya!"
Sesekali Ray meringis kesakitan saat Nabila menyentuh luka Ray yang masih terasa sakit.
"Tante kasihan sama Kamu, Pak Vano dari dulu terkenal keras, ya nggak heran kalau kamu dihajar sampai begini, meskipun kamu anak kandungnya, pak Vano tak pernah tebang pilih, setiap yang bersalah pasti dia akan memberikan hukuman" ungkap Nabila yang membuat Ray mengerti.
"Ray tahu Tante, Ray memang salah, maka dari itu Ray tidak melawan Papa" jawab Ray
"Oke...sudah, sekarang makanlah, setelah itu istirahat lah, jika lukamu membaik, Tante akan mengantarkanmu ke rumah Bayu, nggak jauh kok dari sini, sekitar 2 km" ucap Nabila
"Baik Tante, terima kasih atas perhatian Tante" seru Ray terharu.
"Ya sudah, Tante tinggal dulu"
Kemudian Nabila keluar dari kamar Abian. Tampak Ray hanya diam menatap makanan yang ada didepannya.
"Eh...ayo dimakan! Kenapa makanannya nggak enak ya?" tanya Abian sembari mengerutkan dahinya.
"Nggak... bukan begitu, aku cuma kepikiran Luna, kira-kira apakah dia akan memaafkan aku?" ucap Ray bimbang
"Yakinlah Luna pasti akan memaafkanmu, Luna gadis yang baik, aku yakin dia pasti mengerti, tapi... sepertinya kamu harus berjuang dulu"
"Maksudnya?" tanya Ray
"Luna bukan tipe cewek yang mudah sekali memaafkan, dia butuh pembuktian sebelum dia benar-benar memaafkan seseorang, jadi jangan heran jika nanti kamu harus melewati berbagai permintaan darinya" seru Abian
"Benarkah? Tak masalah, aku akan memenuhi persyaratan yang akan membuatnya kembali lagi padaku!" jawab Ray optimis.
"Sepertinya kamu sangat mencintainya?" seru Abian sembari memakan cemilan yang ada di meja.
"Sangat... sangat mencintainya" jawab Ray
"Kau tahu Ray, Luna terkenal sebagai gadis yang tomboi, aku mengenalnya sejak masih orok hehe" ucap Abian sembari tertawa.
"Bisa ajah kamu!" sahut Ray yang diiringi tawa kecilnya.
"Beneran loh, dari usia 10 tahun Luna sudah pandai bela diri, pak Bayu sendiri yang mengajarkan kepada Luna, nggak ada tuh cowok yang berani macem -macem sama dia, cuma kamu doang yang bikin Luna nyerah, klepek -klepek deh" ucap Abian dengan tertawa renyah.
BERSAMBUNG
__ADS_1
🔥🔥🔥🔥🔥
...Setelah episode yang bikin mewek, bentar lagi kalian tak bikin senyum -senyum sendiri ðŸ¤... nantikan kelanjutannya ya 🥰...